Monday, August 17, 2015



Oleh: Edelweiss dan Three Friends in Winter

Draft pertama naskah kalian sudah selesai? Selamat! Eits… tapi jangan keburu senang dulu. Mimin tahu, ada yang setelah menyelesaikan tulisan mereka merasa super keren. Kalian berhasil menyelesaikan naskah? Itu memang keren! Tapi, ada hal lain yang perlu kalian perhatikan sebelum mengirimkan naskah tersebut ke media atau penerbit. 

Apa itu, Min? Yup! Itu adalah Self-editing. Minggu siang kemarin, JO Team membagikan materi ini di lini masa Twitter. Ada yang sudah menyimaknya? Kalau belum, tidak apa-apa, Mimin akan merangkum materi kemarin untuk kalian.

Pernahkah Sobat JO setelah menulis lalu merasa bahwa tulisan kalian kurang memuaskan? Apa yang kalian lakukan? Pasti kalian harus menyuntingnya. Nah, sebenarnya menyunting setelah menyelesaikan sebuah tulisan adalah kewajiban bagi para penulis. Hal ini bertujuan untuk menyempurnakan isi tulisan, baik dari segi konten maupun teknis.

Seberapa penting sih swasunting untuk naskah kalian? Oh, penting sekali. Kita tentu tidak ingin tulisan kita memiliki kekurangan yang begitu jelas, kan? Tulisan yang tidak disunting ulang alias masih mentah dengan yang sudah disunting ulang tentu terlihat sangat berbeda.

Namun, dari beberapa penulis pasti ada saja yang merasa malas jika disuruh menyunting ulang. Mengapa? Mereka sering malas membacanya.

"Kan sudah tahu ceritanya, jadi malas baca, Min." 

Loh, kalau penulisnya saja malas baca, apalagi pembacanya dong? Jika kalian malas baca karena merasa naskah kalian telah sempurna, wah ini bahaya! Yakin deh, 99% naskah kalian akan berakhir di trash e-mail para editor. Bahkan kalian pun kalau membaca sebuah buku yang isinya penuh typo bertebaran pasti malas. Rasanya gemes, ingin menutup buku itu dan menyimpannya di sudut rak buku terdalam, kan?

Kerugian lain jika kalian tidak melakukan swasunting:
Ketika kalian ikutan lomba, selesai menulis dan langsung kirim, kalian bisa saja tidak menyadari kesalahan ketik yang bertebaran di seluruh naskah atau bahkan adegan yang tidak masuk akal dalam cerita. Dengan begini, juri pun jadi malas membacanya. Alhasil ini mengurangi penilaian pada karya kalian. Lalu karena adegan itu karya kalian mendapat nilai yang tidak cukup tinggi dan kalian jadi tidak menang. Rugi, kan? 

Cara kalian mempresentasikan karya kalian adalah salah satu bentuk penghargaan bagi karya tersebut. Itu juga cara kalian untuk dapat memasarkan naskah kalian. Pasti kalian ingin dong tulisannya dimuat di media atau diterbitkan? Paling tidak dibaca oleh banyak orang. 

Dengan melakukan swasunting, setidaknya kita bisa memberi kesan bahwa kita bukan orang yang berantakan. Tulisan itu mencerminkan bagaimana kondisi pikiran kita, loh. Jika ngetik saja masih amburadul, siapa yang akan percaya bahwa naskah yang kalian sajikan itu bagus?

Coba bayangkan, jika kalian datang untuk wawancara kerja. Mana yang lebih disukai oleh pewawancara, pelamar dengan baju yang rapi atau kusut? Tentu si pelamar yang berpenampilan rapi. Dengan menyajikan naskah yang rapi, editor dan juri lomba pun akan senang untuk membaca naskah kalian. Selangkah lebih maju untuk impian agar tulisan kalian diterbitkan, bukan?

Banyak hal yang tidak terlihat ketika menulis dan baru akan terlihat ketika kita menyunting ulang. Nah, makanya self-edit itu penting

"Jika penulis saja tidak peduli pada karyanya sendiri, untuk apa orang lain peduli dengan karya tersebut?"

Sumber gambar: http://www.diyauthor.com/self-edit-manuscript-publication/

Tagged: ,

0 comments:

Post a Comment