Thursday, August 27, 2015


Oleh: Ixora


Mungkin, kita sudah sering mendengar mengenai  Showing Not Telling.  Tapi tentu masih banyak yang bertanya-tanya, apa itu showing dan telling dalam sebuah penulisan sebuah karya?

Showing adalah bagaimana cara kita bercerita sehingga seolah-olah pembaca ada di sana. Ikut melihat, mendengar, bahkan merasakan suasana hati  tokoh dalam cerita kita.
Telling bisa dikatakan hanya sebatas informasi. Gambaran umum yang tidak terlalu detail.

Lalu, bagaimanakah caranya agar kita bisa membuat cerita yang benar-benar menggerakkan, mengubah suasana hati, dan menyentuh emosi pembaca? Ada beberapa tips yang JO Team rangkum agar cerita yang kita buat lebih ‘showing’. Mari kita simak,

Pertama. Gunakan dialog. Ini adalah cara termudah untuk untuk menghindari ‘telling writing’. Dialog dapat membawa pembaca membayangkan adegan yang terjadi. Dialog juga dapat membuat pembaca mengenali karakter tokoh, dan emosi yang terbangun. Tapi ingat, narasi dan dialog harus proporsional penggunaannya.

Kedua. Gunakan hal-hal yang mampu ditangkap oleh panca indera. Selama ini penulis biasanya lebih terfokus pada apa yang dilihat dan didengar saja. Padahal, apa yang dirasa oleh indera tidak hanya itu. Rasa dan aroma bisa menjadi hal-hal yang membangkitkan ingatan pembaca jika bisa disampaikan dengan baik.

Ketiga. Gunakan deskripsi. Tapi hati-hati, mendeskripsikan sesuatu secara terlalu detail akan rentan berlebihan. Harus diingat bahwa dalam mendeskripsikan sesuatu, hanya yang relevan saja dan sampaikan dengan cara yang baru. Jika tidak, maka deskripsi kita akan terbaca sangat klise. Hindari juga penggunaan kata sifat yang sudah umum digunakan seperti tinggi, baik, cantik, tampan, dll karena akan sangat membosankan.

Keempat. Gunakan metafora. Metafora juga merupakan cara yang sangat baik untuk membuat cerita lebih showing. Tapi ingat, metafora yang digunakan harus sesuai, karena jika metafora yang digunakan tidak sesuai akan merusak suasana yang sudah terbangun di dalam cerita.

Kelima. Tulislah dengan spesifik. Terkadang penulis terlalu takut untuk menjabarkan sesuatu hal secara spesifik dan kadang memilih hal-hal yang umum. Istilahnya’ cari aman’ padahal, pembaca akan lebih terkesan kepada cerita yang spesifik. Itu juga dapat mengantarkan mereka agar lebih mudah menangkap pesan yang ingin disampaikan penulis.

Nah, demikian tadi tips dari JO Team mengenai  cara membuat cerita yang ‘showing not telling’. Selamat membaca dan semoga bermanfaat 


"The best of good books have purposeful slowdowns in pace from to time because 
the author knows that readers, like athletes, must catch their breath" -Sol Stein-

Sumber gambar: http://www.novelpublicity.com/wp-content/uploads/2014/11/shutterstock_94921276.jpg




Monday, August 24, 2015


Oleh: Orchid dan Ixora

Etika adalah tata krama. Nah, kalau etika penulis adalah tata krama yang wajib dijunjung tinggi oleh para penulis. Jadi penulis juga punya tata krama, loh. Apa aja sih, etika penulis? Yuk, kita bahas satu-satu.

Yang pertama adalah taat tata bahasa. Seorang penulis yang baik harus menjunjung tata bahasa. Jadi tulisan-tulisannya harus disusun dengan ketaatan pada tata bahasa. Tulisan tidak boleh disusun sekadarnya dan tidak boleh melenceng jauh dari tata bahasa. Agar bisa menjadi penulis yang taat pada tata bahasa, maka kemampuan teknis kita dalam menulis pun harus ditingkatkan.

