Showing posts with label tips. Show all posts
Showing posts with label tips. Show all posts

Thursday, May 5, 2016


Oleh : Orchid

Halo Sobat JO! Di artikel kali ini, Mimin akan membahas mengenai profesi-profesi yang membutuhkan keahlian menulis. Jadi, jika kalian suka menulis, penulis novel bukanlah satu-satunya pekerjaan yang bisa menjadi pilihan kalian. Masih banyak pekerjaan lain yang memanfaatkan keahlian itu. Mau tahu apa saja? Yuk, mari disimak!

1. Pengisi Konten Web
Zaman sekarang, semua informasi berasal dari internet. Oleh karena itu, banyak sekali website yang ada. Website yang bersifat komersial membutuhkan beberapa orang untuk mengisi website itu dengan artikel. Tentu saja, untuk menulis sebuah artikel kita memanfaatkan keahlian menulis.

2. Ghost Writer (Penulis Hantu/Bayangan)
Pasti Sobat JO pernah mendengar kata ‘Ghost Writer’ bukan? Sebenarnya, apa sih ghost writer? Ghost writer adalah orang yang tidak pernah menuliskan namanya pada karyanya. Lalu, siapa nama yang tertulis dalam karya itu? Nama yang tertulis dalam karya itu adalah nama klien. Klien di sini adalah seseorang atau sebuah perusahaan yang memiliki hak cipta karya tersebut, selaku pihak yang memiliki ide dasar dan tentu saja yang membiayai tulisan. Kita tidak bisa menjadi terkenal dengan menjadi ghost writer tapi ini bisa menjadi salah satu cara untuk mengasah kemampuan menulis kita.

3. Jurnalis atau Kolumnis Lepas
Bekerja sebagai jurnalis tentu saja memanfaatkan keahlian menulis. Seorang jurnalis diharuskan untuk menulis artikel tentang berbagai hal. Seperti olahraga, tips, resep masakan, kesehatan, berita terhangat, dan masih banyak lagi.

4. Script Writer
Untuk membuat sebuah film, script writer sangat dibutuhkan. Script writer, selaku orang yang bertanggung jawab penuh atas pembuatan naskah narasi atau naskah alur jalannya film tentu saja memanfaatkan keahlian menulis untuk melakukan pekerjaan ini. Bagaimana bisa seorang scriptwriter menulis naskah film jika dia tidak bisa menulis?

5. Jasa Menulis Skripsi atau Essay
Ada beberapa orang yang kesulitan untuk menulis skripsi. Walau mereka sudah memiliki bahan dan sudah meniliti, tapi mereka merasa kesusahan untuk merangkai kata. Di sinilah dibutuhkan jasa penulis skripsi atau essay yang memiliki kemampuan menulis untuk menuangkan hasil penelitian tersebut ke dalam narasi.

6. Editor
Nah, profesi yang terakhir ini, walaupun tidak secara khusus membuat sebuah tulisan, namun seseorang yang berprofesi sebagai editor haruslah orang yang benar-benar memahami teknis kepenulisan karena berkaitan dengan hasil tulisan yang akan dipublikasikan.

Nah, bagaimana Sobat JO? Tertarik untuk mulai menekuni profesi-profesi di atas? Semoga artikel ini bisa membantu kalian untuk terus mengasah kemampuan menulis ya. J


Sumber gambar: http://bidikmasadepan.com/foto_profesi/young-woman-writing-main.jpeg

Monday, March 14, 2016


Oleh: Orchid

Dalam #MalmingMenulis sebelumnya, memang disebutkan bahwa penulis bisa jadi tidak memiliki penghasilan yang cukup—bagi yang tidak terkenal—tapi, apa salahnya menambah penghasilan dari menulis jika kamu mampu?

Kira-kira, apa saja sih tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Sobat JO “nyaris” menjadi seorang penulis? Mimin punya daftar pertandanya.

1.  Suka Membaca
Tidak semua orang suka membaca buku. Banyak orang yang lebih memilih membuang waktunya dengan bermain game  atau berjalan-jalan dibanding membaca buku. Tapi, berbeda dengan penulis. Bagi penulis, membaca adalah hal yang wajib dilakukan oleh setiap penulis. Baik penulis fiksi maupun non fiksi. Jika Sobat JO suka membaca, itu artinya kamu telah melakukan kegiatan yang dianggap wajib bagi para penulis.

