Oleh: Klara Livia
“Pejamkan matamu, tarik napas yang
dalam. Dengarkan hanya suaraku. Kamu tidak bisa mendengar suara yang lain,
hanya ada suaraku di sini.”
Aku mengangguk dan mengikuti
semua perintahnya. Aku masuk ke dalam alam bawah sadar.
“Sekarang kamu berada dalam sebuah
gudang. Bagaimanakah keadaan gudang itu?”
Aku diam. Tubuhku menggigil. Terlintas
dalam benakku sebuah gudang yang sempit dan berdebu. Aku duduk di sana sambil
memeluk diri. Hanya ada seberkas cahaya remang-remang yang menemaniku dalam
gudang sempit itu.
Aku mengatakan semuanya
dengan nada gelisah.
“Baiklah. Lalu kamu mendengar suara
langkah kaki yang semakin mendekat–“
Badanku terhentak. Kepalaku terasa
pusing. Tanganku meremas erat pegangan kursi yang aku duduki.
“Dia semakin mendekat–“
Kurasakan napasku
terengah-engah. Jantungku berdetak kencang dan dadaku sangat sesak. Kepalaku
bergerak, menggeliat ke kiri dan ke kanan. Gelisah. Gemetar. Takut.
“Dan pintu gudang itu terbuka–“
“AAAAAAA!!!” Aku berteriak
sekencang-kencangnya. Terlintas di benakku sosok pria setengah baya yang
bertubuh kekar. Rahangnya tegas dan alisnya tebal. Wajah yang menyeramkan. Dia
memandangiku dengan tatapan yang mengerikan. Tangannya menggenggam sebuah
kayu yang diayun-ayunkannya.
Keringatku bercucuran, napasku
menderu-deru. “Jangan.. tidak..” aku merintih. Aku takut kayu itu akan
dipukulnya di tubuhku.
“Siapa orang yang kau lihat itu?”
Aku menggigit bibir. “A..ayah.”
Aku mendengar dia bergumam,
lantas tidak adalagi suara yang terdengar. Aku juga ikut terdiam menunggu
aba-aba darinya. Kumanfaatkan waktu luang itu untuk menenangkan diri. Menarik
napas panjang dan menghembuskannya. Begitu berkali-kali hingga jantungku
kembali berdetak normal.
“Sekarang bayangkan sebuah padang
rumput.”
Hayalanku segera berubah. Terlintas di
benakku sebuah padang rumput yang luas dan bersih. Di mana ada domba-domba
berkeliaran dan sedang memakan rumput dengan tenang. Angin berhembus
sepoi-sepoi membelai rambut panjangku. Di situ aku memakai gaun putih dan
berbaring di tengah-tengah.
Aku tersenyum.
“Lalu kamu melihat sebuah ranting
pohon.”
Terlintas sebuah pohon besar dengan
ranting yang kokoh dan panjang.
“Kamu mengulurkan tanganmu dan
menggenggam ranting itu.”
Aku mengikuti perintahnya. Aku
mengulurkan tanganku, dalam benakku ranting itu kugenggam. Saat itu juga
tanganku merasakan sesuatu yang hangat dan empuk. Aneh. Bukankah ranting pohon
seharusnya keras dan dingin?
“Apa yang kau rasakan?”
Aku terdiam. Ada rasa hangat dari
ranting itu. Rasa hangat yang menghantarkan kenyamanan ke berbagai sel-sel
tubuhku. “Hangat. Nyaman. Tenang,” kataku.
“Kapan terakhir kali kamu
merasakannya?”
Kurasa aku sudah lama tidak
merasakannya. “Ketika aku berumur 10 tahun.”
“Sekarang lepaskan ranting itu.”
Aku tidak bisa mengikuti perintahnya.
Tanganku seakan melekat pada ranting itu. Aku tidak ingin melepasnya. Tiba-tiba
dadaku terasa sesak. Tubuhku gemetar. Wajahku memanas. Air mataku menetes
perlahan sambil tetap menggenggam ranting itu.
“Ada apa?” tanyanya. Nada suaranya
lembut.
