Friday, July 3, 2015


 Oleh: Coconut

Ia senang bila jadi yang pertama menyalakan lampu. Menatap ruang remang dengan siluet komputer pada barisan meja sepanjang dinding. Di musim dingin, jendela yang mengisi dinding timur masih gelap hingga jam delapan pagi. Ia kerap tiba jam enam dan menikmati lab untuk dirinya sendiri.
“…krsk…krsk…bat J-O…99.9 FM…”  
Senyumnya terkembang ketika headset menyentuh telinga, menyajikan suara yang sangat ia kenal lengkap dengan sedikit gemeresak. Komputernya sudah menyala dari tadi, perambannya disetel tetap pada halaman yang sama sepanjang tahun, worldradio.net.
Alone again, Ke?” sapa seseorang.
Seketika paginya terasa buruk. Ah, kenapa dia juga ikut datang sepagi ini?

***

Lagi sibuk, ya?

Berulang ditatapnya kalimat itu. Indikator di messenger-nya belum menunjukkan tanda terbaca sejak berhari-hari lalu. Ia merapatkan selimut hadiah kerstpakket[1] tahun ini, meringkuk, menatap layar enam inci yang tak juga berkedip. Matahari masih tidur; Pepi, si Siberian Husky di bawah sana masih tidur; Jos, landlord-nya masih tidur; pohon-pohon gundul di luar juga tidur, terbalut salju yang turun dua hari lalu.
Tapi, harusnya dia sudah bangun. Mungkin sudah berangkat kerja berjam-jam lalu. Dia…laki-laki dengan langkah lekas-lekas, dengan kacamata yang menegaskan kesan serius pada wajahnya, dengan alis yang selalu tampak berpikir, dengan suara yang gemanya selalu menentramkan. Suara yang entah kapan terakhir kali ia dengar.
Kencana sedikit benci pada kenyataan bahwa matahari di sana terbit lima jam lebih dulu. Tangannya menyentuh layar ponsel, mengecek jam. Pukul empat pagi di sini. Ia beranjak menuju laptop di meja, membuka browser pada halaman yang sama.
“Kembali lagi di 99,9 FM J-O radio, sobat J-O yang masih di jalan…arah Cilandak macet total….” Suara penyiar perempuan menyapa telinga, bukan itu yang dicarinya. Ia mencari suara yang lain, yang tak pernah gagal membuatnya tersenyum.
Ia beralih pada surel setelah mengecilkan volume radio, membuka kotak terkirim, menatap deretan pesan yang ditujukan ke alamat yang sama.

Subject: Apa kabar?
Apa kabar, Nara? Ini hari pertamaku berjalan kaki sepulang dari lab. Jam lima sore dan langit sudah gelap. Sengaja aku turun dari bis agak jauh dari rumah, aku ingin berjalan di salju, menginjak timbunan putih empuk dengan sepatu boots. Norak, ya? :)

Subject: Apa kabar?
Apa kabar, Nara? Divisi mikrobiologi membagi-bagikan paket tadi sore, ada selimut bulu yang tebal dan hangat, beberapa kotak coklat, lilin aromatherapy, dan sebotol wine. Wine-nya sudah kuberikan pada Alexa, orang Romania yang memakai komputer di sebelahku. Oh ya, Coklat belgianya 75%, favoritmu. :) Akan kusimpan sampai kita bertemu.

Subject: Apa kabar?
Apa kabar, Nara? Di sini sekarang pukul delapan malam tanggal 24 Desember, tapi di sana sudah pukul satu pagi tanggal 25, kan? Selamat ulang tahun, Nara. Aku tahu kau tak suka merayakannya, tapi aku begitu ingin mengatakannya: aku bersyukur kau dilahirkan dua puluh dua tahun lalu, aku bersyukur dipertemukan denganmu.
Apakah kamu mau membalas email-ku kali ini?

Huruf-huruf itu kian lama kian mengabur dan berbayang. Kencana memejamkan mata perlahan. Pesan-pesan itu sudah dibacanya puluhan kali sejak dikirim berbulan-bulan lalu. Tanpa balasan.

