Oleh: Three Friend in Winter
Hari ini Mimin kembali dengan #MalmingMenulis.
Tema #MalmingMenulis yang Mimin rangkum kali ini adalah mengenai mencari ide
segar untuk menulis.
Sebagai penulis, jika kita ingin
naskah kita dilirik oleh penerbit dan pembaca, tentu kita harus menawarkan hal
yang “segar”. Hal yang segar itu seperti apa sih? Di zaman sekarang, sudah ada
puluhan juta buku dengan berbagai tema yang pernah ditulis. Tentu sangat sulit
untuk kita tetap menuliskan hal yang benar-benar baru. Ini adalah tantangan
yang dihadapi banyak penulis masa kini.
Namanya ide plot yang mungkin untuk
kita jalankan jumlahnya pasti terbatas, yang variatif hanyalah bagaimana sih
kita mengeksekusi penulisan tersebut. Misalkan tema tentang perjalanan mencari
jati diri dalam novel Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta. Ada seberapa
banyak kemungkinan plot yang tercipta dari sebuah tema tersebut?
Kata kunci dari tema tersebut adalah
“Perjalanan” dan “Jati diri”. Dari sana kita sudah bisa mencoba menyusun
beberapa kemungkinan plot. Salah satunya adalah si tokoh utama benar-benar melakukan
perjalanan karena merasa kehidupannya tidak berarti. Ia ingin mencoba menemukan
sesuatu; entah itu dirinya atau hidupnya kembali.
Kalau dilihat dari kemungkinan itu,
kesannya klise ya? Sudah banyak novel-novel yang bercerita seperti itu. Ada
Eat, Pray, Love, Sang Alkemis, Hanif, dsb.
Pembaca senantiasa menginginkan hal
baru dari buku yang ia baca. Jika ia sudah dapat menebak keseluruhan cerita,
mengapa ia harus membacanya lagi? Penulis yang baik harus menghargai waktu yang
telah diberikan pembaca dengan ide mereka yang segar.
Terus, Min, bagaimana cara kita bisa
menemukan ide “segar” yang mampu menarik perhatian editor? *jeng-jeng-jeng,
musik horor dimulai*
Jangan khawatir! Mimin punya beberapa
saran kunci untuk membantu kalian menemukan kesegaran dalam tulisan.
Ada dua hal yang harus kalian pegang
selalu.
1. Pertanyakan segala hal.
Penulis itu
sebenarnya kritikus yang paling kejam bagi naskahnya sendiri karena ia tahu
segala hal mengenai seluk beluk cerita tersebut. Nah, ketika kalian hendak
mengoprek naskah kalian, jangan abaikan perasaan “tidak sreg” kalian pada
naskah tersebut. Jangan menipu diri, ah pembaca juga nggak akan tahu. Hal yang
janggal yang kalian temukan, itu bisa saja menjadi bumerang untuk naskah
tersebut jika diabaikan.
2. Pilihlah dari jawaban yang paling menarik untukmu.
Jika kalian
melemparkan pertanyaan atas naskah tersebut, tentu saja kalian harus
menjawabnya. Sulit ya? Terkadang setelah bertanya sekejam itu, kita sering
memikirkan “duh ternyata naskahku kok jelek banget sih.” Jangan menyerah!
Semangat. Jawab semua hal yang kalian pertanyakan. Putar otak. Penulis itu
harus kreatif. Pilihlah jawaban dari hal yang paling menarik untuk kalian. Kalian
pasti bisa dong merasakan: wah jawaban yang ini keren juga. *narsis sedikit
boleh lah*
Dari
jawaban-jawaban itu, olahlah ide naskah tersebut. Jika dari penulis saja sudah
merasa “excited” dan nggak sabar untuk menuliskan ide-ide gila itu, tentu
nicsaya pembaca akan merasakan hal yang sama. Kunci utama, penulis harus larut dalam tulisannya sendiri terlebih
dahulu.
Mau Mimin kasih contoh?
Dari tema SMPKB yang di atas. Idenya tentang si tokoh utama melakukan
perjalanan karena merasa kehidupannya tidak berarti. Ia ingin mencoba menemukan
sesuatu; entah itu dirinya atau hidupnya kembali.
