Thursday, January 28, 2016


Oleh: Ixora

Halo Sobat JO! Di artikel kali ini, JO Team akan mengupas mengenai nama pena. Ah, kalau kata Shakespeare, “Apalah arti sebuah nama, Min...” Hm, kalau kalian masih berpendapat demikian, maka kalian wajib menyimak artikel ini.

Pernah mendengar nama Joanne? Tidak? Kalau Joanne Rowling? Yup, Joanne Rowling adalah nama asli penulis buku best seller dunia, Harry Potter. Penerbit Bloomsbury meminta Rowling untuk menambahkan inisial pada namanya agar terdengar lebih maskulin dan akhirnya Rowling setuju menggunakan nama pena J.K Rowling. Kata “K” pada inisial nama penanya berasal dari nama neneknya.  Setelah buku Harry Potter laris manis, J.K Rowling menulis buku lagi dengan nama Robert Galbraith. Buku tersebut diberi judul The Cuckoo’s Calling (TCC). Sebelum identitasnya terbongkar, buku tersebut hanya terjual 1500 eksemplar. Cukup lumayan untuk penulis yang mengaku kalau itu adalah buku pertamanya. Tapi apa yang terjadi setelah identitas penulisnya terbongkar? Penjualan TCC mendadak melejit. Jadi, masihkah Sobat JO meragukan arti sebuah nama? ;)

Kalau dipikir-pikir, saat J.K Rowling menulis TCC, ia sudah berada di puncak popularitasnya. Buku apapun yang ia tulis, pasti penerbit akan berlomba-lomba untuk menerbitkannya. Lalu, mengapa sih akhirnya ia menulis menggunakan nama pena? Ia menjawab, “Saya sebenarnya berharap bisa merahasiakan nama Robert Galbraith lebih lama. Sangat menyenangkan bisa menerbitkan buku tanpa harapan muluk-muluk, dan murni bersenang-senang dengan nama yang lain,” ungkap Rowling seperti dikutip Dailymail. Nah, selain alasan yang dikemukakan oleh J.K Rowling tersebut, JO team telah merangkum beberapa alasan lainnya mengapa seorang  penulis akhirnya memilih menggunakan nama pena.

  • Nama aslinya tidak/kurang menjual.

Dalam hal ini, biasanya pihak penerbit yang menyarankan agar penulis membuat nama pena demi kepentingan komersil yaitu agar bukunya lebih mudah diterima oleh pasar.

  • Nama aslinya tidak sesuai dengan konten buku yang ditulisnya.

Nama aslinya mungkin sudah bagus, keren, kebarat-baratan. Namun, jika ia menulis buku yang berbau agama (non-fiksi), pasar (terutama pasar Indonesia) lebih mudah menerima nama yang ke-arab-araban. Jadi, nama penanya disesuaikan dengan genre tulisannya.

  • Tidak percaya diri dengan tulisannya.

Beberapa penulis, biasanya penulis yang aktif di dunia maya, menggunakan nama pena untuk memposting karyanya. Biasanya,hal ini dilakukan karena ia masih kurang percaya diri dengan tulisannya namun membutuhkan banyak masukan dari banyak orang.

  • Banyak penulis dengan nama yang sama.

Kalau keadaannya seperti  ini, memang sebaiknya segera mencari nama pena karena jika sudah banyak penulis dengan nama yang sama dengan kita, akan berpengaruh terhadap personal branding, kepopuleran naskah kita, dan kedekatan kita dengan para pembaca kelak.

Nah, Sobat JO sendiri, apakah ada yang sudah memiliki nama pena atau bahkan memakainya? Jika ya, silahkan share di kolom komentar alasannya.. : )


Sumber gambar:http://www.bookcovercafe.com/wp-content/uploads/2012/08/pen-names-when-best-to-use-a-pen-name.jpg

Monday, January 25, 2016


Oleh: Edelweiss dan Ixora

Mimin kembali berbaik hati malam ini menulis rangkuman #MalmingMenulis untuk kalian yang di malam minggu kemarin tidak sempat menyimak.

Topik yang diangkat di #MalmingMenulis kemarin adalah,”Untuk Siapa Kita Menulis?” Kata ‘Siapa’ di sini bukan ditujukan ke nama-nama yang biasa ada di halaman persembahan sebuah novel, ya.  Bukan, itu.

