Wednesday, September 30, 2015

Oleh: Three Friends in Winter dan Edelweiss 

Halo, Sobat JO! Mimin mau memberikan kalian rangkuman #MalmingMenulis untuk kalian yang kemarin tidak  sempat menyimak karena sedang malmingan jadi tidak bisa mantau lini masa twitter dengan intensif. Yaudah, langsung aja, yuk!

Jadi, tema yang dibahas pada Sabtu malam lalu adalah hubunganantara  penulis dengan editor.

Sebagai seorang penulis, kita tentu ingin tulisan kita disukai oleh pembaca. Siapa, sih, yang tidak ingin begitu? Semua penulis pasti menginginkan itu. Dan cara kita agar keinginan itu tercapai adalah membuat naskah yang dilirik pembaca. Nah, salah satu kuncinya ada pada bagaimana cara kita dalam mengemas cerita tersebut, baik dalam segi konten maupun segi teknis.

Lantas, bagaimana, sih, cara kita bisa tahu naskah kita menarik? Nah, di sinilah peran seorang editor. Baik seorang pembaca sebagai editor amatir maupun editor profesional.

Dalam pikiran beberapa penulis, mereka sering menanyakan ini, “Perlu, ya, naskahku diedit lagi?” Ia merasa bahwa naskah yag ditulisnya itu sudah sempurna dan tidak perlu diubah-ubah lagi, merasa yakin seyakin-yakinnya kalau naskah itu tidak ada yang cacat. Padahal, ya, belum tentu. Masalah seperti itulah yang nanti ujung-ujungnya terjadi selisih paham antara penulis dan editor.

Merasa tidak sesuai, editor pasti akan meminta penulis merevisi naskahnya—yang ia pikir sudah sempurna—itu. Dari situ muncullah berbagai gerutuan kesal penulis kepada editor. Padahal, bisa dibilang hampir semua penulis—kecuali penulis buku harian—butuh seorang editor untuk menilai naskahnya. Editor bertugas menilai naskah kalian secara keseluruhan. Dan editor pula yang menentukan naskah kalian layak terbit atau tidak. Selain itu, editor juga mengawal naskah kalian dari proses awal sampai akhir, bahkan bisa juga ikut terlibat dalam promosi. Jadi, kerja sama antara penulis dan editor itu sangatlah penting.

Selisih paham antara penulis dan editor itu banyak penyebabnya, tetapi di sini akan dibahas beberapa yang  memang sering terjadi.

1.       Masukan dari editor tidak sesuai keinginan penulis. Nah, hal ini biasa terjadi ketika penulis diminta merevisi mengenai alur cerita. Penulis pasti akan mengkhawatirkan kalau apa yang akan ia sampaikan tidak tersampaikan ke pembaca. Beberapa penulis, nih, ada yang memiliki pengalaman dimintai mengubah ending karena dirasa sang editor tidak pas. Ada juga yang diminta mengubah sudut pandang pertama menjadi ketiga. Kebayang, kan, repotnya revisi? Lalu masih ada lagi yang diminta untuk ganti setting dari anak SMA menjadi berlatar belakang mahasiswa. Penyesuaian yang diminta oleh editor itu tentu saja bukan tanpa alasan. Pasti ada alasannya.

2.       Penulis merasa editor terlalu banyak melakukan revisi sehingga mengubah ceritanya. Kita menuliskan naskah dengan tujuan tertentu pada awalnya. Namun, revisi dari edior membuat kita merasa cerita bergerak ke arah yang tidak kita inginkan.

3.       Ego pengarang. Tidak hanya penulis, loh, yang dipusingkan oleh editor. Editor juga terkadang kerepotan menghadapi penulis. Ada, loh, penulis yang tidak memperbolehkan editor meminta revisi cerita. Mereka merasa naskah itu tidak perlu revisi besar-besaran apalagi dari segi konten. Hanya perlu revisi dari tanda baca, eyd, dan beberapa koreksi yang tidak mengubah naskah mereka sama sekali. Padahal, kan, bisa saja ada yang terlewat dari penulis ketika menuliskannya. Cacat logika, misalnya.

4.       Penulis yang sibuk. Ini dia yang sering membuat editor gemas dan pengen garuk tembok. Ketika diminta revisi penulis berlagak sibuk: “Duh, saya lagi repot, nih.” Jelas sekali, penulis yang seperti ini akan membikin  pusing editor. Kenapa? Revisi tersebut menyangkut waktu terbit. Padahal di jadwal sudah tertulis naskah A harus terbit tanggal sekian. Namun, karena lamanya revisi, naskah tersebut jadwal terbitnya harus ditunda. Nah, kalau begitu, siapa yang akhirnya rugi?

5.       Antara editor dan pengarang ada yang sok tahu. Di sini yang dimaksudkan adalah editor dan penulis merasa merekalah yang paling paham tentang informasi itu, semisal setting tempat. Dan kalau keduanya sama-sama ngotot bahwa mereka yang paling benar, wah bisa ramai ini. Eh, berantem maksudnya.

