Showing posts with label malming menulis. Show all posts
Showing posts with label malming menulis. Show all posts

Wednesday, October 5, 2016


Oleh : Ixora

#MalmingMenulis beberapa hari yang lalau membahas tentang " Menghidupkan Karakter Pria dalam Cerita." Jika kalian tidak sempat menyimaknya di linimasa twitter @JOPHouse, melalui artikel ini, Mimin sajikan rangkumannya.

Meskipun artikel ini membahas tentang cara ‘menghidupkan’ karakter pria, tapi topik ini bukan hanya untuk wanita, lho! Untuk kalian para wanita, menulis cerita dengan karakter atau tokoh pria tentu akan menjadi tantangan tersendiri, bukan? Dalam menulis karakter pria, kita harus mengetahui banyak hal tentang mereka. Mulai dari cara bicara dalam dialog, cara berpikir, gerak tubuh, emosi, dan masih banyak lagi. Nah, kali ini, Mimin akan memberikan beberapa tips untuk menulis karakter pria meskipun kalian 'penciptanya' adalah seorang wanita.

Pertama. Hindari detail yang terlalu banyak saat membuat dialog dan pemikiran oleh tokoh pria. Terutama jika itu menyangkut wangi-wangian, warna, model baju, model rambut, rasa masakan dll.

Kedua. Pria biasanya tidak terlalu ekspresif. Jadi kurangi pengungkapan emosi/perasaan yang berlebihan oleh tokoh pria. Satu-satunya emosi yang bisa kita tulis secara berlebihan adalah kemarahan.

Ketiga. Dalam dialog antara tokoh pria dan wanita, tokoh wanitalah yang akan lebih banyak mengeluarkan kata-kata. Bukan tokoh pria. Jadi, hindari sesi curhat antara tokoh pria dan wanita di mana tokoh pria akan menceritakan semua isi hati dan perasaannya dengan emosional karena itu jarang terjadi.

Keempat. Masih soal sesi curhat, jika ada sesi curhat antara tokoh pria dan wanita di mana tokoh wanita yang sedang mencurahkan isi hatinya, maka jangan buat tokoh pria menjadi pendengar yang baik. Karena itu juga jarang terjadi. Tokoh pria akan membantu tokoh wanita memecahkan masalah, tapi tidak dengan duduk diam dan mendengarkan kamu bercerita sembari menunjukkan simpati yang mendalam. Intinya, jangan perlakukan tokoh pria kalian seolah-olah dia adalah seorang sahabat wanita. Jangan buat dia terlalu banyak bicara dan terlalu banyak pertimbangan.

Kelima. Pria memandang percakapan sebagai sarana untuk bertukar informasi bukan untuk berbasa-basi. Oleh karena itu, jika mereka berkumpul biasanya akan disertai dengan melakukan kegiatan bersama (olahraga, bermusik, dll) bukan dengan berjam-jam duduk sambil membicarakan banyak hal seperti yang banyak tokoh wanita lakukan. Kecuali jika itu adalah pertemuan dengan kawan lama.

Keenam. Hindari dialog-dialog penuh keraguan dan dialog-dialog yang banyak pertimbangan. Misalnya, "Baju ini bagus, kan?" atau, "Menurutmu apakah kita akan pergi ke pesta pernikahan Nico mengingat dia tidak datang ke pesta pernikahan kita?"

Ketujuh. Dalam hubungan dengan sesama tokoh pria, jarang sekali ada keintiman di sana. Jadi jangan bayangkan atau ciptakan hubungan di mana mereka akan saling bercerita soal perasaan dengan mendalam. Mereka akan bercerita banyak tentang musik, olahraga, pekerjaan, tapi tidak soal perasaan. Begitu pula soal gossip.

Kedelapan. Ciptakan dialog-dialog yang langsung ke sasaran. Karena tokoh pria akan mengatakan apa yang mereka ingin katakan. Jika dia mengatakan bahwa makanan yang tokoh wanita masak, enak. Maka itulah yang terjadi tanpa maksud tersirat bahwa itu rayuan, sindiran, permintaan untuk dimasakkan lagi, atau hal-hal lain yang biasanya ada di pikiran tokoh wanita yang sangat kompleks. Kecuali jika kalian memang menciptakan tokoh pria yang playboy dan suka merayu.

Nah, Mimin rasa, cukup sekian #MalmingMenulis kali ini ya. Jika kalian ada tips dan pertanyaan, silakan mention Mimin. 

Oh, iya tips ini bukanlah harga mati untuk tokoh pria kalian. Kalian sebagai penulis, memiliki kebebasan untuk menghidupkan sebuah tokoh. Tips ini hanya alat bantu untuk kalian melihat hal-hal yang umum, yang biasa dilakukan oleh tokoh pria dalam cerita. Selamat menulis.


Sumber gambar:http://writeonsisters.com/writers-life/men-as-crit-partners-the-male-pov/
Oleh : Orchid

Halo, Sobat JO! Mimin datang membawa rekapan #MalmingMenulis dua minggu yang lalu. Yuk, disimak!

Kali ini, Mimin akan membahas soal buku-buku populer dan alasan kenapa buku itu bisa populer.

Yang pertama adalah Laskar Pelangi! Siapa sih, yang tidak tahu Laskar Pelangi? Buku karya Andrea Hirata ini sukses menggoncangkan dunia literasi Indonesia. Dan bahkan sampai diterjemahkan ke berbagai bahasa. Pertanyaannya adalah, kok bisa? Nah, ternyata penyebabnya adalah pesan yang disuguhkan dalam novel ini sampai kepada pembaca sehingga banyak orang yang merasa terinspirasi setelah membaca novel ini. Selain itu, penggambaran latar tempat pun sangat kental dan jelas. Jadi, latar tempat di sini bukan sebagai tempelan saja.

