Oleh: Three Friends in Winter & Orchid
Hai Sobat
JO, bagi kalian yang belum menyimak kultweet
#MalmingMenulis yang diberikan oleh admin, admin merangkumnya di artikel ini.
Ketika seorang
penulis menghadapi sebuah naskah miliknya, tentu saja ia harus memahami seluk
beluk naskahnya. Nah, Mimin hari ini pengen share
nih, biasanya pertanyaan apa saja, sih yang Mimin tanyakan pada naskah yang
sedang Mimin garap.
1) Berhubungan dengan tokoh.
Ø Siapa tokoh utama dalam cerita ini?
Ø Seperti
apa dia (dari segi fisik, psikologis, dan sosial)?
Ø
Masalah apa yang ia punya?
Ø
Mengapa masalah itu bisa terjadi?
Ø
Bagaimana penyelesaiannya?
Ø
Dalam penyelesaian tersebut, siapa saja yang terlibat?
Ketika hal ini kita
tanyakan, tentu saja kita akan lebih paham tentang jalan cerita dari naskah
kita.
Dengan begitu, ketika kita dihadapkan dengan pertanyaan, “Apa sih cerita
naskah ini? Ceritakan dalam 1 kalimat.” Kita bisa dengan mudah menceritakannya.
Misal: novel ini bercerita tentang seorang remaja berusia 14 tahun yang
merencanakan ingin mengakhiri hidupnya dalam 24 hari karena ingin mengakhiri
penderitaan akibat bullying yang ia
alami. Dalam proses tersebut,
ia bertemu dengan seorang pemuda yang membuatnya mulai berubah pikiran.
Mengapa Mimin
katakan seperti ini? Misal nih, kalau kita sudah menerbitkan
1 buku dan kita mau mempromosikannya ke teman-teman. Teman tersebut tentu
akan bertanya, “Emang bukumu ceritanya tentang apa,
sih?” Tidak
mungkin dong, kalau kita akan bercerita panjang lebar atau bahkan menyuruh
mereka untuk membaca sinopsisnya? Yang ada malah mereka jadi tidak tertarik untuk membaca buku kita. Dengan memahami inti cerita dari
buku, itu juga akan sangat membantu ketika kita
melakukan promosi terhadap cerita.
Selain itu, banyak
penerbit yang bertanya seperti itu ketika kita mengajukan naskah. Inti ceritanya
apa? Ceritakan dengan singkat, dong. Nah, kalau kita tidak siap dengan
pertanyaan tersebut, pasti akan bingung bagaimana merangkum naskah yang tebal
tersebut ke dalam beberapa kalimat. Alhasil, penjelasan tentang buku itu akan
jadi kemana-mana dan berakhir dengan tidak menjelaskan apa pun. Jika penulis saja tidak paham dengan inti
ceritanya bagaimana pembaca bisa paham?
Pahami siapa tokoh utama dalam ceritamu
dan apa permasalahannya. Itu akan sangat membantu kita dalam memahami naskah.
2) Apa
sih yang unik dari naskahmu?
Seperti yang JO
Team pernah sebutkan dalam Malming Menulis minggu lalu. Setiap
hari ada banyak naskah yang harus dibaca oleh redaktur. Tentu saja untuk
dapat bersaing dengan banyaknya naskah yang masuk, naskah kalian harus memiliki
keunikan yang membuatnya menonjol dibanding lainnya. Bukan hanya di meja
redaktur saja. Kalian pasti sering main ke toko buku, kan? Pada bagian rak
fiksi, kalian tentu saja bisa melihat banyak sekali buku yang berjejer di sana.
Tentu
saja, sampul buku juga berperan dalam menarik seseorang untuk memperhatikan
sebuah buku. Tapi, jika sinopsis yang kalian tawarkan tidak
menunjukkan keunikan yang menarik minat, buku tersebut pasti akan kembali pada
rak buku tanpa dibeli.
.
3) Apa nilai yang ingin kalian sampaikan?
Cerita dan pesan
merupakan hal yang tak terpisahkan dalam fiksi. Pernah tidak kalian membaca
sebuah prosa baik cerpen ataupun novel yang membuat kalian bertanya-tanya mau
bicara apa sih penulisnya? Bagaimana perasaan kalian ketika membaca cerita
tersebut? Kesal nggak, sih? Menghabiskan waktu sekian lama tapi tidak mendapat
apa-apa? Kalau Mimin, sih paling kesal seperti itu. Baca buku selama 3-4 jam
lebih, eh tahu-tahunya, cerita berakhir tanpa nilai yang bisa Mimin dapatkan. Nilai yang ingin dibagikan bisa saja beragam. Ada
yg filosofis seperti Five People You Meet
in Heaven dan ada yang fun seperti Dilan.
Pada intinya,
ketika kita menulis sesuatu, kita harus tahu apa sih nilai yang ingin kita
bagikan? Tentu saja, cara menyampaikan nilai tersebut juga penting. Jangan
sampai terkesan kita menggurui pembaca.
4) Siapa target pembaca cerita ini?
Tentu saja ini
adalah salah satu hal yang perlu penulis perhatikan. Bagaimana klasifikasi dari
pembaca naskah kalian? Berapa rentang usia pembaca? Tidak mungkin kita memakai
diksi-diksi yang sulit atau tidak pantas pada naskah remaja. Hal ini juga
berhubungan dengan menyesuaikan gaya bahasa dan isi cerita dengan calon
pembaca.
Nah, sekian
#MalmingMenulis dari JO Team dan semoga bermanfaat yaaa...
Sumber gambar:https://absurd95.files.wordpress.com/2013/04/tanda-tanya3.png





0 comments:
Post a Comment