Wednesday, February 3, 2016

Oleh : Three  Little Friends in Winter dan Orchid

Hai, Sobat JO! Buat kalian yang kemarin ketinggalan #MalmingMenulis, nggak usah risau, nggak usah khawatir, dan nggak usah capek-capek scrolling twitter @JOPHouse. Karena Mimin akan merangkumkan #MalmingMenulis di artikel ini.

Dalam #MalmingMenulis kali ini, Mimin mau membahas tentang pembaca. Terutama tentang bagaimana sih cara mengetahui reaksi pembaca ketika membaca cerita yang kita sampaikan? Kita bercerita tentu bukan hanya sekedar bercerita pada tembok dong. Hehehe. Ada audience alias dalam hal ini pembaca. Karena kita bercerita pada pembaca, tentu ada reaksi yang mereka tunjukkan. Bisa jadi, “biasa aja ceritanya.” Atau wuihhhh... keren banget ceritanya!”

Bagaimana sih cara agar kita bisa mendapatkan reaksi wuihhh keren! untuk cerita kita? Nah, Sobat JO, reaksi pembaca itu bukan tidak terduga atau tidak pasti. Reaksi mereka dipengaruhi oleh elemen-elemen dalam cerita tersebut. Ada 7 elemen yang akan Mimin bahas di artikel ini.  Apa saja itu? Yuk, kita simak.

1.      Identifikasi.
Pembaca akan selalu mencari tokoh dalam cerita di mana mereka bisa beridentifikasi dengan mereka. Identifikasi berarti pembaca menyamakan dirinya dengan tokoh, biasanya tokoh utama, sehingga pembaca bisa ikut merasakan suka duka tokoh tersebut.

Bagaimana cara agar kita bisa membuat pembaca buku kita beridentifikasi dengan isi cerita? Salah satu caranya adalah dengan menarik simpati. Bagaimana cara agar kita bisa menarik simpati? Ada banyak cara untuk menarik simpati pembaca terhadap tokoh. Misalnya, tokohnya punya kisah yang dekat dengan pembaca atau memiliki masalah yang sama. Contoh, tokohnya jomblo bertahun-tahun kayak pembacanya. Hehehe...

Karakterisasi tokoh sangat membantu proses identifikasi pembaca. Karakterisasi yang efektif adalah yang mampu mengembangkan keterlibatan pembaca terhadap tokoh. Setelah pembaca mengalami identifikasi dengan tokoh, maka ia akan mengalami emosi yang sama dengan karakter tersebut. Dengan kata lain, pembaca menempatkan diri ke dalam karakter tersebut dan secara emosional seolah-olah mengalami cerita yang sama. Sehingga perjuangan tokoh utama menjadi perjuangannya untuk mengatasi problem pembaca sendiri. Tentu saja karakterisasi tersebut harus konsisten. Karakterisasi yang tidak konsisten akan menyebabkan pembaca bingung.

2.      Antisipasi
Ketika kita membaca sebuah buku, tentu saja kita akan mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya. Untuk membuat pembaca mengantisipasi apa yang akan terjadi, mereka harus tahu apa yang diharapkan/direncanakan untuk terjadi.

Antisipasi itu bisa bermacam-macam. Sesuatu yang pasti, misal besok matahari pasti terbit. Atau yang tidak pasti, misalnya besok belum tentu hujan. Atau yang tidak mungkin terjadi, misalnya manusia bisa bernapas di ruang hampa.

Kita perlu pengetahuan untuk menentukan kemungkinan/peluang dari peristiwa yang akan terjadi. Pengetahuan itu didapat dari pengalaman. Pengalaman dihasilkan dari repetisi. Jika sesuatu terjadi dalam cara yang sama di bawah keadaan yang sama maka logis jika peristiwa akan berlanjut dengan cara yang sama. Itulah yang akan memandu antisipasi dari pembaca.

Informasi yang diberikan di dalam cerita yang berulang juga membangun antisipasi. Semakin sering repetisi tersebut semakin tinggi pula antisipasinya. Tapi,  jika yang terjadi selalu sesuatu yang sesuai antisipasi kita, pasti membosankan ya, Sobat JO. Nah, di sinilah poin ketiga bermain.