Nah, kalau sudah seperti itu akhirnya, kan, menghambat proses penerbitan naskah. Jadi, bagaimana dong jalan keluarnya?

Sebenarnya, jalan keluar yang diperlukan itu tidaklah sulit. Penulis dan editor hanya perlu saling berpikiran terbuka, menerima masukan, dan jangan mementingkan ego. Komunikasikan setiap masalah dengan baik. Semua bisa dibicarakan. Jika alasan yang diutarakan masuk akal, pihak lain harus legowo menerima masukan itu. Memang tidak semua masukan bisa  diterima, tapi setidaknya dengarkan dan berpikir dulu sebelum berkomentar.

Yap, selesai! Sekian dulu dari Mimin. Sampai jumpa lagi di lain waktu, Sobat JO! Selamat menulis.


 Sumber gambar: http://www.freelancewriting.com/images/FF-16-Irritating-Editors.png

Monday, September 28, 2015

Oleh : Ixora

Sudah ada referensi bacaan untuk weekend nanti? Kalau belum,  Mimin mau share lima buku terbaik di dunia yang Mimin kutip dari berbagai sumber. Masih ada waktu seminggu, kan untuk mencari dan membelinya? :)

1.       The Da Vinci Code
Penulis: Dan Brown
The Da Vinci Code adalah sebuah novel karangan Dan Brown seorang penulis Amerika dan diterbitkan pada 2003 oleh Doubleday Fiction. Buku ini menggabungkan gaya detektif, thriller dan teori konspirasi. Novel ini telah membantu memopulerkan perhatian terhadap sebuah teori-teori tentang legenda Piala Suci (Holy Grail) dan peran Maria Magdalena dalam sejarah Kristen. Buku ini menceritakan usaha Robert Langdon, Profesor "Simbologi Agama" di  Universitas Harvard, untuk memecahkan misteri pembunuhan kurator terkenal Jacques Saunière dari Museum Louvre di Paris. Novel karangan Dan Brown ini cukup laris dan populer, karena dianggap mengungkap teori konspirasi tersembunyi.  Setelah diangkat ke layar lebar, penjualan Da Vinci Code pun makin melonjak hingga akhirnya mencapai 80 juta kopi di seluruh dunia.


2.       She : A History of Adventure
Penulis: H.Rider  Haggard
She adalah karya H. Rider Haggard yang dirilis pertama kali pada tahuin 1887.  Bermodalkan pengetahuannya tentang Afrika dan legenda kuno, penulis H. Rider Haggard mengungkapkan kisah tentang Aisyah, ratu dari suku Afrika Tengah yang misterius dan konon memiliki kemampuan untuk hidup abadi. Ratu yang disebut dengan julukan "Dia-yang-harus-harus-dipatuhi," oleh rakyatnya  adalah perwujudan dari sosok perempuan dari legenda yang sangat cantik.  Satu hal lagi, sang ratu bisa menjadi sosok yang lebih mematikan daripada laki-laki.  Novel She dianggap sebagai salah satu perintis novel bergenre Lost World atau novel yang berkisah tentang sebuah dunia misterius yang "hilang" dari peradaban modern. She: A History Of Adventure terjual sebanyak 83 juta eksemplar.

3.       The Hobbit
Penulis: J.R.R. Tolkien
Sebuah novel di dunia fantasi cipatan J.R.R Tolkien yang dipublikasikan sebelum karya terbesarnya, The Lord of the Rings. Ditulis sebagai pendahuluan dari The Lord of the Rings, The Hobbit menceritakan kisah Bilbo Baggins, seorang hobbit yang kehidupannya yang damai dan tenang berubah 180 derajat ketika ia bergabung dengan penyihir Gandalf dan tiga belas kurcaci dalam sebuah petualangan untuk merebut kembali harta curian. Dalam perjalanan yang penuh dengan bahaya, Bilbo Baggins sendiri harus menghadapi penjaga harta tersebut, yaitu seekor naga yang paling ditakuti di alam semesta. Karya ini disebut oleh The Times of London sebagai karya literatur yang mendekati kesempurnaan. Tercatat 100 Juta eksemplar telah terjual seluruh dunia sejak pertama terbit.

4.       Dream of Red Chamber
Penulis: Cao Xueqin
Judul buku ini adalah judul versi bahasa Inggris untuk buku berjudul Hong Lou Meng. Buku ini adalah karya sastra terkenal dari zaman Dinasti Qing. Dream of Red Chamber adalah sebuah novel yang ditulis abad ke-18 oleh Cao Xueqin (pertama 80 bab), dan sisanya 40 bab diyakini telah ditulis oleh Gao E. Buku ini pada awalnya ditulis dalam bahasa Cina dan dianggap sebagai salah satu karya abad ke-18. Di Indonesia, buku ini dikenal dengan judul Impian Paviliun Merah. Impian Paviliun Merah diakui sebagai salah satu karya sastra terbaik dalam sejarah sastra Tiongkok. Dream of the Red Chamber terjual sebanyak 100 juta eksemplar.