2.  Mengamati Orang Lain yang Ada di Sekitarmu
Sobat JO suka mengamati orang-orang yang ada di sekitarmu? Bahkan, kamu melakukan hal itu dalam kurun waktu yang lama? Penulis adalah seorang pengamat yang gigih. Mereka melihat dengan jeli, memerhatikan irama dan tekstur dari semua interaksi manusia. Bagi penulis, hal-hal tersebut sangat menarik dan berpotensi untuk dituliskan.

3.  Membayangkan Bagaimana Rasanya Menjadi Orang Lain
Pertanda berikutnya yang menunjukkan bahwa kamu "nyaris" menjadi penulis adalah kamu suka membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang lain.  Misalnya, Sobat JO melihat seseorang jatuh dari sepeda, lalu kamu langsung membayangkan bagaimana perasaan orang yang jatuh dari sepeda tersebut. Seorang penulis selalu membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang lain. Mereka menciptakan dunia imajinasi di dalam otak mereka.

4.  Memerhatikan “Kekosongan” Segala Sesuatu
Tidak hanya memerhatikan apa yang orang lain katakan dan lakukan, bagaimana mereka melihat dan bertingkah tapi Sobat JO juga memerhatikan apa yang tidak ada di sana. Misal saja, seorang ibu hamil tanpa cincin kawin, sebuah mobil tanpa pengemudi, dan masih banyak lagi. Penulis tidak hanya sekadar melihat. Tapi mereka melihat lebih dalam, mereka mencari di mana cerita bersembunyi. Jika hanya dengan satu hal yang kalian lihat dapat memicu imajinasi mengembangkan berbagai kemungkinan cerita, itu tanda-tandanya kalian punya sesuatu yang dimiliki oleh seorang calon penulis.

5.  Berpikir Bisa Menulis Buku yang Lebih Baik dari yang Pernah Dibaca
Sobat JO merasa kesal dan marah saat membaca sebuah buku yang ditulis dengan buruk. Kadang kamu bertanya-tanya, “kenapa sih buku kayak  gini bisa diterbitkan?” Jika kamu melakukan itu, itu berarti kamu sudah mampu mengenali mana yang berhasil dan yang tidak dalam sebuah tulisan. Dan setelah membaca buku itu, kamu berniat untuk menulis buku yang lebih baik dari yang pernah dibaca. Berarti, kamu sudah siap untuk menjadi penulis.

6. Kamu Lebih Memilih untuk Menuliskan Dibanding Mengatakan
Mungkin ada beberapa dari Sobat JO yang merasa kesusahan untuk mengatakan perasaan secara langsung. Kamu lebih memilih untuk menuliskan perasaan itu. Seperti contoh, saat Sobat JO sedang ada masalah dengan temanmu, kamu memilih untuk mengirimkannya pesan. Bukan perasaan takut yang kamu rasakan, tetapi memang begitulah yang terjadi pada kamu.

7.  Menulis Jadi Terapi Emosi
Sobat JO pernah meluapkan emosi dalam secarik kertas? Atau mungkin, mengetik perasaanmu di memo ponsel? Saat kamu merasa sedih, depresi, ataupun kesepian, menulis membuatmu merasa lebih baik.

Nah, itu adalah tanda-tanda bahwa Sobat JO “nyaris” menjadi penulis. Bagaimana? Apakah Sobat JO mengalami tanda-tanda tersebut? Jika sudah, tunggu apa lagi segera mulai langkahmu menjadi penulis. 

Sumber foto: http://shpeiit.org/wp-content/uploads/2015/04/professional-writer-challenges.jpg

Monday, March 7, 2016


Oleh: Ixora & Orchid

#MalmingMenulis kemarin membahas tentang hal menyenangkan dan tidak menyenangkan  menjadi seorang penulis. Sobat JO sebagian besar pasti suka menulis, kan? Jadi, katanya, ada beberapa hal menyenangkan yang dialami oleh penulis. Apa aja?

Mimin akan rangkum #MalmingMenulis untuk kalian. 

Pertama, dengan menjadi penulis, kita memiliki waktu yang sangat fleksibel. Kita bebas menentukan seberapa banyak kita harus menulis dalam satu hari. Semakin banyak waktu yang kita gunakan untuk menulis, semakin cepat tulisan kita bisa diselesaikan. Begitu juga sebaliknya.

