Showing posts with label review jumat. Show all posts
Showing posts with label review jumat. Show all posts

Sunday, September 6, 2015

Halo, Sobat JO! Sudah lama sepertinya tidak ada cerpen Selasa Bercerita yang dipajang di website JOPH. Kali ini Mimin datang dengan membawa sebuah cerpen. Minggu lalu JO Team memberikan tema yang sangat mudah. Apa sih tema minggu lalu? Itu adalah lagu. Bebas lagu apa saja, boleh pilih sendiri. Lagu favorit pun silahkan. Untuk yang hobi dengerin lagu, pasti banyak terinpirasi oleh lagu ketika menulis. Mimin adalah salah satu tipe penulis yang seperti itu. :) 

Kalau begitu langsung saja ya, Mimin bagikan cerpen terpilih minggu ini. 




Oleh: Sanny Cicilia

Arwin mungkin manusia paling standar di dunia ini. Dibilang cakep, banyak yang lebih cakep. Dibilang tinggi, biasa saja. Dibilang putih, nggak juga.
Hari ini dia memakai kaos merah polos dan jins biru. Tas ransel hitamnya digendong satu tali. Penampilannya biasa banget.
Kalau Arwin itu pencopet lalu berhasil kabur, korbannya pasti kesusahan memberi deskripsi pada polisi. “Anu pak, pencopetnya pria, hidungnya biasa saja, rambutnya pendek biasa, kulitnya biasa, tingginya biasa. Mukanya juga biasa….”
Hahahahaa!
“Heh, Rumbi! Ngapain senyum-senyum sendiri?!”
Aku kaget setengah mati mendengar suara Tasya. Belum sempat menjawab, Tasya segera mengikuti arah mataku ke seberang kantin.
“Arwin??” tanyanya sambil melihatku lagi dengan muka sumringah.
“Udah makan, Tas? Pesen dulu, gih,” jawabku mengelak sambil nyengir.
Aku sendiri belum menghabiskan siomay yang kupesan karena belum terlalu lapar. Pesanan siomay ini cuma kedok supaya bisa nongkrong di kantin kampus.
Biasanya pada jam sore nanggung begini, Tasya dan aku memilih jalan-jalan ke mal atau toko buku. Atau pulang saja, kalau jam kuliah melelahkan sejak pagi.
Tapi hari ini aku mengajak Tasya nongkrong di kantin. Demi melihat sosok cowok yang namanya baru aku ketahui tiga hari lalu itu. Sebenarnya, sudah sejak bulan lalu aku mulai memperhatikannya.
Bermula di perpustakaan. Ceritanya standar: aku lagi membaca di perpustakaan, semua meja penuh, lalu Arwin memilih duduk di sebelahku. Tapi waktu itu aku belum tahu namanya.
Sambil membaca, diam-diam aku makan coklat. Pastilah suara kresek-kresek bungkus coklat menarik perhatiannya padaku. Lalu aku tersenyum padanya, standar.
Tiba-tiba Arwin tertawa menggelegar. Aku panik. Mata Arwin mengarah ke mulutku. Kuambil ponsel lalu berkaca. Hiiiii…gigiku tertutup coklat.
Arwin segera menahan mulutnya di tengah mata-mata melotot. Sedangkan aku, cuma bisa tertunduk sambil menahan malu. Rasanya ingin hilang sekejap.
Sorry..,” kata dia tanpa menahan senyum.
Nah, momen itulah aku terpana dengan senyum Arwin.  Rasanya seperti mendapat asupan endorphin, perasaan bahagia dan nyaman ketika menyantap coklat.
Seiring waktu, aku baru sadar, Arwin seangkatan denganku dan kerap sekelas di beberapa mata kuliah. Tapi selama ini dia seperti tertelan dengan ratusan mahasiswa lainnya.
Andai dia tidak pernah tersenyum, mungkin aku tidak pernah mengenalinya.
“Mau dikenalin?” Tasya bertanya, seakan membaca pikiranku. Dia menyuap santai mi ayamnya.
“Emang kenal?” tanyaku balik. Tasya mencibir. Dia bilang, pernah sekelompok dengan Arwin untuk tugas salah satu mata kuliah di semester sebelumnya.