5.       The Lion, The Witch, and The Wardrobe
Penulis: C.S. Lewis
Judul ini adalah serial kedua dari judul The Chronicles of Narnia.  Ditulis oleh C.S. Lewis, novel ini bercerita tentang petualangan Peter, Susan, Edmund dan Lucy dalam dunia fiksi di balik lemari ajaib. Kisah klasik mengungkapkan berbagai hal fantastis dan menakjubkan, yang bisa membuat  pembaca dari segala usia merasa terpesona ketika membacanya. The Lion, The Witch and the Wardrobe, juga dilengkapi dengan ilustrasi gambar dari Christian Burningham yang membuat cerita terkesan makin indah. Novel ini wajib dibaca bagi anda yang menyukai cerita-cerita fantasi klasik. The Lion, the Witch and the Wardrobe terjual sebanyak 85 juta eksemplar. Judul edisi bahasa Indonesia buku ini adalah Sang Singa, Sang Penyihir dan Lemari. 


Nah, demikian tadi 5 buku terbaik di dunia yang wajib kalian baca. Masih ada 5 buku lagi yang akan Mimin bahas di posting berikutnya. Jangan sampai ketinggalan ya…Selamat membaca :)

Sumber gambar: http://i00.i.aliimg.com/wsphoto/v0/2037935670/

Monday, September 21, 2015

Oleh: Orchid dan Ixora

Malming Menulis kemarin, JO Team membahas tentang cara membangun setting/latar. Kadang, ada penulis yang bingung bagaimana cara memperkuat dekskripsi latar dalam tulisannya. Nah, kali ini JO Team akan memberikan tips untuk memperkuat dekskripsi latar dalam tulisan agar pembaca bisa dengan jelas membayangkan latar dalam tulisan yang kalian buat.

Umumnya, penulis memilih setting cerita di tempat yang pernah dikunjunginya. Hal ini dengan tujuan agar bisa lebih mudah mendekskripsikan mengenai tempat tersebut karena ketika kalian sudah pernah ke suatu tempat, pasti kalian tahu persis, bagaimana suasana di tempat tersebut.

Eits, bukan berarti tidak boleh untuk menulis cerita dengan setting tempat yang belum pernah kalian kunjungi. Tentu boleh. Tapi ada hal-hal yang terlebih dahulu harus kalian lakukan yaitu riset. Riset itu bisa dalam bentuk pertanyaan terhadap orang-orang yang pernah ke sana, membaca buku travel guide, mencari foto-foto tempat tersebut, dan masih banyak lagi. Oiya, saat melakukan riset dalam bentuk foto, jangan hanya melihat foto yang diambil dari satu sudut saja. Kalian juga harus mencari-cari foto yang diambil dari sudut yang lain agar kalian mempunyai imajinasi lebih mengenai tempat tersebut.

Lalu,  apa saja sih, yang harus dideskripsikan agar pembaca bisa lebih jelas membayangkan setting yang kalian tulis dan tulisan kalian terasa lebih ‘hidup’? Yang harus didekskripsikan adalah suasana tempat itu. Apakah ramai, sepi, atau lainnya. Selanjutnya, bagaimana keadaan tempat itu. Di mana letaknya, benda apa saja yang berada di sana, dan apa yang bisa kalian rasakan ketika berada di sana.

Misal, nih ya, kalian mengambil setting di kedai kopi. Nah, pasti kalian akan menghirup bau kopi, bukan? Selipkan itu dalam dekskripsi! Contoh lagi, misalnya kalian mengambil setting di tengah kota. Bayangkan apa yang kalian rasakan ketika berada di sana. Apakah merasa sejuk? Atau malah terbatuk-batuk karena menghirup udara yang penuh dengan polusi? Libatkan seluruh panca indera. Jadi, apa yang bisa dilihat, dicium, diraba, didengar, dan dirasakan, harus bisa kalian deskripsikan. Jangan lupa juga untuk mendekskripsikan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di tempat itu. Jika kalian mengambil setting di kebun binatang, tentu saja, orang-orang yang berada di sana sibuk memperhatikan dan memotret hewan-hewan yang ada di kebun binatang, kan?

Terakhir, tidak lupa kalian juga harus mendekskripsikan tentang tokoh kalian. Alasan mengapa tokoh kalian berada di tempat itu? Kenapa harus ke tempat itu, kenapa tidak ke tempat lain, dan masih banyak lagi.

Nah, sekian tips dari JO Tema. Semoga bermanfaat. 

Sumber gambar: http://www.britblaise.com/wp-content/uploads/2013/03/Depositphotos_19987753_original.jpg

Friday, September 18, 2015


Oleh: Three Friends in Winter

Mengapa kalian ingin menjadi penulis?  Mengapa menulis fiksi?

Kalian ingin menjadi seperti Dee Lestari, Andrea Hirata, atau Raditya Dika yang terkenal karena novel mereka Best Seller? Dengan berhasil menerbitkan buku, kalian belum tentu akan langsung terkenal dan kaya raya. Bahkan banyak loh penulis yang kere. Perjalanan kalian masih panjang.