This time she’s gonna fix her heart and make it bullet proof.

***

“Tanggal dua puluh lima Desember, ya, di kafe biasa." Suara di ujung telepon bergema di telinga, lalu memantul-mantul di hati dan mengisi rongga dadanya, hangat, nyaman, membersitkan rona di kedua pipi. Angin Semarang yang panas dan lembab menyapa anak-anak rambut yang jatuh di dahinya.
“Kenapa tanggal segitu? Karena kamu ulang tahun, ya?” sahut Kencana terdengar agak manja. Tangannya yang menggenggam ponsel sedikit berkeringat, debur-debur halus di dadanya semakin terasa, debur yang tak pernah hilang walau sudah delapan tahun ia mengenal Nararya.
“Bukan, karena libur. Aku nggak bisa pulang kalau bukan liburan,” jawab suara yang gemanya menentramkan itu. Tetap datar, lurus, tak pernah terdengar terlalu lembut, tapi Kencana menyukainya, walau kalimat-kalimat yang terucap darinya selalu saja praktis dan logis, tanpa basa-basi, tak pernah bernada perhatian.
“Tapi….” Kencana menggantung kalimatnya, memperhatikan sedan hitam yang berhenti di depannya. Halaman kampus mulai ramai, hari ini rapat terakhir acara science fair, acara yang mengundang narasumber dari berbagai negara.
“Kenapa, kamu nggak bisa?”
“Aku kabari nanti, ya,” bisik Kencana sambil menutup ponselnya.
Sosok pria pirang tengah baya keluar dari pintu depan, disambut seseorang yang terburu keluar dari kursi kemudi, mengitari mobil untuk mendampinginya. Kencana menangkap ekor mata si pengemudi sedan yang memberinya isyarat untuk menunggu.
Fix ya, Ke, briefing Prof Jan Heijstee akhir Desember?” ujar Yoga sekembalinya mengantar pria pirang tadi ke lantai dua. Ia duduk di sebelah Kencana, menatap raut murung gadis itu dari samping.
“Aku…nggak tahu, Ga,” jawab Kencana sambil menunduk. Kakinya sibuk menggilas daun beringin kering yang berjatuhan, seolah melampiaskan penyesalan atas pilihan-pilihan silam yang diambilnya hingga tiba di persimpangan ini.
“Kenapa, Ke?” Suara Yoga melunak, “Aku di sini kalau kamu mau cerita,” katanya penuh perhatian, ia menekuni garis-garis wajah gadis itu dengan sabar. Sorot matanya sarat harap dan kekaguman, walau Kencana tak menyadarinya.
Kencana menggeleng. Apa yang akan diceritakannya pada Yoga? Bahwa ia menyesal mengikuti seleksi proposal, menyesal terpilih mengerjakan penelitian tugas akhir sekaligus magang di laboratorium paling terkenal di Eropa? Tak masuk akal.