Untuk siapa, sih kita menulis? Menurut Mimin, tulisan kita hanya bisa ditujukan untuk dua golongan yaitu untuk dunia dan untuk kita sendiri.

Yang pertama untuk dunia. Maksudnya, tulisan ini kita tujukan untuk memperbaiki dunia. Untuk menyebarkan atau menyumbangkan pemikiran kita yang kita harap bisa memberi kontribusi yang lebih baik untuk masyarakat banyak. Entah itu dunia dalam skala yang kecil seperti lingkungan sekitar atau bahkan dunia dalam arti yang seluas-luasnya tempat kita tinggal. Kita tidak bermaksud untuk mencari keuntungan karena yang kita harapkan adalah tulisan kita bisa menciptakan dunia yang lebih baik. Jadi orang yg menulis dengan tujuan ini biasanya tidak terlalu memikirkan pasar, mereka hanya berpikir untuk terus berkarya.

Yang kedua adalah untuk kita sendiri. Bukan berarti tulisan itu hanya kita simpan di dalam PC dan kita nikmati sendiri, lho. Tapi tulisan itu kita tujukan untuk memperbaiki kehidupan kita. Terutama dari segi materiil. Penulis dengan tipe ini cenderung mempunyai target untuk tembus ke media, entah itu ke penerbit atau media massa. Dan tujuan utamanya menulis adalah untuk mencari penghidupan, mencari nafkah. Penulis tipe seperti ini cenderung lebih memerhatikan pasar . Mereka harus tahu mengenai cerita jenis apa yang saat ini sedang laris di pasaran. Tulisan mereka berubah seiring perubahan tren yang sedang berkembang di masyarakat. Mereka tidak seidealis penulis golongan pertama, mereka lebih fleksibel dalam rangka meraup ketertarikan pasar yang sebanyak-banyaknya. Intinya, mereka memikirkan apa keinginan pembaca dan kebutuhan pembaca. Bukan hanya hasrat menulis mereka.

Dari kedua golongan tersebut, tidak ada yg lebih buruk dan lebih baik kok, Sobat JO. Tidak masalah kalian termasuk golongan yang pertama atau yang kedua karena keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berada di antara keduanya juga tidak masalah karena yang paling penting adalah kalian terus mempunyai motivasi untuk menulis.

Nah, sekian dari Mimin. Sampai jumpa di lain waktu, Sobat JO! Selamat malam, semoga bermanfaat, ya^^


Sumber  gambar: https://i.gr-assets.com/images/S/photo.goodreads.com/hostedimages/1393080013i/8658964.jpg


Friday, January 22, 2016




Oleh: Three Friends in Winter

"Buku yang bagus, menurut Shenny, akan menjadi candu." 

Itu adalah sebuah kutipan yang Mimin ambil dari sebuah artikel lama di majalah online, Pindai. Kalian setuju nggak sih dengan kutipan ini? Benar nggak sih kalau kita membaca sebuah buku yang sangat bagus menyebabkan kita akan terus ketagihan untuk membaca buku bagus lainnya? Kalau Mimin sih setuju, apalagi kalau buku tersebut meninggalkan jejak di dalam hati Mimin seusai baca. Seperti Visi & Misi JOPH.

Eits, namun apa gunanya sih buku bagus tapi nggak ada yang tahu? 

Mimin tahu, di sini pasti setiap calon penulis maupun penulis memiliki alasannya masing-masing sebelum mulai menuliskan karya-karyanya. Ada yang menulis hanya untuk kepuasan diri sendiri, ada yang menulis untuk mencari tambahan pemasukan, ada pula yang ingin meninggalkan jejak di dunia. Apa pun alasanmu, itu semua sah-sah saja. Tidak ada yang melarangnya.

Pendapat Mimin pribadi nih, sebagus apa pun buku tersebut tapi kalau tidak ada yang pernah tahu buku itu ada, untuk apa? :)  Okay, mungkin kamu hanya menulis untuk kesenangan sendiri, jadi setelah selesai, hasil tulisannya terus disimpan deh di dalam harddisk laptop. Yang Mimin maksud di sini, adalah siapa tahu saja konten yang kalian tulis itu memang benar-benar bagus. Kalau semakin banyak yang tahu, semakin bermanfaaat untuk orang banyak. 