Jadi penulis itu tidak mudah. Banyak yang harus dilakukan; membaca ribuan buku, rutin berlatih menulis, memahami EYD, dll. Menjadi penulis juga berarti harus memiliki pengetahuan lebih daripada orang kebanyakan, mendedikasikan sebagian besar waktumu untuk menulis atau memikirkan tulisanmu, duduk di depan komputer selama berjam-jam, bahkan melewatkan kesempatan untuk hang-out dengan teman-teman atau menjelajahi media sosial hanya untuk memandangi lembaran kosong di depan mata. Kadang, sudah berusaha mengeluarkan uneg-uneg yang mengganggu pikiran tapi beberapa jam berlalu dan lembaran itu masih saja kosong. Ohemji! Belum lagi kalau naskah sudah selesai, kita masih harus membaca ulang dan menyuntingnya. Berapa banyak waktu yang harus terbuang hanya untuk menjadi penulis? Arghh Pusing! Î£(♡@﹏ @☆)ノ”

Jadi mengapa kalian masih ingin menjadi penulis? 

Dengan membaca paragraf-paragraf awal dari Mimin, kalian sudah merasa sangat berat dan ingin berhenti? Kalau begitu, kalian harus mempertimbangkan kembali keinginan menjadi penulis. 

Menjadi penulis itu gampang-gampang sulit, sulit-sulit gampang. Kalimat Mimin ribet, ya? Hehehe. Tapi itu memang benar, menjadi penulis itu seperti halnya mimpi menjalani profesi lain, semua membutuhkan ketekunan untuk terus menjalaninya dan butuh pengorbanan yang tidak sedikit. Dibutuhkan hati yang benar-benar menyukai hal ini untuk dapat terus berjalan dan tidak berhenti. Tidak ada sesuatu yang instan. Hanya yang terus menulis yang bisa dikatakan sebagai penulis. 

Pilihlah motivasi yang positif

Jika alasan utama kalian ingin menjadi penulis adalah menjadi terkenal dan kaya raya, itu tidak sepenuhnya salah. Sah-sah saja. Akan tetapi, jangan jadikan itu alasan satu-satunya, karena itu tidak akan membawa kalian berjalan jauh. Mengapa? Karena jika suatu hari kalian merasa bahwa hal yang kalian lakukan ini tidak membawa keuntungan material, kalian akan mulai meninggalkannya perlahan-lahan.

Memiliki motivasi yang positif sangat penting, karena itulah yang akan terus membawamu berjalan ketika menulis terasa berat, misal ketika kalian terhenti di sebuah adegan yang sulit untuk diuraikan dan tidak dapat menemukan jalan keluar.

Bagaimana kalian mengetahui kalau motivasi kalian positif? Tanyakan hal ini pada diri kalian: 

Apakah kamu masih akan terus menulis meskipun kamu tahu tak akan melihat hasil yang memuaskan atas usahamu?

Jika jawabannya adalah "iya," itu berarti kalian benar-benar suka menulis dan hal itulah yang akan terus memotivasi ketika kalian terjebak dalam situasi yang sulit. 



Mengapa kita menulis fiksi?
Untuk berada di suatu tempat lainnya.
Untuk membebaskan diri.
Untuk berhenti menjadi apa pun atau di mana pun. 

Untuk menghilang - Fan girl (Rainbow Rowell)


sumber foto: http://inspireportal.com/so-you-want-to-be-a-writer-charles-bukowski-poetry/

Thursday, September 10, 2015

Oleh: Orchid

Halo, Sobat JO! Sudah menanti-nantikan artikel Kamis, kah? Dalam artikel kali ini, Mimin akan membahas tentang kritikan. Yap! Kritikan. Sebagai seorang penulis pemula bahkan yang sudah profesional, kalian pasti pernah dikritik, kan? Manusiawi jika kita merasa kesal dengan kritikan orang lain. Apalagi kalau kritikannya itu memakai kata-kata yang tidak pantas.  Nah, bagaimana sih cara menanggapi kritik dengan bijak? Yuk, mari disimak.

Cara menghadapi kritik:

1.     Lihat kritik dan kalimat negatif dari perspektif berbeda
Kalimat negatif adalah suatu bentuk evaluasi dengan pemilihan kata yang salah. Sementara kalimat yang membangun adalah suatu bentuk evaluasi dengan pemilihan kata yang tepat. Tapi, kedua bentuk komentar ini memiliki kesamaan. Yaitu, sama-sama bahan untuk evaluasi yang didapat secara gratis.

2.      Jangan merasa bahwa kamu adalah yang paling benar.
Semakin kamu merasa bahwa kamu adalah yang paling benar, kamu akan merasa semakin sakit. Perhatikanlah baik-baik isi dari kritikan yang diberikan. Dan ambil sisi positifnya.

3.      Jangan reaktif
Kamu mau membalas kritikan dari orang yang mengkritikmu dengan kata-kata yang lebih pedas? Jangan! Itu bukanlah solusi yang tepat. Jika kritikan yang diajukan tidak untuk memperbaiki tulisanmu, lebih baik diabaikan saja. Tidak perlu dipermasalahkan. Tapi, jika yang diungkapkan itu adalah kebenaran, akuilah. Kemudian, perbaiki apa yang bisa kamu perbaiki.

