Monday, January 18, 2016


Oleh: Edelweiss

Halo, Sobat JO! Ada yang sudah mulai pusing melihat gambar di atas? Nah, ternyata, sebuah buku mampu melakukan hal yang sama, loh. Tidak percaya? Yuk kita simak artikelnya.

Sesuai dengan judul yang pasti sudah kalian baca sejak tadi, Mimin ingin menyampaikan bagaimana sebuah buku bisa menghipnosis pembacanya.

Apa kalian pernah merasakan sebuah buku memberikan pengaruh yang cukup besar pada kalian? Pasti pernah, karena semua jenis buku pada dasarnya memiliki kemampuan untuk memengaruhi pikiran pembacanya disadari atau tidak. Mengapa bisa begitu? Karena buku mengajak pembacanya larut dalam isi buku tersebut. Sebuah buku sanggup membuat pembacanya melebur ke dalam pokok bahasan buku itu. Mimin juga kadang suka lupa waktu dan tempat kalau sudah membaca buku karena perhatian Mimin sepenuhnya tersita ke dalam buku. Mimin merasa seolah masuk ke dunia buku. Ketika membaca buku fiksi, perlahan-lahan Mimin memahami pola pikir tokoh di buku tersebut. Simpelnya, Mimin menjelma menjadi tokoh dalam buku yang Mimin baca.

Menjelma menjadi tokoh dalam buku memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri, loh. Yang menjadi kelebihannya adalah kepekaan perasaan kita menjadi lebih terasah. Kita juga menjadi lebih bisa berempati kepada lingkungan sekitar dengan mencoba peduli pada tokoh buku itu dan ikut merasakan konflik yang berusaha diselesaikan oleh si tokoh dengan seluruh jiwa raganya. Amanat yang ingin disampaikan oleh penulis di buku tersebut pun menjadi lebih tersampaikan. Begitu pun dengan buku non-fiksi yang isinya bisa benar-benar kita hayati. Ilmu dan pemikiran yang disampaikan penulis bisa kita pahami dengan baik tanpa terjadi banyak kesalahpahaman.

Namun, setiap hal selalu ada kebalikannya. Menjelma menjadi tokoh dalam buku membuat kita terkadang terlalu berlebihan dalam memberikan respon terhadap buku tersebut. Entah menjerit histeris atau bahkan terkadang sampai menangis semalaman. Parahnya lagi, jika begitu terpengaruh hingga kita membawa isi buku tersebut sampai ke dunia nyata. Kalian pernah mengalami itu? 

Wah, empati boleh, tapi jangan berlebihan, ya! Sesuatu yang berlebihan seperti itu tidak baik. 

Dari semua kekurangan tersebut, ada satu hal yang paling berbahaya. Setiap buku memiliki ide atau pesan yang yang tentu ingin disampaikan oleh penulis. Jika buku tersebut ditulis dengan baik, tentu saja inti tersebut dapat ditangkap oleh pembaca. Nah, yang berbahaya adalah ketika kita berhasil didoktrin oleh buku yang berkonten kurang baik bahkan sesat. 

Well, memang sepenuhnya bukan salah kita jika buku yang kita baca adalah buku yang isinya kurang baik. Ada beberapa judul buku yang dikategorikan berbahaya bahkan ada yang dilarang beredar karena kontennya yang dianggap kurang baik di beberapa negara. Kita harus berhati-hati dalam memilih buku yang kita baca. Dan tentu saja, kita juga harus lebih selektif mengenai pandangan yang patut kita terima atau tidak. Berpikiran terbuka memang boleh saja, tapi hati-hati agar tidak terjerumus menjadi menerima segala pandangan yang akhirnya merusak apa yang sudah baik. 

Nah, kurang lebih begitulah kelebihan dan kekurangan saat kita berhasil terhipnosis oleh sebuah buku. Mungkin di antara Sobat JO ada yang ingin menambahkan? Jangan sungkan-sungkan menyebutkannya di kolom komentar! Mimin mau pamit, ah. Mau mengerjakan yang lainnya lagi. Nah, sampai jumpa Sobat JO!


Sumber gambar:http://www.kabarsehat.com/wp-content/uploads/2009/04/obsesif.jpg

Tagged: ,

0 comments:

Post a Comment