Saturday, September 3, 2016



Oleh: Edelweiss

Hai, Sobat JO! Artikel kali ini adalah tema #MalmingMenulis kemarin. Khusus untuk kalian yang tidak sempat menyimak linimasa twitter @JOPHouse.

#MalmingMenulis kemarin, Mimin membahas tentang majas. Majas semacam hiperbola, metafora, personifikasi, pasti sudah sering kalian dengar. Nah,  kali ini Mimin terinspirasi memberi kalian informasi tentang majas-majas yang sering kalian gunakan, namun namanya jarang kalian dengar.

Nah, inilah tujuh di antaranya. Majas apa saja, sih? Yuk, tengok!

1. Majas Eufemisme
Majas ini biasa dipakai untuk menghaluskan penyebutan sebuah kata. Misalnya saja, kita menyebut orang cacat dengan tunadaksa. Mungkin di beberapa tulisan, ada yang menyebut orang cacat dengan mudah tanpa tedeng aling-aling apa pun. Namun kadang, kita harus menggunakan istilah "tunadaksa" demi keetisan dan agar terdengar lebih halus.

2. Majas Metonimia
Majas Metonimia yaitu majas yang menggunakan merek produk barang tertentu menjadi kata ganti dari sebuah benda. Contoh: Aku sangat terkejut sampai tersedak Coca Cola yang sedang kuminum. Pada kalimat contoh tersebut, Coca Cola disebutkan sebagai pengganti minuman kaleng bersoda. Selain itu, masih banyak benda yang bisa diganti dengan mereknya yang banyak dikenal di pasaran.

3. Majas Asosiasi
Majas Asosiasi yaitu gaya bahasa yang membandingkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya. Contoh dari penggunaan majas tersebut salah satunya: Ia makan dengan amat rakus bagai sudah bertahun-tahun tidak melihat nasi. Dalam contoh, kita membandingkan dua keadaan yang setara. Majas ini biasa menggunakan dua keadaan yang setara untuk membandingkan satu sama lain.

4. Majas Antitesis
Majas Antitesis adalah majas yang memadukan dua kata yang berlawanan arti. Bisa dibilang, majas antitesis merupakan kebalikan dari majas asosiasi. Dalam majas antitesis, kita menyandingkan kata yang memiliki arti berlawanan. Contoh dari majas antitesis ini: Menang atau kalah, kita tetap harus menerimanya dalam sebuah kompetisi.

5. Majas Kontrasepsi Interminus
Majas ini merupakan gaya bahasa di mana pernyataan kedua menentang pernyataan sebelumnya. Contohnya begini: Semua anak di sana memakai seragam sekolah mereka, kecuali seorang anak lelaki kurus itu. Dalam klausa pertama, dijelaskan bahwa seluruh anak yang ada di sana memakai seragam sekolah. Namun di klausa kedua, di sana dijelaskan sebuah penentangan pada keadaan pertama. Ada seorang anak lelaki kurus yang tidak memakai seragam karena belum memiliki cukup uang untuk membelinya.

6. Majas Pleonasme
Majas Pleonasme yaitu majas yang menambahkan sebuah kata meskipun itu sebenarnya tidak perlu. Majas ini cenderung pemborosan kata, tapi kita perlu melakukannya untuk menegaskan sebuah maksud. Contoh: "Cepat turun ke bawah! Sekarang!" bentak Ibu dari bawah ketika melihat kekacauan di dapur. Di contoh itu sebenarnya tidak perlu menambahkan kata "ke bawah". Kata "turun" sudah pasti ke bawah. Namun Ibu perlu melakukannya, sebagai penegasan dari kata-katanya.

7. Majas Retorik
Mendengar namanya tentu bukan hal yang asing. Majas retorik adalah gaya bahasa di mana sebuah pertanyaan yang di tulis sudah ada jawabannya sehingga tidak perlu dijawab lagi. Contoh: Apa begini yang namanya kawan? Saat senang mendekat, tapi saat susah semuanya lenyap entah ke mana. Pertanyaan tersebut sudah diberikan jawabannya dalam kalimat selanjutnya. Pembaca tidak perlu menjawab pertanyaan tersebut.

Itulah tujuh majas yang sering digunakan tetapi namanya jarang menyusup ke dalam telinga kita. Majas mana yang sering kalian pakai, Sobat JO? Ataukah ada majas lain lagi yang namanya juga asing dan sering dipakai tapi belum ada di atas? Yuk, silakan komentar dan lengkapi artikel ini.

Sampai jumpa pada kesempatan berikutnya, Sobat JO! Selamat menulis dan teruslah berkarya!

Sumber gambar: https://etismegasari.files.wordpress.com/2015/08/sederhanamm.jpg

Tagged: ,

0 comments:

Post a Comment