Kedua, kita memiliki banyak pengetahuan. Tentu dong, karena haram bagi seorang penulis untuk malas membaca. Apalagi jika penulis tersebut ingin menulis hal-hal yang belum/tidak dikuasainya. Ia tentu akan membutuhkan riset. Itu artinya, banyak buku yang harus dibaca, video yang harus ditonton, dan narasumber yang harus didengarkan. Semua itu adalah pengetahuan-pengetahuan baru yang akan didapat oleh penulis, baik ia penulis fiksi atau penulis non-fiksi

Ketiga, penulis akan memiliki banyak teman. Apalagi jika ia bergabung di komunitas-komunitas kepenulisan seperti @SobatJo. Komunitas itu penting. Karena, komunitas itu akan memacu kita untuk terus berkarya. Kita juga bisa saling bertukar info tentang dunia kepenulisan. Menulis itu bisa sendiri, tapi untuk menjadi penulis, kita butuh banyak orang, termasuk pembaca. Punya komunitas juga membantu kita untuk melakukan promosi buku yang kita tulis.

Keempat, penulis akan memiliki banyak kosakata. Ini penting. Karena, akan berpengaruh terhadap cara berkomunikasi kita terhadap orang lain. Tentu akan menyenangkan bicara dengan orang yang kosakatanya baik dan wawasannya luas, kan?

Kelima, penulis akan mendapat kepuasan batin yang tidak akan bisa digantikan dengan apa pun saat tulisannya dikenal. Minimal, dibaca oleh seseorang. 

Setelah membahas hal-hal yg menyenangkan, sekarang kita akan membahas hal-hal tidak menyenangkan yang banyak dialami penulis.

Pertama, jika menulis bukanlah pekerjaan utama kita, maka kita harus menyisihkan waktu untuk menulis. Butuh energi lebih ketika menyisihkan sedikit dari waktu-waktu sibuk kita untuk menulis.

Kedua, tidak semua orang bisa menerima tulisan kita dengan baik. Bisa jadi ketika kita sudah banyak sekali riset kemudian menuliskannya, eh ternyata ada fakta yang tertinggal dan kesalahan itu dipaparkan oleh orang lain. Duh, rasanya cakit... *mimin sok imut banget* Jadi penulis harus tahan terhadap kritik. Sepahit apa pun! Tapi bukan menerima begitu saja,  melainkan terima dan buat itu menjadi motivasi agar tulisan selanjutnya menjadi lebih baik daripada sebelumnya. 

Ketiga, pekerjaan sebagai penulis, belum bisa memberikan kita kecukupan dalam hal materi. Kecuali kita sangat populer dan sangat produktif, sebaiknya tidak menggantungkan hidup kita hanya dengan menulis. Tapi, kalau untuk tambahan uang jajan boleh lah. 

Nah, sekian rangkuman #MalmingMenulis kali ini. Semoga bermanfaat, Sobat JO!

sumber foto: http://www.adweek.com/socialtimes/author-tag/622127

Friday, February 5, 2016

Oleh: Orchid

Ending adalah suatu akhir cerita. Yang mengisahkan bagaimana nasib si tokoh setelah dia didera konflik yang berkepanjangan. Ada berbagai macam ending, tapi dalam garis besarnya, ending hanya dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
1.      Akhir yang Bahagia
2.      Akhir yang Menggantung
3.      Akhir yang Sedih/Tragis

Terserah padamu mau menentukan ending seperti apa, ending yang bahagia, sedih, atau pun menggantung. Tapi, ending yang baik adalah ending yang memuaskan pembaca dan sesuai dengan perwatakan tokoh. Jika dari awal si tokoh sudah dikisahkan sakit-sakitan, lalu kemudian dia meninggal, itu wajar-wajar saja. Atau mungkin si tokoh tadinya adalah orang yang jahat kemudian menjadi baik karena ada suatu hal besar yang terjadi pada hidupnya. Itu wajar.

Namun, hindari untuk memaksakan ending tragis atau bahagia karena egomu sebagai penulis. Misal saja, si A itu sehat. Tapi kemudian di akhir dia meninggal. Sementara si B, yang sejak awal dikisahkan sakit justru sehat-sehat aja. Jika endingmu seperti ini, maka pembaca akan mengerutkan kening karena endingmu yang sangat tidak masuk akal.

Cerita itu seharusnya bergulir secara indah. Walaupun kamu sebagai penulis menginginkan ending seperti ini, tapi jika karakter dan ceritamu mengarah ke ending yang seperti itu, seharusnya Sobat JO sebagai penulis harus mengikuti karakter dan cerita. Jangan membuat si tokoh utama melenceng dari karakter aslinya karena sebuah ending yang kamu inginkan.