Seperti yang pernah Mimin pernah lansir tuh di dalam artikel, Menulis. Sebagai Hobi atau Profesi?

Ada manfaatnya pula untuk dirimu jika karya tulisanmu itu dibaca oleh publik, salah satunya sarana untuk mengembangkan diri. Mimin nggak perlu jelasin panjang lebar lagi, kalian bisa baca penjelasannya di dalam artikel tadi.

Lantas bagaimana sih caranya agar karyamu tersebut bisa dikenal dan dibaca oleh orang-orang?

Jawabannya adalah Promosi. 

Mimin pernah mengupas pentingnya promosi dan tips-tipsnya di dalam artikel JO Team sebelumnya. Nah dalam artikel ini, Mimin ingin mengupas mengenai kunci agar kamu dikenal oleh banyak orang dan karya-karyamu semakin ditunggu. Berikut sebuah istilah yang Mimin kutip dan perbaharui dari buku Digital Enterpreneurshift. Tiga Lebih: Lebih Mudah, Lebih Luas, Lebih Dalam.

Apa sih ini?

1. Lebih Mudah (mulailah menulis dari hal-hal yang membuatmu tertarik)

Kunci pertama, apa yang kalian tulis harus bagus atau minimal menarik! Tulisan yang menarik tentu saja akan menggugah minat orang untuk membaca. Lantas, bagaimana cara membuat tulisan itu menarik?

Mulailah dari apa yang menarik perhatianmu. Menulis dari hal yang kalian sukai tentu saja akan lebih mudah daripada ketika kalian memulai topik dari hal yang tidak menarik minat kalian sama sekali. Ini membantu agar kita bisa menikmati proses riset yang terkadang membuat kita bingung dan lelah, atau ketika membuat kerangka cerita.

Menulis itu seperti membagikan jiwa kita ke dalam tulisan. Jika diri kita saja merasa tidak merasa cocok dengan apa yang ditulis, bagaimana tulisan tersebut bisa memiliki jiwa?

Selain menulis sesuai minat, kalian juga bisa menulis tentang tema yang sedang up to date. Tapi dengan catatan, tentu saja jangan jadi follower. Kembangkanlah tema tersebut berdasarkan kacamata kalian. Setiap orang pasti memiliki sudut pandang yang unik.


2. Lebih Luas (perluas jaringan pertemananmu)

Kunci kedua agar lebih banyak orang yang mengenal karyamu adalah dengan memperluas lingkup orang-orang yang kalian kenal. Lewat itu, bangunlah jaringan pembacamu. Ada banyak cara untuk memperluas hal tersebut; rajin mengikuti seminar dan forum kepenulisan, ikut komunitas, dll.

Ada cara lain pula yang mudah dan gratis. Itu adalah dengan internet.

Internet saat ini tentu bukan barang mewah lagi. Kalian dapat memanfaatkannya, minimal untuk mempromosikan buku-buku kalian. Sudah banyak loh penulis yang memanfaatkan internet untuk membuat orang-orang lebih mengenalnya. Contohnya: Raditya Dika, dia terkenal lewat tulisan-tulisan di blognya, dan cukup aktif di media sosial.

Media seperti Blog, Twitter, Facebook, Google+, Instagram, dll merupakan alat promosi yang murah meriah. Jika kalian memiliki akun media sosial, gunakanlah. Pasang foto cover bukumu, atau sebutkanlah judul-judul bukumu - terutama yang terbaru- di biodata media sosial.  Jadi, setiap kali kalian mengunggah sesuatu ke dalam media sosialmu, orang-orang dapat melihatnya.

Selain itu, rajin-rajinlah merawat akun tersebut dengan rutin mengunggah sesuatu di sana. Jangan biarkan menganggur hingga bersarang laba-laba #eh.

Oh ya, agar akunmu lebih dikenali, misal di Twitter, jika ada sebuah topik yang sedang terkenal dan kebetulan sesuai dengan minatmu, kalian bisa ikut nimbrung berbicara mengenai topik tersebut. Biasa orang-orang kan suka memperhatikan tweet apa saja yang ada di dalam topik yang sedang populer tersebut. Dengan begitu, semakin banyak yang akan melihat akunmu.