Yang kedua adalah suka dikritik. Ini adalah hal yang sering diabaikan oleh beberapa penulis. Banyak penulis yang marah ketika tulisannya dikritik. Kadang, ada juga yang sampai mencela orang yang mengkritik tulisannya. Menjadi seorang penulis harus siap dikritik. Dengan mendapat banyak kritikan, maka semakin banyak masukan untuk memperbaiki tulisan kita. Ini berarti bahwa ada orang yang peduli pada tulisan kita. Tentu tidak semua kritik harus kita tanggapi. Ada kritik yang memang membangun, tapi ada juga kritik yang menjatuhkan. Bijaklah dalam memilah keduanya dan terimalah kritik yang membangun dengan lapang dada.

Yang ketiga adalah gemar membaca. Ini klise tapi penting dan mimin tidak akan berhenti untuk terus mengingatkan. Seorang penulis yang baik harus gemar membaca. Karena dengan membaca, kita bisa menambah ilmu untuk memperbaiki kualitas tulisan kita.

Yang keempat adalah anti plagiat. Iya, plagiat. Seorang penulis tidak boleh melakukan itu. Jika seorang penulis melakukan plagiat, itu artinya sang penulis tidak kreatif, dan tidak bisa menghargai karya orang lain. Selain itu, hal ini juga dilarang oleh undang-undang. Jadi, jangan sampai kalian melakukan itu ya!

Yang kelima tulisan kita tidak boleh mengandung SARA. Tentu saja tulisan yang mengandung SARA akan menyinggung perasaan orang lain. Bagaimana jika pembaca merasa tersinggung terhadap tulisan kita yang mengandung SARA? Tentu sang pembaca akan malas membaca tulisan kita lagi.

Yang keenam sekaligus yang terakhir, penulis tidak boleh mengirimkan tulisan yang sama kepada media yang lain. Kecuali telah mempunyai kesepakatan dengan pihak yang terkait.


Nah, demikian tadi etika yang harus dipegang oleh seorang penulis. Ingatlah, Great people have great values and great ethics (Jeffrey Gitomer)




Sumber gambar: http://www.anneahira.com/images_wp/etika-bisnis.jpg

Thursday, August 20, 2015


Oleh: Three Friends in Winter

Nah, Sobat JO, setelah minggu kemarin JO Team membagikan materi tentang "Pentingnya Swasunting" dalam artikel : [Malming Menulis] Ketika Draft Pertama Kalian Telah Selesai, kali ini mimin hadir untuk memberikan tips apa saja sih yang harus dilakukan ketika ingin melakukan swasunting tersebut. Disimak ya, Sobat JO. Sudah siap? 

Pertama-tama ini adalah tiga hal yang perlu kalian pasti lakukan ketika melakukan swasunting:

1.  Diamkan naskah kalian beberapa saat setelah menyelesaikannya
Hal ini bertujuan agar kalian bisa melepaskan diri dari euphoria yang disebabkan oleh keberhasilan menyelesaikan naskah, sehingga bisa menjadi lebih objektif dalam melihat naskah kalian. Satu-dua minggu atau jika kalian dikejar tenggat waktu, 1-2 hari juga cukup.

2.  Baca ulang naskah kalian
Yup, penulis tidak boleh malas membaca naskah sendiri. Ketika kalian membaca ulang naskah tersebut, pasti saat itulah baru mulai terlihat kesalahan-kesalahan pada karya kalian, baik teknis maupun konten. Usahakan untuk membaca satu persatu kalimat yang telah kalian buat. Akan lebih baik jika kalian membaca keras naskah tersebut, terutama pada bagian dialog. Ini bertujuan untuk melihat apakah dialog tersebut terasa natural atau tidak.

