Oleh: Coconut
Ia
senang bila jadi yang pertama menyalakan lampu. Menatap ruang remang dengan
siluet komputer pada barisan meja sepanjang dinding. Di musim dingin, jendela
yang mengisi dinding timur masih gelap hingga jam delapan pagi. Ia kerap tiba
jam enam dan menikmati lab untuk dirinya sendiri.
krsk
krsk
bat J-O…99.9 FM
Senyumnya
terkembang ketika headset menyentuh
telinga, menyajikan suara yang sangat ia kenal lengkap dengan sedikit
gemeresak. Komputernya sudah menyala dari tadi, perambannya disetel tetap pada
halaman yang sama sepanjang tahun, worldradio.net.
“Alone again, Ke? sapa seseorang.
Seketika
paginya terasa buruk. Ah, kenapa dia juga
ikut datang sepagi ini?
***
Lagi sibuk, ya?
Berulang
ditatapnya kalimat itu. Indikator di messenger-nya
belum menunjukkan tanda terbaca sejak berhari-hari lalu. Ia merapatkan selimut
hadiah kerstpakket[1]
tahun ini, meringkuk, menatap layar enam inci yang tak juga berkedip. Matahari
masih tidur; Pepi, si Siberian Husky di bawah sana masih tidur; Jos, landlord-nya masih tidur; pohon-pohon
gundul di luar juga tidur, terbalut salju yang turun dua hari lalu.
Tapi,
harusnya dia sudah bangun. Mungkin
sudah berangkat kerja berjam-jam lalu. Dia
laki-laki dengan langkah
lekas-lekas, dengan kacamata yang menegaskan kesan serius pada wajahnya, dengan
alis yang selalu tampak berpikir, dengan suara yang gemanya selalu
menentramkan. Suara yang entah kapan terakhir kali ia dengar.
Kencana
sedikit benci pada kenyataan bahwa matahari di sana terbit lima jam lebih dulu.
Tangannya menyentuh layar ponsel, mengecek jam. Pukul empat pagi di sini. Ia beranjak menuju laptop di meja,
membuka browser pada halaman yang sama.
Kembali lagi di 99,9 FM J-O
radio, sobat J-O yang masih di jalan
arah Cilandak macet total
.” Suara penyiar perempuan menyapa
telinga, bukan itu yang dicarinya. Ia mencari suara yang lain, yang tak pernah
gagal membuatnya tersenyum.
Ia
beralih pada surel setelah mengecilkan volume radio, membuka kotak terkirim, menatap
deretan pesan yang ditujukan ke alamat yang sama.
Subject: Apa kabar?
Apa kabar, Nara? Ini hari
pertamaku berjalan kaki sepulang dari lab. Jam lima sore dan langit sudah
gelap. Sengaja aku turun dari bis agak jauh dari rumah, aku ingin berjalan di
salju, menginjak timbunan putih empuk dengan sepatu boots. Norak, ya? :)
Subject: Apa kabar?
Apa kabar, Nara? Divisi
mikrobiologi membagi-bagikan paket tadi sore, ada selimut bulu yang tebal dan
hangat, beberapa kotak coklat, lilin aromatherapy, dan sebotol wine. Wine-nya sudah kuberikan
pada Alexa, orang Romania yang memakai komputer di sebelahku. Oh ya, Coklat
belgianya 75%, favoritmu. :) Akan kusimpan sampai kita bertemu.
Subject: Apa kabar?
Apa kabar, Nara? Di sini sekarang
pukul delapan malam tanggal 24 Desember, tapi di sana sudah pukul satu pagi
tanggal 25, kan? Selamat ulang tahun, Nara. Aku tahu kau tak suka merayakannya,
tapi aku begitu ingin mengatakannya: aku bersyukur kau dilahirkan dua puluh dua
tahun lalu, aku bersyukur dipertemukan denganmu.
Apakah kamu mau membalas email-ku
kali ini?
