Oleh: Three Friends of Winter and Edelweiss
“Plot is no more than footprints left in the snow after your characters have run
by on their way to incredible destinations.”
― Ray Bradbury, Zen in the Art of Writing
Dalam merajut sebuah kisah, tentu mustahil di dalamnya tidak dimunculkan tokoh. Tokoh adalah salah satu unsur wajib yang harus ada di dalam sebuah cerita, entah itu cerpen yang habis dibaca dalam sekali duduk atau novel yang panjang jalan ceritanya. Jika tokoh merupakan salah satu hal yang begitu krusial dalam sebuah cerita, maka hal lain yang tak kalah krusial adalah penokohan atau karakterisasi. Nah, Sabtu malam yang lalu JO Team sudah berbagi materi tentang karakterisasi, yaitu bagaimana cara menghidupkan karakter tokoh di dalam sebuah cerita.
Buat kalian yang tidak sempat menyimaknya di akun twitter @JOPHouse, jangan khawatir. JO Team telah merangkumkannya untuk kalian dalam artikel ini.
Ketika membaca sebuah novel, pernahkan kalian merasakan apa yang tokoh alami, ikut kalian rasakan juga? Seolah-olah kalian benar-benar berada di posisi tersebut. Pasti pernah. Itu artinya tokoh yang ada dalam tulisan itu sudah hidup karena bisa mempengaruhi perasaan pembacanya.
Pertanyaannya, bagaimana, sih, cara menghidupkan sebuah tokoh itu?
Pertama-tama perlu dipahami bahwa setiap tokoh memiliki karakter masing-masing. Apa itu karakter? Karakter adalah ciri yang menetap pada sebuah tokoh. Contoh, pemarah, pendiam, pandai, cantik, dll. Karakter inilah yang menjadi faktor penentu hidup tokoh, ia merupakan sarana untuk membawa penonton ke dalam perjalanan emosi tokoh.
Karakter yang efektif, akan mampu memperlihatkan suatu kesan pada pembaca bahwa mereka itu 'hidup'. Karakter efektif adalah karakter yang unik dengan karakteristik mereka yang individual (a unique human being). Tentu saja, yang namanya karakter tidak mungkin hanya menunjukkan satu karakteristik saja seperti pemarah saja. Karakter juga punya dimensi. Misal, seseorang bisa ganteng dan kaya tapi ternyata dia sedikit posesif. Seperti layaknya manusia, tidak semua orang itu jahat saja, dan tidak
semua orang itu baik saja. Setiap orang memiliki kebaikan dan keburukan masing-masing.
Ada tiga faktor penunjang untuk membentuk karakter tokoh, yakni:
1. Fisik
Seorang tokoh tentunya memiliki penampakan luar yang bisa kita
bayangkan. Hal ini bisa diwujudkan melalui bentuk tubuh, jenis kelamin,
umur, dll.
2. Psikis
Bagaimana tingkat kecerdasan tokoh, emosional, keyakinan, dan kecenderungan sosial.
3. Sosiologi
Seperti apa keluarganya, status sosial, pekerjaan, dan hubungannya dengan orang lain.
Untuk membuat karakter itu hidup, biasakan untuk menyiapkan banyak pertanyaan untuk 'mewawancarai' tokoh. Alias kepoin tokoh. Pertanyaan itu bisa apa saja, misal nama, usia, tanggal lahir, alamat rumah, pekerjaan, penampilan, kebiasaan berpakaian, kekurangan dan kelebihan, impian, dll. Daftar pertanyaan ini bisa berbeda-beda tergantung keperluan. Bisa saja ada pertanyaan bagaimana hubungan tokoh dengan keluarga, pacar, sahabat? Jika tokoh memiliki trauma masa lalu, tanyakan siapa penyebabnya, apa alasannya, dan bagaimana dia bersikap terhadap hal itu.
Setelah kita membentuk tokoh dengan karakter dan latar belakangnya, hal lain yang juga penting adalah konsistensi. Untuk menciptakan karakter yang konsisten, kita tidak bisa hanya menampilkannya dalam 1 scene saja. Perlu adanya pengulangan bagaimana tokoh bersikap terhadap sebuah
kejadian yang mirip tapi beda, agar pembaca mendapatkan kesan tersebut. Kalau pun ada perubahan, maka itu bukan sesuatu yang mendadak. Semua yang terjadi memiliki alasan di baliknya.
Nah, latar belakang sudah, konsistensi karakter sudah, lantas bagaimana penulis bisa menyampaikan hal tersebut lewat kisahnya? Kalian sudah yakin benar-benar mengenal tokoh itu seperti dia adalah
temanmu, pacar, atau bahkan dirimu dalam versi kepribadian yang berbeda? Kalau sudah, pinjamkanlah raga kalian untuk tokoh agar dia bisa menyampaikan apa yang ingin dikatakan dalam cerita.
Perlu diingat, tokoh itu belum tentu adalah penulis. Dalam beberapa
cerita bisa jadi tokoh memiliki karakter yang sama dengan penulis tapi tokoh bukanlah penulis, melainkan individu yang memiliki cara bersikap dan pemikiran tersendiri. Oleh karena itu, penulis sebaiknya memisahkan karakter diri ketika 'meminjamkan raga' kepada tokoh. Ketika 'meminjamkan raga' pada tokoh saat kita menulis, cobalah berpikir sebagai tokoh, rasakan apa yang tokoh rasa. Bahkan untuk beberapa penulis, ada yang sampai ikut menangis ketika tokoh menangis, stress ketika tokoh merasa depresi, dll.
Pada intinya, jadilah tokoh. Buatlah ia serasional mungkin. Karena jika kita sudah sangat mengenal tokoh tersebut, hal itu akan memudahkan kita untuk menghidupkan tokoh di dalam cerita. Perlu diingat bahwa setiap karakter yang hidup itu pasti memiliki sisi baik dan buruk. Seperti Yin dan Yang. Dalam kebaikan pasti ada keburukan. Dalam keburukan pasti ada sifat baik meskipun sedikit. Tidak mungkin yang jahat akan selamanya jahat. Pastinya ia memiliki suatu sebab yang mengakibatkan hal itu terjadi. Everything happens for reason.
Demikian yang dapat disampaikan oleh JO Team, semoga bermanfaat dan selamat menulis :)
Sumber gambar :http://annida-online.com





terima kasih penjelasannya
ReplyDelete