3.  Jangan berlebihan dalam menyunting naskah
Menyunting naskah memang penting. Tapi jika kalian terlalu berlebihan melakukannya, bisa jadi ada hal yang sebenarnya sudah baik malah terbuang. Beri diri kalian penghargaan terhadap apa yang sudah baik dan lakukan swasunting pada bagian yang kurang baik. Sesuatu yang berlebihan kan tidak baik. ^^

Sudah paham dengan tiga hal di atas? Nah, sekarang ambil buku catatan kalian. Ini adalah bagian yang paling sulit ketika kita ingin menyelesaikan sebuah naskah. Jangan panik dahulu. Berikut JO Team akan memberikan hal yang perlu diperhatikan saat melakukan swasunting:

1. Kerapian tampilan naskah
Jika kalian ingin mengirimkan karya kalian pada suatu media atau penerbit, tentu saja setiap penerbit memiliki ketentuan masing-masing, seperti: margin, jenis dan ukuran huruf, spasi, dll. Ikuti aturan tersebut! Selain itu juga, kerapian tampilan naskah kalian juga penting, apakah ada spasi yang double,  paragraf yang berbeda-beda, dll. Ingat kesan pertama itu penting!

2. Tanda baca seperti titik, koma, tanda tanya, tanda seru, tanda kutip, dll
Percaya tidak kalau tanda baca memiliki kekuatan untuk merubah persepsi seseorang ketika membaca sebuah tulisan?
Mimin kasih contoh yang simpel, deh.

Ayo makan ayah.
Ayo makan, Ayah.

Nah, tanpa koma bisa dilihat kan seperti apa dampaknya? Percaya kan sekarang kalau tanda baca itu sangat kuat pengaruhnya pada kalimat?

3.  Penggunaan huruf kapital
Mimin sudah pernah bahas hal ini di artikel JO Team sebelumnya. Bisa dibaca di sini

4. Ejaan
Seperti penggunaan kata di- dan ke- yang disambung atau tidak, kesalahan pengetikan kata, dll.

5.  Tatabahasa
Hal yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi poin ini, misal:
a. Struktur kalimat, apakah telah memiliki kata kerja?
b. Keefisienan kalimat, kalimat tersebut terlalu panjang kah? Rancu atau tidak?

6.  Logika cerita
JO Team pernah mengulas mengenai logika cerita di sini. Dalam poin ini yang perlu diperhatikan adalah:
 a. Kebenaran fakta, seperti tempat dan waktu atau info tertentu mengenai hal yang spesifik.
 b. Adegan tersebut masuk akal atau tidak
 c. Adegan itu nyambung atau tidak
 d. Adegan tersebut terlalu sinetron atau cliché, kah? 
 e, Konsistensi karakter

7. Pembukaan dan akhir
Apakah bab pembuka naskah kalian sudah menarik? Dan apakah pada akhirnya pesan yang kalian ingin katakan telah tersampaikan? Ini mimin katakan bukan berarti bagian tengah tidaklah penting, ya. Semua bagian dari naskah kalian itu penting! Tapi pembukaan akan menentukan apakah orang akan membaca terus cerita kalian sampai tamat atau tidak dan akhir akan menentukan apakah pesan kalian akan sampai atau tidak.

Itu dia hal-hal yang perlu kalian perhatikan saat melakukan penyuntingan terhadap naskah kalian. Rumit ya? Enggak kok, jika kalian sering melakukannya, hal itu akan menjadi kebiasaan yang secara otomatis akan terus diulang.

Jika kalian mengalami kesulitan mengenai hal teknis seperti penulisan, maka cari tahu. Bisa lewat googling atau membaca buku-buku yang berhubungan dengan hal tersebut. Jika kalian kesulitan dalam memutuskan hal yang berhubungan dengan konten, kalian bisa mencoba mencari bantuan dari anggota keluarga atau teman yang hobi membaca untuk menjadi pembaca pertama kalian. Biasanya, pendapat mereka bisa menjadi masukan atau sudut pandang baru untuk mempercantik naskah kalian.

Penulis itu wajib peduli terhadap naskah mereka.

Sumber gambar: http://www.outsidethebeltway.com/wp-content/uploads/2014/07/Stressed-Out.jpg


Monday, August 17, 2015



Oleh: Edelweiss dan Three Friends in Winter

Draft pertama naskah kalian sudah selesai? Selamat! Eits… tapi jangan keburu senang dulu. Mimin tahu, ada yang setelah menyelesaikan tulisan mereka merasa super keren. Kalian berhasil menyelesaikan naskah? Itu memang keren! Tapi, ada hal lain yang perlu kalian perhatikan sebelum mengirimkan naskah tersebut ke media atau penerbit. 