Untuk menuliskan ending yang memuaskan pembaca, Sobat JO harus memperhatikan tips-tips di bawah ini:
A.  Berikan petunjuk yang mengarah ke ending. Misalnya, si tokoh yang semula baik akan berubah jadi jahat. Maka, kamu harus menyisipkan kejadian-kejadian yang membuat si tokoh merubah sifatnya.

B.  Jika Sobat JO ingin membuat sekuel dari novel yang sudah ditulis, maka sebaiknya kamu menulis ending yang menggantung atau mengambang. Ini akan membuat para pembaca merasa penasaran dengan kisah selanjutnya.

C.  Sebaiknya, ending memberikan suatu efek kejut yang mengagetkan pembaca. Tapi, jika itu tidak bisa dilakukan, maka sebaiknya tidak usah. Jika kamu memaksakan ending yang mengejutkan padahal itu tidak sesuai dengan cerita yang ada, maka endingmu akan menjadi jelek dan itu tidak akan memuaskan pembaca.

D.  Ending itu harus sesuai dengan bangunan cerita. Jika dari awal cerita yang dibangun adalah cerita yang romantis, maka seharusnya, endingmu juga romantis. Apa yang kamu rasakan sebagai pembaca jika novel yang kamu baca itu berkisah romantis lalu tiba-tiba memiliki ending yang horor tanpa alasan yang jelas?

E.  Bahasa yang digunakan juga harus sesuai. Jika sejak awal Sobat JO sudah menulis dengan bahasa yang puitis, maka akhiri tulisanmu dengan bahasa yang puitis. Jangan sampai, dari awal bahasanya puitis, lalu tiba-tiba di ending menggunakan bahasa sehari-hari dan penuh humor.

F.   Hindari untuk terlalu detail menjelaskan akhir yang akan terjadi. Itu akan membuat pembaca bosan karena sudah mengetahui akhir cerita sejak awal dia membaca. Buatlah pembaca bertanya-tanya, sehingga dia menyelesaikan membaca cerita yang kamu tulis.

G. Jangan lupa menggambarkan secara detail visualisasi yang terjadi di akhir cerita. Mulai dari tempat, waktu, suasana yang ada, ekspresi wajah, gerak-gerik, perasaan, serta ucapan sang tokoh utama. Jika seperti ini, pembaca akan mengetahui dengan jelas ending yang ingin kamu ceritakan. Jangan sampai nanti endingnya sudah bagus tapi tidak bisa tersampaikan dengan baik ke pembaca.

H. Usahakanlah mengakhiri cerita beberapa saat ketika klimaks berlangsung. Jangan bertele-tele untuk mengakhiri sebuah cerita. Itu akan membuat pembaca bosan dan enggan melanjutkan membaca bukumu. Tentu setelah berbagai pertanyaan atau konflik cerita terjawab ya—ini jika kamu tidak ingin membuat sekuel untuk bukumu. Sisakan sedikit rasa penasaran pada pembaca tentang apa sih yang akan terjadi pada kehidupan tokoh-tokoh cerita kita selanjutnya.  Ingat, hanya sisakan sedikit.

Nah, itu adalah hal-hal yang harus diperhatikan oleh Sobat JO dalam menulis ending. Semoga bermanfaat, ya...:)


Sumber gambar: http://www.creativewriting-prompts.com/images/Theend.jpg

Thursday, January 28, 2016


Oleh: Ixora

Halo Sobat JO! Di artikel kali ini, JO Team akan mengupas mengenai nama pena. Ah, kalau kata Shakespeare, “Apalah arti sebuah nama, Min...” Hm, kalau kalian masih berpendapat demikian, maka kalian wajib menyimak artikel ini.

Pernah mendengar nama Joanne? Tidak? Kalau Joanne Rowling? Yup, Joanne Rowling adalah nama asli penulis buku best seller dunia, Harry Potter. Penerbit Bloomsbury meminta Rowling untuk menambahkan inisial pada namanya agar terdengar lebih maskulin dan akhirnya Rowling setuju menggunakan nama pena J.K Rowling. Kata “K” pada inisial nama penanya berasal dari nama neneknya.  Setelah buku Harry Potter laris manis, J.K Rowling menulis buku lagi dengan nama Robert Galbraith. Buku tersebut diberi judul The Cuckoo’s Calling (TCC). Sebelum identitasnya terbongkar, buku tersebut hanya terjual 1500 eksemplar. Cukup lumayan untuk penulis yang mengaku kalau itu adalah buku pertamanya. Tapi apa yang terjadi setelah identitas penulisnya terbongkar? Penjualan TCC mendadak melejit. Jadi, masihkah Sobat JO meragukan arti sebuah nama? ;)

