Friday, July 31, 2015



Oleh: Klara Livia

“Pejamkan matamu, tarik napas yang dalam. Dengarkan hanya suaraku. Kamu tidak bisa mendengar suara yang lain, hanya ada suaraku di sini.”
Aku mengangguk dan mengikuti semua perintahnya. Aku masuk ke dalam alam bawah sadar.
“Sekarang kamu berada dalam sebuah gudang. Bagaimanakah keadaan gudang itu?”
Aku diam. Tubuhku menggigil. Terlintas dalam benakku sebuah gudang yang sempit dan berdebu. Aku duduk di sana sambil memeluk diri. Hanya ada seberkas cahaya remang-remang yang menemaniku dalam gudang sempit itu.
Aku mengatakan semuanya dengan nada gelisah.
“Baiklah. Lalu kamu mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat–“
Badanku terhentak. Kepalaku terasa pusing. Tanganku meremas erat  pegangan kursi yang aku duduki.
“Dia semakin mendekat–“
Kurasakan napasku terengah-engah. Jantungku berdetak kencang dan dadaku sangat sesak. Kepalaku bergerak, menggeliat ke kiri dan ke kanan. Gelisah. Gemetar. Takut.
“Dan pintu gudang itu terbuka–“
“AAAAAAA!!!” Aku berteriak sekencang-kencangnya. Terlintas di benakku sosok pria setengah baya yang bertubuh kekar. Rahangnya tegas dan alisnya tebal. Wajah yang menyeramkan. Dia memandangiku dengan tatapan yang mengerikan.  Tangannya menggenggam sebuah kayu yang diayun-ayunkannya.
Keringatku bercucuran, napasku menderu-deru. “Jangan.. tidak..” aku merintih. Aku takut kayu itu akan dipukulnya di tubuhku.
“Siapa orang yang kau lihat itu?”
Aku menggigit bibir. “A..ayah.”
Aku mendengar dia bergumam, lantas tidak adalagi suara yang terdengar. Aku juga ikut terdiam menunggu aba-aba darinya. Kumanfaatkan waktu luang itu untuk menenangkan diri. Menarik napas panjang dan menghembuskannya. Begitu berkali-kali hingga jantungku kembali berdetak normal.
“Sekarang bayangkan sebuah padang rumput.”
Hayalanku segera berubah. Terlintas di benakku sebuah padang rumput yang luas dan bersih. Di mana ada domba-domba berkeliaran dan sedang memakan rumput dengan tenang. Angin berhembus sepoi-sepoi membelai rambut panjangku. Di situ aku memakai gaun putih dan berbaring di tengah-tengah.
Aku tersenyum.
“Lalu kamu melihat sebuah ranting pohon.”
Terlintas sebuah pohon besar dengan ranting yang kokoh dan panjang.
“Kamu mengulurkan tanganmu dan menggenggam ranting itu.”
Aku mengikuti perintahnya. Aku mengulurkan tanganku, dalam benakku ranting itu kugenggam. Saat itu juga tanganku merasakan sesuatu yang hangat dan empuk. Aneh. Bukankah ranting pohon seharusnya keras dan dingin?
“Apa yang kau rasakan?”
Aku terdiam. Ada rasa hangat dari ranting itu. Rasa hangat yang menghantarkan kenyamanan ke berbagai sel-sel tubuhku. “Hangat. Nyaman. Tenang,” kataku.
“Kapan terakhir kali kamu merasakannya?”
Kurasa aku sudah lama tidak merasakannya. “Ketika aku berumur 10 tahun.”
“Sekarang lepaskan ranting itu.”
Aku tidak bisa mengikuti perintahnya. Tanganku seakan melekat pada ranting itu. Aku tidak ingin melepasnya. Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Tubuhku gemetar. Wajahku memanas. Air mataku menetes perlahan sambil tetap menggenggam ranting itu.
“Ada apa?” tanyanya. Nada suaranya lembut.
“Aku tidak ingin melepas ranting ini.”
“Tapi ranting ini hanya ranting biasa yang keras dan dingin.”
Aku menggeleng. “Bagiku ranting ini hangat dan lembut.”
“Kalau begitu buka matamu sekarang. Bangunlah!”
Perlahan aku membuka mataku. Dan tampaklah sosok itu. Pria setengah baya yang tadi terlintas di benakku. Bedanya sekarang tatapannya tidak mengerikan dan tidak ada tongkat kayu di tangannya. Aku menurunkan pandangan. Melihat tanganku yang menggenggam pergelangan tangannya. Ranting yang hangat itu ternyata tangan Ayah.