***

“Satu tahun?”
Kencana menggangguk pelan, menunduk menatap green tea latte berembun yang menjengkelkan. Terlalu manis untuk diminum saat ini. Ia berharap green tea itu berubah pahit, agar hatinya tetap getir dan gelap. Ia ingin merasakan sakit ini seutuhnya. Apa gunanya obat jika kau samarkan dengan gula? Jika pahit ini obat, ia ingin menelannya bulat-bulat.
“Dengan Yoga, kan,” katanya lagi tanpa nada tanya. Seharusnya ada tanda tanya di sana, tapi Nararya enggan menyelipkannya.
Kencana masih menunduk, menggenggam gelas berembun hingga telapak tangannya basah. Ah, mengapa ia menjadi sedemikian merasa bersalah? “Nara…,” ujarnya pelan, tanpa mengangkat wajah. “Apa rencanamu setelah aku pergi?”
“Banyak. Dan tak ada bedanya dengan waktu kamu di sini.” Begitu singkat. Begitu tegas. Tajam mengoyak semua harapan Kencana.
“Ra, aku pergi karena….”
Kalimat itu tak pernah terselesaikan. Nararya meneguk habis espresso-nya. Meraih jaket dan bersiap beranjak.
“Ra…tanggal 25 kemarin…,” ujar Kencana cepat-cepat, beralih pada pertanyaan yang lebih mendesak sebelum Nararya beranjak.
“Ya?”
“…waktu kita nggak jadi ketemu…apa…yang mau kamu sampaikan?”
Satu helaan napas, satu kebimbangan, satu kerut muram di alis yang selalu tampak berpikir. “Tak ada apa-apa. Cuma kebetulan libur dan bisa pulang ke Jakarta, kupikir kamu juga bisa pulang dari Semarang,” jawabnya sambil berdiri, mengancingkan jaket, lalu pergi.
Jadi memang tak ada apa-apa. Faktanya memang tak ada apa-apa. Hanya aku yang berharap terlalu banyak. Kencana membeku, menggenggam gelas berembun yang kini terasa begitu dingin.
Dari jendela kafe kecil favorit mereka sejak SMA, ia menyaksikan sosok itu mengabur ditelan gerimis.

When you shoot across the sky like a broken arrow, you fall off course…

***

Alone again, Ke?”
Kencana melepas headset, menoleh, dan mendapati Yoga berdiri di sebelahnya, masih mengenakan mantel dan sarung tangan, dengan bintik-bintik salju di pundak dan rambutnya. Sinar matanya lembut menatap Kencana.
“Iya, sengaja datang pagi, biar bisa pulang cepat,” jawabnya sedatar mungkin, segera kembali menatap deretan data di layar.
“Dengerin J-O lagi?”
Kencana tergeragap. “Ah, eh…iya,” katanya, menyadari lambang kecil di sudut layar yang tak luput dari tatapan Yoga. “Kamu sendiri, kok datang pagi?” Ia mengalihkan perhatian.
“Aku mau pakai mesin PCR[2] sebelum Marijke dan Jaap datang, sampel mereka banyak, jadi aku harus curi start.”
Jawaban bohong, tentu. Kencana tahu mesin PCR di gedung diagnostik tempat Yoga bekerja lebih dari cukup untuk ratusan sampel. Status yang berubah dari siswa magang menjadi calon magister, membuat mereka bisa menggunakan fasilitas lab lebih leluasa.
Ah, waktu yang berlari melintas tiga musim dingin seolah mengejeknya yang masih berdiri pada sebuah persimpangan silam, masih mempertanyakan pilihan-pilihan. Satu tahun yang direncanakannya beranjak menjadi dua tahun, lalu bergulir menjadi tiga, dan....
“Ke, Kamu baik-baik aja, kan?”
“Iya,” jawabnya pendek.
“Kamu nggak suka ya, aku datang sering-sering ke sini?” tanyanya tanpa nada marah atau kesal. Hanya ada sedikit kesedihan di sana. “Aku cuma khawatir, kata Alexa sudah dua hari kamu tak datang ke lab.”
Hati Kencana mencelos, berusaha tak melihat sewadah penuh sup erwten[3] dalam kotak plastik yang aromanya mulai memenuhi ruangan. Batinnya terasa perih membayangkan Yoga bangun entah jam berapa untuk membuat sup, karena ia tak biasa makan makanan berbahan daging dari sembarang restoran.
“Aku bawa sup buat kamu, kutaruh di pantry, ya, jangan lupa sarapan,”
Ga, aku tak bisa membalas kebaikanmu. Kencana menggigit bibir. Hatinya sedang ia jaga, dan tak ingin Yoga terlampau berharap padanya.
Karena, ia pernah tahu rasanya terhempas.
“Ga,” panggilnya ragu.
“Ya?”
“Semua perhatian ini…untuk apa?”
Yoga berdiri di dekat pintu, mengulas senyum paling tulus yang pernah dilihat Kencana, “Maafkan aku, Ke. Aku cuma tak bisa berpura-pura,” katanya pelan. “Aku tak bisa pura-pura tak peduli pada orang yang kusayangi. Aku tak ingin sembunyi dari perasaanku sendiri.”