Kalau dipikir-pikir, saat J.K Rowling menulis TCC, ia sudah berada di puncak popularitasnya. Buku apapun yang ia tulis, pasti penerbit akan berlomba-lomba untuk menerbitkannya. Lalu, mengapa sih akhirnya ia menulis menggunakan nama pena? Ia menjawab, “Saya sebenarnya berharap bisa merahasiakan nama Robert Galbraith lebih lama. Sangat menyenangkan bisa menerbitkan buku tanpa harapan muluk-muluk, dan murni bersenang-senang dengan nama yang lain,” ungkap Rowling seperti dikutip Dailymail. Nah, selain alasan yang dikemukakan oleh J.K Rowling tersebut, JO team telah merangkum beberapa alasan lainnya mengapa seorang  penulis akhirnya memilih menggunakan nama pena.

  • Nama aslinya tidak/kurang menjual.

Dalam hal ini, biasanya pihak penerbit yang menyarankan agar penulis membuat nama pena demi kepentingan komersil yaitu agar bukunya lebih mudah diterima oleh pasar.

  • Nama aslinya tidak sesuai dengan konten buku yang ditulisnya.

Nama aslinya mungkin sudah bagus, keren, kebarat-baratan. Namun, jika ia menulis buku yang berbau agama (non-fiksi), pasar (terutama pasar Indonesia) lebih mudah menerima nama yang ke-arab-araban. Jadi, nama penanya disesuaikan dengan genre tulisannya.

  • Tidak percaya diri dengan tulisannya.

Beberapa penulis, biasanya penulis yang aktif di dunia maya, menggunakan nama pena untuk memposting karyanya. Biasanya,hal ini dilakukan karena ia masih kurang percaya diri dengan tulisannya namun membutuhkan banyak masukan dari banyak orang.

  • Banyak penulis dengan nama yang sama.

Kalau keadaannya seperti  ini, memang sebaiknya segera mencari nama pena karena jika sudah banyak penulis dengan nama yang sama dengan kita, akan berpengaruh terhadap personal branding, kepopuleran naskah kita, dan kedekatan kita dengan para pembaca kelak.

Nah, Sobat JO sendiri, apakah ada yang sudah memiliki nama pena atau bahkan memakainya? Jika ya, silahkan share di kolom komentar alasannya.. : )


Sumber gambar:http://www.bookcovercafe.com/wp-content/uploads/2012/08/pen-names-when-best-to-use-a-pen-name.jpg

Friday, January 22, 2016




Oleh: Three Friends in Winter

"Buku yang bagus, menurut Shenny, akan menjadi candu." 

Itu adalah sebuah kutipan yang Mimin ambil dari sebuah artikel lama di majalah online, Pindai. Kalian setuju nggak sih dengan kutipan ini? Benar nggak sih kalau kita membaca sebuah buku yang sangat bagus menyebabkan kita akan terus ketagihan untuk membaca buku bagus lainnya? Kalau Mimin sih setuju, apalagi kalau buku tersebut meninggalkan jejak di dalam hati Mimin seusai baca. Seperti Visi & Misi JOPH.

Eits, namun apa gunanya sih buku bagus tapi nggak ada yang tahu? 

Mimin tahu, di sini pasti setiap calon penulis maupun penulis memiliki alasannya masing-masing sebelum mulai menuliskan karya-karyanya. Ada yang menulis hanya untuk kepuasan diri sendiri, ada yang menulis untuk mencari tambahan pemasukan, ada pula yang ingin meninggalkan jejak di dunia. Apa pun alasanmu, itu semua sah-sah saja. Tidak ada yang melarangnya.

Pendapat Mimin pribadi nih, sebagus apa pun buku tersebut tapi kalau tidak ada yang pernah tahu buku itu ada, untuk apa? :)  Okay, mungkin kamu hanya menulis untuk kesenangan sendiri, jadi setelah selesai, hasil tulisannya terus disimpan deh di dalam harddisk laptop. Yang Mimin maksud di sini, adalah siapa tahu saja konten yang kalian tulis itu memang benar-benar bagus. Kalau semakin banyak yang tahu, semakin bermanfaaat untuk orang banyak. 

