Oleh : Ixora
Selamat malam Sobat JO, berikut Mimin hadirkan rangkuman
#MalmingMenulis untuk kalian yang tidak sempat menyimaknya di linimasa twitter
@JOPHouse.
#MalmingMenulis kemarin membahas tentang konflik. Konflik apa Min?
Konflik dalam tulisan kita dong pastinya. Konflik yang akan dialami oleh tokoh
dalam cerita kita.
Mengapa ini penting? Karena jika kita tidak mengetahui konflik apa
yang tepat dan seberapa besar konflik yang akan kita berikan kepada karakter dalam
tulisan kita, maka bisa jadi cerita akan berjalan sangat membosankan. Dalam
meramu sebuah konflik, kita juga harus menakar kewajaran. Konflik yang terlalu berat
yang kita kenakan kepada tokoh dalam cerita yang sederhana justru akan membuat
para tokoh akan kehilangan perannya dan cerita tidak akan berjalan seperti yang
kita harapkan. Konflik yang baik dalam sebuah cerita harus tetap bisa menyatukan
seluruh komponen cerita meskipun ketegangan cerita terus memuncak. Bagaimana
cara menjaga ketegangan sebuah cerita bisa dilihat di artikel ini.
Nah, konflik apa saja sih atau
“ujian” apa saja yang bisa kita berikan kepada tokoh-tokoh dalam cerita
kita sehingga cerita kita akan membuat ‘baper’ pembacanya?
Pertama, kita bisa memberi konflik fisik kepada tokoh kita. Ujian fisik
ini bisa berupa terjebak bersama di sebuah pulau tidak berpenghuni, terjebak di
pesawat yang dibajak, terjebak sebagai sandera, dan banyak lagi contohnya. Dalam
konflik fisik ini, para tokoh dipaksa untuk bertahan hidup dengan memanfaatkan semua
sumber daya yang tersisa karena tidak boleh meninggalkan lingkungannya. Para
tokoh juga dipaksa untuk saling berkompromi meskipun mereka berbeda tujuan. Perlahan-lahan
ketegangan konflik akan terus ditingkatkan. Dalam pembajakan pesawat misalnya ketegangan
itu bisa ditingkatkan dengan adanya sandera yang dibunuh. Ketegangan konflik di
pulau terpencil bisa ditingkatkan saat mulai menipisnya bahan makanan.
Kedua adalah konflik sosial. Konflik ini tidak memaksa para tokoh untuk
melampui batas ketahanan fisik mereka namun memaksa para tokoh untuk melewati garis
nilai-nilai dan aturan sosial yang berlaku. Konflik sosial ini bisa diciptakan di
mana saja. Di kantor, di sekolah, di lingkungan militer, di lingkungan rumah. Konflik sosial bisa kita ciptakan dengan menghadirkan
tokoh yang berpegang teguh dengan nilai-nilai sosial yang berlaku dan juga tokoh
yang sangat kritis dan mempunyai pendirian
kuat atas pemikirannya. Saat kedua jenis tokoh tersebut
berbenturan, maka terjadilah konflik sosial.
Ketiga, yaitu konflik emosional. Konflik ini berasal dari dalam diri
tokoh seperti keinginan-keinginannya dan nilai – nilai yang dipegang teguh
olehnya. Faktor-faktor tersebut membuat sang tokoh bertahan dalam situasi yang
sangat tidak nyaman untuknya. Misalnya, seorang tokoh yang bertahan dalam hubungan
yang buruk entah itu dalam hubungan percintaan atau pun hubungan kerja. Konflik
emosional biasanya adalah konflik yang paling kuat dalam menyatukan keseluruhan
cerita tapi juga paling sulit untuk dikembangkan secara maksimal. Untuk menghasilkan
sebuah konflik emosional yang mendalam, penulis perlu meyakinkan pembaca bahwa keinginan
tokoh untuk bertahan dalam situasi yang sulit untuknya sangat besar dibandingkan
kesulitan yang harus ia terima.
Jika kalian pernah larut dalam konflik sebuah cerita, bisa dipastikan
bahwa penulisnya telah sukses dalam meramu konflik untuk para tokoh dalam
ceritanya.
Mimin kasih contoh satu buku yang berhasil memuat konflik
emosional secara mendalam adalah Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta karya
Suarcani . Resensinya bisa kalian baca di sini.
Nah, Sobat JO ada tidak yang bisa memberi contoh buku yang memuat konflik fisik, sosial, atau emosional? Silahkan isi di kolom komentar ya. J
Sumber gambar: http://cdn4.goabroad.com/images/program_content/cover/conflict-resolution-1441274329.jpg





0 comments:
Post a Comment