Novel best seller yang akan Mimin bahas selanjutnya adalah Perahu Kertas! Kenapa novel ini bisa populer? Ini salah satunya dikarenakan keunikan karakter yang bernama Kugy. Kugy itu sangat unik. Kalian yang sudah nonton atau pernah membaca Perahu Kertas pasti tahu kalau Kugy itu selalu curhat dengan menghanyutkan perahu kertas. Ia juga suka meletakkan tangan di kedua telinganya untuk mencari inspirasi. Inilah yang membuat novel Perahu Kertas itu berbeda dari novel yang lain.

Selanjutnya mimin akan membahas 5cm! Siapa sih yang tidak tahu novel ini? Yang membuat novel ini berbeda adalah kisah persahabatannya. Banyak novel yang juga mengisahkan tentang persahabatan tapi yang membuat novel ini menarik adalah kisah persahabatan itu dibalut dengan pesan yang kuat. Kalau yang sudah membaca 5cm pasti tahu kan bagaimana perjuangan mereka saat mendaki? Novel ini memuat pesan bahwa kita tidak boleh mudah menyerah. Rasa nasionalisme juga disisipkan dalam novel ini. Jadi ini bukan sekedar kisah persahabatan biasa.

Novel selanjutnya adalah Negeri 5 Menara. Dari judulnya saja, sudah membuat kita bertanya-tanya tentang isinya. Buku ini mengisahkan perjuangan si tokoh yang awalnya terpaksa menuruti keinginan ayahnya untuk masuk pondok pesantren namun akhirnya, justru di pesantren dia menemukan banyak pembelajaran hidup yang di luar dugaannya. Kesan religius juga sangat kental dalam novel ini. Belum lagi amanat yang dikemas secara bagus.

Buku best seller terakhir yang akan Mimin bahas adalah Sepatu Dahlan. Yang unik dari novel ini adalah si tokoh Dahlan yang sangat menginginkan sepatu. Kenapa unik? Karena menurut Mimin, sepatu adalah hal yang sangat biasa dan hampir dimiliki oleh semua orang. Tapi bagi tokoh dalam novel ini, sepatu merupakan sesuatu yang sangat luar biasa. Ini menyadarkan banyak orang untuk bersyukur. Ternyata, sesuatu yang biasa saja menurut kita, sangat berharga bagi orang lain.

Nah, itu adalah novel-novel yang pernah menjadi best seller di Indonesia. Dari penjelasan di atas bisa kita simpulkan, bahwa semua novel yang disebutkan memiliki keunikan masing-masing. Mungkin dari segi judul, dari segi tokoh, atau bisa juga dari segi cerita. Jadi, kesimpulannya, jika Sobat JO ingin novelnya best seller, buatlah cerita yang 'unik', berilah pesan yang baik, dan kemas dengan menarik. Jika kalian ingin menambahkan judul buku lainnya bisa tambahkan di kolom komentar, ya. Selamat menulis, Sobat JO!

Sumber gambar : https://id.aliexpress.com/w/wholesale-stack-book.html



Saturday, September 3, 2016


Oleh : Ixora

Materi #MalmingMenulis yang kali ini Mimin muat di dalam artikel adalah tentang Idealisme Penulis. Sepertinya berat ya kalau sudah menyangkut idealisme. Ih, belum tentu, lho. Kata idealisme dalam tulisan, membuat kita membayangkan tulisan-tulisan yang nyastra dan membuat dahi berkerut. Padahal, idealisme tidak hanya ranah tulisan sastra tapi lebih ke pesan baik apa yang hendak kita sampaikan dalam tulisan? Selain itu, sebesar apa sebuah tulisan bisa mempengaruhi? Seberapa besar jangkauan pembaca yang bisa diraih tulisan tersebut?

Banyak penulis yang akhirnya tidak menghasilkan tulisan apa-apa karena terlalu sibuk berpikir tentang idealismenya. Mereka berpikir kalau tulisannya selalu bertolak belakang dengan selera pasar sehingga pesimis untuk terus menulis. Penulis memiliki kebebasan untuk menyuarakan pesannya dalam bentuk tulisan. Jadi, jangan sampai kebebasan itu akhirnya terbelenggu hanya karena pemikiran mengenai apakah tulisan ini akan diterima oleh pasar atau tidak.

Menulis itu seharusnya membebaskan. Selain tentang kedalaman makna dan pesan yang akan disampaikan, idealisme penulis juga adalah tentang menulis sesuai selera. Nah, berikut Mimin akan share beberapa tips agar Sobat JO tidak berlarut-larut dalam pemikiran mengenai idealisme vs selera pasar.

Pertama, jadikan menulis sebagai sebuah kebutuhan. Jika ini sudah terjadi, maka menulis bukan lagi kita tujukan untuk mencari popularitas atau tujuan yang bersifat komersil melainkan karena kita ingin berbagi pesan, menyuarakan kegelisahan,dan juga bersenang-senang.

Kedua, menulislah sesuai selera kita, perkara selera kita akan sesuai dengan selera pasar atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting selesaikan tulisan yang sesuai dengan selera kita. Tren dalam genre tulisan selalu berganti, tapi tulisan yang diciptakan dengan hati akan menemukan masanya sendiri.

Ketiga, berhenti menuntut kesempurnaan. Tentu kita menginginkan karya yg sempurna, tapi jika kita terus membebankan kesempurnaan dalam karya maka kemungkinannya sangat kecil untuk kita dapat segera menyelesaikan karya tersebut.

Keempat, mulailah mencari penerbit yang sesuai dengan tulisan kita untuk memperkecil resiko tulisan kita akan ditolak. Sekarang, hampir setiap penerbitan memiliki lini untuk genre yang cukup variatif. Hal ini memperluas peluang karya untuk menemukan 'rumahnya'.

Jadi, jangan terlalu terbebani dengan kekhawatiran bahwa idealisme dalam tulisan kita akan bertolak belakang dengan selera pasar. Satu-satunya yang harus segera kita lakukan adalah terus disiplin untuk menulis hingga menghasilkan karya-karya yang membawa kebaikan

Oh iya, salah satu karya yang lahir dari idealisme penulisnya adalah buku 'A Place You Belong' karya Nicco Machi. Buku ini adalah pemenang kedua lomba Way Back Home yang diadakan oleh penerbit Jendela O’ Publishing House. Jika kalian ingin mencari tahu sinopsisnya, bisa dibaca di sini.