Secara tiba-tiba aku melepas tanganku dan mengambil langkah mundur. Tubuhku gemetar dan jantungku berdegup kencang. Bertemu lagi dengan sosoknya setelah kabur darinya tiga tahun yang lalu adalah hal yang mengerikan.
Melihat tindakanku, Ayah menunduk dan menghela napas. Aku menangkap kekecewaan dan kesedihan dari matanya. Ekspresi yang baru bagiku.
“Nak, jangan takut. Duduklah dengan nyaman,” dia lagi-lagi memerintahku. Saat ini aku dalam kondisi sadar, namun aku tetap mengikuti perintahnya.
“Mengapa kamu melepas tanganmu. Bukankah sebelumnya kamu tidak bisa melepaskan tanganmu dari ranting itu?”
Aku tidak menjawab, lantas memalingkan muka. Ada kekesalan dan amarah yang kurasakan.  “Kamu menipuku. Yang kugenggam bukan ranting.” 
Yang kugenggam adalah tangan seseorang yang kubenci,
tambahku dalam hati.
“Yang kamu genggam sungguh-sungguh ranting, Nak. Ranting yang hangat seperti yang kamu rasakan sebelumnya. Namun kamu menolaknya ketika kamu tahu wujud asli ranting itu.”
Aku terdiam.
“Nak, ini adalah jawaban dari sesi terapi kita. Selama ini, kegelisahanmu, ketakutanmu, kegundahanmu berakar dari masalahmu ketika kecil. Betapa kamu takut dengan Ayah-”
“Karena Ayah memang mengerikan!” aku menyela dengan nada sedikit membentak.
Ayahku semakin tertunduk. Kurasa dia menangis, karena aku mendengar suara isakan.
“Tapi bila ia mengerikan, mengapa ranting yang kau genggam hangat?”
Lagi-lagi aku membisu. Kehabisan kata-kata.
“Itulah Ayahmu, Nak. Dia adalah ranting yang hangat. Ranting yang tidak bisa kamu lepas. Ranting yang memberimu ketenangan.”
“Tapi dia memukulku!” Aku menangis.
“Ayah yang dulu memang jahat, Nak.” Ayah akhirnya membuka suara. Dia menangis deras. Mukanya sangat merah. “Ayah selalu terlarut dalam emosi dan melimpahkannya padamu karena tidak ada orang lain lagi di hidup Ayah selain kamu. Ayah memang jahat, Nak. Tapi Ayah sangat menyangimu. Sungguh!”
Saat itu hatiku sedikit luluh.  Apalagi melihatnya yang tampak begitu rapuh di hadapanku. Namun gengsi membuatku tetap mengacuhkan Ayah. “Ayah tidak menyangiku. Ayah memukulku.”
“Nak. Tidak ada orangtua yang membenci anaknya. Orang tua juga manusia. Mereka melakukan kesalahan dan mereka belajar dari kesalahan mereka.” Dia menarik tanganku perlahan dan menuntunnya untuk menggenggam lagi pergelangan tangan Ayah. Entah mengapa, aku tidak menolak. “Ranting ini hangat, Nak. Dia tidak lagi dingin dan keras.”
Tiba-tiba Ayah menarikku dalam pelukannya. Saat itu juga tangisku pecah. Aku membiarkan Ayah memelukku. Ada rasa damai, hangat dan tenang terselip di dada. Rasa-rasa yang tidak pernah merasukiku selama tiga tahun aku menghindari Ayah.
“Maafkan Ayah. Ayah berjanji tidak akan melukaimu lagi, Nak. Kembalilah pulang.” Begitu kata Ayah di tengah-tengah tangisnya.
Aku akhirnya luluh. Kueratkan pelukanku pada Ayah. “Maafkan aku juga, Yah. Aku menolak Ayah.”
Psikiater muda itu tersenyum. Dia menepuk-tepuk pundakku setelah aku melepas pelukanku dengan Ayah. “Mulai hari ini kamu tidak perlu kembali ke tempat ini. Harimu akan dipenuhi dengan ranting yang hangat.”
Aku tersenyum. Kutatap Ayahku. Sorot matanya kini menenangkan.
Aku menunduk kepada si psikiater muda. “Terimakasih, Bu.”
“Pergilah! Nikmatilah hidupmu yang baru.”
Setelah itu aku keluar dari tempat terapi itu sambil menggenggam tangan Ayah. Tangan yang aku ketahui sebagai ranting yang hangat.