Apa itu, Min? Yup! Itu adalah Self-editing. Minggu siang kemarin, JO Team membagikan materi ini di lini masa Twitter. Ada yang sudah menyimaknya? Kalau belum, tidak apa-apa, Mimin akan merangkum materi kemarin untuk kalian.

Pernahkah Sobat JO setelah menulis lalu merasa bahwa tulisan kalian kurang memuaskan? Apa yang kalian lakukan? Pasti kalian harus menyuntingnya. Nah, sebenarnya menyunting setelah menyelesaikan sebuah tulisan adalah kewajiban bagi para penulis. Hal ini bertujuan untuk menyempurnakan isi tulisan, baik dari segi konten maupun teknis.

Seberapa penting sih swasunting untuk naskah kalian? Oh, penting sekali. Kita tentu tidak ingin tulisan kita memiliki kekurangan yang begitu jelas, kan? Tulisan yang tidak disunting ulang alias masih mentah dengan yang sudah disunting ulang tentu terlihat sangat berbeda.

Namun, dari beberapa penulis pasti ada saja yang merasa malas jika disuruh menyunting ulang. Mengapa? Mereka sering malas membacanya.

"Kan sudah tahu ceritanya, jadi malas baca, Min." 

Loh, kalau penulisnya saja malas baca, apalagi pembacanya dong? Jika kalian malas baca karena merasa naskah kalian telah sempurna, wah ini bahaya! Yakin deh, 99% naskah kalian akan berakhir di trash e-mail para editor. Bahkan kalian pun kalau membaca sebuah buku yang isinya penuh typo bertebaran pasti malas. Rasanya gemes, ingin menutup buku itu dan menyimpannya di sudut rak buku terdalam, kan?

Kerugian lain jika kalian tidak melakukan swasunting:
Ketika kalian ikutan lomba, selesai menulis dan langsung kirim, kalian bisa saja tidak menyadari kesalahan ketik yang bertebaran di seluruh naskah atau bahkan adegan yang tidak masuk akal dalam cerita. Dengan begini, juri pun jadi malas membacanya. Alhasil ini mengurangi penilaian pada karya kalian. Lalu karena adegan itu karya kalian mendapat nilai yang tidak cukup tinggi dan kalian jadi tidak menang. Rugi, kan? 

Cara kalian mempresentasikan karya kalian adalah salah satu bentuk penghargaan bagi karya tersebut. Itu juga cara kalian untuk dapat memasarkan naskah kalian. Pasti kalian ingin dong tulisannya dimuat di media atau diterbitkan? Paling tidak dibaca oleh banyak orang. 

Dengan melakukan swasunting, setidaknya kita bisa memberi kesan bahwa kita bukan orang yang berantakan. Tulisan itu mencerminkan bagaimana kondisi pikiran kita, loh. Jika ngetik saja masih amburadul, siapa yang akan percaya bahwa naskah yang kalian sajikan itu bagus?

Coba bayangkan, jika kalian datang untuk wawancara kerja. Mana yang lebih disukai oleh pewawancara, pelamar dengan baju yang rapi atau kusut? Tentu si pelamar yang berpenampilan rapi. Dengan menyajikan naskah yang rapi, editor dan juri lomba pun akan senang untuk membaca naskah kalian. Selangkah lebih maju untuk impian agar tulisan kalian diterbitkan, bukan?

Banyak hal yang tidak terlihat ketika menulis dan baru akan terlihat ketika kita menyunting ulang. Nah, makanya self-edit itu penting

"Jika penulis saja tidak peduli pada karyanya sendiri, untuk apa orang lain peduli dengan karya tersebut?"

Sumber gambar: http://www.diyauthor.com/self-edit-manuscript-publication/

Thursday, August 13, 2015


Oleh: Coconut

Pernahkah kita membaca sebuah buku bagus yang nama penulisnya baru kita dengar, lalu dalam hitungan detik kita sudah stalking akun-akun media sosialnya?