“Siomay lo nggak dimakan, Rum? Yaampun deh gara-gara ngeliatin si Arwin itu sampe nggak ngabisin makanan. Mubazir tau. Oh ya ampun ini enak,” katanya sambil menusuk siomayku dengan sumpitnya. Kadang-kadang aku merasa mulut Tasya digerakkan mesin diesel. Tapi aku salut dengan orang-orang yang berani menyuarakan isi kepalanya.
Tasya adalah teman baikku sejak awal kuliah sampai kini semester 3. Dibanding aku yang pendiam, Tasya menghimpun lebih banyak teman di kampus.
Usai menghabiskan semua makanan di meja, Tasya menggamit tanganku. Dia menuju meja tempat Arwin berkumpul dengan teman-temannya. Aku menolak, tapi rasa ingin tahu menyuruhku tetap berjalan.
Tasya lalu menyapa lima-enam orang yang ada di sana, termasuk Arwin. “Oiya, kenalin nih temenku, Rumbina,” kata Tasya setelah kami ikut nimbrung.
Arwin jadi yang pertama menyodorkan tangannya. Senyumnya berkembang. Kembali ada rasa nyaman bak makan coklat.
Aku berharap mataku cukup sopan ketika menatapnya. Suaranya lembut dan kontras dengan sikapnya yang suka berkelakar. Cara bercandanyapun sopan. Aku menduga, bukan cuma aku yang mudah merasa nyaman di dekatnya.
“Kamu suka coklat?” tanya Arwin tiba-tiba. Suaranya terdengar jelas, tapi tak lebih besar ketimbang temannya yang sedang asik bercerita dan menyedot perhatian lainnya.
“Iya. Kaget ya waktu itu?” tanyaku malu karena Arwin mengingat insiden gigi penuh coklat itu.
Arwin terkekeh. “Iya, maaf langsung tertawa begitu aja,” katanya sambil tersenyum tipis.
“Tapi pantesan orang itu dikasih gigi warna putih. Soalnya lebih manis.”
Nafasku tercekat sedetik ketika Arwin menatap.
“Mungkin karena kamu kebanyakan makan coklat,” kata Arwin lagi sambil menyunggingkan senyum. Aku tertawa canggung, menyesali lidahku yang tak pintar merangkai kata untuk membalas ucapannya.
Aku berharap, waktu berhenti dan sempat merekam senyumnya.
Tiba-tiba sepasang tangan merengkuh Arwin dari belakang. Sontak semua mata menatap pemilik tangan tersebut, termasuk Arwin ikut mendongak.
“Beb, katanya mau nganterin pulang,” kata suara manis itu pada Arwin.
“Oh kamu udah selesai. Ayo deh. Guys, duluan ya,” kata Arwin sambil membereskan tasnya. Tak lama kemudian dia berpamitan. Tangannya dan wanita itu bergandengan.
Tasya juga segera menggandeng lenganku. “Kita juga duluan ya. Masih mau jalan nih,” katanya lalu membawaku pergi dari meja itu.
“Rumbi, are you okay?” tanyanya setelah agak jauh dari kantin. Kami berjalan pelan-pelan.
Ingin rasanya menjawab Tasya, I’m okay, tapi tak ada suara yang keluar. Tasya menggamit lebih erat, seakan tahu apa yang aku rasakan.
Tasya ikut terdiam, hal yang janggal kalau dia melakukan itu lebih dari 5 detik.
“Patah hati ekspres nih,” kataku.
Tasya menatapku. “Ah, sekalinya lo bersuara, sedih banget, Rum,” kata Tasya sambil merangkulku. “Gue nggak tau lo senaksir itu sama dia.”
Aku tetap diam. Tasya tak pernah memaksaku menjawab.
“Gitu ya kalau naksir cowok ganteng. Tiba-tiba ada monyetnya,” seloroh Tasya lagi.
Aku tertawa mendengar ocehannya. Bukan karena dia ngatain pacarnya Arwin monyet. Tapi karena dia bilang, Arwin itu ganteng.
Sampai detik ini pun, aku tidak tahu Arwin itu ganteng dimananya. Yang kutahu, dia punya senyum rasa coklat.
Aku kembali membayangkan kalau Arwin jadi pencopet. Lalu korbannya mendeskripsikan: orangnya biasa, tingginya biasa, kulitnya biasa, tapi senyumnya manis banget, pak!
“Nah, cepet juga lo bisa ketawa lagi,” kata Tasya.
“Cari es krim yuk. Mendadak laper,” aku mengajak Tasya.
“Yuk. Gue pingin rasa coklat nih,” katanya. Aku mengangguk, setuju.