3. Lebih Dalam (Bangun keakraban dengan pembacamu)

Pada dasarnya, kita tentu senang donk kalau disapa oleh seseorang yang karyanya kita sangat sukai? Nah, komunikasi dengan pembacamu ini membantu agar orang-orang tertarik mengenal bukumu. Bagaimana caranya membangun komunikasi tersebut?


Pertama-tama jika ada seorang pembaca yang memberikan pendapatnya mengenai tulisanmu, hargailah hal tersebut. Atau jika seseorang bertanya mengenai buku-bukumu, jawablah. Bisa juga kalian melakukan googling terhadap judul bukumu untuk melihat siapa saja yang membicarakan bukumu tanpa menyebutmu lewat media sosial, sapa mereka. Dengan begitu komunikasimu dengan pembaca terus terjalin. Hingga ketika kalian mengeluarkan buku selanjutnya, karyamu itu sudah diketahui dan syukur-syukur ditunggu. :)

Intinya, harus peka dengan sekitar, jangan sombong, dan rajinlah berkomunikasi dengan banyak orang. Semakin luas pergaulanmu, semakin mudah kamu untuk dikenal hingga karya-karyamu pun dikenal.

Nah, sekian artikel dari Mimin kali ini. Semoga bermanfaat.

Kunci dari kesuksesan dimulai dari diri sendiri. 

Sumber gambar:https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/81/Potter_queue.jpg

Monday, January 18, 2016



Oleh: Orchid dan Three Friends in Winter


Hola, Sobat JO! 

Malam minggu kemarin siapa yang ikut menyimak materi #MalmingMenulis dari Mimin? 

Mimin kemarin membahas tentang zona nyaman loh. Eits... maksud Mimin bukan zona nyaman yang sering dikatakan orang-orang untuk kita tinggalkan agar bisa melihat dunia yang lebih luas. Tapi, tempat, situasi, seseorang, atau apa saja yang bikin kalian itu produktif dalam menulis. 

Setiap penulis yang produktif biasanya memiliki hal tersebut. Sesuatu yang membuat inspirasinya terus mengalir, bahkan di saat ia mengalami Writer's Block atau terjangkit kemalasan sekalipun. Hal yang membuatnya ingin menulis ketika sudah memasuki zona tersebut. 

Apakah kamu sudah menemukan zona nyamanmu?

Jika belum, kamu harus  mencari tahu, karena ini akan berpengaruh pada keproduktifan menulismu. Kalian pasti ingin donk menjadi penulis yang produktif, memiliki banyak karya, dan akhirnya karya-karya tersebut dibaca oleh banyak orang. 

Bagaimana cara mencari tahu zona nyamanmu? 

Coba pikirkan, kapan kamu merasa bersemangat menulis? Pagi, siang, sore, atau malam? Di mana kamu merasakan hal itu? Di keramaian ataukah justru di tempat yang sepi? Di kamarmu? Atau di kafe? Atau mungkin di taman? Lalu, lagu seperti apa yang membuatmu semangat? Kamu lebih sukses menulis menggunakan apa? Buku catatan atau langsung di laptop? Atau mungkin, kamu merasa semangat menulis saat ada makanan di sampingmu? Kondisi bagaimanakah yang membuatmu sukses menulis? 

Nah, Sobat JO harus mencari tahu. Mungkin pertanyaan-pertanyaan tadi bisa membantu. Setiap orang pasti memiliki hal tersebut. Bahkan penulis-penulis hebat pun juga memilikinya. Ada penulis yang merasa lebih produktif ketika menulis di jam 7-9 pagi. Ada juga yang di tengah malam ditemani secangkir kopi dan musik. Ada yang hobi mengunyah apel di dalam bak mandi sambil memikirkan plot ceritanya.  

Oh, ada juga penulis yang zona nyamannya bukan suatu kondisi melainkan seseorang. Orang-orang ini sering disebut sebagai Muse. Kata Muse diambil dari nama dewi-dewi yang merupakan anak perempuan Zeus dan Mnemosyne. Muse adalah sembilan dewi ilmu pengetahuan dan semi yang menginsipirasi kreatifitas. Siapa yang bisa menjadi sumber inspirasimu? Siapa saja bisa. Bisa anak-anak, orang dewasa, orang tua, laki-laki, perempuan. Siapa pun, tidak harus seorang perempuan seperti pada umumnya. Stephen King pernah mengaku bahwa sumber inspirasinya adalah seorang laki-laki. 

