Wednesday, September 30, 2015

Oleh: Three Friends in Winter dan Edelweiss 

Halo, Sobat JO! Mimin mau memberikan kalian rangkuman #MalmingMenulis untuk kalian yang kemarin tidak  sempat menyimak karena sedang malmingan jadi tidak bisa mantau lini masa twitter dengan intensif. Yaudah, langsung aja, yuk!

Jadi, tema yang dibahas pada Sabtu malam lalu adalah hubunganantara  penulis dengan editor.

Sebagai seorang penulis, kita tentu ingin tulisan kita disukai oleh pembaca. Siapa, sih, yang tidak ingin begitu? Semua penulis pasti menginginkan itu. Dan cara kita agar keinginan itu tercapai adalah membuat naskah yang dilirik pembaca. Nah, salah satu kuncinya ada pada bagaimana cara kita dalam mengemas cerita tersebut, baik dalam segi konten maupun segi teknis.

Lantas, bagaimana, sih, cara kita bisa tahu naskah kita menarik? Nah, di sinilah peran seorang editor. Baik seorang pembaca sebagai editor amatir maupun editor profesional.

Dalam pikiran beberapa penulis, mereka sering menanyakan ini, “Perlu, ya, naskahku diedit lagi?” Ia merasa bahwa naskah yag ditulisnya itu sudah sempurna dan tidak perlu diubah-ubah lagi, merasa yakin seyakin-yakinnya kalau naskah itu tidak ada yang cacat. Padahal, ya, belum tentu. Masalah seperti itulah yang nanti ujung-ujungnya terjadi selisih paham antara penulis dan editor.

Merasa tidak sesuai, editor pasti akan meminta penulis merevisi naskahnya—yang ia pikir sudah sempurna—itu. Dari situ muncullah berbagai gerutuan kesal penulis kepada editor. Padahal, bisa dibilang hampir semua penulis—kecuali penulis buku harian—butuh seorang editor untuk menilai naskahnya. Editor bertugas menilai naskah kalian secara keseluruhan. Dan editor pula yang menentukan naskah kalian layak terbit atau tidak. Selain itu, editor juga mengawal naskah kalian dari proses awal sampai akhir, bahkan bisa juga ikut terlibat dalam promosi. Jadi, kerja sama antara penulis dan editor itu sangatlah penting.

Selisih paham antara penulis dan editor itu banyak penyebabnya, tetapi di sini akan dibahas beberapa yang  memang sering terjadi.

1.       Masukan dari editor tidak sesuai keinginan penulis. Nah, hal ini biasa terjadi ketika penulis diminta merevisi mengenai alur cerita. Penulis pasti akan mengkhawatirkan kalau apa yang akan ia sampaikan tidak tersampaikan ke pembaca. Beberapa penulis, nih, ada yang memiliki pengalaman dimintai mengubah ending karena dirasa sang editor tidak pas. Ada juga yang diminta mengubah sudut pandang pertama menjadi ketiga. Kebayang, kan, repotnya revisi? Lalu masih ada lagi yang diminta untuk ganti setting dari anak SMA menjadi berlatar belakang mahasiswa. Penyesuaian yang diminta oleh editor itu tentu saja bukan tanpa alasan. Pasti ada alasannya.

2.       Penulis merasa editor terlalu banyak melakukan revisi sehingga mengubah ceritanya. Kita menuliskan naskah dengan tujuan tertentu pada awalnya. Namun, revisi dari edior membuat kita merasa cerita bergerak ke arah yang tidak kita inginkan.

3.       Ego pengarang. Tidak hanya penulis, loh, yang dipusingkan oleh editor. Editor juga terkadang kerepotan menghadapi penulis. Ada, loh, penulis yang tidak memperbolehkan editor meminta revisi cerita. Mereka merasa naskah itu tidak perlu revisi besar-besaran apalagi dari segi konten. Hanya perlu revisi dari tanda baca, eyd, dan beberapa koreksi yang tidak mengubah naskah mereka sama sekali. Padahal, kan, bisa saja ada yang terlewat dari penulis ketika menuliskannya. Cacat logika, misalnya.

4.       Penulis yang sibuk. Ini dia yang sering membuat editor gemas dan pengen garuk tembok. Ketika diminta revisi penulis berlagak sibuk: “Duh, saya lagi repot, nih.” Jelas sekali, penulis yang seperti ini akan membikin  pusing editor. Kenapa? Revisi tersebut menyangkut waktu terbit. Padahal di jadwal sudah tertulis naskah A harus terbit tanggal sekian. Namun, karena lamanya revisi, naskah tersebut jadwal terbitnya harus ditunda. Nah, kalau begitu, siapa yang akhirnya rugi?

5.       Antara editor dan pengarang ada yang sok tahu. Di sini yang dimaksudkan adalah editor dan penulis merasa merekalah yang paling paham tentang informasi itu, semisal setting tempat. Dan kalau keduanya sama-sama ngotot bahwa mereka yang paling benar, wah bisa ramai ini. Eh, berantem maksudnya.

Nah, kalau sudah seperti itu akhirnya, kan, menghambat proses penerbitan naskah. Jadi, bagaimana dong jalan keluarnya?

Sebenarnya, jalan keluar yang diperlukan itu tidaklah sulit. Penulis dan editor hanya perlu saling berpikiran terbuka, menerima masukan, dan jangan mementingkan ego. Komunikasikan setiap masalah dengan baik. Semua bisa dibicarakan. Jika alasan yang diutarakan masuk akal, pihak lain harus legowo menerima masukan itu. Memang tidak semua masukan bisa  diterima, tapi setidaknya dengarkan dan berpikir dulu sebelum berkomentar.

Yap, selesai! Sekian dulu dari Mimin. Sampai jumpa lagi di lain waktu, Sobat JO! Selamat menulis.


 Sumber gambar: http://www.freelancewriting.com/images/FF-16-Irritating-Editors.png

Tagged: ,

0 comments:

Post a Comment