Selesai

Cerpen ini terinspirasi dari lagu The Way We Were, Barbra Streisand.
“Memories, may be beautiful and yetWhat’s too painful to rememberWe simply choose to forgetSo it’s the laughterWe will rememberWhenever we remember… The way we were…”


sumber gambar: http://images6.fanpop.com/image/photos/36900000/Chocolate-chocolate-36976897-1680-1050.jpg

 

REVIEW

Oleh: Three Friends in Winter


Pertama-tama, Mimin ingin berkomentar bahwa cerpen ini berhasil membuat Mimin senyum-senyum sendiri sewaktu membacanya. Cerpennya simpel, ringan, dan ada sesuatu yang menarik minat. Terutama, ketika tokoh utama mendeskripsikan sosok yang ia sukai. Mimin suka dengan analogi tersebut. :) Cerpen ini terasa cukup segar dengan kehadiran analogi yang menarik meskipun ceritanya sebenarnya sudah banyak yang serupa. 

Meskipun terasa segar, cerita ini memiliki sebuah kejanggalan yang sepertinya tidak terlalu akan diperhatikan pembaca, namun jika ada yang pembaca yang kritis, hal krusial ini berpengaruh pada cerita, yaitu: Bagaimana cara Rumbi memakan coklatnya hingga giginya tertutup coklat? 
Mimin coba membayangkan hal tersebut namun jika yang tokoh makan adalah coklat batangan, seharusnya camilan tersebut tidak akan menempel di gigi hingga menutupnya. Mungkin coklatnya super lumer kali ya. Hehehe :) 

Mengenai penulisan, di sini Mimin tidak banyak menemukan kesalahan dalam penulisan. Jika ada kesalahan, mungkin karena terlewat. Hanya saja, untuk partikel -pun ini seharusnya dipisah. Dan untuk penulisan angka, jika masih dalam rentang 1-10, lebih baik ditulis dalam alfabet saja. Selain itu, Mimin melihat setiap paragraf hanya berisi dua-tiga baris saja. Padahal menurut Mimin, beberapa paragraf bisa disatukan saja karena masih menceritakan hal yang serupa.
Untuk tambahan masukan, sebenarnya cerpen ini sudah cukup menarik, namun alangkah lebih baik ditambahkan suasana untuk mendukung emosi cerita selain deskripsi mengenai apa yang tokoh-tokoh di dalam cerita tersebut lakukan. Seperti, pada paragraf ketika Rumbi mengetahui bahwa Arwin sudah punya pacar,

Tiba-tiba sepasang tangan merengkuh Arwin dari belakang. Sontak semua mata menatap pemilik tangan tersebut, termasuk Arwin ikut mendongak.
“Beb, katanya mau nganterin pulang,” kata suara manis itu pada Arwin.
“Oh kamu udah selesai. Ayo deh. Guys, duluan ya,” kata Arwin sambil membereskan tasnya. Tak lama kemudian dia berpamitan. Tangannya dan wanita itu bergandengan.
Tasya juga segera menggandeng lenganku. “Kita juga duluan ya. Masih mau jalan nih,” katanya lalu membawaku pergi dari meja itu.