Huruf-huruf
itu kian lama kian mengabur dan berbayang. Kencana memejamkan mata perlahan.
Pesan-pesan itu sudah dibacanya puluhan kali sejak dikirim berbulan-bulan lalu.
Tanpa balasan.
This time shes gonna fix her
heart and make it bullet proof.
***
Tanggal
dua puluh lima Desember, ya, di kafe biasa." Suara di ujung telepon
bergema di telinga, lalu memantul-mantul di hati dan mengisi rongga dadanya,
hangat, nyaman, membersitkan rona di kedua pipi. Angin Semarang yang panas dan
lembab menyapa anak-anak rambut yang jatuh di dahinya.
Kenapa
tanggal segitu? Karena kamu ulang tahun, ya? sahut Kencana terdengar agak manja.
Tangannya yang menggenggam ponsel sedikit berkeringat, debur-debur halus di
dadanya semakin terasa, debur yang tak pernah hilang walau sudah delapan tahun
ia mengenal Nararya.
“Bukan,
karena libur. Aku nggak bisa pulang kalau bukan liburan, jawab suara yang
gemanya menentramkan itu. Tetap datar, lurus, tak pernah terdengar terlalu lembut,
tapi Kencana menyukainya, walau kalimat-kalimat yang terucap darinya selalu
saja praktis dan logis, tanpa basa-basi, tak pernah bernada perhatian.
Tapi
.
Kencana menggantung kalimatnya, memperhatikan sedan hitam yang berhenti di
depannya. Halaman kampus mulai ramai, hari ini rapat terakhir acara science fair, acara yang mengundang
narasumber dari berbagai negara.
“Kenapa,
kamu nggak bisa?
Aku
kabari nanti, ya, bisik Kencana sambil menutup ponselnya.
Sosok
pria pirang tengah baya keluar dari pintu depan, disambut seseorang yang terburu
keluar dari kursi kemudi, mengitari mobil untuk mendampinginya. Kencana
menangkap ekor mata si pengemudi sedan yang memberinya isyarat untuk menunggu.
“Fix ya, Ke, briefing Prof Jan Heijstee akhir Desember? ujar Yoga sekembalinya mengantar
pria pirang tadi ke lantai dua. Ia duduk di sebelah Kencana, menatap raut murung
gadis itu dari samping.
Aku
nggak
tahu, Ga, jawab Kencana sambil menunduk. Kakinya sibuk menggilas daun beringin
kering yang berjatuhan, seolah melampiaskan penyesalan atas pilihan-pilihan
silam yang diambilnya hingga tiba di persimpangan ini.
Kenapa,
Ke? Suara Yoga melunak, “Aku di sini kalau kamu mau cerita,” katanya penuh
perhatian, ia menekuni garis-garis wajah gadis itu dengan sabar. Sorot matanya
sarat harap dan kekaguman, walau Kencana tak menyadarinya.
Kencana
menggeleng. Apa yang akan diceritakannya pada Yoga? Bahwa ia menyesal mengikuti
seleksi proposal, menyesal terpilih mengerjakan penelitian tugas akhir
sekaligus magang di laboratorium paling terkenal di Eropa? Tak masuk akal.
***
Satu
tahun?
Kencana
menggangguk pelan, menunduk menatap green
tea latte berembun yang
menjengkelkan. Terlalu manis untuk diminum saat ini. Ia berharap green tea itu berubah pahit, agar
hatinya tetap getir dan gelap. Ia ingin merasakan sakit ini seutuhnya. Apa
gunanya obat jika kau samarkan dengan gula? Jika pahit ini obat, ia ingin
menelannya bulat-bulat.
Dengan
Yoga, kan, katanya lagi tanpa nada tanya. Seharusnya ada tanda tanya di sana,
tapi Nararya enggan menyelipkannya.
Kencana
masih menunduk, menggenggam gelas berembun hingga telapak tangannya basah. Ah,
mengapa ia menjadi sedemikian merasa bersalah? Nara
, ujarnya pelan, tanpa
mengangkat wajah. Apa rencanamu setelah aku pergi?