Seperti yang pernah Mimin pernah lansir tuh di dalam artikel, Menulis. Sebagai Hobi atau Profesi?

Ada manfaatnya pula untuk dirimu jika karya tulisanmu itu dibaca oleh publik, salah satunya sarana untuk mengembangkan diri. Mimin nggak perlu jelasin panjang lebar lagi, kalian bisa baca penjelasannya di dalam artikel tadi.

Lantas bagaimana sih caranya agar karyamu tersebut bisa dikenal dan dibaca oleh orang-orang?

Jawabannya adalah Promosi. 

Mimin pernah mengupas pentingnya promosi dan tips-tipsnya di dalam artikel JO Team sebelumnya. Nah dalam artikel ini, Mimin ingin mengupas mengenai kunci agar kamu dikenal oleh banyak orang dan karya-karyamu semakin ditunggu. Berikut sebuah istilah yang Mimin kutip dan perbaharui dari buku Digital Enterpreneurshift. Tiga Lebih: Lebih Mudah, Lebih Luas, Lebih Dalam.

Apa sih ini?

1. Lebih Mudah (mulailah menulis dari hal-hal yang membuatmu tertarik)

Kunci pertama, apa yang kalian tulis harus bagus atau minimal menarik! Tulisan yang menarik tentu saja akan menggugah minat orang untuk membaca. Lantas, bagaimana cara membuat tulisan itu menarik?

Mulailah dari apa yang menarik perhatianmu. Menulis dari hal yang kalian sukai tentu saja akan lebih mudah daripada ketika kalian memulai topik dari hal yang tidak menarik minat kalian sama sekali. Ini membantu agar kita bisa menikmati proses riset yang terkadang membuat kita bingung dan lelah, atau ketika membuat kerangka cerita.

Menulis itu seperti membagikan jiwa kita ke dalam tulisan. Jika diri kita saja merasa tidak merasa cocok dengan apa yang ditulis, bagaimana tulisan tersebut bisa memiliki jiwa?

Selain menulis sesuai minat, kalian juga bisa menulis tentang tema yang sedang up to date. Tapi dengan catatan, tentu saja jangan jadi follower. Kembangkanlah tema tersebut berdasarkan kacamata kalian. Setiap orang pasti memiliki sudut pandang yang unik.


2. Lebih Luas (perluas jaringan pertemananmu)

Kunci kedua agar lebih banyak orang yang mengenal karyamu adalah dengan memperluas lingkup orang-orang yang kalian kenal. Lewat itu, bangunlah jaringan pembacamu. Ada banyak cara untuk memperluas hal tersebut; rajin mengikuti seminar dan forum kepenulisan, ikut komunitas, dll.

Ada cara lain pula yang mudah dan gratis. Itu adalah dengan internet.

Internet saat ini tentu bukan barang mewah lagi. Kalian dapat memanfaatkannya, minimal untuk mempromosikan buku-buku kalian. Sudah banyak loh penulis yang memanfaatkan internet untuk membuat orang-orang lebih mengenalnya. Contohnya: Raditya Dika, dia terkenal lewat tulisan-tulisan di blognya, dan cukup aktif di media sosial.

Media seperti Blog, Twitter, Facebook, Google+, Instagram, dll merupakan alat promosi yang murah meriah. Jika kalian memiliki akun media sosial, gunakanlah. Pasang foto cover bukumu, atau sebutkanlah judul-judul bukumu - terutama yang terbaru- di biodata media sosial.  Jadi, setiap kali kalian mengunggah sesuatu ke dalam media sosialmu, orang-orang dapat melihatnya.

Selain itu, rajin-rajinlah merawat akun tersebut dengan rutin mengunggah sesuatu di sana. Jangan biarkan menganggur hingga bersarang laba-laba #eh.

Oh ya, agar akunmu lebih dikenali, misal di Twitter, jika ada sebuah topik yang sedang terkenal dan kebetulan sesuai dengan minatmu, kalian bisa ikut nimbrung berbicara mengenai topik tersebut. Biasa orang-orang kan suka memperhatikan tweet apa saja yang ada di dalam topik yang sedang populer tersebut. Dengan begitu, semakin banyak yang akan melihat akunmu.


3. Lebih Dalam (Bangun keakraban dengan pembacamu)

Pada dasarnya, kita tentu senang donk kalau disapa oleh seseorang yang karyanya kita sangat sukai? Nah, komunikasi dengan pembacamu ini membantu agar orang-orang tertarik mengenal bukumu. Bagaimana caranya membangun komunikasi tersebut?