4.      Pahami kekurangan
Jika seseorang memberikan kritik, itu pasti dikarenakan adanya kekurangan yang ada dalam diri kita. Nah, kita harus tahu betul tentang kekurangan yang kita miliki. Jika bisa diperbaiki, ya diperbaiki. Jika belum bisa, tutupilah dengan kelebihan yang dimiliki.

5.      Hargailah orang yang memberi kritik pada tulisanmu
Bagaimanapun juga, orang yang memberikan kritik adalah orang yang rela meluangkan waktunya untuk membaca tulisanmu. Jadi, kamu harus menghargai itu. Jika kamu tidak menghargai mereka, mereka jadi malas untuk membaca tulisanmu lagi.

6.      Jangan langsung membalas
Ketika mendapat kritikan di sosial media tentang tulisanmu, jangan langsung dibalas. Apalagi jika kritik itu membuatmu sakit hati. Tenangkan dirimu dulu. Jika sekiranya sudah tenang, barulah kamu balas kritikan itu. Membalas komentar negatif dengan tergesa-gesa kemungkinan besar jawaban yang diutarakan diwarnai dengan kemarahan dan irasional.

7.      Perbaiki kekuranganmu
Segeralah perbaiki kekuranganmu. Jika kamu sudah mengetahui di mana kekurangan tulisanmu, segeralah perbaiki itu. Jika kamu sudah bisa memperbaiki tulisanmu, berarti kamu telah mengubah cercaan menjadi sesuatu yang positif.

Oke, sekian tips dari Mimin untuk Sobat JO semua. Semoga bisa membuat kita lebih bijak dalam menghadapi kritik ya.

“You have to know how to accept rejection and reject acceptance.” – Ray Bradbury


Sumber gambar: http://david-pranata.com/wp-content/uploads/2015/07/menghadapi-kritik.jpg

Tuesday, September 8, 2015



Oleh:  Three Friends in Winter & Orchid

Hai Sobat JO, bagi kalian yang belum menyimak kultweet #MalmingMenulis yang diberikan oleh admin, admin merangkumnya di artikel ini.
Ketika seorang penulis menghadapi sebuah naskah miliknya, tentu saja ia harus memahami seluk beluk naskahnya. Nah, Mimin hari ini pengen share nih, biasanya pertanyaan apa saja, sih yang Mimin tanyakan pada naskah yang sedang Mimin garap.
1)    Berhubungan dengan tokoh.

Ø Siapa tokoh utama dalam cerita ini?
Ø Seperti apa dia (dari segi fisik, psikologis, dan sosial)?
Ø Masalah apa yang ia punya?
Ø Mengapa masalah itu bisa terjadi?
Ø Bagaimana penyelesaiannya?
Ø Dalam penyelesaian tersebut, siapa saja yang terlibat?
Ketika hal ini kita tanyakan, tentu saja kita akan lebih paham tentang jalan cerita dari naskah kita.

Dengan begitu, ketika kita dihadapkan dengan pertanyaan, “Apa sih cerita naskah ini? Ceritakan dalam 1 kalimat.” Kita bisa dengan mudah menceritakannya. Misal: novel ini bercerita tentang seorang remaja berusia 14 tahun yang merencanakan ingin mengakhiri hidupnya dalam 24 hari karena ingin mengakhiri penderitaan akibat bullying yang ia alami. Dalam proses tersebut, ia bertemu dengan seorang pemuda yang membuatnya mulai berubah pikiran.
Mengapa Mimin katakan seperti ini? Misal nih, kalau kita sudah menerbitkan 1 buku dan kita mau mempromosikannya ke teman-teman. Teman tersebut tentu akan bertanya, “Emang bukumu ceritanya tentang apa, sih? Tidak mungkin dong, kalau kita akan bercerita panjang lebar atau bahkan menyuruh mereka untuk membaca sinopsisnya? Yang ada malah mereka jadi tidak tertarik untuk membaca buku kita. Dengan memahami inti cerita dari buku, itu juga akan sangat membantu  ketika  kita melakukan promosi terhadap cerita.
Selain itu, banyak penerbit yang bertanya seperti itu ketika kita mengajukan naskah. Inti ceritanya apa? Ceritakan dengan singkat, dong. Nah, kalau kita tidak siap dengan pertanyaan tersebut, pasti akan bingung bagaimana merangkum naskah yang tebal tersebut ke dalam beberapa kalimat. Alhasil, penjelasan tentang buku itu akan jadi kemana-mana dan berakhir dengan tidak menjelaskan apa pun.  Jika penulis saja tidak paham dengan inti ceritanya bagaimana pembaca bisa paham?
Pahami siapa tokoh utama dalam ceritamu dan apa permasalahannya. Itu akan sangat  membantu  kita dalam memahami naskah.