Nowadays, people tend to enjoy watching celebrity’s life, kata seorang pengamat internet. 

Kita cenderung suka menonton kehidupan orang lain. Apalagi jika orang tersebut karyanya memancing rasa penasaran. Bagaimana ia menciptakan karya seperti itu? Bagaimana kehidupannya? Bagaimana gaya menulisnya ketika menceritakan peristiwa sehari-hari? Bagaimana cara pandangnya?

Dalam hal ini, memiliki blog tampaknya merupakan suatu hal yang positif bagi seorang penulis. Di sanalah tempat ia bisa lebih dekat dengan pembacanya, menunjukkan citra diri dan pandangan-pandangannya. Namun, di sisi lain, ada pula pendapat kontra terhadap penulis yang memiliki blog. Yuk, kita simak pro dan kontra blog bagi penulis!

PRO
1.     Awal karya
Siapa tak kenal Raditya Dika? Buku pertamanya, Kambing Jantan, yang penjualannya fenomenal serta merupakan pelopor tulisan personal literature yang kocak, mengawali tulisannya tersebut dari blog. Di sini, memiliki blog adalah awal untuk merekam ide, menuangkannya dalam tulisan secara rutin, hingga ketika cukup banyak bisa kita susun menjadi sebuah cerita yang siap diajukan ke penerbit. Walau tentu, butuh pengolahan kembali untuk menyiapkan sebuah cerita yang layak terbit. Namun, bukan tak mungkin, bila muatan yang kita tulis bagus dan blog kita banyak dikunjungi, bisa jadi ada penerbit yang nyasar ke blog kita dan tertarik untuk menawarkan kontrak.

2.     Mengisi jeda
Sudah menulis satu buku, tapi belum tahu kapan buku berikutnya terbit? Padahal pembaca buku kita sudah banyak yang kirim email dan menyatakan kangen dengan tulisan kita. Nah, lho. Di sinilah kita bisa menjembatani jeda tersebut dengan tulisan-tulisan di blog. Sehingga pembaca tidak ‘lupa’, bahkan mungkin semakin menunggu-nunggu terbitnya buku kita selanjutnya.

3.     Sarana pemasaran
Blog bisa menjadi sarana pemasaran bagi penulis. Bukan berarti setiap tulisan di blog kita harus berisi promosi. Namun, dari tulisan-tulisan yang kita tampilkan, orang bisa tertarik untuk membaca novel atau buku-buku kita.

KONTRA
1.     Distraksi
Beberapa pendapat yang kontra beralasan bahwa menulis blog dapat menjadi distraksi (pengalih perhatian) dari tugas penulis sebenarnya. Harusnya sudah bisa dapat sepuluh bab novel, namun karena sibuk curhat di blog, akhirnya kemajuan menulisnya malah tersendat. Sama halnya dengan twitter atau facebook. Sering kali, kita terlalu sibuk mengumbar isi hati, tanpa mengolahnya dulu menjadi karya yang berarti.

2.     Menghisap energi kreatif
Beberapa penulis berpendapat menulis blog memiliki seni dan aturannya sendiri. Menurut mereka, menulis blog bukanlah spektrum yang lebih rendah daripada menulis novel/buku. Akan tetapi, blog adalah jenis tulisan yang berdiri sendiri. Tak sekadar mementingkan muatan tulisan, namun juga media yang digunakan, widgetkey word, kategorisasi, dan sebagainya. Beberapa penulis yang serius nge-blog, menganggap bahwa blog adalah sebuah entitas sendiri, dan bila kita terlalu memfokuskan perhatian padanya, kadang energi kita habis di sana.

Pada akhirnya, keputusan tetap berada di tangan penulis. Apakah blog akan membuatnya lebih produktif, ataukah malah membuat waktunya terbuang? Bagi sobat JO yang belum pernah memiliki blog dan ingin mencobanya, berikut ini kami berikan link tutorial dalam bahasa Indonesia.
Tutorial membuat blog menggunakan platform blogger dalam Bahasa Indonesia:





Sumber gambar: http://www.dexign.net/wp-content/uploads/2015/02/blogger4.jpg












Tuesday, August 11, 2015


Oleh : Ixora dan Orchid

Hai Sobat JO, bagi kalian yang belum menyimak kultweet #MalmingMenulis yang diberikan oleh admin, admin merangkumnya di artikel ini.