Nah, jika sudah menemukan zona nyaman, menulislah di zona nyamanmu itu. Jadilah produktif dengan berkarya. 

Oh iya, saat menulis diusahakan jangan mengandalkan orang lain ya. Cari tahu sendiri bagaimana kondisi yang tepat untukmu. Karena hanya dirimu sendiri yang mengetahui apa pemicumu untuk menulis. Apa yang membuatmu nyaman untuk menulis.

Mencari referensi atau bertanya pada penulis lain boleh, kok. Dengan mencoba-coba, siapa tahu zona nyaman penulis-penulis itu ternyata cocok dengan kondisimu. Kalau Mimin sih lebih suka di tempat yang sepi, sambil ngemil. Tidak bisa kalau mengetik sambil mendengar lagu. Alih-alih ngetik malah jadi asyik menyanyi. Kalau kamu?


10 Steps to Becoming a Better Writer

Write.
Write more.
Write even more.
Write even more than that.
Write when you don’t want to.
Write when you do.
Write when you have something to say.
Write when you don’t.
Write every day.Keep writing.” 
― Brian Clark

Sumber Foto: http://www.eremedia.com/tlnt/getting-out-of-the-comfort-zone-why-new-job-experiences-make-sense/

Oleh: Edelweiss

Halo, Sobat JO! Ada yang sudah mulai pusing melihat gambar di atas? Nah, ternyata, sebuah buku mampu melakukan hal yang sama, loh. Tidak percaya? Yuk kita simak artikelnya.

Sesuai dengan judul yang pasti sudah kalian baca sejak tadi, Mimin ingin menyampaikan bagaimana sebuah buku bisa menghipnosis pembacanya.

Apa kalian pernah merasakan sebuah buku memberikan pengaruh yang cukup besar pada kalian? Pasti pernah, karena semua jenis buku pada dasarnya memiliki kemampuan untuk memengaruhi pikiran pembacanya disadari atau tidak. Mengapa bisa begitu? Karena buku mengajak pembacanya larut dalam isi buku tersebut. Sebuah buku sanggup membuat pembacanya melebur ke dalam pokok bahasan buku itu. Mimin juga kadang suka lupa waktu dan tempat kalau sudah membaca buku karena perhatian Mimin sepenuhnya tersita ke dalam buku. Mimin merasa seolah masuk ke dunia buku. Ketika membaca buku fiksi, perlahan-lahan Mimin memahami pola pikir tokoh di buku tersebut. Simpelnya, Mimin menjelma menjadi tokoh dalam buku yang Mimin baca.

Menjelma menjadi tokoh dalam buku memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri, loh. Yang menjadi kelebihannya adalah kepekaan perasaan kita menjadi lebih terasah. Kita juga menjadi lebih bisa berempati kepada lingkungan sekitar dengan mencoba peduli pada tokoh buku itu dan ikut merasakan konflik yang berusaha diselesaikan oleh si tokoh dengan seluruh jiwa raganya. Amanat yang ingin disampaikan oleh penulis di buku tersebut pun menjadi lebih tersampaikan. Begitu pun dengan buku non-fiksi yang isinya bisa benar-benar kita hayati. Ilmu dan pemikiran yang disampaikan penulis bisa kita pahami dengan baik tanpa terjadi banyak kesalahpahaman.

Namun, setiap hal selalu ada kebalikannya. Menjelma menjadi tokoh dalam buku membuat kita terkadang terlalu berlebihan dalam memberikan respon terhadap buku tersebut. Entah menjerit histeris atau bahkan terkadang sampai menangis semalaman. Parahnya lagi, jika begitu terpengaruh hingga kita membawa isi buku tersebut sampai ke dunia nyata. Kalian pernah mengalami itu? 

Wah, empati boleh, tapi jangan berlebihan, ya! Sesuatu yang berlebihan seperti itu tidak baik. 

Dari semua kekurangan tersebut, ada satu hal yang paling berbahaya. Setiap buku memiliki ide atau pesan yang yang tentu ingin disampaikan oleh penulis. Jika buku tersebut ditulis dengan baik, tentu saja inti tersebut dapat ditangkap oleh pembaca. Nah, yang berbahaya adalah ketika kita berhasil didoktrin oleh buku yang berkonten kurang baik bahkan sesat. 

