Halo, Sobat JO! Sudah lama sepertinya tidak ada cerpen Selasa Bercerita yang dipajang di website JOPH. Kali ini Mimin datang dengan membawa sebuah cerpen. Minggu lalu JO Team memberikan tema yang sangat mudah. Apa sih tema minggu lalu? Itu adalah lagu. Bebas lagu apa saja, boleh pilih sendiri. Lagu favorit pun silahkan. Untuk yang hobi dengerin lagu, pasti banyak terinpirasi oleh lagu ketika menulis. Mimin adalah salah satu tipe penulis yang seperti itu. :)
Kalau begitu langsung saja ya, Mimin bagikan cerpen terpilih minggu ini.

Oleh: Sanny Cicilia
Arwin mungkin manusia paling standar di dunia ini. Dibilang cakep,
banyak yang lebih cakep. Dibilang tinggi, biasa saja. Dibilang putih,
nggak juga.
Hari ini dia memakai kaos merah polos dan jins biru. Tas ransel hitamnya digendong satu tali. Penampilannya biasa banget.
Kalau Arwin itu pencopet lalu berhasil kabur, korbannya pasti kesusahan memberi deskripsi pada polisi. “Anu pak, pencopetnya pria, hidungnya biasa saja, rambutnya pendek biasa, kulitnya biasa, tingginya biasa. Mukanya juga biasa….”
Hahahahaa!
“Heh, Rumbi! Ngapain senyum-senyum sendiri?!”
Aku kaget setengah mati mendengar suara Tasya. Belum sempat menjawab, Tasya segera mengikuti arah mataku ke seberang kantin.
“Arwin??” tanyanya sambil melihatku lagi dengan muka sumringah.
“Udah makan, Tas? Pesen dulu, gih,” jawabku mengelak sambil nyengir.
Aku sendiri belum menghabiskan siomay yang kupesan karena belum
terlalu lapar. Pesanan siomay ini cuma kedok supaya bisa nongkrong di
kantin kampus.
Biasanya pada jam sore nanggung begini, Tasya dan aku memilih
jalan-jalan ke mal atau toko buku. Atau pulang saja, kalau jam kuliah
melelahkan sejak pagi.
Tapi hari ini aku mengajak Tasya nongkrong di kantin. Demi melihat
sosok cowok yang namanya baru aku ketahui tiga hari lalu itu.
Sebenarnya, sudah sejak bulan lalu aku mulai memperhatikannya.
Bermula di perpustakaan. Ceritanya standar: aku lagi membaca di
perpustakaan, semua meja penuh, lalu Arwin memilih duduk di sebelahku.
Tapi waktu itu aku belum tahu namanya.
Sambil membaca, diam-diam aku makan coklat. Pastilah suara
kresek-kresek bungkus coklat menarik perhatiannya padaku. Lalu aku
tersenyum padanya, standar.
Tiba-tiba Arwin tertawa menggelegar. Aku panik. Mata Arwin mengarah
ke mulutku. Kuambil ponsel lalu berkaca. Hiiiii…gigiku tertutup coklat.
Arwin segera menahan mulutnya di tengah mata-mata melotot. Sedangkan
aku, cuma bisa tertunduk sambil menahan malu. Rasanya ingin hilang
sekejap.
“Sorry..,” kata dia tanpa menahan senyum.
Nah, momen itulah aku terpana dengan senyum Arwin. Rasanya seperti mendapat asupan endorphin, perasaan bahagia dan nyaman ketika menyantap coklat.
Seiring waktu, aku baru sadar, Arwin seangkatan denganku dan kerap
sekelas di beberapa mata kuliah. Tapi selama ini dia seperti tertelan
dengan ratusan mahasiswa lainnya.
Andai dia tidak pernah tersenyum, mungkin aku tidak pernah mengenalinya.
“Mau dikenalin?” Tasya bertanya, seakan membaca pikiranku. Dia menyuap santai mi ayamnya.
“Emang kenal?” tanyaku balik. Tasya mencibir. Dia bilang, pernah
sekelompok dengan Arwin untuk tugas salah satu mata kuliah di semester
sebelumnya.