Penulis pemula, kadang terjebak dalam situasi yang membingungkan. Keinginan untuk segera menjadi penulis yang besar membuatnya terburu-buru dan menulis dengan emosional. Padahal untuk membuat sebuah tulisan yang bagus, ada beberapa hal yang harus diingat oleh penulis pemula. Hal-hal tersebut antara lain:

Pertama. Jangan memulai tulisan dengan opening yang membosankan. Kalimat pembuka harus dibuat semenarik mungkin. Susun kalimat yang membuat orang ingin melanjutkan ke kalimat berikutnya, paragraf berikutnya, hingga ending.

Kedua. Jangan memakai kata-kata yang sama dan berulang, secara berdekatan. Biasanya, ini terjadi karena penulis miskin kosakata dan pilihan kata. Nah, agar kalian tidak miskin kosakata, jangan malas untuk menghapal kata-kata yang memiliki arti yang sama agar tulisan kita lebih kaya diksi. Kadang, tidak perlu menghapal, asal sering digunakan maka kita akan hapal dengan sendirinya.

Ketiga. Harus menguasai EYD. Bisa bayangkan perasaan seorang redaktur atau editor yang membaca tulisan seorang penulis yang bahkan tidak paham preposisi? Sementara dia harus membaca puluhan hingga ratusan tulisan lain setiap hari. Tentu tulisan kita akan berakhir di kotak sampah

Keempat. Jangan berubah-ubah dalam menggunakan kata ganti. Misalnya, di awal tulisan menggunakan 'aku', kemudian di tengah tulisan berubah menjadi 'saya', di akhir tulisan menjadi 'aku' lagi.

Kelima. Dalam menciptakan tokoh untuk sebuah cerita, jumlahnya harus sesuai dengan kebutuhan cerita. Tokohnya banyak tapi asal tempel tentu tidak akan berguna untuk cerita. Terlalu sedikit tokoh juga akan membuat konflik sulit diolah.

Keenam. Jangan terjebak pada detail yang tidak penting. Kadang penulis pemula sibuk menjelaskan sesuatu secara detail tapi ternyata bagian yang dijelaskan tersebut tidak begitu penting/tidak terlalu berpengaruh terhadap jalan cerita.

Ketujuh alias terakhir. Banyak membaca buku. Ini harus diingat karena banyak penulis pemula yang baru membaca sedikit buku tapi sudah mau jadi penulis. Padahal, penulis hebat itu akan lahir dari seorang pembaca buku yang sama hebatnya. Tidak hanya membaca buku fiksi, tapi baca juga buku nonfiksi seperti buku sejarah, biologi, kedokteran, dan masih banyak lagi.

Nah, bagaimana? Sudah siap untuk jadi penulis hebat? Selamat menulis.

 Sumber gambar :http://nulisbuku.com/blog/wp-content/uploads/2014/01/frustrated_writer_by_photonerd88-d3gobx61.jpg

Thursday, August 6, 2015





Oleh: Edelweiss

Kalau malam minggu lalu JO Team membahas mengenai karakterisasi, sebuah cara untuk membuat tokoh benar-benar terasa hidup. Kali ini, JO Team juga akan membahas hal lain yang tidak kalah penting dengan penokohan itu, karena ini juga berpengaruh pada keseluruhan cerita.

Yaitu tentang logika dalam sebuah cerita.

Logika dalam sebuah cerita itu ibarat air yang harus dimasukkan ke dalam sayur sop. Tanpa air itu, apa jadinya sayur sop? Hanya kumpulan sayuran saja, tidak enak untuk dimakan karena ia kehilangan salah satu hal yang penting di dalamnya. Begitu pula dengan tulisan yang kehilangan logikanya, tulisan itu terasa seperti omong kosong yang jauh dari kata menarik bagi pembaca untuk terus membaca sampai akhir.