Bagaimana cara Suarcani meramu ide
ini untuk menjadi lebih segar? Pertama, siapa seseorang itu? Kalau orang
biasa-biasa saja, mungkin bisa jadi menarik, tapi penulis memberikan sesuatu
yang lebih. Tokoh utama SMPKB bukan orang biasa.
Dia adalah mantan narapidana yang baru saja bebas dari penjara. Beh!
Kemudian hal lain yang perlu
ditanyakan. Mengapa dia ingin melakukan perjalanan itu? Karena setelah bebas,
justru ia malah kembali dipenjara oleh ketakutannya.
Apa yang ia cari? Bagaimana
hubungannya dengan orang-orang sekitar? Apakah tokoh utama pernah mengalami
suatu kejadian yang meninggalkan luka/trauma? Bagaimana status sosial tokoh
utama?
Dan banyak hal lagi yang bisa kita
pertanyakan dan harus jawab satu persatu. Dari sini kita bisa memilih hal-hal
yang menarik perhatian kita untuk diramu menjadi SMPKB.
Tidak hanya mengenai karakter. Kita
dapat melakukan hal yang sama pada setting tempat. Dalam SMPKB, contohnya,
setting utama dibuat di Bali. Kalau dalam bayangan kita, ah Bali. Pasti pantai
lagi. Ah, pasti Ubud lagi. Tapi penulis mencoba menawarkan hal yang menurut
Mimin lebih segar. Sebuah tur perjalanan spiritual. Bali, kita tentu tahu
dipenuhi dengan hal-hal yang sangat spiritual. Bahkan pohon-pohon di jalan pun
memiliki nyawa. Dalam SMPKB, kita bisa melihat Bali yang berbeda daripada Bali
yang kita selalu ketahui. Bisa jadi referensi pula jika kita ingin berwisata ke
sana.
Selain hal-hal yang berkaitan dengan
narasi, kita juga tidak boleh melewatkan dialog. Dialog yang kita tulis pun
harus terasa segar.
Apa hal yang paling klise untuk
diucapkan? (tentu saja jangan gunakan hal tersebut)
Bagaimana kalian dapat membuat hal
klise tersebut menjadi lebih menarik?
Bagaimana perasaan karaktermu ketika
mengatakan dialog tersebut? Apakah hal tersebut mempengaruhi mereka secara
emosional, fisik? Bagaimana hal tersebut mempengaruhi cara pengucapan mereka?
Bagaimana karakter tokoh kalian?
Apakah sarkastik, ceria, bandel, pendiam? Tentu karakteristik tokoh tersebut
harus diperhatikan ketika kalian akan memasukkan nyawa ke dalam dialog-dialog
mereka.
Contohnya dialog ini.
Ravit(R): Siapa kamu sebenarnya?
Uci(U) : Aku? Aku bukan siapa-siapa.
Pada awal dialog, jawaban Uci tentu
terdengar klise. Kita sering kali mendengar orang ketika ditanya siapa,
jawabannya bukan siapa-siapa. Bagaimana cara kita membuat dialog ini lebih
hidup?
Kalau penulis memilih untuk
mempertegas hal tersebut dalam dialog selanjutnya.
R: Tapi ... kenapa kamu seolah tahu
sesuatu?
U: Aku bukan siapa-siapa. Aku juga
tidak tahu kamu siapa. Tapi, hanya dengan melihatmu seperti ini, aku bisa paham
kalau kamu berbeda dari kebanyakan. Kamu ...” dia berhenti, hanya untuk
memberiku tatapan ragu. “Kamu seperti orang ketakutan.”
Dari sini kita bisa bisa melihat
dialog yang Uci ucapkan sangat menunjukkan karakter Uci yang cuek sekaligus
galak. Kita bisa merasakan ada suspense singkat saat menanti jawaban
Uci atas pendapatnya mengenai Ravit. Penulis membuat kalimat ini terasa tidak
klise. Dengan memasukkan unsur-unsur dari pertanyaan yang Mimin sudah sebutkan
sebelumnya.
Nah, sekian #MalmingMenulis kali ini.
Semoga bermanfaat. Kalau kalian penasaran kelanjutan percakapan Uci dan Ravit,
kalian bisa membaca dalam SMPKB. :)
Yang belum punya dan ingin pesan,
bisa langsung ke sini.
Sumber gambar : http://img00.deviantart.net/21db/i/2010/162/9/8/fresh_idea_juice_by_ronaldesign.jpg






0 comments:
Post a Comment