Mimin sertakan juga link yang menceritakan  proses lahirnya buku tersebut langsung dari blog penulisnya di sini

Sumber gambar : https://en.wikipedia.org/wiki/Writer




Oleh: Edelweiss

Hai, Sobat JO! Artikel kali ini adalah tema #MalmingMenulis kemarin. Khusus untuk kalian yang tidak sempat menyimak linimasa twitter @JOPHouse.

#MalmingMenulis kemarin, Mimin membahas tentang majas. Majas semacam hiperbola, metafora, personifikasi, pasti sudah sering kalian dengar. Nah,  kali ini Mimin terinspirasi memberi kalian informasi tentang majas-majas yang sering kalian gunakan, namun namanya jarang kalian dengar.

Nah, inilah tujuh di antaranya. Majas apa saja, sih? Yuk, tengok!

1. Majas Eufemisme
Majas ini biasa dipakai untuk menghaluskan penyebutan sebuah kata. Misalnya saja, kita menyebut orang cacat dengan tunadaksa. Mungkin di beberapa tulisan, ada yang menyebut orang cacat dengan mudah tanpa tedeng aling-aling apa pun. Namun kadang, kita harus menggunakan istilah "tunadaksa" demi keetisan dan agar terdengar lebih halus.

2. Majas Metonimia
Majas Metonimia yaitu majas yang menggunakan merek produk barang tertentu menjadi kata ganti dari sebuah benda. Contoh: Aku sangat terkejut sampai tersedak Coca Cola yang sedang kuminum. Pada kalimat contoh tersebut, Coca Cola disebutkan sebagai pengganti minuman kaleng bersoda. Selain itu, masih banyak benda yang bisa diganti dengan mereknya yang banyak dikenal di pasaran.

3. Majas Asosiasi
Majas Asosiasi yaitu gaya bahasa yang membandingkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya. Contoh dari penggunaan majas tersebut salah satunya: Ia makan dengan amat rakus bagai sudah bertahun-tahun tidak melihat nasi. Dalam contoh, kita membandingkan dua keadaan yang setara. Majas ini biasa menggunakan dua keadaan yang setara untuk membandingkan satu sama lain.

4. Majas Antitesis
Majas Antitesis adalah majas yang memadukan dua kata yang berlawanan arti. Bisa dibilang, majas antitesis merupakan kebalikan dari majas asosiasi. Dalam majas antitesis, kita menyandingkan kata yang memiliki arti berlawanan. Contoh dari majas antitesis ini: Menang atau kalah, kita tetap harus menerimanya dalam sebuah kompetisi.

5. Majas Kontrasepsi Interminus
Majas ini merupakan gaya bahasa di mana pernyataan kedua menentang pernyataan sebelumnya. Contohnya begini: Semua anak di sana memakai seragam sekolah mereka, kecuali seorang anak lelaki kurus itu. Dalam klausa pertama, dijelaskan bahwa seluruh anak yang ada di sana memakai seragam sekolah. Namun di klausa kedua, di sana dijelaskan sebuah penentangan pada keadaan pertama. Ada seorang anak lelaki kurus yang tidak memakai seragam karena belum memiliki cukup uang untuk membelinya.

6. Majas Pleonasme
Majas Pleonasme yaitu majas yang menambahkan sebuah kata meskipun itu sebenarnya tidak perlu. Majas ini cenderung pemborosan kata, tapi kita perlu melakukannya untuk menegaskan sebuah maksud. Contoh: "Cepat turun ke bawah! Sekarang!" bentak Ibu dari bawah ketika melihat kekacauan di dapur. Di contoh itu sebenarnya tidak perlu menambahkan kata "ke bawah". Kata "turun" sudah pasti ke bawah. Namun Ibu perlu melakukannya, sebagai penegasan dari kata-katanya.

7. Majas Retorik
Mendengar namanya tentu bukan hal yang asing. Majas retorik adalah gaya bahasa di mana sebuah pertanyaan yang di tulis sudah ada jawabannya sehingga tidak perlu dijawab lagi. Contoh: Apa begini yang namanya kawan? Saat senang mendekat, tapi saat susah semuanya lenyap entah ke mana. Pertanyaan tersebut sudah diberikan jawabannya dalam kalimat selanjutnya. Pembaca tidak perlu menjawab pertanyaan tersebut.

Itulah tujuh majas yang sering digunakan tetapi namanya jarang menyusup ke dalam telinga kita. Majas mana yang sering kalian pakai, Sobat JO? Ataukah ada majas lain lagi yang namanya juga asing dan sering dipakai tapi belum ada di atas? Yuk, silakan komentar dan lengkapi artikel ini.

Sampai jumpa pada kesempatan berikutnya, Sobat JO! Selamat menulis dan teruslah berkarya!

Sumber gambar: https://etismegasari.files.wordpress.com/2015/08/sederhanamm.jpg

Thursday, August 4, 2016

Oleh: Three Friend in Winter


Hari ini Mimin kembali dengan #MalmingMenulis. Tema #MalmingMenulis yang Mimin rangkum kali ini adalah mengenai mencari ide segar untuk menulis.

Sebagai penulis, jika kita ingin naskah kita dilirik oleh penerbit dan pembaca, tentu kita harus menawarkan hal yang “segar”. Hal yang segar itu seperti apa sih? Di zaman sekarang, sudah ada puluhan juta buku dengan berbagai tema yang pernah ditulis. Tentu sangat sulit untuk kita tetap menuliskan hal yang benar-benar baru. Ini adalah tantangan yang dihadapi banyak penulis masa kini.

Namanya ide plot yang mungkin untuk kita jalankan jumlahnya pasti terbatas, yang variatif hanyalah bagaimana sih kita mengeksekusi penulisan tersebut. Misalkan tema tentang perjalanan mencari jati diri dalam novel Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta. Ada seberapa banyak kemungkinan plot yang tercipta dari sebuah tema tersebut?