Pada bagian ini, bisa saja ditambahkan bagaimana reaksi Tasya melihat ekspresi Rumbi yang baru saja patah hati. Atau bagaimana suasana kantin siang itu yang seakan menyoraki keadaan Rumbi. Emosi Rumbi di sini juga bisa lebih dieksplor lagi, bagaimana sikap dia, apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran dia ketika melihat pacar Arwin. 

Coba deh, baca artikel ini. Showing not Telling

Pada bagian ini, menurut Mimin sangat diperlukan untuk di-show, dengan begitu pembaca bisa lebih merasa terlibat dalam apa yang dirasakan Rumbi. 

Sekian review dari JO Team, semoga bermanfaat! Selamat berkarya lagi!

Friday, July 24, 2015



Halo, Sobat JO!

Pada Jumat kali ini JO Team sudah memilih cerpen dari #SelasaBercerita untuk di-review di website resmi JOPH. Sebelumnya, kami mengucapkan terima kasih kepada para sobat JO yang sudah mengirimkan karyanya untuk berpartisipasi dalam #SelasaBercerita kali ini. Nah, mari kita bahas cerpen pilihan dari #SelasaBercerita lalu dengan tema: BERBAGI.


Oleh : Kenshirey

Harum tanah basah terasa kental memenuhi rongga hidung ketika aku keluar menapaki jalan setapak dengan payung hitam di genggaman. Bentangan langit nun jauh di atas masih betah memamerkan warna kelabu bertemakan sendu. Menggigil aku merapatkan syal turqouise-ku, tatkala angin yang berhembus bak duri halus di tengah sisa rintik hujan. 

Aku mempercepat langkah, begitu sepasang kelereng cokelatku menangkap bangunan bertingkat yang kira-kira berjarak tujuh puluh lima meter lagi dari tempatku sekarang. Sesegera mungkin aku harus mengantar empat lembar roti gandum dan sup labu yang baru dimasak ibu beberapa menit lalu ini kepada Bibi Ashley di apartement-nya. Mataku menatap sumringah kantong plastik di tangan, lalu beralih pada bangunan menjulang tinggi yang semakin dekat. 

Hujan memang mendatangkan keberkahan; kata ibu. Tapi, aku benci jika harus berpapasan dengan kubangan air yang akan mendatangkan gatal di kulit, kalau-kalau aku salah berpijak dan terjebak. Seperti sekarang ini, tidak hanya basah, sneakers yang kukenakan menjadi kotor akibat tak sengaja menginjak kubangan air keruh itu. Ya, salahkan saja aku yang terlalu bersemangat. 

Alih-alih mengumpati sneakers kotor atas kecerobohan yang kuperbuat, kedua mata ini tanpa sengaja mendapati sosok lain yang sedang berteduh dalam gang sempit dekat undakan tangga. Seorang wanita berusia kurang dari setengah abad, bersama anak lelaki yang terpekur di pangkuan. Pakaian lusuh yang mereka pakai terlihat lembab. Tampak kaos kaki yang membungkus sepasang kaki si anak mungil bolong di telapak. 

Meringis pedih aku menebak, jika mereka berusaha menahan dingin sejak hujan menimpa di bawah naungan yang terbatas. Tiba-tiba aku teringat pada Bibi Ashley. Kembali aku melanjutkan langkah yang sempat tertunda.

Aku memang sering menjumpai gelandang di pinggiran kota. Tapi, apa peduliku? Mereka hanya orang asing. Mereka juga bisa mencuri perhatian orang-orang yang lebih 'wah' daripada aku yang masih remaja. Jadi, toh, tak masalah jika hanya satu orang yang mengabaikan. 

Namun, baru empat langkah berjalan, aku berhenti, menoleh lagi pada anak lelaki yang terlihat sangat lemas di pangkuan wanita itu. Bibirnya membiru. Rasa iba merayap perhalan dan menggiringku untuk mendekat. 

“Apa
dia sakit?” 

