Oleh: Ixora
Halo Sobat JO! Di artikel kali ini,
JO Team akan mengupas mengenai nama pena. Ah, kalau kata Shakespeare, “Apalah
arti sebuah nama, Min...” Hm, kalau kalian masih berpendapat demikian, maka
kalian wajib menyimak artikel ini.
Pernah mendengar nama Joanne? Tidak?
Kalau Joanne Rowling? Yup, Joanne Rowling adalah nama asli penulis buku best seller dunia, Harry Potter. Penerbit
Bloomsbury meminta Rowling untuk menambahkan inisial pada namanya agar
terdengar lebih maskulin dan akhirnya Rowling setuju menggunakan nama pena J.K
Rowling. Kata “K” pada inisial nama penanya berasal dari nama neneknya.
Setelah buku Harry Potter laris manis, J.K Rowling menulis buku lagi dengan
nama Robert Galbraith. Buku tersebut diberi judul The Cuckoo’s Calling (TCC). Sebelum identitasnya terbongkar, buku
tersebut hanya terjual 1500 eksemplar. Cukup lumayan untuk penulis yang mengaku
kalau itu adalah buku pertamanya. Tapi apa yang terjadi setelah identitas penulisnya
terbongkar? Penjualan TCC mendadak melejit. Jadi, masihkah Sobat JO meragukan
arti sebuah nama? ;)
Kalau
dipikir-pikir, saat J.K Rowling menulis TCC, ia sudah berada di puncak
popularitasnya. Buku apapun yang ia tulis, pasti penerbit akan berlomba-lomba
untuk menerbitkannya. Lalu, mengapa sih akhirnya ia menulis menggunakan nama
pena? Ia menjawab, “Saya sebenarnya berharap bisa merahasiakan nama Robert
Galbraith lebih lama. Sangat menyenangkan bisa menerbitkan buku tanpa harapan
muluk-muluk, dan murni bersenang-senang dengan nama yang lain,” ungkap Rowling
seperti dikutip Dailymail. Nah, selain alasan yang dikemukakan oleh
J.K Rowling tersebut, JO team telah merangkum beberapa alasan lainnya mengapa
seorang penulis akhirnya memilih
menggunakan nama pena.
- Nama aslinya tidak/kurang menjual.
Dalam hal ini,
biasanya pihak penerbit yang menyarankan agar penulis membuat nama pena demi
kepentingan komersil yaitu agar bukunya lebih mudah diterima oleh pasar.
- Nama aslinya tidak sesuai dengan konten buku yang ditulisnya.
Nama aslinya
mungkin sudah bagus, keren, kebarat-baratan. Namun, jika ia menulis buku yang
berbau agama (non-fiksi), pasar (terutama pasar Indonesia) lebih mudah menerima
nama yang ke-arab-araban. Jadi, nama penanya disesuaikan dengan genre
tulisannya.
- Tidak percaya diri dengan tulisannya.
Beberapa penulis,
biasanya penulis yang aktif di dunia maya, menggunakan nama pena untuk
memposting karyanya. Biasanya,hal ini dilakukan karena ia masih kurang percaya
diri dengan tulisannya namun membutuhkan banyak masukan dari banyak orang.
- Banyak penulis dengan nama yang sama.
Kalau keadaannya
seperti ini, memang sebaiknya segera
mencari nama pena karena jika sudah banyak penulis dengan nama yang sama dengan
kita, akan berpengaruh terhadap personal
branding, kepopuleran naskah kita, dan kedekatan kita dengan para pembaca kelak.
Nah, Sobat JO sendiri, apakah ada yang sudah memiliki
nama pena atau bahkan memakainya? Jika ya, silahkan share di kolom komentar alasannya.. : )
Sumber gambar:http://www.bookcovercafe.com/wp-content/uploads/2012/08/pen-names-when-best-to-use-a-pen-name.jpg





0 comments:
Post a Comment