3.      Twist / Surprise
Antisipasi terhadap peristiwa bisa jadi menyenangkan atau tidak bagi pembaca. Baik antisipasi yang menyebabkan harapan/rasa takut atau bisa menyebabkan kegembiraan ataupun kesedihan. Oleh karena itu, saat penulis ingin memberikan informasi dalam cerita. Hendaknya ditata dengan baik agar tercipta antisipasi. Sehingga twist cerita bisa menghasilkan efek yang mengejutkan bagi pembaca.

Tinggi rendahnya surprise ditentukan oleh tinggi rendahnya antisipasi dan tingkat kesalahan dugaannya.

4.      Suspense
Suspense terjadi apabila pembaca ragu-ragu apakah tokoh utama akan berhasil menghadapi hambatannya. Suspense bukan elemen dalam cerita melainkan reaksi pembaca terhadap cerita.

Yang dibutuhkan pertama kali untuk mencapai suspense adalah kehendak. Cerita tanpa kehendak tidak akan menimbulkan suspense. Kehendak / intensi itu menciptakan tujuan. Jika tidak ada hambatan maka tak ada keraguan bagi kehendak untuk mencapai tujuan. Jika tidak ada keraguan maka tidak ada suspense. Cerita berjalan dengan lurus langsung menuju tujuan.

Tinggi rendahnya suspense ditentukan oleh tiga hal, yaitu identifikasi, kemungkinan protagonis berhasil atau gagal mencapai tujuan (harus imbang), dan resiko bila protagonis gagal mencapai tujuannya.

5.      Rasa Ingin Tahu
Secara bertahap memberikan informasi/jawaban yang terjadi kepada pembaca akan membuat pembaca semakin merasa terlibat ke dalam cerita. Dengan begitu pembaca menjadi semakin ingin tahu apa yang akan terjadi.

6.      Cepat Lambatnya Cerita
Kalian pernah nggak membaca buku dan merasa ih ceritanya lambat banget sih. Nggak kelar-kelar. Cepat lambatnya cerita itu terjadi di dalam pikiran pembaca. Tapi, penulis juga punya andil dalam menyebabkan hal tersebut.

Bagaimana cara agar cerita kita dirasa tidak lambat oleh pembaca? Nah, elemen-elemen yang Mimin sudah ceritakan sebelumnya itu sangat mempengaruhi poin yang satu ini. Antisipasi dan suspense itu menyebabkan cepat atau lambatnya cerita. Kedua poin tersebut membutuhkan tujuan. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita menunjukkan apa tujuan cerita ini di awal dan apa sih konfliknya.

7.      Kalkulasi
Sobat JO, pernah nggak kalian merasa sangat lelah ketika membaca sebuah buku? Selain karena genre bukunya yang tidak kalian sukai, kesalahan kalkulasi penulis itu yang menjadi penyebab kepenatan/keletihan. Oleh karena itu, penulis harus memberikan estimasi yang tepat mengenai jarak terhadap tujuan. Tidak ada tujuan maka tidak ada jarak yang bisa diperkirakan.

Dengan adanya tujuan itu membuat pembaca tetap berada dalam cerita. Alias betah untuk melanjutkan membaca. Sebelumnya Mimin sudah sebutkan, dalam mencapai tujuan pasti ada hambatan. Dengan adanya hambatan-hambatan itu, pembaca sudah menyiapkan tenaga untuk mengikuti cara penyelesaian cerita yang lazim sesuai besarnya hambatan.

Jika cerita berakhir melampaui estimasi titik akhir ini, pembaca akan merasa lelah. Sebaliknya, jika terlalu cepat, maka pembaca akan merasa tidak puas karena kelebihan energi.

Nah, jarak antara konflik, hambatan, dan penyelesaian itulah yang harus penulis perkirakan dengan tepat. Jangan sampai ceritanya sudah selesai sebenarnya, tapi masih saja ada cerita baru yang disisipkan. Anti klimaksnya jadi kepanjangan, deh. Atau ceritanya sudah berat di depan, tapi penyelesaiannya kok cuma begitu saja.


Elemen-elemen di atas bertujuan agar pembaca dapat merasa puas dengan cerita yang penulis ceritakan. Dengan begitu kita bisa mendapat respon yang,  wih keren!”

Sumber gambar:http://www.math.caltech.edu/~kechris/images/magritte.jpg

Tagged: ,

0 comments:

Post a Comment