Kata kunci dari tema tersebut adalah “Perjalanan” dan “Jati diri”. Dari sana kita sudah bisa mencoba menyusun beberapa kemungkinan plot. Salah satunya adalah si tokoh utama benar-benar melakukan perjalanan karena merasa kehidupannya tidak berarti. Ia ingin mencoba menemukan sesuatu; entah itu dirinya atau hidupnya kembali.

Kalau dilihat dari kemungkinan itu, kesannya klise ya? Sudah banyak novel-novel yang bercerita seperti itu. Ada Eat, Pray, Love, Sang Alkemis, Hanif, dsb.

Pembaca senantiasa menginginkan hal baru dari buku yang ia baca. Jika ia sudah dapat menebak keseluruhan cerita, mengapa ia harus membacanya lagi? Penulis yang baik harus menghargai waktu yang telah diberikan pembaca dengan ide mereka yang segar.

Terus, Min, bagaimana cara kita bisa menemukan ide “segar” yang mampu menarik perhatian editor? *jeng-jeng-jeng, musik horor dimulai*

Jangan khawatir! Mimin punya beberapa saran kunci untuk membantu kalian menemukan kesegaran dalam tulisan.

Ada dua hal yang harus kalian pegang selalu.
1.    Pertanyakan segala hal.
Penulis itu sebenarnya kritikus yang paling kejam bagi naskahnya sendiri karena ia tahu segala hal mengenai seluk beluk cerita tersebut. Nah, ketika kalian hendak mengoprek naskah kalian, jangan abaikan perasaan “tidak sreg” kalian pada naskah tersebut. Jangan menipu diri, ah pembaca juga nggak akan tahu. Hal yang janggal yang kalian temukan, itu bisa saja menjadi bumerang untuk naskah tersebut jika diabaikan.

2.    Pilihlah dari jawaban yang paling menarik untukmu.
Jika kalian melemparkan pertanyaan atas naskah tersebut, tentu saja kalian harus menjawabnya. Sulit ya? Terkadang setelah bertanya sekejam itu, kita sering memikirkan “duh ternyata naskahku kok jelek banget sih.” Jangan menyerah! Semangat. Jawab semua hal yang kalian pertanyakan. Putar otak. Penulis itu harus kreatif. Pilihlah jawaban dari hal yang paling menarik untuk kalian. Kalian pasti bisa dong merasakan: wah jawaban yang ini keren juga. *narsis sedikit boleh lah*

Dari jawaban-jawaban itu, olahlah ide naskah tersebut. Jika dari penulis saja sudah merasa “excited” dan nggak sabar untuk menuliskan ide-ide gila itu, tentu nicsaya pembaca akan merasakan hal yang sama. Kunci utama, penulis harus larut dalam tulisannya sendiri terlebih dahulu.

Mau Mimin kasih contoh?
Dari tema SMPKB yang di atas.  Idenya tentang si tokoh utama melakukan perjalanan karena merasa kehidupannya tidak berarti. Ia ingin mencoba menemukan sesuatu; entah itu dirinya atau hidupnya kembali.

Bagaimana cara Suarcani meramu ide ini untuk menjadi lebih segar? Pertama, siapa seseorang itu? Kalau orang biasa-biasa saja, mungkin bisa jadi menarik, tapi penulis memberikan sesuatu yang lebih. Tokoh utama SMPKB bukan orang biasa. Dia adalah mantan narapidana yang baru saja bebas dari penjara. Beh!

Kemudian hal lain yang perlu ditanyakan. Mengapa dia ingin melakukan perjalanan itu? Karena setelah bebas, justru ia malah kembali dipenjara oleh ketakutannya.

Apa yang ia cari? Bagaimana hubungannya dengan orang-orang sekitar? Apakah tokoh utama pernah mengalami suatu kejadian yang meninggalkan luka/trauma? Bagaimana status sosial tokoh utama?

Dan banyak hal lagi yang bisa kita pertanyakan dan harus jawab satu persatu. Dari sini kita bisa memilih hal-hal yang menarik perhatian kita untuk diramu menjadi SMPKB.

Tidak hanya mengenai karakter. Kita dapat melakukan hal yang sama pada setting tempat. Dalam SMPKB, contohnya, setting utama dibuat di Bali. Kalau dalam bayangan kita, ah Bali. Pasti pantai lagi. Ah, pasti Ubud lagi. Tapi penulis mencoba menawarkan hal yang menurut Mimin lebih segar. Sebuah tur perjalanan spiritual. Bali, kita tentu tahu dipenuhi dengan hal-hal yang sangat spiritual. Bahkan pohon-pohon di jalan pun memiliki nyawa. Dalam SMPKB, kita bisa melihat Bali yang berbeda daripada Bali yang kita selalu ketahui. Bisa jadi referensi pula jika kita ingin berwisata ke sana.

Selain hal-hal yang berkaitan dengan narasi, kita juga tidak boleh melewatkan dialog. Dialog yang kita tulis pun harus terasa segar.

Apa hal yang paling klise untuk diucapkan? (tentu saja jangan gunakan hal tersebut)

Bagaimana kalian dapat membuat hal klise tersebut menjadi lebih menarik?

Bagaimana perasaan karaktermu ketika mengatakan dialog tersebut? Apakah hal tersebut mempengaruhi mereka secara emosional, fisik? Bagaimana hal tersebut mempengaruhi cara pengucapan mereka?

Bagaimana karakter tokoh kalian? Apakah sarkastik, ceria, bandel, pendiam? Tentu karakteristik tokoh tersebut harus diperhatikan ketika kalian akan memasukkan nyawa ke dalam dialog-dialog mereka.

Contohnya dialog ini.

Ravit(R): Siapa kamu sebenarnya?
Uci(U)   : Aku? Aku bukan siapa-siapa.

Pada awal dialog, jawaban Uci tentu terdengar klise. Kita sering kali mendengar orang ketika ditanya siapa, jawabannya bukan siapa-siapa. Bagaimana cara kita membuat dialog ini lebih hidup?

Kalau penulis memilih untuk mempertegas hal tersebut dalam dialog selanjutnya.