Entah apa yang terjadi, aku sudah berada tepat di hadapan mereka. Berdiri memerhatikan si anak lelaki yang hanya terdiam menatapku dengan wajah polosnya. 

“Ah, tidak apa-apa, Nak. Anakku hanya demam biasa, nanti juga akan segera sembuh.”
aku sontak berpaling pada wanita dewasa yang tersenyum kecil. Sepertinya beliau tidak mau terlihat terlalu menyedihkan di hadapan orang lain. 

“Pasti dingin, ‘kan?”
aku menekuk kedua kaki, berjongkok di hadapan anak lelaki itu, meletakkan payung di sisi dan melepaskan syal, lalu memakaikan di leher mungilnya. Bocah itu mengerjap sekali-dua kali untuk kemudian mengangguk, aku tersenyum simetris. 

Sejenak, aku terdiam menatap kantong plastik di genggaman dan seraut wajah pucat sang bocah lelaki bergantian. Aku berpikir, menimang-nimang keputusan. Keraguan sempat menghadang, namun dengan cepat ditampik akan rasa ibaku yang pekat. Kemudian aku kembali berdiri tegak dan mengangsurkan kantong plastik di tangan pada
nyonya itu. 

“Ini—saya berikan untuk adik kecil dan Nyonya,“ kataku. 

“Whoa! Apa itu makanan?!”
aku terkekeh pelan mendengar sahutan antusias dari anak lelaki itu. Mengangguk. Matanya berbinar cerah sambil meneguk ludah menatap kantong plastik yang berada dalam genggaman wanita di sisinya. “Terima kasih, ya, Kak!” 

Aku tersenyum kecil. Tanganku sudah terjulur untuk mengambil payungku yang kuletakkan begitu saja di sisi anak lelaki itu, tapi urung. Biarlah payung tersebut kutinggalkan untuk membantu melindungi mereka. 

“Hmm
... baiklah, saya pergi.” 

“Nak, tunggu!” aku sontak menoleh ketika mendengar nyonya itu memanggilku. ”Payungmu—” 

“Oh. Tidak usah. Sepertinya Nyonya lebih membutuhkan.” 

“Ya Tuhan…, kau begitu baik. Terima kasih. Terima kasih banyak, Nak. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu dengan yang lebih besar.” wanita di hadapanku berucap tulus dan haru. Aku bisa membacanya lewat kedua mata beliau. Detik berikutnya, dia terlihat terburu-buru mengacak isi tas kumuhnya yang berada di belakang tubuh, mengambil sebuah barang, dan memberikannya padaku kemudian. “Memang tak seberapa. Tapi, tolong terimalah sebagai tanda terima kasihku.” 

Sekarang aku menatap pada sebuah benda yang ada di atas telapak tangan. Yaitu; gantungan kunci dengan bola-bola pelangi sebagai bandulnya. 

Cantik. 

Aku menarik sedikit ujung bibirku. Lantas menyimpan gantungan kunci pelangi ini dalam saku celana. “Baiklah, selamat tinggal.” 

Aku berjalan meninggalkan mereka dengan lenggang, namun senyuman membekas di hatiku. Ini pengalaman yang... ugh, apa ya? Mengesan, mungkin? Apapun itu, adalah kali pertama aku begitu peduli terhadap seseorang yang bahkan tidak kukenal, tanpa memikirkan
konsukuensi yang menanti di ujung jalan. 

Sesaat, aku terenyuh. Si bocah lelaki itulah alasannya. Entah kenapa, aku turut merasakan pedih begitu melihat tubuh ringkihnya. Dia tetap tegar meskipun kedinginan—yang kuyakin dia juga pasti tak jarang merasa kelaparan. Di usianya yang masih terbilang belia, dia sudah harus memperjuangkan hidup dan melindungi sang ibu. Yang tidak bebas bermain ataupun bersekolah sewajar anak lainnya. 

Bukankah masa kecil adalah masa menyenangkan? 

Huh, aku merasa tertampar jika mengingat sikapku selama ini. Padahal aku termasuk seseorang yang jauh lebih beruntung daripada mereka. Adik kecil itu
membuatku tersentuh. 

