Oleh : Three Little Friends in Winter dan Orchid
Hai, Sobat
JO! Buat kalian
yang kemarin ketinggalan #MalmingMenulis, nggak usah risau, nggak usah khawatir, dan nggak usah
capek-capek scrolling twitter
@JOPHouse. Karena Mimin
akan merangkumkan #MalmingMenulis di artikel ini.
Dalam #MalmingMenulis
kali ini, Mimin mau membahas tentang pembaca. Terutama tentang bagaimana sih cara
mengetahui reaksi pembaca ketika membaca cerita yang kita sampaikan? Kita
bercerita tentu bukan hanya sekedar bercerita pada tembok dong. Hehehe. Ada audience alias
dalam hal ini pembaca. Karena kita bercerita pada pembaca, tentu ada reaksi yang
mereka tunjukkan. Bisa jadi, “biasa aja ceritanya.” Atau “wuihhhh... keren banget ceritanya!”
Bagaimana sih cara agar
kita bisa mendapatkan reaksi “wuihhh keren!” untuk cerita kita? Nah, Sobat JO, reaksi pembaca itu bukan tidak terduga atau tidak
pasti. Reaksi mereka dipengaruhi oleh elemen-elemen dalam cerita tersebut. Ada
7 elemen yang akan Mimin bahas di artikel ini. Apa saja itu? Yuk, kita simak.
1.
Identifikasi.
Pembaca akan selalu
mencari tokoh dalam cerita di mana mereka bisa beridentifikasi dengan mereka.
Identifikasi berarti pembaca menyamakan dirinya dengan tokoh, biasanya tokoh
utama, sehingga pembaca bisa ikut merasakan suka duka tokoh tersebut.
Bagaimana cara agar kita bisa membuat
pembaca buku kita beridentifikasi dengan isi cerita? Salah satu caranya adalah dengan menarik simpati.
Bagaimana cara agar kita bisa menarik simpati? Ada banyak cara untuk menarik
simpati pembaca terhadap tokoh. Misalnya, tokohnya punya kisah yang dekat dengan pembaca atau memiliki masalah yang sama. Contoh, tokohnya jomblo bertahun-tahun kayak pembacanya. Hehehe...
Karakterisasi tokoh
sangat membantu proses identifikasi pembaca. Karakterisasi
yang efektif adalah yang mampu mengembangkan keterlibatan pembaca terhadap
tokoh. Setelah pembaca mengalami identifikasi dengan tokoh, maka ia akan
mengalami emosi yang sama dengan karakter tersebut. Dengan kata lain, pembaca menempatkan diri ke dalam
karakter tersebut dan secara emosional seolah-olah mengalami cerita yang sama. Sehingga perjuangan tokoh utama menjadi perjuangannya untuk
mengatasi problem pembaca sendiri. Tentu saja karakterisasi tersebut harus
konsisten. Karakterisasi yang tidak konsisten akan menyebabkan pembaca bingung.
2.
Antisipasi
Ketika kita membaca
sebuah buku, tentu saja kita akan mengira-ngira apa yang akan terjadi
selanjutnya. Untuk membuat pembaca mengantisipasi apa yang akan terjadi, mereka
harus tahu apa yang diharapkan/direncanakan untuk terjadi.
Antisipasi itu bisa
bermacam-macam. Sesuatu yang pasti, misal besok matahari pasti terbit. Atau yang
tidak pasti, misalnya besok belum tentu hujan. Atau yang tidak mungkin terjadi, misalnya manusia
bisa bernapas di ruang hampa.
Kita perlu pengetahuan
untuk menentukan kemungkinan/peluang dari peristiwa yang akan terjadi.
Pengetahuan itu didapat dari pengalaman. Pengalaman dihasilkan dari repetisi.
Jika sesuatu terjadi dalam cara yang sama di bawah keadaan yang sama maka logis
jika peristiwa akan berlanjut dengan cara yang sama. Itulah yang akan memandu
antisipasi dari pembaca.
Informasi yang
diberikan di dalam cerita yang berulang juga membangun antisipasi. Semakin
sering repetisi tersebut semakin tinggi pula antisipasinya. Tapi, jika yang terjadi selalu sesuatu yang sesuai antisipasi
kita, pasti membosankan ya, Sobat JO. Nah, di sinilah poin ketiga
bermain.
3.