Pertama-tama jika ada seorang pembaca yang memberikan pendapatnya mengenai tulisanmu, hargailah hal tersebut. Atau jika seseorang bertanya mengenai buku-bukumu, jawablah. Bisa juga kalian melakukan googling terhadap judul bukumu untuk melihat siapa saja yang membicarakan bukumu tanpa menyebutmu lewat media sosial, sapa mereka. Dengan begitu komunikasimu dengan pembaca terus terjalin. Hingga ketika kalian mengeluarkan buku selanjutnya, karyamu itu sudah diketahui dan syukur-syukur ditunggu. :)

Intinya, harus peka dengan sekitar, jangan sombong, dan rajinlah berkomunikasi dengan banyak orang. Semakin luas pergaulanmu, semakin mudah kamu untuk dikenal hingga karya-karyamu pun dikenal.

Nah, sekian artikel dari Mimin kali ini. Semoga bermanfaat.

Kunci dari kesuksesan dimulai dari diri sendiri. 

Sumber gambar:https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/81/Potter_queue.jpg

Monday, January 18, 2016


Oleh: Edelweiss

Halo, Sobat JO! Ada yang sudah mulai pusing melihat gambar di atas? Nah, ternyata, sebuah buku mampu melakukan hal yang sama, loh. Tidak percaya? Yuk kita simak artikelnya.

Sesuai dengan judul yang pasti sudah kalian baca sejak tadi, Mimin ingin menyampaikan bagaimana sebuah buku bisa menghipnosis pembacanya.

Apa kalian pernah merasakan sebuah buku memberikan pengaruh yang cukup besar pada kalian? Pasti pernah, karena semua jenis buku pada dasarnya memiliki kemampuan untuk memengaruhi pikiran pembacanya disadari atau tidak. Mengapa bisa begitu? Karena buku mengajak pembacanya larut dalam isi buku tersebut. Sebuah buku sanggup membuat pembacanya melebur ke dalam pokok bahasan buku itu. Mimin juga kadang suka lupa waktu dan tempat kalau sudah membaca buku karena perhatian Mimin sepenuhnya tersita ke dalam buku. Mimin merasa seolah masuk ke dunia buku. Ketika membaca buku fiksi, perlahan-lahan Mimin memahami pola pikir tokoh di buku tersebut. Simpelnya, Mimin menjelma menjadi tokoh dalam buku yang Mimin baca.

Menjelma menjadi tokoh dalam buku memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri, loh. Yang menjadi kelebihannya adalah kepekaan perasaan kita menjadi lebih terasah. Kita juga menjadi lebih bisa berempati kepada lingkungan sekitar dengan mencoba peduli pada tokoh buku itu dan ikut merasakan konflik yang berusaha diselesaikan oleh si tokoh dengan seluruh jiwa raganya. Amanat yang ingin disampaikan oleh penulis di buku tersebut pun menjadi lebih tersampaikan. Begitu pun dengan buku non-fiksi yang isinya bisa benar-benar kita hayati. Ilmu dan pemikiran yang disampaikan penulis bisa kita pahami dengan baik tanpa terjadi banyak kesalahpahaman.

Namun, setiap hal selalu ada kebalikannya. Menjelma menjadi tokoh dalam buku membuat kita terkadang terlalu berlebihan dalam memberikan respon terhadap buku tersebut. Entah menjerit histeris atau bahkan terkadang sampai menangis semalaman. Parahnya lagi, jika begitu terpengaruh hingga kita membawa isi buku tersebut sampai ke dunia nyata. Kalian pernah mengalami itu? 

Wah, empati boleh, tapi jangan berlebihan, ya! Sesuatu yang berlebihan seperti itu tidak baik. 

Dari semua kekurangan tersebut, ada satu hal yang paling berbahaya. Setiap buku memiliki ide atau pesan yang yang tentu ingin disampaikan oleh penulis. Jika buku tersebut ditulis dengan baik, tentu saja inti tersebut dapat ditangkap oleh pembaca. Nah, yang berbahaya adalah ketika kita berhasil didoktrin oleh buku yang berkonten kurang baik bahkan sesat. 