Aku mendongak, menatap bentangan langit yang sudah terbebas dari tangisan beberapa detik lalu. Mendadak aku berharap pelangi akan muncul. Ini akan menjadi moment paling pas dan menyejukkan. Namun, selang bermenit-menit terlampaui, tak ada tanda-tanda serangkai tujuh warna itu akan hadir. 

Aku menghela napas pendek, sedikit kecewa. Tapi kemudian, senyuman membingkai wajah. Aku lantas mengeluarkan gantungan pelangi itu dari saku celana. Tak apa jika tak ada pelangi. Sebab, pelangi yang paling indah adalah
... ketika kita bisa berbagi hal sederhana yang bisa mendatangkan kebahagiaan untuk orang lain. Dan kunci dari itu semua ialah keikhlasan. 

Aku hanya berharap agar Tuhan selalu menguatkan dan menjaga di mana pun mereka berada.

Review
oleh: Edelweiss

Sebelum Admin me-review cerpen ini, Admin sangat mengapresiasi Kak Kenshirey yang berhasil memperbaiki tulisannya. Dari segi teknis, Kak Kenshirey mengalami perkembangan yang signifikan. Cerpennya yang diikutsertakan dalam #SelasaBercerita kali ini sudah jauh lebih baik dari cerpennya di #SelasaBercerita yang lalu. Ini patut dicontoh oleh para penulis lain yang sedang belajar untuk terus berusaha memperbaiki tulisan mereka.

Meski begitu, di dalam cerpen ini masih terdapat beberapa kesalahan penggunaan EYD. Contohnya adalah penggunaan elipsis dan penulisan huruf setelah dialog.

Dalam penggunaan elipsis ( ... ) yang dipakai untuk menunjukkan kalimat yang terputus-putus, maka elipsis tersebut didahului dengan spasi dan diakhiri dengan koma untuk melanjutkan ke rangkaian kata berikutnya. Contoh: Ini pengalaman yang (spasi)...(koma) ugh, apa ya? --> Ini pengalaman yang ..., ugh, apa ya?


Untuk penulisan huruf setelah dialog, ada dua macam, yaitu: kapital dan huruf kecil. Huruf kapital digunakan jika kalimat di belakangnya merupakan kalimat yang berdiri sendiri, dialog dan kalimat penjelas merupakan kalimat yang berbeda. Contoh: “Ya Tuhan …, kau begitu baik. Terima kasih. Terima kasih banyak, Nak. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu dengan yang lebih besar.” Wanita di hadapanku berucap tulus dan haru.

Lalu, untuk huruf kecil, digunakan jika kalimat penjelas masih satu kalimat dengan kalimat dialog. Kalimat penjelas dan kalimat dialog ada dalam satu kalimat. Contoh: “Ah, tidak apa-apa, Nak. Anakku hanya demam biasa, nanti juga akan segera sembuh,” kata ibu itu dengan wajah memelas. 

Dalam cerpen ini, ada beberapa dialog yang narasi setelah dialog bukan merupakan kalimat penjelas dialog namun ditulis serangkai. Contoh: “Nak, tunggu!” Aku sontak menoleh ketika mendengar nyonya itu memanggilku. ”Payungmu—” 


Aku sontak menoleh bukanlah kalimat penjelas dialog sebelumnya melainkan sebuah adegan baru yang seharusnya ditulis terpisah. Jadi penulisan yang benar adalah :



“Nak, tunggu!” 

Aku sontak menoleh ketika mendengar nyonya itu memanggilku. 

”Payungmu—” 
.
Selain itu, ada juga beberapa kesalahan penulisan yaitu; konsukuensi seharusnya konsekuensi, perhalan seharusnya perlahan, mengesan seharusnya mengesankan. 

Untuk penulisan istilah-istilah asing seperti turqouise, apartement,dan sneakers ditulis miring atau jika tidak ingin ditulis miring, gunakan dalam Bahasa Indonesia. Untuk apartement seharusnya ditulis miring, atau apartemen jika tidak ditulis miring.