Well, memang sepenuhnya bukan salah kita jika buku yang kita baca adalah buku yang isinya kurang baik. Ada beberapa judul buku yang dikategorikan berbahaya bahkan ada yang dilarang beredar karena kontennya yang dianggap kurang baik di beberapa negara. Kita harus berhati-hati dalam memilih buku yang kita baca. Dan tentu saja, kita juga harus lebih selektif mengenai pandangan yang patut kita terima atau tidak. Berpikiran terbuka memang boleh saja, tapi hati-hati agar tidak terjerumus menjadi menerima segala pandangan yang akhirnya merusak apa yang sudah baik. 

Nah, kurang lebih begitulah kelebihan dan kekurangan saat kita berhasil terhipnosis oleh sebuah buku. Mungkin di antara Sobat JO ada yang ingin menambahkan? Jangan sungkan-sungkan menyebutkannya di kolom komentar! Mimin mau pamit, ah. Mau mengerjakan yang lainnya lagi. Nah, sampai jumpa Sobat JO!


Sumber gambar:http://www.kabarsehat.com/wp-content/uploads/2009/04/obsesif.jpg

Monday, January 11, 2016


Oleh: Ixora & Edelweiss

Halo, Sobat JO! Seperti biasa di hari Senin yang menjadi awal dari segala kesibukan kalian di minggu ini, Mimin akan berikan rangkuman dari Malming Menulis kemarin bagi kalian yang tidak sempat menyimaknya di lini masa akun twitter kami. Jadi, topik yang dibahas malam minggu lalu--yang biasanya dianggap para jomblo adalah malam sakral--yaitu bagaimana cara memilih buku yang bagus. Memilih buku yang bagus tidak mudah, loh, Sobat. Yuk, kita simak.

Mungkin bagi beberapa Sobat JO berpendapat kalau mencari buku yang pertama kali dilihat adalah penerbitnya. Kalau penerbitnya besar, bukunya bagus. Opini tersebut bisa jadi benar, bisa jadi tidak. Mengapa? Benar karena sudah terbukti bukunya diterima masyarakat. Tidak, karena bahkan penerbit indie sekali pun punya peluang menerbitkan buku bagus yang sama dengan penerbit besar tersebut.

Kalian juga jangan segan-segan untuk berburu buku di tempat penjualan buku bekas karena di sana terkadang menyimpan kekayaan tersendiri yang tidak akan kita tahu tanpa mendatanginya. Siapa tahu kita bisa menemukan buku bekas yang langka dan sudah tidak terbit lagi. Harganya bisa jadi lebih miring pula.

Sobat JO juga bisa memanfaatkan aplikasi semacam Goodreads. Membaca review para Blogger juga bisa menjadi alternatif lain dalam mencari saran buku-buku yang bagus. Media sosial para penerbit pun bisa menjadi salah satu panduan kalian dalam mencari buku-buku bagus. Mereka pasti akan mempromosikan buku-buku mereka. Mereka juga tidak jarang membagikan review tentang buku yang mereka terbitkan. Jadi, ini adalah salah satu cara kalian dalam memenuhi kamus buku-buku yang sudah diterbitkan di Indonesia.

Selain dengan pertimbangan orang-orang seperti para Blogger dan reviewer di Goodreads, teman kita sendiri pun bisa menjadi salah satu sumber kita dalam mencari buku-buku bagus. Dan biasanya rekomendasi teman cukup bisa dipercaya. Tapi tanyanya dengan teman yang suka membaca dan kira-kira berselera sama, ya. Jangan sampai teman yang lebih suka baca komik kalian tanyai tentang novel young adult yang bagus. Hihi.

Oh iya, mungkin kalian semua masih ingat jelas dengan kutipan 'Don't judge book by it's cover'. Namun Mimin tidak begitu setuju dengan kutipan itu. Cover tetap memiliki peran tentang seberapa menariknya buku tersebut. Digabung juga dengan blurb yang menarik. Kualitas cover yang apik dan blurb yang menarik cukup menggambarkan kualitas buku tersebut.

Selain itu, semisal kalian menemukan contoh buku yang sudah tidak bersegel lagi, kalian bisa membaca-baca bagian awal buku. Jika bagus, kalian bisa menilai seberapa bagus buku tersebut bagi kalian. Cara ini juga berlaku ketika akan membeli ebook, karena biasanya ebook juga memberikan tester beberapa bab awal.