2)    Apa sih yang unik dari naskahmu?
Seperti yang JO Team pernah sebutkan dalam Malming Menulis minggu lalu. Setiap hari ada banyak naskah yang harus dibaca oleh redaktur. Tentu saja untuk dapat bersaing dengan banyaknya naskah yang masuk, naskah kalian harus memiliki keunikan yang membuatnya menonjol dibanding lainnya. Bukan hanya di meja redaktur saja. Kalian pasti sering main ke toko buku, kan? Pada bagian rak fiksi, kalian tentu saja bisa melihat banyak sekali buku yang berjejer di sana. Tentu saja, sampul buku juga berperan dalam menarik seseorang untuk memperhatikan sebuah buku. Tapi, jika sinopsis yang kalian tawarkan tidak menunjukkan keunikan yang menarik minat, buku tersebut pasti akan kembali pada rak buku tanpa dibeli.
.
3)    Apa nilai yang ingin kalian sampaikan?
Cerita dan pesan merupakan hal yang tak terpisahkan dalam fiksi. Pernah tidak kalian membaca sebuah prosa baik cerpen ataupun novel yang membuat kalian bertanya-tanya mau bicara apa sih penulisnya? Bagaimana perasaan kalian ketika membaca cerita tersebut? Kesal nggak, sih? Menghabiskan waktu sekian lama tapi tidak mendapat apa-apa? Kalau Mimin, sih paling kesal seperti itu. Baca buku selama 3-4 jam lebih, eh tahu-tahunya, cerita berakhir tanpa nilai yang bisa Mimin dapatkan. Nilai yang ingin dibagikan bisa saja beragam. Ada yg filosofis seperti Five People You Meet in Heaven dan ada yang fun seperti Dilan.
Pada intinya, ketika kita menulis sesuatu, kita harus tahu apa sih nilai yang ingin kita bagikan? Tentu saja, cara menyampaikan nilai tersebut juga penting. Jangan sampai terkesan kita menggurui pembaca.

4)    Siapa target pembaca cerita ini?
Tentu saja ini adalah salah satu hal yang perlu penulis perhatikan. Bagaimana klasifikasi dari pembaca naskah kalian? Berapa rentang usia pembaca? Tidak mungkin kita memakai diksi-diksi yang sulit atau tidak pantas pada naskah remaja. Hal ini juga berhubungan dengan menyesuaikan gaya bahasa dan isi cerita dengan calon pembaca.


Nah, sekian #MalmingMenulis dari JO Team dan semoga bermanfaat yaaa...

Sumber gambar:https://absurd95.files.wordpress.com/2013/04/tanda-tanya3.png

Sunday, September 6, 2015

Halo, Sobat JO! Sudah lama sepertinya tidak ada cerpen Selasa Bercerita yang dipajang di website JOPH. Kali ini Mimin datang dengan membawa sebuah cerpen. Minggu lalu JO Team memberikan tema yang sangat mudah. Apa sih tema minggu lalu? Itu adalah lagu. Bebas lagu apa saja, boleh pilih sendiri. Lagu favorit pun silahkan. Untuk yang hobi dengerin lagu, pasti banyak terinpirasi oleh lagu ketika menulis. Mimin adalah salah satu tipe penulis yang seperti itu. :) 

Kalau begitu langsung saja ya, Mimin bagikan cerpen terpilih minggu ini. 