“Banyak.
Dan tak ada bedanya dengan waktu kamu di sini. Begitu singkat. Begitu tegas.
Tajam mengoyak semua harapan Kencana.
Ra,
aku pergi karena
.”
Kalimat
itu tak pernah terselesaikan. Nararya meneguk habis espresso-nya. Meraih jaket dan bersiap beranjak.
Ra
tanggal
25 kemarin
, ujar Kencana cepat-cepat, beralih pada pertanyaan yang lebih
mendesak sebelum Nararya beranjak.
Ya?
waktu
kita nggak jadi ketemu
apa
yang mau
kamu sampaikan?
Satu
helaan napas, satu kebimbangan, satu kerut muram di alis yang selalu tampak
berpikir. Tak ada apa-apa. Cuma kebetulan libur dan bisa pulang ke Jakarta,
kupikir kamu juga bisa pulang dari Semarang,” jawabnya sambil berdiri,
mengancingkan jaket, lalu pergi.
Jadi memang tak ada apa-apa. Faktanya
memang tak ada apa-apa. Hanya aku yang berharap terlalu banyak. Kencana membeku, menggenggam
gelas berembun yang kini terasa begitu dingin.
Dari
jendela kafe kecil favorit mereka sejak SMA, ia menyaksikan sosok itu mengabur
ditelan gerimis.
When you shoot across the sky
like a broken arrow, you fall off course…
***
“Alone again, Ke?
Kencana
melepas headset, menoleh, dan mendapati
Yoga berdiri di sebelahnya, masih mengenakan mantel dan sarung tangan, dengan
bintik-bintik salju di pundak dan rambutnya. Sinar matanya lembut menatap
Kencana.
“Iya,
sengaja datang pagi, biar bisa pulang cepat,” jawabnya sedatar mungkin, segera
kembali menatap deretan data di layar.
Dengerin
J-O lagi?
Kencana
tergeragap. Ah, eh
iya, katanya, menyadari lambang kecil di sudut layar yang
tak luput dari tatapan Yoga. Kamu sendiri, kok datang pagi? Ia mengalihkan
perhatian.
Aku
mau pakai mesin PCR[2]
sebelum Marijke dan Jaap datang, sampel mereka banyak, jadi aku harus curi
start.”
Jawaban
bohong, tentu. Kencana tahu mesin PCR di gedung diagnostik tempat Yoga bekerja
lebih dari cukup untuk ratusan sampel. Status yang berubah dari siswa magang menjadi
calon magister, membuat mereka bisa menggunakan fasilitas lab lebih leluasa.
Ah,
waktu yang berlari melintas tiga musim dingin seolah mengejeknya yang masih
berdiri pada sebuah persimpangan silam, masih mempertanyakan pilihan-pilihan.
Satu tahun yang direncanakannya beranjak menjadi dua tahun, lalu bergulir
menjadi tiga, dan....
“Ke,
Kamu baik-baik aja, kan?
Iya,
jawabnya pendek.
Kamu
nggak suka ya, aku datang sering-sering ke sini? tanyanya tanpa nada marah
atau kesal. Hanya ada sedikit kesedihan di sana. Aku cuma khawatir, kata Alexa
sudah dua hari kamu tak datang ke lab.
Hati
Kencana mencelos, berusaha tak melihat sewadah penuh sup erwten[3]
dalam kotak plastik yang aromanya mulai memenuhi ruangan. Batinnya terasa perih
membayangkan Yoga bangun entah jam berapa untuk membuat sup, karena ia tak biasa
makan makanan berbahan daging dari sembarang restoran.
Aku
bawa sup buat kamu, kutaruh di pantry,
ya, jangan lupa sarapan,
Ga, aku tak bisa membalas
kebaikanmu. Kencana
menggigit bibir. Hatinya sedang ia jaga, dan tak ingin Yoga terlampau berharap
padanya.
Karena,
ia pernah tahu rasanya terhempas.