Terakhir, dan ini berlaku untuk buku nonfiksi, kalian perlu mencari tahu tentang penulisnya. Seberapa kompeten mereka, sih, di bidang yang mereka tulis? Kalian perlu tahu itu, karena semakin ia berkompeten di bidangnya, maka semakin bagus dan sesuai faktalah tulisannya itu.

Nah, kalau dari Mimin sih hanya itu saja. Mungkin Sobat JO ada yang punya tips lain? Tidak dilarang menuliskannya di kolom komentar, kok! Sampai jumpa di lain waktu lagi, ya! Selamat menulis, semua!

Sumber gambar:http://bacakilat.com/wp-content/uploads/2014/05/CHOOSING-BOOK-300x216.jpg

Thursday, January 7, 2016


Oleh: Orchid

Sebelum Sobat JO memulai menulis, sebaiknya kamu mengetahui terlebih dahulu untuk apa kalian menulis. Hanya sebagai hobi? Atau sebagai profesi?

Hobi berbeda dengan profesi. Hobi sendiri adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran seseorang. Sementara profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan khusus.

Menulis sebagai hobi itu sangat jauh berbeda dibandingkan menulis sebagai profesi. Jika menulis sebagai hobi, kamu bebas menulis apa saja. Toh, tulisanmu tidak ditujukan untuk orang lain. Tetapi hanya untuk dikonsumsi sendiri. Menulis sebagai hobi, artinya kamu tidak perlu memperhatikan logika. Kamu membebaskan imajinasi. Yang penting kamu merasa puas dan senang. Dan kamu tidak perlu menyediakan waktu yang banyak untuk menulis. Karena jika menulis sebagai hobi, itu hanya akan dilakukan di waktu luang saja.

Tentu saja jika kamu menganggap bahwa menulis sebagai hobi, kamu harus enjoy saat menulis, menikmati setiap prosesnya, dan tidak perlu stress karena menulis.

Namun di sisi lain, jika kamu menulis hanya untuk dikonsumsi diri sendiri, maka kemampuanmu hanya akan begitu-begitu saja. Tidak memiliki kemajuan. Jika kamu menulis sebagai ajang latihan, maka menulis sebagai hobi itu cocok buatmu.

Berbeda halnya dengan menulis sebagai hobi, saat kamu memilih untuk menjadikan menulis sebagai profesi, kamu harus memerhatikan EYD, mencari tahu apa yang sedang tren saat itu, dan berusaha sebaik mungkin agar tulisanmu dimuat—ini tidak mudah. Kamu harus sering-sering latihan. Selain itu, kamu harus meluangkan waktu yang banyak untuk menulis.

Kamu juga harus siap untuk dipuji dan dicela oleh orang yang membaca tulisanmu. Kamu juga harus siap ketika editor memintamu untuk merevisi naskah. Jika kamu sudah siap akan semua itu, kamu bisa menjadikan menulis sebagai profesi. Tapi, kamu harus ingat bahwa menulis bukanlah pekerjaan yang menjanjikan jika kamu tidak benar-benar serius menekuninya.

Jadi intinya, menulis dikatakan hobi apabila tulisan-tulisan itu hanya  diposting di blog pribadi si penulis itu atau dikonsumsi sendiri. Bersarang di laptop sang penulis—tanpa pernah ada orang yang membacanya. Dan tulisan-tulisan itu tidak ditujukan untuk mendapatkan honor. Hanya sebuah kepuasan diri saja karena hobinya sudah tersalurkan. Sementara menulis dikatakan profesi apabila tulisan-tulisan itu dimuat di koran, majalah atau bahkan berbentuk buku. Dan tulisan-tulisan itu ditujukan untuk mendapatkan honor.

Idealnya, menulis bisa dijadikan keduanya. Bisa dijadikan profesi sekaligus hobi.

Maksudnya?

Jadi begini, ada beberapa tulisanmu yang dibuat untuk memuaskan hobimu. Dan kamu tidak berharap mendapatkan honor dari tulisan itu. Sementara sebagian lagi, kamu gunakan untuk mencari uang. Nah, kalau Sobat JO, termasuk yang mana?

Sumber gambar:http://www.azquotes.com/picture-quotes/quote-my-hobby-is-my-job-it-s-a-jobby-graham-coxon-71-79-93.jpg