Bayangkan saja, bagaimana perasaan kalian ketika mendapati sebuah cerita tentang siang hari yang memiliki bintang di langit tanpa penjelasan? Jelas kalian akan menolak bahwa itu terjadi meski dalam sebuah fiksi sekalipun. Atau mungkin hanya menerima dan beranggapan itu adalah hak penulis? Sayangnya persentase orang yang protes, jelas akan lebih banyak daripada yang menganggap itu adalah hak si penulis mau membuat cerita seperti itu. 

Seorang redaktur majalah sastra pernah berkata, bahwa apabila di dalam cerpen terdapat cacat logika, maka ia tidak perlu berlama-lama untuk membuang naskah tersebut ke kotak sampah. Jadi, bisa kalian bayangkan bahwa betapa sebuah cacat logika dalam cerita bisa sangat mempengaruhi penilaian seorang redaktur. Tidak peduli bahasanya sangat indah, ceritanya menarik, endingnya tidak terduga, bila ia cacat logika, maka bisa-bisa ceritanya tidak dibaca sampai selesai.

Cerita yang bertentangan dengan logika manusia sebenarnya bukan tidak boleh. Boleh-boleh saja, kok. Yang tidak boleh adalah apabila itu tidak disertai penjelasan mengapa hal itu bisa terjadi. Untuk tulisan seperti itu biasanya ada genre tersendiri, contohnya genre fantasi, science fiction, thriller atau di beberapa karya puisi. JK Rowling boleh saja membuat Harry Potter yang bisa terbang menggunakan sapu, atau membuat Voldemort bisa hidup kembali, tapi ingat jika tulisanmu di luar genre tersebut, maka lakukanlah riset agar tidak cacat logika. 


Sumber gambar :https://pbs.twimg.com/profile_images/180486757/icon.jpg

Monday, August 3, 2015




Oleh: Three Friends of Winter and Edelweiss


“Plot is no more than footprints left in the snow after your characters have run 
by on their way to incredible destinations.” 

― Ray BradburyZen in the Art of Writing

Dalam merajut sebuah kisah, tentu mustahil di dalamnya tidak dimunculkan tokoh. Tokoh adalah salah satu unsur wajib yang harus ada di dalam sebuah cerita, entah itu cerpen yang habis dibaca dalam sekali duduk atau novel yang panjang jalan ceritanya. Jika tokoh merupakan salah satu hal yang begitu krusial dalam sebuah cerita, maka hal lain yang tak kalah krusial adalah penokohan atau karakterisasi. Nah, Sabtu malam yang lalu JO Team sudah berbagi materi tentang karakterisasi, yaitu bagaimana cara menghidupkan karakter tokoh di dalam sebuah cerita.



Buat kalian yang tidak sempat menyimaknya di akun twitter @JOPHouse, jangan khawatir. JO Team telah merangkumkannya untuk kalian dalam artikel ini.



Ketika membaca sebuah novel, pernahkan kalian merasakan apa yang tokoh alami, ikut kalian rasakan juga? Seolah-olah kalian benar-benar berada di posisi tersebut. Pasti pernah. Itu artinya tokoh yang ada dalam tulisan itu sudah hidup karena bisa mempengaruhi perasaan pembacanya.



Pertanyaannya, bagaimana, sih, cara menghidupkan sebuah tokoh itu?



Pertama-tama perlu dipahami bahwa setiap tokoh memiliki karakter masing-masing. Apa itu karakter? Karakter adalah ciri yang menetap pada sebuah tokoh. Contoh, pemarah, pendiam, pandai, cantik, dll. Karakter inilah yang menjadi faktor penentu hidup tokoh, ia merupakan sarana untuk membawa penonton ke dalam perjalanan emosi tokoh.



Karakter yang efektif, akan mampu memperlihatkan suatu kesan pada pembaca bahwa mereka itu 'hidup'. Karakter efektif adalah karakter yang unik dengan karakteristik mereka yang individual (a unique human being). Tentu saja, yang namanya karakter tidak mungkin hanya menunjukkan satu karakteristik saja seperti pemarah saja. Karakter juga punya dimensi. Misal, seseorang bisa ganteng dan kaya tapi ternyata dia sedikit posesif. Seperti layaknya manusia, tidak semua orang itu jahat saja, dan tidak semua orang itu baik saja. Setiap orang memiliki kebaikan dan keburukan masing-masing.