Ga,
panggilnya ragu.
Ya?
“Semua
perhatian ini
untuk apa?”
Yoga
berdiri di dekat pintu, mengulas senyum paling tulus yang pernah dilihat
Kencana, “Maafkan aku, Ke. Aku cuma tak bisa berpura-pura,” katanya pelan. “Aku
tak bisa pura-pura tak peduli pada orang yang kusayangi. Aku tak ingin sembunyi
dari perasaanku sendiri.
***
Selamat malam sobat The Unspoken di mana pun berada
kita sudah kembali lagi, di The Unspoken bersama JO-radio, dengan Aksel di sini
Kencana
membesarkan volume radio, berbaring menatap langit-langit kamar, merapatkan headset, menyimak setiap kalimat dari
suara yang selalu ditunggunya. Suara yang hangat dan bergema, namun kerap
membuat matanya terasa panas dan isaknya luruh didesak kenangan. Tapi, tidak
sore ini.
Suara
penyiar radio yang persis suara Nararyawalau Nara dulu menyangkalnyasore ini
gemanya berganti dengan ucapan Yoga. Apakah keberanian menghadapi sebuah perasaan,
sama beratnya dengan keberanian memilih sebuah jalan?
Ya, sobat The Unspoken
pasti pernah merasakan situasi ketika kita punya satu alasan yang tak bisa
diungkapkan, pilihan-pilihan yang menyakiti seseorang, tapi sesungguhnya kita
lakukan untuk sebuah alasan yang kuat
Kencana
tertegun sejenak. Alasan yang kuat?
Pilihan yang menyakitkan? Apakah pilihanku untuk pergi menyakitkanmu, Ra? Atau
kau benar-benar tak peduli, tak ada bedanya aku pergi maupun tidak?
Ya, alasan kuat, tapi tak bisa kita katakan
langsung pada yang bersangkutan
di sini, kita ingin semua sobat J-O berbagi, menyampaikan
yang selama ini dipendam sendirian
”
Angannya
melayang pada hari terakhir di kafe kecil itu, pada kata-kata yang tak sempat
diucapkannya.
Ra, aku memilih pergi karena ingin
merasa pantas bersanding denganmu, laki-laki membanggakan yang penuh prestasi,
yang selalu bekerja keras di usiamu yang hanya terpaut setahun dariku.
Aku pergi karena ingin mencoba
merencanakan hidupku, karena kamu selalu penuh rencana walau tak pernah mau membaginya
denganku. Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu, tapi untuk membuatku layak
mendampingimu saat aku kembali.
Langit
di jendela mulai gelap walau baru jam lima, Kencana memejamkan mata, mungkinkah
semua akan berbeda kalau dulu ia berani mengatakannya pada Nararya?
This time shes gonna raise her
head choose the righteous path
***
Pukul
sepuluh malam di sebuah kafe kecil di Jakarta, laki-laki berkacamata menghirup espresso dengan wajah lesu, ia
melonggarkan dasi dan menggulung lengan kemeja. Satu lagu mengalun dari speaker dekat kasir, menggantikan suara
DJ yang kata seseorang mirip dengannya.
Satu tanya bergelayut di benak, membuat
hatinya sesak. Mungkinkah semua akan berbeda jika dulu ia berani mengatakannya
pada Kencana?
Ia
menatap kemacetan di luar yang mengantarnya berbelok ke kafe ini. Mendesah
pelan, merutuki kekusutan Jakarta yang menjebaknya. Perlahan, dengan satu gerak
yang canggung dan ragu, ia meraih ponselnya. Satu pesan baru tampak di sana.
Udh dmn? Msh macet ya? Si kcl rewel, kgn papanya. Cpt plg ya,
syg
This time hes not gonna be
another couldve been.
***
Sumber gambar: http://patrickregan.co.uk/wp-content/uploads/2013/07/Radio-mic-image-ON-AIR1-663x389.jpg





0 comments:
Post a Comment