Twist / Surprise
Antisipasi terhadap
peristiwa bisa jadi menyenangkan atau tidak bagi pembaca. Baik antisipasi yang
menyebabkan harapan/rasa takut atau bisa menyebabkan kegembiraan ataupun kesedihan. Oleh karena itu, saat
penulis ingin memberikan informasi dalam cerita. Hendaknya ditata dengan baik
agar tercipta antisipasi. Sehingga twist
cerita bisa menghasilkan efek yang mengejutkan bagi pembaca.
Tinggi rendahnya surprise ditentukan oleh tinggi
rendahnya antisipasi dan tingkat kesalahan dugaannya.
4.
Suspense
Suspense terjadi
apabila pembaca ragu-ragu apakah tokoh utama akan berhasil menghadapi
hambatannya. Suspense bukan elemen
dalam cerita melainkan reaksi pembaca terhadap cerita.
Yang dibutuhkan
pertama kali untuk mencapai suspense
adalah kehendak. Cerita tanpa kehendak tidak akan menimbulkan suspense. Kehendak / intensi itu
menciptakan tujuan. Jika tidak ada hambatan maka tak ada keraguan bagi kehendak
untuk mencapai tujuan. Jika tidak ada keraguan maka tidak ada suspense. Cerita berjalan dengan lurus
langsung menuju tujuan.
Tinggi rendahnya suspense ditentukan oleh tiga hal, yaitu
identifikasi, kemungkinan protagonis berhasil atau gagal mencapai tujuan (harus imbang), dan resiko bila protagonis gagal mencapai tujuannya.
5.
Rasa Ingin Tahu
Secara bertahap
memberikan informasi/jawaban yang terjadi kepada pembaca akan membuat pembaca
semakin merasa terlibat ke dalam cerita. Dengan begitu pembaca menjadi semakin
ingin tahu apa yang akan terjadi.
6.
Cepat Lambatnya Cerita
Kalian pernah nggak
membaca buku dan merasa “ih ceritanya lambat banget sih. Nggak kelar-kelar.” Cepat lambatnya cerita
itu terjadi di dalam pikiran pembaca. Tapi, penulis juga punya andil dalam
menyebabkan hal tersebut.
Bagaimana cara agar
cerita kita dirasa tidak lambat oleh pembaca? Nah, elemen-elemen yang Mimin sudah ceritakan sebelumnya itu
sangat mempengaruhi poin yang satu ini. Antisipasi dan suspense itu menyebabkan cepat atau lambatnya cerita. Kedua poin
tersebut membutuhkan tujuan. Oleh karena itu,
alangkah baiknya jika kita menunjukkan apa tujuan cerita ini di awal dan apa sih konfliknya.
7.
Kalkulasi
Sobat JO, pernah nggak
kalian merasa sangat lelah ketika membaca sebuah buku? Selain karena genre bukunya yang tidak kalian
sukai, kesalahan kalkulasi penulis itu yang menjadi penyebab
kepenatan/keletihan. Oleh karena itu, penulis harus memberikan estimasi yang
tepat mengenai jarak terhadap tujuan. Tidak ada tujuan maka tidak ada jarak
yang bisa diperkirakan.
Dengan adanya tujuan
itu membuat pembaca tetap berada dalam cerita. Alias betah untuk melanjutkan membaca. Sebelumnya Mimin sudah sebutkan, dalam mencapai tujuan pasti ada
hambatan. Dengan adanya hambatan-hambatan itu, pembaca sudah menyiapkan tenaga
untuk mengikuti cara penyelesaian cerita yang lazim sesuai besarnya hambatan.
Jika cerita berakhir
melampaui estimasi titik akhir ini, pembaca akan merasa lelah. Sebaliknya, jika
terlalu cepat, maka pembaca akan merasa tidak puas karena kelebihan energi.
Nah,
jarak antara konflik, hambatan, dan penyelesaian itulah yang harus penulis
perkirakan dengan tepat. Jangan sampai ceritanya sudah
selesai sebenarnya, tapi masih saja ada cerita baru yang disisipkan.
Anti klimaksnya jadi kepanjangan, deh. Atau ceritanya sudah berat di depan, tapi penyelesaiannya kok cuma begitu saja.
Elemen-elemen di atas
bertujuan agar pembaca dapat merasa puas dengan cerita yang penulis ceritakan.
Dengan begitu kita bisa mendapat respon yang, “wih keren!”
Sumber gambar:http://www.math.caltech.edu/~kechris/images/magritte.jpg





0 comments:
Post a Comment