Oleh: Edelweiss dan Ixora
Minggu kemarin, Mimin membahas tentang
diksi. Secara singkat, seperti yang kita kenal,
diksi merupakan pilihan kata. Sedang, menurut KBBI, diksi adalah pilihan kata
yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan
sehingga diperoleh efek tertentu (seperti apa yang diharapkan). Apa pentingnya sih kita mengetahui tentang diksi?
Tentu penting. Karena gak
lucu, ya, kalian menulis cerpen untuk anak-anak tapi diksi yang digunakan
tingkat dewa.
Jenis diksi sendiri ada 8, yaitu: sinonim, antonim,
polisemi, homograf, homofon, homonim, hiponim, hipernim. Untuk mengingatkan
Sobat JO, Mimin akan sedikit menjelaskan tentang jenis-jenis diksi tersebut
secara singkat.
- Sinonim adalah diksi yang bermakna sama. Contohnya ungkapan “mati” bermakna sama dengan ungkapan “meninggal”.
- Antonim adalah diksi yang memiliki makna berlawanan. Seperti panjang dan pendek, acuh dan abai.
- Polisemi merupakan kata yang memiliki banyak makna. Seperti contohnya kata “buah” yang maknanya bisa berbeda-beda seperti pemakaian kata “buah” dalam : buah apel, buah tangan, buah cinta.
- Homograf adalah kata-kata dengan tulisan sama tapi bunyi berbeda. Contohnya buah apel beda, ya, dengan apel pagi PNS di lingkungan Pemda.
- Homofon adalah kata-kata dengan bunyi sama tetapi makna dan ejaan berbeda. Contohnya adalah “tang” dengan “tank”.
- Homonim, memiliki ejaan dan bunyi sama tetapi makna yang berbeda. Contohnya adalah “bisa”, yang memiliki makna “dapat” dan “racun”.
- Hiponim merupakan kata yang termasuk ke dalam kata lain. Contohnya “apel" yang juga masuk ke dalam kata “buah”.
- Hipernim adalah kata yang mencangkup banyak makna, contohnya buah yang sudah mencakup apel, anggur, jeruk, dll. Eh, Mimin hobi banget kasih contoh buah apel, ya!!
Nah, tadi kan Mimin
sudah jelaskan macam-macam diksi, sekarang giliran tentang pemilihan diksi yang
tepat. Dalam menulis, baik fiksi maupun non fiksi, kita harus memperhatikan
diksi yang kita gunakan. Jangan sampai salah tempat. Hal ini sesuai dengan
fungsi diksi sendiri, membuat pembaca paham dengan apa yang kita tulis dan
tidak menimbulkan salah paham. Ada beberapa
hal yang harus diperhatikan ketika memilih diksi yang tepat, yaitu:
- Segmen Pembaca. Seperti Mimin bilang di awal tadi, tidak mungkin memakai diksi tingkat dewa untuk cerpen anak. Kalian juga tidak mungkin memakai bahasa kelewat gaul masa kini untuk buku-buku serius yang pembacanya orang-orang tua. Harus menyesuaikan, seperti diksi-diksi sederhana untuk cerpen anak. Pokoknya perhatikan pembacamu. Buat mereka mengerti tulisanmu. Jangan sampai mereka malah garuk-garuk kepala saat membaca tulisanmu. Bingung.
- Konteks Kalimat. Contohnya kata pahit merupakan sinonim dari kata getir. Dalam kata “kenyataan pahit” dan “kenyataan getir”, keduanya masih pas. Tetapi tidak dengan “obat yang getir”. Yang pas adalah “obat yang pahit”. Begitu juga seterusnya. Lalu, penggunaan kata “mati” dan “meninggal”. Kata “mati” terlalu kasar jika dipakai untuk manusia. Begitu pun dengan hewan yang menggunakan diksi “meninggal.” “Orang yang mati tadi pagi adalah tetanggaku.” Kedengaran kasar ya, atau “Adikku terus menangis karena tadi malam kucingku meninggal.” Ini juga terdengar aneh.
- Perhatikan Maknanya. Jangan sampai kalian salah paham. Seperti acuh dan abai. Lihat KBBI kalau kalian memang bingung dengan kata-kata yang akan kalian gunakan. Bisa dibilang, dalam menulis, KBBI adalah kitab suci kita--terutama yang berbahasa Indonesia. Kalian jangan hanya mengandalkan “biasanya dipakai begitu.” Karena itu belum tentu benar. Kalau kata guru Mimin dulu, “yang biasa belum tentu yang benar.” Semisal, kita bingung makna kata “geming” yang ingin dipakai, maka lihatlah ke KBBI sebelum memasukkannya ke tulisan kita. Jangan sampai membuat maksud kita tidak tersampaikan ke pembaca. “Tubuh itu sudah tidak bergeming lagi sejak sebutir timah panas menembus jantungnya.” Nah, apa yang aneh dengan kalimat tersebut? Ayo cek KBBI-nya ya...
Semoga tulisan ini bermanfaat ya, Sobat
JO!
http://assets-a2.kompasiana.com/statics/files/2014/02/13935569291654464477.jpg?t=o&v=760





0 comments:
Post a Comment