“Siomay lo nggak dimakan, Rum? Yaampun deh gara-gara ngeliatin si Arwin itu sampe nggak ngabisin
makanan. Mubazir tau. Oh ya ampun ini enak,” katanya sambil menusuk
siomayku dengan sumpitnya. Kadang-kadang aku merasa mulut Tasya
digerakkan mesin diesel. Tapi aku salut dengan orang-orang yang berani
menyuarakan isi kepalanya.
Tasya adalah teman baikku sejak awal kuliah sampai kini semester 3.
Dibanding aku yang pendiam, Tasya menghimpun lebih banyak teman di
kampus.
Usai menghabiskan semua makanan di meja, Tasya menggamit tanganku.
Dia menuju meja tempat Arwin berkumpul dengan teman-temannya. Aku
menolak, tapi rasa ingin tahu menyuruhku tetap berjalan.
Tasya lalu menyapa lima-enam orang yang ada di sana, termasuk Arwin.
“Oiya, kenalin nih temenku, Rumbina,” kata Tasya setelah kami ikut
nimbrung.
Arwin jadi yang pertama menyodorkan tangannya. Senyumnya berkembang. Kembali ada rasa nyaman bak makan coklat.
Aku berharap mataku cukup sopan ketika menatapnya. Suaranya lembut
dan kontras dengan sikapnya yang suka berkelakar. Cara bercandanyapun
sopan. Aku menduga, bukan cuma aku yang mudah merasa nyaman di dekatnya.
“Kamu suka coklat?” tanya Arwin tiba-tiba. Suaranya terdengar jelas,
tapi tak lebih besar ketimbang temannya yang sedang asik bercerita dan
menyedot perhatian lainnya.
“Iya. Kaget ya waktu itu?” tanyaku malu karena Arwin mengingat insiden gigi penuh coklat itu.
Arwin terkekeh. “Iya, maaf langsung tertawa begitu aja,” katanya sambil tersenyum tipis.
“Tapi pantesan orang itu dikasih gigi warna putih. Soalnya lebih manis.”
Nafasku tercekat sedetik ketika Arwin menatap.
“Mungkin karena kamu kebanyakan makan coklat,” kata Arwin lagi sambil
menyunggingkan senyum. Aku tertawa canggung, menyesali lidahku yang tak
pintar merangkai kata untuk membalas ucapannya.
Aku berharap, waktu berhenti dan sempat merekam senyumnya.
Tiba-tiba sepasang tangan merengkuh Arwin dari belakang. Sontak semua
mata menatap pemilik tangan tersebut, termasuk Arwin ikut mendongak.
“Beb, katanya mau nganterin pulang,” kata suara manis itu pada Arwin.
“Oh kamu udah selesai. Ayo deh. Guys, duluan ya,” kata Arwin sambil membereskan tasnya. Tak lama kemudian dia berpamitan. Tangannya dan wanita itu bergandengan.
Tasya juga segera menggandeng lenganku. “Kita juga duluan ya. Masih mau jalan nih,” katanya lalu membawaku pergi dari meja itu.
“Rumbi, are you okay?” tanyanya setelah agak jauh dari kantin. Kami berjalan pelan-pelan.
Ingin rasanya menjawab Tasya, I’m okay, tapi tak ada suara yang keluar. Tasya menggamit lebih erat, seakan tahu apa yang aku rasakan.
Tasya ikut terdiam, hal yang janggal kalau dia melakukan itu lebih dari 5 detik.
“Patah hati ekspres nih,” kataku.
Tasya menatapku. “Ah, sekalinya lo bersuara, sedih banget, Rum,” kata
Tasya sambil merangkulku. “Gue nggak tau lo senaksir itu sama dia.”
Aku tetap diam. Tasya tak pernah memaksaku menjawab.
“Gitu ya kalau naksir cowok ganteng. Tiba-tiba ada monyetnya,” seloroh Tasya lagi.
Aku tertawa mendengar ocehannya. Bukan karena dia ngatain pacarnya Arwin monyet. Tapi karena dia bilang, Arwin itu ganteng.
Sampai detik ini pun, aku tidak tahu Arwin itu ganteng dimananya. Yang kutahu, dia punya senyum rasa coklat.
Aku kembali membayangkan kalau Arwin jadi pencopet. Lalu korbannya mendeskripsikan: orangnya biasa, tingginya biasa, kulitnya biasa, tapi senyumnya manis banget, pak!