Oleh: Sanny Cicilia

Arwin mungkin manusia paling standar di dunia ini. Dibilang cakep, banyak yang lebih cakep. Dibilang tinggi, biasa saja. Dibilang putih, nggak juga.
Hari ini dia memakai kaos merah polos dan jins biru. Tas ransel hitamnya digendong satu tali. Penampilannya biasa banget.
Kalau Arwin itu pencopet lalu berhasil kabur, korbannya pasti kesusahan memberi deskripsi pada polisi. “Anu pak, pencopetnya pria, hidungnya biasa saja, rambutnya pendek biasa, kulitnya biasa, tingginya biasa. Mukanya juga biasa….”
Hahahahaa!
“Heh, Rumbi! Ngapain senyum-senyum sendiri?!”
Aku kaget setengah mati mendengar suara Tasya. Belum sempat menjawab, Tasya segera mengikuti arah mataku ke seberang kantin.
“Arwin??” tanyanya sambil melihatku lagi dengan muka sumringah.
“Udah makan, Tas? Pesen dulu, gih,” jawabku mengelak sambil nyengir.
Aku sendiri belum menghabiskan siomay yang kupesan karena belum terlalu lapar. Pesanan siomay ini cuma kedok supaya bisa nongkrong di kantin kampus.
Biasanya pada jam sore nanggung begini, Tasya dan aku memilih jalan-jalan ke mal atau toko buku. Atau pulang saja, kalau jam kuliah melelahkan sejak pagi.
Tapi hari ini aku mengajak Tasya nongkrong di kantin. Demi melihat sosok cowok yang namanya baru aku ketahui tiga hari lalu itu. Sebenarnya, sudah sejak bulan lalu aku mulai memperhatikannya.
Bermula di perpustakaan. Ceritanya standar: aku lagi membaca di perpustakaan, semua meja penuh, lalu Arwin memilih duduk di sebelahku. Tapi waktu itu aku belum tahu namanya.
Sambil membaca, diam-diam aku makan coklat. Pastilah suara kresek-kresek bungkus coklat menarik perhatiannya padaku. Lalu aku tersenyum padanya, standar.
Tiba-tiba Arwin tertawa menggelegar. Aku panik. Mata Arwin mengarah ke mulutku. Kuambil ponsel lalu berkaca. Hiiiii…gigiku tertutup coklat.
Arwin segera menahan mulutnya di tengah mata-mata melotot. Sedangkan aku, cuma bisa tertunduk sambil menahan malu. Rasanya ingin hilang sekejap.
Sorry..,” kata dia tanpa menahan senyum.
Nah, momen itulah aku terpana dengan senyum Arwin.  Rasanya seperti mendapat asupan endorphin, perasaan bahagia dan nyaman ketika menyantap coklat.
Seiring waktu, aku baru sadar, Arwin seangkatan denganku dan kerap sekelas di beberapa mata kuliah. Tapi selama ini dia seperti tertelan dengan ratusan mahasiswa lainnya.
Andai dia tidak pernah tersenyum, mungkin aku tidak pernah mengenalinya.
“Mau dikenalin?” Tasya bertanya, seakan membaca pikiranku. Dia menyuap santai mi ayamnya.
“Emang kenal?” tanyaku balik. Tasya mencibir. Dia bilang, pernah sekelompok dengan Arwin untuk tugas salah satu mata kuliah di semester sebelumnya.
“Siomay lo nggak dimakan, Rum? Yaampun deh gara-gara ngeliatin si Arwin itu sampe nggak ngabisin makanan. Mubazir tau. Oh ya ampun ini enak,” katanya sambil menusuk siomayku dengan sumpitnya. Kadang-kadang aku merasa mulut Tasya digerakkan mesin diesel. Tapi aku salut dengan orang-orang yang berani menyuarakan isi kepalanya.
Tasya adalah teman baikku sejak awal kuliah sampai kini semester 3. Dibanding aku yang pendiam, Tasya menghimpun lebih banyak teman di kampus.
Usai menghabiskan semua makanan di meja, Tasya menggamit tanganku. Dia menuju meja tempat Arwin berkumpul dengan teman-temannya. Aku menolak, tapi rasa ingin tahu menyuruhku tetap berjalan.
Tasya lalu menyapa lima-enam orang yang ada di sana, termasuk Arwin. “Oiya, kenalin nih temenku, Rumbina,” kata Tasya setelah kami ikut nimbrung.
Arwin jadi yang pertama menyodorkan tangannya. Senyumnya berkembang. Kembali ada rasa nyaman bak makan coklat.
Aku berharap mataku cukup sopan ketika menatapnya. Suaranya lembut dan kontras dengan sikapnya yang suka berkelakar. Cara bercandanyapun sopan. Aku menduga, bukan cuma aku yang mudah merasa nyaman di dekatnya.
“Kamu suka coklat?” tanya Arwin tiba-tiba. Suaranya terdengar jelas, tapi tak lebih besar ketimbang temannya yang sedang asik bercerita dan menyedot perhatian lainnya.
“Iya. Kaget ya waktu itu?” tanyaku malu karena Arwin mengingat insiden gigi penuh coklat itu.
Arwin terkekeh. “Iya, maaf langsung tertawa begitu aja,” katanya sambil tersenyum tipis.
“Tapi pantesan orang itu dikasih gigi warna putih. Soalnya lebih manis.”
Nafasku tercekat sedetik ketika Arwin menatap.
“Mungkin karena kamu kebanyakan makan coklat,” kata Arwin lagi sambil menyunggingkan senyum. Aku tertawa canggung, menyesali lidahku yang tak pintar merangkai kata untuk membalas ucapannya.
Aku berharap, waktu berhenti dan sempat merekam senyumnya.
Tiba-tiba sepasang tangan merengkuh Arwin dari belakang. Sontak semua mata menatap pemilik tangan tersebut, termasuk Arwin ikut mendongak.
“Beb, katanya mau nganterin pulang,” kata suara manis itu pada Arwin.
“Oh kamu udah selesai. Ayo deh. Guys, duluan ya,” kata Arwin sambil membereskan tasnya. Tak lama kemudian dia berpamitan. Tangannya dan wanita itu bergandengan.
Tasya juga segera menggandeng lenganku. “Kita juga duluan ya. Masih mau jalan nih,” katanya lalu membawaku pergi dari meja itu.
“Rumbi, are you okay?” tanyanya setelah agak jauh dari kantin. Kami berjalan pelan-pelan.
Ingin rasanya menjawab Tasya, I’m okay, tapi tak ada suara yang keluar. Tasya menggamit lebih erat, seakan tahu apa yang aku rasakan.
Tasya ikut terdiam, hal yang janggal kalau dia melakukan itu lebih dari 5 detik.
“Patah hati ekspres nih,” kataku.
Tasya menatapku. “Ah, sekalinya lo bersuara, sedih banget, Rum,” kata Tasya sambil merangkulku. “Gue nggak tau lo senaksir itu sama dia.”
Aku tetap diam. Tasya tak pernah memaksaku menjawab.
“Gitu ya kalau naksir cowok ganteng. Tiba-tiba ada monyetnya,” seloroh Tasya lagi.
Aku tertawa mendengar ocehannya. Bukan karena dia ngatain pacarnya Arwin monyet. Tapi karena dia bilang, Arwin itu ganteng.
Sampai detik ini pun, aku tidak tahu Arwin itu ganteng dimananya. Yang kutahu, dia punya senyum rasa coklat.
Aku kembali membayangkan kalau Arwin jadi pencopet. Lalu korbannya mendeskripsikan: orangnya biasa, tingginya biasa, kulitnya biasa, tapi senyumnya manis banget, pak!
“Nah, cepet juga lo bisa ketawa lagi,” kata Tasya.
“Cari es krim yuk. Mendadak laper,” aku mengajak Tasya.
“Yuk. Gue pingin rasa coklat nih,” katanya. Aku mengangguk, setuju.