Penulisan ibu juga hal penting yang harus diketahui. Huruf awal untuk panggilan Ibu, Mama, Bapak,dan panggilan kekerabatan lainnya besar karena pengacuan terhadap seseorang yang sudah jelas sosoknya, sehingga huruf awalnya besar. Jika tidak jelas atau berlaku untuk umum (bukan pengacuan atau sapaan) maka huruf awalnya kecil. Ada pengecualian terhadap panggilan yang sudah mendapat imbuhan seperti ibunya, ibuku, dll, maka ditulis dengan huruf awal kecil meskipun sosoknya sudah jelas.

Contoh 1 : Hujan memang mendatangkan keberkahan; kata Ibu
Ibu di sini mengacu kepada ibunya si tokoh, maka ditulis dengan huruf awal besar.
Contoh 2 : Semua ibu di dunia ini pasti menyayangi anaknya.
Ibu di sini mengacu kepada ibu secara umum, maka ditulis dengan huruf awal kecil.

Sebisa mungkin hindari penggunaan 'entah mengapa', 'entah apa yang terjadi' karena kata entah membuat penulis terkesan malas untuk menjelaskan sesuatu.


Ide cerita yang digunakan dalam cerpen ini bukanlah hal baru, namun cara bercerita penulis sangat baik, kalimatnya padu dan mengalir ditambah dengan diksi yang kaya, sehingga pesan yang akan disampaikan oleh cerpen ini bisa diterima oleh pembaca.

Nah, sekian review dari Mimin. Selamat untuk Kak Kenshirey atas cerpennya yang terpilih dalam #JumatReview minggu ini. Sampai jumpa, dan terus menulis, Sobat JO!




Sumber gambar: http://oryza-bitha.blogspot.com/

Friday, July 10, 2015

Halo, Sobat JO, 

Jumat kali ini, kami telah memilih sebuah cerpen untuk dibedah oleh JO Team. Sebelumnya, terima kasih untuk partisipasi kalian dalam #SelasaBercerita. Cerpen yang kami pilih bukan berdasarkan yang mana yang paling bagus atau buruk. Semua menarik untuk dibahas, hanya saja berhubung kami hanya akan menampilkan satu cerpen saja,  maka inilah cerpen terpilih minggu ini untuk tema: ATAP.



Oleh: mutimsc


Terkekang. Hari-hariku penuh misteri. Terkurung. Waktuku habis menggugu. Kamar ini terlalu gelap, tidak ada sinar barang setitik saja. Sama rasanya dengan harapan yang tidak kunjung terlihat. Hitam. Semua hitam tanpa jeda. Tidak ada yang menggugah. Hatiku gundah.

Lalu, kudengar gerimis menjadi d erai panjang dalam naungan guntur yang menyeramkan. Awan sedang menangisi nasibnya. Aku sedang menangisi hidupku. Omong-omong bagaimana bentuknya? Kudengar seperti gumpalan kapas empuk. Seperti apa? Kapas itu apa?

Gelap. Yang kutahu hanya gelap dan sekat. Pembatas hidup pada dunia.

Ibu bilang gantungkan cita-citamu setinggi langit.
Tapi Bapak menyangkal, tidak ada gunanya sekolah tinggi, cari pekerjaan bagus. Wanita hanya pelayan suaminya.
Aku tidak tahu mana yang betul.

Tapi, sepertinya Bapak benar. Sebesar apa keinginanku untuk melihat langit, yang kudapati hanya atap. Datar, tidak ada bintang di sana.

Lagi, kudengar lalu lalang derap langkah manusia mengejar mimpi, berlari-lari, tidak ingin didahului. Ada yang tertawa-tiwi, ada yang merengek, menangis, meraung, menjerit. Kututup telingaku. Bingarnya tetap mengganggu.

Dan, bagaimana mereka mau mencarinya? Mimpi itu.

Ibu bilang rancang masa depanmu sejak muda.
Bapak tidak terima, kata beliau tidak ada masa depan untuk wanita. Melayani suami adalah masa depan.

