Oleh: Three Friends in Winter dan Edelweiss
Halo, Sobat JO! Mimin mau memberikan kalian rangkuman #MalmingMenulis untuk
kalian yang kemarin tidak sempat menyimak karena sedang malmingan jadi tidak bisa mantau lini masa twitter dengan intensif.
Yaudah, langsung aja, yuk!
Jadi, tema yang dibahas pada Sabtu malam lalu adalah hubunganantara penulis dengan editor.
Sebagai seorang penulis, kita tentu ingin tulisan kita disukai oleh
pembaca. Siapa, sih, yang tidak ingin begitu? Semua penulis pasti menginginkan
itu. Dan cara kita agar keinginan itu tercapai adalah membuat naskah yang
dilirik pembaca. Nah, salah satu kuncinya ada pada bagaimana cara kita dalam
mengemas cerita tersebut, baik dalam segi konten maupun segi teknis.
Lantas, bagaimana, sih, cara kita bisa tahu naskah kita menarik? Nah, di
sinilah peran seorang editor. Baik seorang pembaca sebagai editor amatir maupun
editor profesional.
Dalam pikiran beberapa penulis, mereka sering menanyakan ini, “Perlu, ya,
naskahku diedit lagi?” Ia merasa bahwa naskah yag ditulisnya itu sudah sempurna
dan tidak perlu diubah-ubah lagi, merasa yakin seyakin-yakinnya kalau naskah
itu tidak ada yang cacat. Padahal, ya, belum tentu. Masalah seperti itulah yang
nanti ujung-ujungnya terjadi selisih paham antara penulis dan editor.
Merasa tidak sesuai, editor pasti akan meminta penulis merevisi
naskahnya—yang ia pikir sudah sempurna—itu. Dari situ muncullah berbagai
gerutuan kesal penulis kepada editor. Padahal, bisa dibilang hampir semua
penulis—kecuali penulis buku harian—butuh seorang editor untuk menilai
naskahnya. Editor bertugas menilai naskah kalian secara keseluruhan. Dan editor
pula yang menentukan naskah kalian layak terbit atau tidak. Selain itu, editor
juga mengawal naskah kalian dari proses awal sampai akhir, bahkan bisa juga
ikut terlibat dalam promosi. Jadi, kerja sama antara penulis dan editor itu
sangatlah penting.
Selisih paham antara penulis dan editor itu banyak penyebabnya, tetapi di sini akan dibahas beberapa
yang memang sering terjadi.
1. Masukan dari editor tidak sesuai keinginan penulis. Nah, hal ini biasa terjadi ketika penulis
diminta merevisi mengenai alur cerita. Penulis pasti akan mengkhawatirkan kalau apa
yang akan ia sampaikan tidak tersampaikan ke pembaca. Beberapa penulis, nih,
ada yang memiliki pengalaman dimintai mengubah ending karena dirasa sang editor
tidak pas. Ada juga yang diminta mengubah sudut pandang pertama menjadi ketiga.
Kebayang, kan, repotnya revisi? Lalu masih ada lagi yang diminta untuk ganti
setting dari anak SMA menjadi berlatar belakang mahasiswa. Penyesuaian yang
diminta oleh editor itu tentu saja bukan tanpa alasan. Pasti ada alasannya.
2. Penulis merasa editor terlalu banyak melakukan revisi sehingga mengubah
ceritanya. Kita
menuliskan naskah dengan tujuan tertentu pada awalnya. Namun, revisi dari edior
membuat kita merasa cerita bergerak ke arah yang tidak kita inginkan.
3. Ego pengarang. Tidak
hanya penulis, loh, yang dipusingkan oleh editor. Editor juga terkadang
kerepotan menghadapi penulis. Ada, loh, penulis yang tidak memperbolehkan
editor meminta revisi cerita. Mereka merasa naskah itu tidak perlu revisi
besar-besaran apalagi dari segi konten. Hanya perlu revisi dari tanda baca,
eyd, dan beberapa koreksi yang tidak mengubah naskah mereka sama sekali.
Padahal, kan, bisa saja ada yang terlewat dari penulis ketika menuliskannya.
Cacat logika, misalnya.
4. Penulis yang sibuk. Ini
dia yang sering membuat editor gemas dan pengen garuk tembok. Ketika
diminta revisi penulis berlagak sibuk: “Duh, saya lagi repot, nih.” Jelas sekali,
penulis yang seperti ini akan membikin pusing editor. Kenapa? Revisi
tersebut menyangkut waktu terbit. Padahal di jadwal sudah tertulis naskah A
harus terbit tanggal sekian. Namun, karena lamanya revisi, naskah tersebut
jadwal terbitnya harus ditunda. Nah, kalau begitu, siapa yang akhirnya rugi?
5. Antara editor dan pengarang ada yang sok tahu. Di sini yang dimaksudkan adalah editor dan penulis
merasa merekalah yang paling paham tentang informasi itu, semisal setting
tempat. Dan kalau keduanya sama-sama ngotot bahwa mereka yang paling benar, wah
bisa ramai ini. Eh, berantem maksudnya.
Nah, kalau sudah seperti itu akhirnya, kan, menghambat proses penerbitan
naskah. Jadi, bagaimana dong jalan keluarnya?
Sebenarnya, jalan keluar yang diperlukan itu tidaklah sulit. Penulis dan
editor hanya perlu saling berpikiran terbuka, menerima masukan, dan jangan
mementingkan ego. Komunikasikan setiap masalah dengan baik. Semua bisa
dibicarakan. Jika alasan yang diutarakan masuk akal, pihak lain harus legowo
menerima masukan itu. Memang tidak semua masukan bisa diterima, tapi setidaknya dengarkan dan
berpikir dulu sebelum berkomentar.
Yap, selesai! Sekian dulu dari Mimin. Sampai jumpa lagi di lain waktu,
Sobat JO! Selamat menulis.
Sumber gambar: http://www.freelancewriting.com/images/FF-16-Irritating-Editors.png