Well, memang sepenuhnya bukan salah kita jika buku yang kita baca adalah buku yang isinya kurang baik. Ada beberapa judul buku yang dikategorikan berbahaya bahkan ada yang dilarang beredar karena kontennya yang dianggap kurang baik di beberapa negara. Kita harus berhati-hati dalam memilih buku yang kita baca. Dan tentu saja, kita juga harus lebih selektif mengenai pandangan yang patut kita terima atau tidak. Berpikiran terbuka memang boleh saja, tapi hati-hati agar tidak terjerumus menjadi menerima segala pandangan yang akhirnya merusak apa yang sudah baik. 

Nah, kurang lebih begitulah kelebihan dan kekurangan saat kita berhasil terhipnosis oleh sebuah buku. Mungkin di antara Sobat JO ada yang ingin menambahkan? Jangan sungkan-sungkan menyebutkannya di kolom komentar! Mimin mau pamit, ah. Mau mengerjakan yang lainnya lagi. Nah, sampai jumpa Sobat JO!


Sumber gambar:http://www.kabarsehat.com/wp-content/uploads/2009/04/obsesif.jpg

Thursday, January 7, 2016


Oleh: Orchid

Sebelum Sobat JO memulai menulis, sebaiknya kamu mengetahui terlebih dahulu untuk apa kalian menulis. Hanya sebagai hobi? Atau sebagai profesi?

Hobi berbeda dengan profesi. Hobi sendiri adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran seseorang. Sementara profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan khusus.

Menulis sebagai hobi itu sangat jauh berbeda dibandingkan menulis sebagai profesi. Jika menulis sebagai hobi, kamu bebas menulis apa saja. Toh, tulisanmu tidak ditujukan untuk orang lain. Tetapi hanya untuk dikonsumsi sendiri. Menulis sebagai hobi, artinya kamu tidak perlu memperhatikan logika. Kamu membebaskan imajinasi. Yang penting kamu merasa puas dan senang. Dan kamu tidak perlu menyediakan waktu yang banyak untuk menulis. Karena jika menulis sebagai hobi, itu hanya akan dilakukan di waktu luang saja.

Tentu saja jika kamu menganggap bahwa menulis sebagai hobi, kamu harus enjoy saat menulis, menikmati setiap prosesnya, dan tidak perlu stress karena menulis.

Namun di sisi lain, jika kamu menulis hanya untuk dikonsumsi diri sendiri, maka kemampuanmu hanya akan begitu-begitu saja. Tidak memiliki kemajuan. Jika kamu menulis sebagai ajang latihan, maka menulis sebagai hobi itu cocok buatmu.

Berbeda halnya dengan menulis sebagai hobi, saat kamu memilih untuk menjadikan menulis sebagai profesi, kamu harus memerhatikan EYD, mencari tahu apa yang sedang tren saat itu, dan berusaha sebaik mungkin agar tulisanmu dimuat—ini tidak mudah. Kamu harus sering-sering latihan. Selain itu, kamu harus meluangkan waktu yang banyak untuk menulis.

Kamu juga harus siap untuk dipuji dan dicela oleh orang yang membaca tulisanmu. Kamu juga harus siap ketika editor memintamu untuk merevisi naskah. Jika kamu sudah siap akan semua itu, kamu bisa menjadikan menulis sebagai profesi. Tapi, kamu harus ingat bahwa menulis bukanlah pekerjaan yang menjanjikan jika kamu tidak benar-benar serius menekuninya.

Jadi intinya, menulis dikatakan hobi apabila tulisan-tulisan itu hanya  diposting di blog pribadi si penulis itu atau dikonsumsi sendiri. Bersarang di laptop sang penulis—tanpa pernah ada orang yang membacanya. Dan tulisan-tulisan itu tidak ditujukan untuk mendapatkan honor. Hanya sebuah kepuasan diri saja karena hobinya sudah tersalurkan. Sementara menulis dikatakan profesi apabila tulisan-tulisan itu dimuat di koran, majalah atau bahkan berbentuk buku. Dan tulisan-tulisan itu ditujukan untuk mendapatkan honor.

Idealnya, menulis bisa dijadikan keduanya. Bisa dijadikan profesi sekaligus hobi.

Maksudnya?

Jadi begini, ada beberapa tulisanmu yang dibuat untuk memuaskan hobimu. Dan kamu tidak berharap mendapatkan honor dari tulisan itu. Sementara sebagian lagi, kamu gunakan untuk mencari uang. Nah, kalau Sobat JO, termasuk yang mana?

Sumber gambar:http://www.azquotes.com/picture-quotes/quote-my-hobby-is-my-job-it-s-a-jobby-graham-coxon-71-79-93.jpg