Aku bingung, mana yang betul.
Tapi, sepertinya Bapak benar. Sejauh apa masa depanku, yang kutemukan hanya dinding. Dingin, tidak ada rasa kasihan.

Aku berhenti berharap. Aku mulai meratap. Pada atap.
Seperti kata Bapak, wanita sepertiku tidak ada gunanya ini itu. Melayani suami saja, hanya itu tugasku.

“Jangan buang-buang waktu! Kalau ada yang melamar langsung nikah saja! Nirwan itu anak Kepala Desa, Nduk!”
“Cerai katamu? Dia tidak mungkin selingkuh! Anak priyai itu terpelajar! Jangan kurang ajar!”“Layani Nirwan! Jangan bikin malu keluarga!”

Hujan lagi di luar. Awan merengek lagi. Aku makin penasaran apa yang membuatnya sering rewel akhir-akhir ini. Soal bentuknya, aku masih menyimpan ketertarikan. Aku ingin tahu seperti apa itu awan, matahari, dan langit.

Kupikir, untuk saat ini menggapai atap kamarku saja sudah sulit rasanya. Dirinya kian menjauh setiap kali kudekati. Bagaikan najis pada seekor anjing. Dirinya tidak ingin menatapku. Dirinya bilang sudah terlambat.

Aku menangis.

Bagaimana bisa dirinya menolak? Sedangkan hanya dirinya satu yang kudambakan. Tidak pada langit aku mengiba. Hanya pada dirinya, atap kamarku. Aku sudah tidak tahan dikukung. Tubuhku melengkung di atas ranjang.

Sekali lagi, dirinya sudah mantap. Aku terlambat. Tidak ada kereta untuk penumpang toledor. Atap jahat itu merendahkanku.

Lantas, aku menyesali semua.

Aku ingin pulang. Aku ingin Ibu. Aku ingin cita-citaku, masa depanku.

END
sumber foto: https://rigyu93.wordpress.com/2015/01/27
---------------------------------------------------------

REVIEW

oleh Three Friends in Winter



Wah, cerita pendek dari Magdalena ini bagus. Kata-kata yang digunakan memiliki rima. Ceritanya mengalir, konflik mengenai pergulatan batin sang tokoh 'Aku' pun dapat dirasakan. Pilihan diksinya kaya. Bahkan JO Team sempat mengira ini adalah puisi pada awalnya. 

Pada dasarnya 'Sebatas Tertahan' tidak memiliki masalah mengenai teknis penulisan. Hanya saja untuk beberapa kata seperti: dikukung dan toledor, ini merupakan kesalahan penulisan. Dalam KBBI, untuk 'dikukung' dan 'toledor', seharusnya adalah 'dikungkung' dan 'teledor'. 

Masalah lain dalam 'Sebatas Tertahan' adalah kejanggalan logika dalam cerita. Tentang bagaimana tokoh 'Aku' ini terkungkung dalam hidupnya hingga ia tidak mengetahui bagaimana bentuk awan, matahari, dan langit. Mungkin ini merupakan sebuah analogi namun saat bersanding dengan kalimat-kalimat lain dalam cerita, hal itu membuatnya terasa janggal. 

Awan sedang menangisi nasibnya. Aku sedang menangisi hidupku. Omong-omong bagaimana bentuknya? Kudengar seperti gumpalan kapas empuk.

Dalam kalimat 'Omong-omong bagaimana bentuknya?' Kata -nya di sini seolah-olah menggantikan kata 'Aku', padahal yang dimaksud penulis adalah -nya di sini menggantikan kata 'Awan'. Tapi karena setelah kata –nya yang pertama diselingi dengan kalimat baru maka, terkesan kata-nya yang kedua itu menggantikan kalimat yang sebelumnya. 


Sekian review dari Selasa Bercerita. Terima kasih untuk partisipasinya. Kami menantikan kiriman kalian dalam #SelasaBercerita selanjutnya. :)