Thursday, August 4, 2016

Oleh: Three Friend in Winter


Hari ini Mimin kembali dengan #MalmingMenulis. Tema #MalmingMenulis yang Mimin rangkum kali ini adalah mengenai mencari ide segar untuk menulis.

Sebagai penulis, jika kita ingin naskah kita dilirik oleh penerbit dan pembaca, tentu kita harus menawarkan hal yang “segar”. Hal yang segar itu seperti apa sih? Di zaman sekarang, sudah ada puluhan juta buku dengan berbagai tema yang pernah ditulis. Tentu sangat sulit untuk kita tetap menuliskan hal yang benar-benar baru. Ini adalah tantangan yang dihadapi banyak penulis masa kini.

Namanya ide plot yang mungkin untuk kita jalankan jumlahnya pasti terbatas, yang variatif hanyalah bagaimana sih kita mengeksekusi penulisan tersebut. Misalkan tema tentang perjalanan mencari jati diri dalam novel Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta. Ada seberapa banyak kemungkinan plot yang tercipta dari sebuah tema tersebut?

Kata kunci dari tema tersebut adalah “Perjalanan” dan “Jati diri”. Dari sana kita sudah bisa mencoba menyusun beberapa kemungkinan plot. Salah satunya adalah si tokoh utama benar-benar melakukan perjalanan karena merasa kehidupannya tidak berarti. Ia ingin mencoba menemukan sesuatu; entah itu dirinya atau hidupnya kembali.

Kalau dilihat dari kemungkinan itu, kesannya klise ya? Sudah banyak novel-novel yang bercerita seperti itu. Ada Eat, Pray, Love, Sang Alkemis, Hanif, dsb.

Pembaca senantiasa menginginkan hal baru dari buku yang ia baca. Jika ia sudah dapat menebak keseluruhan cerita, mengapa ia harus membacanya lagi? Penulis yang baik harus menghargai waktu yang telah diberikan pembaca dengan ide mereka yang segar.

Terus, Min, bagaimana cara kita bisa menemukan ide “segar” yang mampu menarik perhatian editor? *jeng-jeng-jeng, musik horor dimulai*

Jangan khawatir! Mimin punya beberapa saran kunci untuk membantu kalian menemukan kesegaran dalam tulisan.

Ada dua hal yang harus kalian pegang selalu.
1.    Pertanyakan segala hal.
Penulis itu sebenarnya kritikus yang paling kejam bagi naskahnya sendiri karena ia tahu segala hal mengenai seluk beluk cerita tersebut. Nah, ketika kalian hendak mengoprek naskah kalian, jangan abaikan perasaan “tidak sreg” kalian pada naskah tersebut. Jangan menipu diri, ah pembaca juga nggak akan tahu. Hal yang janggal yang kalian temukan, itu bisa saja menjadi bumerang untuk naskah tersebut jika diabaikan.

2.    Pilihlah dari jawaban yang paling menarik untukmu.
Jika kalian melemparkan pertanyaan atas naskah tersebut, tentu saja kalian harus menjawabnya. Sulit ya? Terkadang setelah bertanya sekejam itu, kita sering memikirkan “duh ternyata naskahku kok jelek banget sih.” Jangan menyerah! Semangat. Jawab semua hal yang kalian pertanyakan. Putar otak. Penulis itu harus kreatif. Pilihlah jawaban dari hal yang paling menarik untuk kalian. Kalian pasti bisa dong merasakan: wah jawaban yang ini keren juga. *narsis sedikit boleh lah*

Dari jawaban-jawaban itu, olahlah ide naskah tersebut. Jika dari penulis saja sudah merasa “excited” dan nggak sabar untuk menuliskan ide-ide gila itu, tentu nicsaya pembaca akan merasakan hal yang sama. Kunci utama, penulis harus larut dalam tulisannya sendiri terlebih dahulu.

Mau Mimin kasih contoh?
Dari tema SMPKB yang di atas.  Idenya tentang si tokoh utama melakukan perjalanan karena merasa kehidupannya tidak berarti. Ia ingin mencoba menemukan sesuatu; entah itu dirinya atau hidupnya kembali.