Ada tiga faktor penunjang untuk membentuk karakter tokoh, yakni:

1. Fisik
Seorang tokoh tentunya memiliki penampakan luar yang bisa kita bayangkan. Hal ini bisa diwujudkan melalui bentuk tubuh, jenis kelamin, umur, dll. 
2. Psikis
Bagaimana tingkat kecerdasan tokoh, emosional, keyakinan, dan kecenderungan sosial.
3. Sosiologi
Seperti apa keluarganya, status sosial, pekerjaan, dan hubungannya dengan orang lain.


Untuk membuat karakter itu hidup, biasakan untuk menyiapkan banyak pertanyaan untuk 'mewawancarai' tokoh. Alias kepoin tokoh. Pertanyaan itu bisa apa saja, misal nama, usia, tanggal lahir, alamat rumah, pekerjaan, penampilan, kebiasaan berpakaian, kekurangan dan kelebihan, impian, dll. Daftar pertanyaan ini bisa berbeda-beda tergantung keperluan. Bisa saja ada pertanyaan bagaimana hubungan tokoh dengan keluarga, pacar, sahabat? Jika tokoh memiliki trauma masa lalu, tanyakan siapa penyebabnya, apa alasannya, dan bagaimana dia bersikap terhadap hal itu.



Setelah kita membentuk tokoh dengan karakter dan latar belakangnya, hal lain yang juga penting adalah konsistensi. Untuk menciptakan karakter yang konsisten, kita tidak bisa hanya menampilkannya dalam 1 scene saja. Perlu adanya pengulangan bagaimana tokoh bersikap terhadap sebuah kejadian yang mirip tapi beda, agar pembaca mendapatkan kesan tersebut. Kalau pun ada perubahan, maka itu bukan sesuatu yang mendadak. Semua yang terjadi memiliki alasan di baliknya.



Nah, latar belakang sudah, konsistensi karakter sudah, lantas bagaimana penulis bisa menyampaikan hal tersebut lewat kisahnya? Kalian sudah yakin benar-benar mengenal tokoh itu seperti dia adalah temanmu, pacar, atau bahkan dirimu dalam versi kepribadian yang berbeda? Kalau sudah, pinjamkanlah raga kalian untuk tokoh agar dia bisa menyampaikan apa yang ingin dikatakan dalam cerita.



Perlu diingat, tokoh itu belum tentu adalah penulis. Dalam beberapa cerita bisa jadi tokoh memiliki karakter yang sama dengan penulis tapi tokoh bukanlah penulis, melainkan individu yang memiliki cara bersikap dan pemikiran tersendiri. Oleh karena itu, penulis sebaiknya memisahkan karakter diri ketika 'meminjamkan raga' kepada tokoh. Ketika 'meminjamkan raga' pada tokoh saat kita menulis, cobalah berpikir sebagai tokoh, rasakan apa yang tokoh rasa. Bahkan untuk beberapa penulis, ada yang sampai ikut menangis ketika tokoh menangis, stress ketika tokoh merasa depresi, dll. 



Pada intinya, jadilah tokoh. Buatlah ia serasional mungkin. Karena jika kita sudah sangat mengenal tokoh tersebut, hal itu akan memudahkan kita untuk menghidupkan tokoh di dalam cerita. Perlu diingat bahwa setiap karakter yang hidup itu pasti memiliki sisi baik dan buruk. Seperti Yin dan Yang. Dalam kebaikan pasti ada keburukan. Dalam keburukan pasti ada sifat baik meskipun sedikit. Tidak mungkin yang jahat akan selamanya jahat. Pastinya ia memiliki suatu sebab yang mengakibatkan hal itu terjadi. Everything happens for reason.



Demikian yang dapat disampaikan oleh JO Team, semoga bermanfaat dan selamat menulis :)





Sumber gambar :http://annida-online.com