***

“Selamat malam sobat The Unspoken di mana pun berada… kita sudah kembali lagi, di The Unspoken bersama JO-radio, dengan Aksel di sini …”

Kencana membesarkan volume radio, berbaring menatap langit-langit kamar, merapatkan headset, menyimak setiap kalimat dari suara yang selalu ditunggunya. Suara yang hangat dan bergema, namun kerap membuat matanya terasa panas dan isaknya luruh didesak kenangan. Tapi, tidak sore ini.
Suara penyiar radio yang persis suara Nararya—walau Nara dulu menyangkalnya—sore ini gemanya berganti dengan ucapan Yoga. Apakah keberanian menghadapi sebuah perasaan, sama beratnya dengan keberanian memilih sebuah jalan?

 “Ya, sobat The Unspoken pasti pernah merasakan situasi ketika kita punya satu alasan yang tak bisa diungkapkan, pilihan-pilihan yang menyakiti seseorang, tapi sesungguhnya kita lakukan untuk sebuah alasan yang kuat…”

Kencana tertegun sejenak. Alasan yang kuat? Pilihan yang menyakitkan? Apakah pilihanku untuk pergi menyakitkanmu, Ra? Atau kau benar-benar tak peduli, tak ada bedanya aku pergi maupun tidak?

 “Ya, alasan kuat, tapi tak bisa kita katakan langsung pada yang bersangkutan…di sini, kita ingin semua sobat J-O berbagi, menyampaikan yang selama ini dipendam sendirian…”

Angannya melayang pada hari terakhir di kafe kecil itu, pada kata-kata yang tak sempat diucapkannya.
Ra, aku memilih pergi karena ingin merasa pantas bersanding denganmu, laki-laki membanggakan yang penuh prestasi, yang selalu bekerja keras di usiamu yang hanya terpaut setahun dariku.
Aku pergi karena ingin mencoba merencanakan hidupku, karena kamu selalu penuh rencana walau tak pernah mau membaginya denganku. Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu, tapi untuk membuatku layak mendampingimu saat aku kembali.
Langit di jendela mulai gelap walau baru jam lima, Kencana memejamkan mata, mungkinkah semua akan berbeda kalau dulu ia berani mengatakannya pada Nararya?

This time she’s gonna raise her head choose the righteous path…

***

Pukul sepuluh malam di sebuah kafe kecil di Jakarta, laki-laki berkacamata menghirup espresso dengan wajah lesu, ia melonggarkan dasi dan menggulung lengan kemeja. Satu lagu mengalun dari speaker dekat kasir, menggantikan suara DJ yang kata seseorang mirip dengannya.
 Satu tanya bergelayut di benak, membuat hatinya sesak. Mungkinkah semua akan berbeda jika dulu ia berani mengatakannya pada Kencana?
Ia menatap kemacetan di luar yang mengantarnya berbelok ke kafe ini. Mendesah pelan, merutuki kekusutan Jakarta yang menjebaknya. Perlahan, dengan satu gerak yang canggung dan ragu, ia meraih ponselnya. Satu pesan baru tampak di sana.

Udh dmn? Msh macet ya? Si kcl rewel, kgn papanya. Cpt plg ya, syg…

This time he’s not gonna be another could’ve been.




[1] Parsel Natal
[2] Polymerase Chain Reaction, mesin untuk menggandakan segmen DNA
[3] Sup musim dingin

***
                                            Sumber gambar: http://patrickregan.co.uk/wp-content/uploads/2013/07/Radio-mic-image-ON-AIR1-663x389.jpg






[1] Parsel Natal
[2] Polymerase Chain Reaction, mesin untuk menggandakan segmen DNA
[3] Sup musim dingin

Tagged: ,

0 comments:

Post a Comment