Friday, July 10, 2015

Halo, Sobat JO, 

Jumat kali ini, kami telah memilih sebuah cerpen untuk dibedah oleh JO Team. Sebelumnya, terima kasih untuk partisipasi kalian dalam #SelasaBercerita. Cerpen yang kami pilih bukan berdasarkan yang mana yang paling bagus atau buruk. Semua menarik untuk dibahas, hanya saja berhubung kami hanya akan menampilkan satu cerpen saja,  maka inilah cerpen terpilih minggu ini untuk tema: ATAP.



Oleh: mutimsc


Terkekang. Hari-hariku penuh misteri. Terkurung. Waktuku habis menggugu. Kamar ini terlalu gelap, tidak ada sinar barang setitik saja. Sama rasanya dengan harapan yang tidak kunjung terlihat. Hitam. Semua hitam tanpa jeda. Tidak ada yang menggugah. Hatiku gundah.

Lalu, kudengar gerimis menjadi d erai panjang dalam naungan guntur yang menyeramkan. Awan sedang menangisi nasibnya. Aku sedang menangisi hidupku. Omong-omong bagaimana bentuknya? Kudengar seperti gumpalan kapas empuk. Seperti apa? Kapas itu apa?

Gelap. Yang kutahu hanya gelap dan sekat. Pembatas hidup pada dunia.

Ibu bilang gantungkan cita-citamu setinggi langit.
Tapi Bapak menyangkal, tidak ada gunanya sekolah tinggi, cari pekerjaan bagus. Wanita hanya pelayan suaminya.
Aku tidak tahu mana yang betul.

Tapi, sepertinya Bapak benar. Sebesar apa keinginanku untuk melihat langit, yang kudapati hanya atap. Datar, tidak ada bintang di sana.

Lagi, kudengar lalu lalang derap langkah manusia mengejar mimpi, berlari-lari, tidak ingin didahului. Ada yang tertawa-tiwi, ada yang merengek, menangis, meraung, menjerit. Kututup telingaku. Bingarnya tetap mengganggu.

Dan, bagaimana mereka mau mencarinya? Mimpi itu.

Ibu bilang rancang masa depanmu sejak muda.
Bapak tidak terima, kata beliau tidak ada masa depan untuk wanita. Melayani suami adalah masa depan.

Aku bingung, mana yang betul.
Tapi, sepertinya Bapak benar. Sejauh apa masa depanku, yang kutemukan hanya dinding. Dingin, tidak ada rasa kasihan.

Aku berhenti berharap. Aku mulai meratap. Pada atap.
Seperti kata Bapak, wanita sepertiku tidak ada gunanya ini itu. Melayani suami saja, hanya itu tugasku.

“Jangan buang-buang waktu! Kalau ada yang melamar langsung nikah saja! Nirwan itu anak Kepala Desa, Nduk!”
“Cerai katamu? Dia tidak mungkin selingkuh! Anak priyai itu terpelajar! Jangan kurang ajar!”“Layani Nirwan! Jangan bikin malu keluarga!”

Hujan lagi di luar. Awan merengek lagi. Aku makin penasaran apa yang membuatnya sering rewel akhir-akhir ini. Soal bentuknya, aku masih menyimpan ketertarikan. Aku ingin tahu seperti apa itu awan, matahari, dan langit.

Kupikir, untuk saat ini menggapai atap kamarku saja sudah sulit rasanya. Dirinya kian menjauh setiap kali kudekati. Bagaikan najis pada seekor anjing. Dirinya tidak ingin menatapku. Dirinya bilang sudah terlambat.

Aku menangis.

Bagaimana bisa dirinya menolak? Sedangkan hanya dirinya satu yang kudambakan. Tidak pada langit aku mengiba. Hanya pada dirinya, atap kamarku. Aku sudah tidak tahan dikukung. Tubuhku melengkung di atas ranjang.

Sekali lagi, dirinya sudah mantap. Aku terlambat. Tidak ada kereta untuk penumpang toledor. Atap jahat itu merendahkanku.

Lantas, aku menyesali semua.

Aku ingin pulang. Aku ingin Ibu. Aku ingin cita-citaku, masa depanku.

END
sumber foto: https://rigyu93.wordpress.com/2015/01/27
---------------------------------------------------------

REVIEW

oleh Three Friends in Winter



Wah, cerita pendek dari Magdalena ini bagus. Kata-kata yang digunakan memiliki rima. Ceritanya mengalir, konflik mengenai pergulatan batin sang tokoh 'Aku' pun dapat dirasakan. Pilihan diksinya kaya. Bahkan JO Team sempat mengira ini adalah puisi pada awalnya. 

Pada dasarnya 'Sebatas Tertahan' tidak memiliki masalah mengenai teknis penulisan. Hanya saja untuk beberapa kata seperti: dikukung dan toledor, ini merupakan kesalahan penulisan. Dalam KBBI, untuk 'dikukung' dan 'toledor', seharusnya adalah 'dikungkung' dan 'teledor'. 

Masalah lain dalam 'Sebatas Tertahan' adalah kejanggalan logika dalam cerita. Tentang bagaimana tokoh 'Aku' ini terkungkung dalam hidupnya hingga ia tidak mengetahui bagaimana bentuk awan, matahari, dan langit. Mungkin ini merupakan sebuah analogi namun saat bersanding dengan kalimat-kalimat lain dalam cerita, hal itu membuatnya terasa janggal. 

Awan sedang menangisi nasibnya. Aku sedang menangisi hidupku. Omong-omong bagaimana bentuknya? Kudengar seperti gumpalan kapas empuk.

Dalam kalimat 'Omong-omong bagaimana bentuknya?' Kata -nya di sini seolah-olah menggantikan kata 'Aku', padahal yang dimaksud penulis adalah -nya di sini menggantikan kata 'Awan'. Tapi karena setelah kata –nya yang pertama diselingi dengan kalimat baru maka, terkesan kata-nya yang kedua itu menggantikan kalimat yang sebelumnya. 


Sekian review dari Selasa Bercerita. Terima kasih untuk partisipasinya. Kami menantikan kiriman kalian dalam #SelasaBercerita selanjutnya. :)

Tagged: , ,

4 comments:

  1. bagus, not bad cerpennya,

    btw, bisa ngirim cerpen yah ke website ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cerpen hanya diterima jika mengikuti #SelasaBercerita kak. Itu pun sesuai tema dari JO Team tiap minggunya. Untuk lebih jelas bisa ikuti penjelasan kami di medsos Twitter dan FB JOPH.

      Twitter: @jophouse
      Facebook page: Jendela O Publishing House

      Delete