“Nah, cepet juga lo bisa ketawa lagi,” kata Tasya.
“Cari es krim yuk. Mendadak laper,” aku mengajak Tasya.
“Yuk. Gue pingin rasa coklat nih,” katanya. Aku mengangguk, setuju.
Selesai
Cerpen ini terinspirasi dari lagu The Way We Were, Barbra Streisand.
“Memories, may be beautiful and yet. What’s too painful to remember. We simply choose to forget. So it’s the laughter. We will remember. Whenever we remember…
The way we were…”
sumber gambar: http://images6.fanpop.com/image/photos/36900000/Chocolate-chocolate-36976897-1680-1050.jpg
REVIEW
Oleh: Three Friends in Winter
Pertama-tama, Mimin ingin berkomentar bahwa cerpen ini berhasil membuat Mimin senyum-senyum sendiri sewaktu membacanya. Cerpennya simpel, ringan, dan ada sesuatu yang menarik minat. Terutama, ketika tokoh utama mendeskripsikan sosok yang ia sukai. Mimin suka dengan analogi tersebut. :) Cerpen ini terasa cukup segar dengan kehadiran analogi yang menarik meskipun ceritanya sebenarnya sudah banyak yang serupa.
Meskipun terasa segar, cerita ini memiliki sebuah kejanggalan yang sepertinya tidak terlalu akan diperhatikan pembaca, namun jika ada yang pembaca yang kritis, hal krusial ini berpengaruh pada cerita, yaitu: Bagaimana cara Rumbi memakan coklatnya hingga giginya tertutup coklat?
Mimin coba membayangkan hal tersebut namun jika yang tokoh makan adalah coklat batangan, seharusnya camilan tersebut tidak akan menempel di gigi hingga menutupnya. Mungkin coklatnya super lumer kali ya. Hehehe :)
Mengenai penulisan, di sini Mimin tidak banyak menemukan kesalahan dalam penulisan. Jika ada kesalahan, mungkin karena terlewat. Hanya saja, untuk partikel -pun ini seharusnya dipisah. Dan untuk penulisan angka, jika masih dalam rentang 1-10, lebih baik ditulis dalam alfabet saja. Selain itu, Mimin melihat setiap paragraf hanya berisi dua-tiga baris saja. Padahal menurut Mimin, beberapa paragraf bisa disatukan saja karena masih menceritakan hal yang serupa.
Untuk tambahan masukan, sebenarnya cerpen ini sudah cukup menarik, namun alangkah lebih baik ditambahkan suasana untuk mendukung emosi cerita selain deskripsi mengenai apa yang tokoh-tokoh di dalam cerita tersebut lakukan. Seperti, pada paragraf ketika Rumbi mengetahui bahwa Arwin sudah punya pacar,
Tiba-tiba sepasang tangan merengkuh Arwin dari belakang. Sontak semua
mata menatap pemilik tangan tersebut, termasuk Arwin ikut mendongak.
“Beb, katanya mau nganterin pulang,” kata suara manis itu pada Arwin.
“Oh kamu udah selesai. Ayo deh. Guys, duluan ya,” kata Arwin sambil membereskan tasnya. Tak lama kemudian dia berpamitan. Tangannya dan wanita itu bergandengan.
Tasya juga segera menggandeng lenganku. “Kita juga duluan ya. Masih mau jalan nih,” katanya lalu membawaku pergi dari meja itu.
Pada bagian ini, bisa saja ditambahkan bagaimana reaksi Tasya melihat ekspresi Rumbi yang baru saja patah hati. Atau bagaimana suasana kantin siang itu yang seakan menyoraki keadaan Rumbi. Emosi Rumbi di sini juga bisa lebih dieksplor lagi, bagaimana sikap dia, apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran dia ketika melihat pacar Arwin.
Coba deh, baca artikel ini. Showing not Telling
Pada bagian ini, menurut Mimin sangat diperlukan untuk di-show, dengan begitu pembaca bisa lebih merasa terlibat dalam apa yang dirasakan Rumbi.
Sekian review dari JO Team, semoga bermanfaat! Selamat berkarya lagi!




0 comments:
Post a Comment