R: Tapi ... kenapa kamu seolah tahu sesuatu?
U: Aku bukan siapa-siapa. Aku juga tidak tahu kamu siapa. Tapi, hanya dengan melihatmu seperti ini, aku bisa paham kalau kamu berbeda dari kebanyakan. Kamu ...” dia berhenti, hanya untuk memberiku tatapan ragu. “Kamu seperti orang ketakutan.”

Dari sini kita bisa bisa melihat dialog yang Uci ucapkan sangat menunjukkan karakter Uci yang cuek sekaligus galak.  Kita bisa merasakan ada suspense singkat saat menanti jawaban Uci atas pendapatnya mengenai Ravit. Penulis membuat kalimat ini terasa tidak klise. Dengan memasukkan unsur-unsur dari pertanyaan yang Mimin sudah sebutkan sebelumnya.

Nah, sekian #MalmingMenulis kali ini. Semoga bermanfaat. Kalau kalian penasaran kelanjutan percakapan Uci dan Ravit, kalian bisa membaca dalam SMPKB. :)


Yang belum punya dan ingin pesan, bisa langsung ke sini. 
Sumber gambar : http://img00.deviantart.net/21db/i/2010/162/9/8/fresh_idea_juice_by_ronaldesign.jpg

Oleh : Three Friend in Winter

Selamat malam, Sobat JO! Ada yang pernah membaca kalimat di atas?

YUP! Kalau ada yang senang dengan karya Ernest Hemingway, pasti tahu dengan kalimat yang satu ini. Kalimat ini sering disangkutpautkan dengan Hemingway. Ini adalah flashfiction. Kalimat yang satu ini sering juga menjadi contoh cerita terpendek. Hanya berisi enam kata, tapi di balik enam kata ini terdapat banyak cerita yang  bisa ditangkap. Seperti ada apa dengan sepatu bayi ini? Mengapa tidak pernah dipakai? Mengapa ingin dijual? dsb.

Nah, Sobat JO. Malam ini Mimin mau share tentang flash fiction. Ada yang tahu apa sih flash fiction itu?

Flash fiction, Mimin singkat sebagai FF saja, ya? FF ini adalah sebuah gaya dalam penulisan fiksi. FF ini adalah karya fiksi yang sangat singkat, bahkan lebih singkat daripada cerita pendek. Hingga saat ini belum ada patokan maksimal jumlah kata yang pasti mengenai FF ini. Ada yang bilang paling banyak 250 kata, ada juga yang bilang 1000 kata.

Di Indonesia sendiri ada banyak sebutan lain yang merujuk pada FF ini seperti cerita mini alias cermin, fiksi mini, fiksi kilat, dsb.

Meskipun sangat singkat, tapi bukan berarti FF ini adalah penggalan cerita, loh. FF punya pembukaan, punya inti cerita, dan punya penyelesaian. Ada karakter, juga konflik.

Untuk membuat FF, kita harus memanfaatkan jumlah kata yang terbatas itu dengan sebaik-baiknya. Setiap kata harus berarti. Tidak boleh bertele-tele. Seperti twitter, hanya 140 karakter tapi harus mewakili isi pikiran kita.

Menurut Mimin nih, FF ini punya potensi besar untuk membantu kita keluar dari writer’s block. Kadang kita kan pernah mengalami ‘ingin menulis sesuatu tapi kok mentok ya’. Kadang yang terpikir hanya beberapa kalimat semacam writing prompt. Ini jika kita tuliskan sebagai FF, bisa jadi dalam proses menulis atau beberapa lama setelah menuliskan FF tersebut, cerita itu punya potensi untuk dikembangkan.

Seperti nih, Mimin beri contoh. Sewaktu sedang riset untuk materi #MalmingMenulis minggu ini Mimin menemukan FF yang menarik. Dua kalimat itu berbunyi sepert ini: (Mimin terjemahkan menjadi Bahasa Indonesia)

 Aku menemukan surat wasiat bunuh diri ibuku. Tidak ada bunga, tidak ada alasan, tidak ada apa pun.

Kalau Sobat JO membaca dua kalimat ini apa yang yang terbayang oleh kalian? Share dong.

Kalau Mimin membaca dua kalimat ini jadi mulai memikirkan beberapa kemungkinan untuk melanjutkan cerita. Seperti: Bagaimana perasaan tokoh ini ketika menemukan itu? Apa yang akan dilakukan tokoh ‘aku’ ini menanggapi surat wasiat tersebut? Mengapa sang Ibu bunuh diri?

Wah kalau dilanjutkan asumsi-asumi ini bisa sangat panjang. Tapi ini bukti kan bahwa FF punya potensi besar untuk membantu kita mengatasi kebuntuan saat menulis. Menulis FF itu punya tantangan sendiri. Dalam jumlah kata yang terbatas, kita harus dapat memberikan inti cerita, konflik, penyelesaian, dan akan lebih baik jika termasuk twist.


Nah, Sobat JO. Demikian #MalmingMenulis kali ini. Apabila ada Sobat JO yang bisa membuat FF menarik, boleh ditulis di kolom komentar ya.. 

http://lydianetzer.blogspot.co.id/2013/04/how-to-write-science-fiction-flash.html

Wednesday, July 27, 2016

Oleh : Ixora
#MalmingMenulis kemarin membahas tentang Cara Meningkatkan Kualitas Tulisan. Berikut, Mimin share artikelnya untuk Sobat JO, yang kemarin melewatkannya.
Topik ini cukup penting karena banyak penulis yang sudah merasa puas akan tulisannya dan berhenti sampai di situ. Berhenti dalam artian tidak berusaha untuk meningkatkan kualitas tulisannya. Akibatnya, kita hanya akan merasa puas karena sudah bisa merangkai kata-kata dengan baik, kita merasa ahli saat sudah bisa mengoreksi struktur kalimat, penulisan kata yang benar, dan bangga menggunakan kata-kata yang sulit dan susah dimengerti dalam tulisan.
Tapi, apakah kita sudah bisa melahirkan tulisan yang menggerakkan? Tulisan yang bisa mempengaruhi orang? Tulisan yang mengajak dan memikat? Itu terdengar sangat sulit tapi sebenarnya dapat kita ciptakan apabila kita terus meningkatkan kualitas tulisan kita. Nah, Mimin akan sharing beberapa tips untuk meningkatkan kualitas tulisan kita agar tidak jalan di tempat.
Pertama. Berlatih membuat kalimat yang menarik. Hindari kata-kata yang  hambar dan sudah sangat umum digunakan, tapi juga tidak perlu mencari kata-kata yang jarang digunakan hanya untuk membuat pembaca terkesan. Sewajarnya saja namun mampu memikat pembaca.