Selesai

Cerpen ini terinspirasi dari lagu The Way We Were, Barbra Streisand.
“Memories, may be beautiful and yetWhat’s too painful to rememberWe simply choose to forgetSo it’s the laughterWe will rememberWhenever we remember… The way we were…”


sumber gambar: http://images6.fanpop.com/image/photos/36900000/Chocolate-chocolate-36976897-1680-1050.jpg

 

REVIEW

Oleh: Three Friends in Winter


Pertama-tama, Mimin ingin berkomentar bahwa cerpen ini berhasil membuat Mimin senyum-senyum sendiri sewaktu membacanya. Cerpennya simpel, ringan, dan ada sesuatu yang menarik minat. Terutama, ketika tokoh utama mendeskripsikan sosok yang ia sukai. Mimin suka dengan analogi tersebut. :) Cerpen ini terasa cukup segar dengan kehadiran analogi yang menarik meskipun ceritanya sebenarnya sudah banyak yang serupa. 

Meskipun terasa segar, cerita ini memiliki sebuah kejanggalan yang sepertinya tidak terlalu akan diperhatikan pembaca, namun jika ada yang pembaca yang kritis, hal krusial ini berpengaruh pada cerita, yaitu: Bagaimana cara Rumbi memakan coklatnya hingga giginya tertutup coklat? 
Mimin coba membayangkan hal tersebut namun jika yang tokoh makan adalah coklat batangan, seharusnya camilan tersebut tidak akan menempel di gigi hingga menutupnya. Mungkin coklatnya super lumer kali ya. Hehehe :) 

Mengenai penulisan, di sini Mimin tidak banyak menemukan kesalahan dalam penulisan. Jika ada kesalahan, mungkin karena terlewat. Hanya saja, untuk partikel -pun ini seharusnya dipisah. Dan untuk penulisan angka, jika masih dalam rentang 1-10, lebih baik ditulis dalam alfabet saja. Selain itu, Mimin melihat setiap paragraf hanya berisi dua-tiga baris saja. Padahal menurut Mimin, beberapa paragraf bisa disatukan saja karena masih menceritakan hal yang serupa.
Untuk tambahan masukan, sebenarnya cerpen ini sudah cukup menarik, namun alangkah lebih baik ditambahkan suasana untuk mendukung emosi cerita selain deskripsi mengenai apa yang tokoh-tokoh di dalam cerita tersebut lakukan. Seperti, pada paragraf ketika Rumbi mengetahui bahwa Arwin sudah punya pacar,

Tiba-tiba sepasang tangan merengkuh Arwin dari belakang. Sontak semua mata menatap pemilik tangan tersebut, termasuk Arwin ikut mendongak.
“Beb, katanya mau nganterin pulang,” kata suara manis itu pada Arwin.
“Oh kamu udah selesai. Ayo deh. Guys, duluan ya,” kata Arwin sambil membereskan tasnya. Tak lama kemudian dia berpamitan. Tangannya dan wanita itu bergandengan.
Tasya juga segera menggandeng lenganku. “Kita juga duluan ya. Masih mau jalan nih,” katanya lalu membawaku pergi dari meja itu.

Pada bagian ini, bisa saja ditambahkan bagaimana reaksi Tasya melihat ekspresi Rumbi yang baru saja patah hati. Atau bagaimana suasana kantin siang itu yang seakan menyoraki keadaan Rumbi. Emosi Rumbi di sini juga bisa lebih dieksplor lagi, bagaimana sikap dia, apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran dia ketika melihat pacar Arwin. 

Coba deh, baca artikel ini. Showing not Telling

Pada bagian ini, menurut Mimin sangat diperlukan untuk di-show, dengan begitu pembaca bisa lebih merasa terlibat dalam apa yang dirasakan Rumbi. 

Sekian review dari JO Team, semoga bermanfaat! Selamat berkarya lagi!