Bagaimana cara Suarcani meramu ide ini untuk menjadi lebih segar? Pertama, siapa seseorang itu? Kalau orang biasa-biasa saja, mungkin bisa jadi menarik, tapi penulis memberikan sesuatu yang lebih. Tokoh utama SMPKB bukan orang biasa. Dia adalah mantan narapidana yang baru saja bebas dari penjara. Beh!

Kemudian hal lain yang perlu ditanyakan. Mengapa dia ingin melakukan perjalanan itu? Karena setelah bebas, justru ia malah kembali dipenjara oleh ketakutannya.

Apa yang ia cari? Bagaimana hubungannya dengan orang-orang sekitar? Apakah tokoh utama pernah mengalami suatu kejadian yang meninggalkan luka/trauma? Bagaimana status sosial tokoh utama?

Dan banyak hal lagi yang bisa kita pertanyakan dan harus jawab satu persatu. Dari sini kita bisa memilih hal-hal yang menarik perhatian kita untuk diramu menjadi SMPKB.

Tidak hanya mengenai karakter. Kita dapat melakukan hal yang sama pada setting tempat. Dalam SMPKB, contohnya, setting utama dibuat di Bali. Kalau dalam bayangan kita, ah Bali. Pasti pantai lagi. Ah, pasti Ubud lagi. Tapi penulis mencoba menawarkan hal yang menurut Mimin lebih segar. Sebuah tur perjalanan spiritual. Bali, kita tentu tahu dipenuhi dengan hal-hal yang sangat spiritual. Bahkan pohon-pohon di jalan pun memiliki nyawa. Dalam SMPKB, kita bisa melihat Bali yang berbeda daripada Bali yang kita selalu ketahui. Bisa jadi referensi pula jika kita ingin berwisata ke sana.

Selain hal-hal yang berkaitan dengan narasi, kita juga tidak boleh melewatkan dialog. Dialog yang kita tulis pun harus terasa segar.

Apa hal yang paling klise untuk diucapkan? (tentu saja jangan gunakan hal tersebut)

Bagaimana kalian dapat membuat hal klise tersebut menjadi lebih menarik?

Bagaimana perasaan karaktermu ketika mengatakan dialog tersebut? Apakah hal tersebut mempengaruhi mereka secara emosional, fisik? Bagaimana hal tersebut mempengaruhi cara pengucapan mereka?

Bagaimana karakter tokoh kalian? Apakah sarkastik, ceria, bandel, pendiam? Tentu karakteristik tokoh tersebut harus diperhatikan ketika kalian akan memasukkan nyawa ke dalam dialog-dialog mereka.

Contohnya dialog ini.

Ravit(R): Siapa kamu sebenarnya?
Uci(U)   : Aku? Aku bukan siapa-siapa.

Pada awal dialog, jawaban Uci tentu terdengar klise. Kita sering kali mendengar orang ketika ditanya siapa, jawabannya bukan siapa-siapa. Bagaimana cara kita membuat dialog ini lebih hidup?

Kalau penulis memilih untuk mempertegas hal tersebut dalam dialog selanjutnya.

R: Tapi ... kenapa kamu seolah tahu sesuatu?
U: Aku bukan siapa-siapa. Aku juga tidak tahu kamu siapa. Tapi, hanya dengan melihatmu seperti ini, aku bisa paham kalau kamu berbeda dari kebanyakan. Kamu ...” dia berhenti, hanya untuk memberiku tatapan ragu. “Kamu seperti orang ketakutan.”

Dari sini kita bisa bisa melihat dialog yang Uci ucapkan sangat menunjukkan karakter Uci yang cuek sekaligus galak.  Kita bisa merasakan ada suspense singkat saat menanti jawaban Uci atas pendapatnya mengenai Ravit. Penulis membuat kalimat ini terasa tidak klise. Dengan memasukkan unsur-unsur dari pertanyaan yang Mimin sudah sebutkan sebelumnya.

Nah, sekian #MalmingMenulis kali ini. Semoga bermanfaat. Kalau kalian penasaran kelanjutan percakapan Uci dan Ravit, kalian bisa membaca dalam SMPKB. :)


Yang belum punya dan ingin pesan, bisa langsung ke sini. 
Sumber gambar : http://img00.deviantart.net/21db/i/2010/162/9/8/fresh_idea_juice_by_ronaldesign.jpg

Tagged: ,

0 comments:

Post a Comment