Kedua, luwes dalam setiap peralihan (waktu, tempat, percakapan, dll) sehingga pembaca akan terus terpesona dan tidak diberi jeda untuk merasa bosan dan meninggalkan buku kita.

Ketiga, membaca keras – keras tulisan kita. Biasanya, cara tersebut akan membantu kita dalam mengoreksi tanda baca yang tepat, membuat kalimat menjadi berirama, bahkan menambahkan emosi baru yang sebelumnya tidak kita temukan dalam tulisan tersebut. 

Keempat, menjadikan menulis sebagai sebuah kebiasaan. Caranya sediakan satu waktu khusus untuk menulis dan tepati jadwal tersebut. Tidak perlu lama, kadang 25-30 menit per hari sudah cukup.

Kelima, beri target kepada diri sendiri. Misalnya harus memposting satu artikel di blog setiap minggunya. Atau harus menulis satu cerpen setiap bulannya.

Keenam, masuk di dalam sebuah komunitas kepenulisan. Hal ini akan sangat membantu memotivasi kita dalam menulis dan memperbaiki tulisan kita. Selain itu kita bisa saling bersaing secara positif untuk menghasilkan tulisan yang baik. Jadi tidak hanya main pokemon go saja yang seru kalau berkelompok, menulis juga seru, lho kalau berkelompok.

Ketujuh, tidak takut dikritik. Kalau perlu, kirimkan tulisan kita ke salah satu teman yang jago mengkritik. Jangan baper ya kalau tulisannya dicaci maki. Hehe...

Yang terakhir, jangan pernah berhenti belajar. Jangan cepat puas akan hasil tulisan kita. Dunia kepenulisan sangat dinamis, genre buku pun berlomba-lomba untuk menjadi yang paling diminati, pembaca juga semakin lama semakin tidak mudah dipuaskan, jadi, terus memperluas wawasan, jangan terpaku pada satu genre yang merupakan zona nyaman kita, ya.

Nah, sekian artikel #MalmingMenulis kali ini. Kalau ada pertanyaan, silahkan tulis di kolom komentar ya. Semoga bermanfaat😊

Sumber gambar: http://www.klikmania.net/wp-content/uploads/2016/06/ideas.jpg

 



Tuesday, July 12, 2016


Oleh : Ixora

Selamat malam Sobat JO, berikut Mimin hadirkan rangkuman #MalmingMenulis untuk kalian yang tidak sempat menyimaknya di linimasa twitter @JOPHouse.

#MalmingMenulis kemarin membahas tentang konflik. Konflik apa Min? Konflik dalam tulisan kita dong pastinya. Konflik yang akan dialami oleh tokoh dalam cerita kita.

Mengapa ini penting? Karena jika kita tidak mengetahui konflik apa yang tepat dan seberapa besar konflik yang akan kita berikan kepada karakter dalam tulisan kita, maka bisa jadi cerita akan berjalan sangat membosankan. Dalam meramu sebuah konflik, kita juga harus menakar kewajaran. Konflik yang terlalu berat yang kita kenakan kepada tokoh dalam cerita yang sederhana justru akan membuat para tokoh akan kehilangan perannya dan cerita tidak akan berjalan seperti yang kita harapkan. Konflik yang baik dalam sebuah cerita harus tetap bisa menyatukan seluruh komponen cerita meskipun ketegangan cerita terus memuncak. Bagaimana cara menjaga ketegangan sebuah cerita bisa dilihat di artikel ini.

Nah, konflik apa saja sih atau  “ujian” apa saja yang bisa kita berikan kepada tokoh-tokoh dalam cerita kita sehingga cerita kita akan membuat ‘baper’ pembacanya?

Pertama, kita bisa memberi konflik fisik kepada tokoh kita. Ujian fisik ini bisa berupa terjebak bersama di sebuah pulau tidak berpenghuni, terjebak di pesawat yang dibajak, terjebak sebagai sandera, dan banyak lagi contohnya. Dalam konflik fisik ini, para tokoh dipaksa untuk bertahan hidup dengan memanfaatkan semua sumber daya yang tersisa karena tidak boleh meninggalkan lingkungannya. Para tokoh juga dipaksa untuk saling berkompromi meskipun mereka berbeda tujuan. Perlahan-lahan ketegangan konflik akan terus ditingkatkan. Dalam pembajakan pesawat misalnya ketegangan itu bisa ditingkatkan dengan adanya sandera yang dibunuh. Ketegangan konflik di pulau terpencil bisa ditingkatkan saat mulai menipisnya bahan makanan.

Kedua adalah konflik sosial. Konflik ini tidak memaksa para tokoh untuk melampui batas ketahanan fisik mereka namun memaksa para tokoh untuk melewati garis nilai-nilai dan aturan sosial yang berlaku. Konflik sosial ini bisa diciptakan di mana saja. Di kantor, di sekolah, di lingkungan militer, di lingkungan rumah. Konflik sosial bisa kita ciptakan dengan menghadirkan tokoh yang berpegang teguh dengan nilai-nilai sosial yang berlaku dan juga tokoh  yang sangat kritis dan mempunyai pendirian kuat atas pemikirannya. Saat kedua jenis tokoh tersebut berbenturan, maka terjadilah konflik sosial.