REVIEW
Oleh: Orchid
 
Menurut JO Team, cerpen berjudul Ranting yang Hangat karya Kak Clara ini cukup baik. Opening menarik dan gaya berceritanya membuat pembaca ingin melanjutkan membaca sampai akhir cerita. Penggambaran setiap detail adegan yang terjadi juga mampu membuat pembaca larut ke dalam perasaan si aku. Selain itu, pesan yang akan disampaikan oleh penulis bisa dipahami dengan baik. 
Namun, sayangnya, riset yang dilakukan penulis mungkin tidak banyak sehingga tulisannya terlihat dangkal karena kurang adanya riset. Terutama mengenai proses psikoterapi yang diberikan oleh sang Psikiater kepada si tokoh aku. 

Di sini digambarkan bahwa proses tersebut berupa terapi pikiran yang bertujuan untuk memperbaiki perspektif 'Aku' terhadap ayahnya, namun rasanya proses tersebut digambarnya terlalu mudah dan seakan-akan hasil akhirnya sudah pasti. Padahal bisa saja terjadi pergolakan, seperti saat ia menemukan ranting di sebuah padang rumput. Tokoh aku bisa saja mengalami keraguan yang lebih berarti karena asosiasi dia terhadap ranting sebelumnya adalah benda yang digunakan ayahnya untuk memukul.

Jika kita ingin menulis sebuah karya, riset adalah sesuatu yang penting. Karena jika kita tidak riset, karya kita akan menjadi janggal karena cacat logika.

Satu hal yang membuat Admin sedikit bertanya-tanya. Bagaimana seseorang yang telah kabur dari rumah selama tiga tahun bisa berakhir di ruangan Psikiater dan bertemu dengan Ayah yang selama ini ia benci? Akan lebih baik jika ada sedikit latar belakang tentang tokoh yang penulis ceritakan. 
 
Selain itu, di dalam cerpen ini ada penumpukan subjek. Contohnya dalam bagian ini:
Badanku terhentak. Kepalaku terasa pusing. Tanganku meremas erat pegangan kursi yang aku duduki. 
Di sini terlalu banyak pengulangan –ku. Sebaiknya, ada –ku yang dihilangkan karena sudah jelas bahwa kepala dan tangan yg dimaksud dalam kalimat ini adalah kepala dan tangan si aku. Jadi tidak perlu melakukan pemborosan kata untuk kalimat yang sudah jelas maksudnya.

Akan lebih bagus jika kalimat tadi menjadi: Badanku terhentak. Kepala terasa pusing.  Tangan meremas pegangan kursi yang aku duduki. Bagaimana? Jadi lebih enak dibaca, kan?

Satu lagi, ini:
Kurasakan napasku terengah-engah. Jantungku berdetak kencang dan dadaku sangat sesak. Kepalaku bergerak, menggeliat ke kiri dan ke kanan. Gelisah. Gemetar. Takut.
Kalimat dalam paragraf di atas akan lebih baik jika diubah menjadi seperti ini:
Kurasakan napas terengah-engah. Jantung berdetak kencang dan dada sangat sesak. Kugerakkan kepala, menggeliat ke kiri dan ke kanan. Gelisah. Gemetar. Takut. 

Selain itu, variasi kalimat dalam cerpen berjudul Ranting yang Hangat ini kurang. Hampir semua kalimat yang ada, diawali dengan kata ‘aku’. Ingat, kalimat tak selalu harus diawali dengan subjek. Penulis harus pintar-pintar membuat variasi kalimat. Dengan kalimat yang lebih bervariasi, tulisan kita akan menjadi lebih menarik. Bagaimana caranya agar kalimat dalam tulisan kita bisa bervariasi? Harus sering berlatih dan memperkaya diksi serta variasi kalimat dengan membaca banyak buku.

Contohnya dalam bagian ini:
Aku mengangguk dan mengikuti semua perintahnya. Aku masuk ke dalam alam bawah sadar.
Akan lebih enak dibaca jika kalimatnya seperti ini:
Aku mengangguk dan mengikuti semua perintahnya. Memasuki alam bawah sadar.
Dan ini:
Aku mengatakan semuanya dengan nada gelisah.
Karena terlalu banyak kalimat yang diawali kata aku, sebaiknya kalimat ini diubah menjadi:
Dengan nada gelisah, kukatakan semuanya.

Dalam hal sudut pandang, ada yang terasa janggal. Cerpen ini menggunakan sudut pandang ‘aku’ atau orang pertama tunggal. Dalam cerpen ini, diceritakan bahwa si aku sedang menjalankan sesi terapi yang mengharuskan ia memasuki alam bawah sadar. Nah, Kesan ketakutan, penolakan atau kegelisahan khas seseorang yang mengalami trauma terasa terasa kuat.  JO Team berpendapat, hal ini bisa saja karena penulis menceritakannya dengan cara telling. Seperti yang Admin sebutkan di Twitter, sesekali kita perlu memanfaatkan teknik Show, but Don't Tell. Ada bagian-bagian yang memerlukan penggalian emosi yang lebih dalam. 

Hal lain bisa dikarenakan oleh pengambilan sudut pandang yang kurang tepat.
Perlu selalu diingat bahwa jika kita menggunakan sudut pandang orang pertama, maka pengetahuan kita akan sangat terbatas. Kita hanya bisa bercerita tentang apa yang si aku lihat, dengar, dan rasakan. Hal-hal di luar itu, tidak bisa kita jelaskan di dalam cerita. Lain halnya bila kita mengambil sudut pandang sebagai orang yang serba tahu. 

Sekian review dari Admin. Selamat untuk Kak Clara yang cerpennya terpilih untuk direview pada #JumatReview kali ini. Selamat menulis! Dan JO Team tunggu tulisan-tulisan selanjutnya.

Sumber foto: http://wide-wallpapers.net/green-tree-branch-wide-wallpaper/

Tagged: ,

0 comments:

Post a Comment