Ketiga, yaitu konflik emosional. Konflik ini berasal dari dalam diri tokoh seperti keinginan-keinginannya dan nilai – nilai yang dipegang teguh olehnya. Faktor-faktor tersebut membuat sang tokoh bertahan dalam situasi yang sangat tidak nyaman untuknya. Misalnya, seorang tokoh yang bertahan dalam hubungan yang buruk entah itu dalam hubungan percintaan atau pun hubungan kerja. Konflik emosional biasanya adalah konflik yang paling kuat dalam menyatukan keseluruhan cerita tapi juga paling sulit untuk dikembangkan secara maksimal. Untuk menghasilkan sebuah konflik emosional yang mendalam, penulis perlu meyakinkan pembaca bahwa keinginan tokoh untuk bertahan dalam situasi yang sulit untuknya sangat besar dibandingkan kesulitan yang harus ia terima.

Jika kalian pernah larut dalam konflik sebuah cerita, bisa dipastikan bahwa penulisnya telah sukses dalam meramu konflik untuk para tokoh dalam ceritanya.

Mimin kasih contoh satu buku yang berhasil memuat konflik emosional secara mendalam adalah Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta karya Suarcani . Resensinya bisa kalian baca di sini.

Nah, Sobat JO ada tidak yang bisa memberi contoh buku yang memuat konflik fisik, sosial, atau emosional? Silahkan isi di kolom komentar ya. J

Sumber gambar: http://cdn4.goabroad.com/images/program_content/cover/conflict-resolution-1441274329.jpg



Oleh : Orchid

Hai, Sobat JO! Bagi kalian yang kemarin tidak sempat untuk menyimak #MalmingMenulis, tenang aja yap, karena Mimin dengan baik hati sudah merangkum tweet #MalmingMenulis kemarin. Yuk langsung saja disimak.

#MalmingMenulis kemarin, Mimin membahas “Cara Menjaga Suspense”. Apa itu suspense? Suspense adalah teknik atau gaya bercerita untuk menciptakan ketegangan dan ketidakpastian di benak pembaca.

Pernahkah Sobat JO menyelesaikan satu novel dalam waktu beberapa jam karena penasaran? Nah, itu berarti novel tersebut memiliki kadar suspense yang tinggi. Suspense sendiri timbul karena pembaca menyadari adanya ketidakpastian yang sedang menimpa tokoh. Atau karena pembaca merasa belum terpuaskan dengan cerita yang ada sehingga pembaca merasa penasaran. Misal saja, pembaca ingin si tokoh A jadian dengan tokoh B. Tapi sampai halaman 150, kedua tokoh tersebut masih belum juga jadian. Hal itu tentu saja akan membuat pembaca penasaran.

Nah, lalu bagaimana cara kita sebagai penulis, dapat menciptakan suspense? Salah satu teknik untuk menimbulkan suspense adalah teknik foreshadowing. Foreshadowing? Apa itu? Teknik foreshadowing adalah teknik menampilkan peristiwa-peristiwa masa depan pada saat ini secara tidak langsung. Jadi, foreshadowing itu semacam tanda-tanda bahwa di masa depan, si tokoh akan mengalami suatu peristiwa besar.

Ada tiga faktor yang diperlukan untuk memunculkan ketegangan. Yang pertama adalah membuat pembaca merasa empati dengan si tokoh dalam cerita. Caranya adalah dengan menggambarkan luka, keinginan, atau perjuangan yang dialami oleh tokoh tersebut. Faktor yang kedua adalah perhatian pembaca. Jadi, kita harus bisa menarik perhatian pembaca  terhadap si tokoh. Cara mendapatkan perhatian pembaca adalah dengan memasukkan; apa yang tokoh inginkan (Cinta, kebebasan, dll), bagaimana cara si tokoh mendapatkan keinginan itu, dan apa konsekuensi yang terjadi jika si tokoh tidak mendapatkan keinginan itu. Dan faktor yang terakhir adalah adanya bahaya yang mengancam tokoh tersebut. Selanjutnya adalah biarkan tokoh menceritakan pada pembaca soal apa yang ia rencanakan.

Untuk menimbulkan ketegangan, tambahkan deadline pada tokoh tersebut. Maksudnya, Min? Kalian tentu tahu cerita Cinderela, kan? Diceritakan bahwa pada jam 12 malam, Cinderela harus sudah kembali ke rumahnya. Cinderela bergegas menuruni tangga istana saat ia menyadari jam dinding berdentang. Pangeran memanggil. Si Putri Cantik tak perduli. Satu sepatunya terlepas, ia ingin mengambilnya, tapi sudah tak ada waktu lagi. Ia terus berlari. Tengah malam sebentar lagi. Bahkan dengan adanya batasan waktu, sebuah dongeng bisa menjadi tegang.

Cara lainnya adalah dengan membuat masalah baru ketika masalah si tokoh baru saja selesai. Kalau bisa, buatlah masalah yang lebih besar dari sebelumnya. Itu akan membuat pembaca penasaran dan meneruskan membaca karyamu. Seperti dalam novel Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta karya Suarcani, ketegangan demi ketegangan timbul di sepanjang cerita sehingga akan membuat pembaca penasaran untuk membaca hingga halaman terakhir.


Sumber gambar: https://www.suspensefestival.com/wp-content/uploads/2015/07/suspensehead3.png

Tuesday, March 29, 2016


Oleh: Three Friend in Winter dan Ixora

Selamat malam, Sobat JO. Untuk kalian yang kemarin ketinggalan #MalmingMenulis, Mimin berbaik hati merangkumkannya untuk kalian dalam artikel ini. Berhubung masih dalam suasana Paskah, Mimin mau membahas tentang 7 dosa besar penulis kepada karyanya. Dosa? Diksimu, Min... ngeri. 
Eh, ngomong-ngomong sudah pada pesan belum novel pemenang pertama lomba #WayBackHome kemarin? Nggak penasaran nih naskah seperti apa sih yang berhasil memenangkan hati para juri dari antara 137 naskah yang masuk? Kalau mau pesan, lihat di sini ya... #eaMiminPromoTerus.

Baiklah kembali ke topik #MalmingMenulis, menurut Mimin, pada dasarnya tidak ada ide yang buruk, yang ada hanya eksekusi yang buruk. Jaman sekarang, ide yang benar-benar baru itu hampir mustahil untuk ditemukan.Contohnya saja, kita mau menulis tentang cinta terlarang, Shakespeare sudah pernah menuliskannya. Atau tentang perempuan miskin yang ditolong oleh pria kaya, sudah ada di dalam cerita Cinderella. Tidak ada yang benar-benar baru di bawah matahari. Sobat JO setuju? Yang ada adalah bagaimana kita membuat hal tersebut menjadi terasa lebih segar. 

Nah, malam ini Mimin mau sharing mengenai kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan oleh penulis ketika mengeksekusi naskahnya. Apa saja itu? Yuk simak #MalmingMenulis kali ini.

Pertama, pembukaan yang membosankan. Ini sering sekali terjadi. Mimin pun masih sering melakukannya. Pembukaan yang membosankan itu apa sih? Itu adalah pembukaan yang sudah terlalu sering dipakai sehingga terasa basi. Contohnya, pada novel teenlit adegan dimulai dari tokoh utama yang bangun kesiangan. Duh, ini contoh yang zadul sekali. Mimin punya contoh lain juga. Adegan dimulai dari pengenalan tokoh; kehidupan sehari-hari, karakter, musuhnya, dll. Errr... Mimin yakin belum sampai 1 bab habis dibaca, editor pasti akan menutup kembali file tersebut karena bosan. Jika diawal saja semua informasi tersebut sudah dijejalkan paksa, untuk apa pembaca membaca kelanjutan ceritanya? 

Itu membawa Mimin pada poin kesalahan kedua. Tidak memberikan ruang imajinasi kepada pembaca. Kalau kalian membaca sebuah buku, apa sih yang biasanya kalian cari? Kalau Mimin sih mencari cerita yang bisa membuat Mimin terhanyut dalam dunia yang ditawarkan penulis.Untuk dapat hanyut dalam cerita, tentu kita perlu ruang untuk terlibat. Seperti yg Mimin pernah sampaikan di #MalmingMenulis sebelumnya. Bisa dibaca di sini Jika semua hal diceritakan kepada pembaca dalam bentuk informasi, bagaimana pembaca dapat berempati kepada tokoh utama? Pembaca itu perlu dibuat penasaran, perlu dibuat baper.

Ketiga, karakterisasi yang terlalu sempurna atau tidak realistis. Sebagai penulis, terkadang kita punya kecenderungan untuk menuliskan sesuatu yang ideal. Oleh karena itu sering kali, terbentuk karakter yang terlalu baik atau terlalu jahat. Tapi, karakter yang terlalu sempurna itu sulit, loh mengundang empati pembaca. Sekali pun karakter itu dilukiskan serba baik. Coba perhatikan deh orang-orang di sekitar kalian. Atau perhatikan diri kalian sendiri. Apakah kalian 100% baik/jahat? Tidak, kan? Karakter yang realistis adalah karakter yang punya kelebihan maupun kekurangan. Sisi baik dan sisi jahat.

Keempat, penulis membuat adegan yang tidak punya kontribusi terhadap cerita. Terkadang hanya karena alasan "suka aja”. Setiap adegan dan petunjuk dalam ceritamu harus punya alasan dan kontribusi dalam cerita,loh. Seperti dalam teori Chevkov's gun nih. Jika di bab 1 kalian tuliskan ada pistol di sana, maka di bab selanjutnya pistol itu harus digunakan. Membuang adegan yang disukai (yang notabene tidak ada kontribusi terhadap cerita) itu memang sangat sulit. Tapi di sini penulis harus mencoba objektif. Apakah adegan tersebut berfungsi atau tidak?

Nah, ini dia kesalahan penulis yang kelima malas membaca kembali naskah yang telah diselesaikan.Tidak hanya banyak kesalahan ketik dan cacat logika saja yang akan ada dalam naskah yang tidak disunting ulang, tapi juga kemungkinan banyak adegan yang tidak punya fungsi dalam cerita. Bahkan kemungkinan adegan itu merusak jalan cerita pun ada.

Kesulitan penulis untuk membuang adegan yang disukai juga bisa jadi karena penulis tidak benar-benar memahami apa yang ingin dikatakan. Inilah kesalahan penulis yang keenam. Penulis tidak tahu apa premis cerita yang akan ditulis. Sering tidak, sih Sobat JO ketika menulis hanya menulis karena ingin menulis saja? Sering juga tidak jika pada akhirnya Sobat JO tidak tahu sebenarnya apa sih yang baru saja ditulis atau dikatakan? Sebenarnya itu sah saja dilakukan oleh penulis. Terkadang kita hanya perlu menulis untuk mengeluarkan uneg-uneg yg ada di dalam otak. Tapi, kurang tepat loh jika kita mengirimkan naskah hasil mengeluarkan uneg-uneg tanpa menyuntingnya lagi. Menyunting bukan hanya berarti memotong bagian yang tidak seharusnya, tapi juga merapikan :) Ketika kalian menyunting naskah alangkah baiknya jika kalian coba menyimpulkan, apa yang kalian ingin katakan. Lebih baik lagi, jika sejak awal sebelum menulis kalian sudah paham apa yang ingin dikatakan. Kembali memahami premis dan kesimpulan cerita yang ingin disampaikan juga dapat membantu menghindari kesalahan penulis yang selanjutnya.


Tujuh, judul tidak sesuai dengan isi naskah. Sering tidak kalian merasa kesulitan membuat judul yang menarik? Judul itu merupakan jendela yg membawa pembaca kepada isi cerita. Judul juga memberikan sedikit gambaran tentang apa sih ceritamu. Nah, dengan memahami apa yg ingin dikatakan dapat membantu penulis untuk merumuskan judul yang tepat bagi naskah yang ia miliki. Nah, sekian #MalmingMenulis minggu ini. Semoga bermanfaat.



Sumber gambar:http://www.bloggek.com/2015/08/kesalahan-blogger-saat-membuat-artikel.html