“Aku tidak ingin melepas ranting ini.”
“Tapi ranting ini hanya ranting biasa
yang keras dan dingin.”
Aku menggeleng. “Bagiku ranting ini
hangat dan lembut.”
“Kalau begitu buka matamu sekarang.
Bangunlah!”
Perlahan aku membuka mataku. Dan
tampaklah sosok itu. Pria setengah baya yang tadi terlintas di benakku. Bedanya
sekarang tatapannya tidak mengerikan dan tidak ada tongkat kayu di
tangannya. Aku menurunkan pandangan. Melihat tanganku yang menggenggam
pergelangan tangannya. Ranting yang hangat itu ternyata tangan Ayah.
Secara tiba-tiba aku melepas tanganku dan mengambil langkah mundur. Tubuhku gemetar dan jantungku berdegup
kencang. Bertemu lagi dengan sosoknya setelah kabur darinya tiga tahun yang
lalu adalah hal yang mengerikan.
Melihat tindakanku, Ayah menunduk dan
menghela napas. Aku menangkap kekecewaan dan kesedihan dari matanya. Ekspresi
yang baru bagiku.
“Nak, jangan takut. Duduklah dengan
nyaman,” dia lagi-lagi memerintahku. Saat ini aku dalam kondisi sadar, namun
aku tetap mengikuti perintahnya.
“Mengapa kamu melepas tanganmu.
Bukankah sebelumnya kamu tidak bisa melepaskan tanganmu dari ranting itu?”
Aku tidak menjawab, lantas memalingkan
muka. Ada kekesalan dan amarah yang kurasakan. “Kamu menipuku. Yang
kugenggam bukan ranting.”
Yang kugenggam adalah tangan seseorang yang kubenci, tambahku dalam hati.
Yang kugenggam adalah tangan seseorang yang kubenci, tambahku dalam hati.
“Yang kamu genggam sungguh-sungguh
ranting, Nak. Ranting yang hangat seperti yang kamu rasakan sebelumnya. Namun
kamu menolaknya ketika kamu tahu wujud asli ranting itu.”
Aku terdiam.
“Nak, ini adalah jawaban dari sesi
terapi kita. Selama ini, kegelisahanmu, ketakutanmu, kegundahanmu berakar dari
masalahmu ketika kecil. Betapa kamu takut dengan Ayah-”
“Karena Ayah memang mengerikan!” aku
menyela dengan nada sedikit membentak.
Ayahku semakin tertunduk. Kurasa dia
menangis, karena aku mendengar suara isakan.
“Tapi bila ia mengerikan, mengapa
ranting yang kau genggam hangat?”
Lagi-lagi aku membisu. Kehabisan
kata-kata.
“Itulah Ayahmu, Nak. Dia adalah ranting
yang hangat. Ranting yang tidak bisa kamu lepas. Ranting yang memberimu
ketenangan.”
“Tapi dia memukulku!” Aku menangis.
“Ayah yang dulu memang jahat, Nak.”
Ayah akhirnya membuka suara. Dia menangis deras. Mukanya sangat merah. “Ayah
selalu terlarut dalam emosi dan melimpahkannya padamu karena tidak ada orang
lain lagi di hidup Ayah selain kamu. Ayah memang jahat, Nak. Tapi Ayah sangat
menyangimu. Sungguh!”
Saat itu hatiku sedikit luluh.
Apalagi melihatnya yang tampak begitu rapuh di hadapanku. Namun gengsi
membuatku tetap mengacuhkan Ayah. “Ayah tidak menyangiku. Ayah memukulku.”
“Nak. Tidak ada orangtua yang membenci
anaknya. Orang tua juga manusia. Mereka melakukan kesalahan dan mereka belajar
dari kesalahan mereka.” Dia menarik tanganku perlahan dan menuntunnya untuk
menggenggam lagi pergelangan tangan Ayah. Entah mengapa, aku tidak menolak.
“Ranting ini hangat, Nak. Dia tidak lagi dingin dan keras.”
Tiba-tiba Ayah menarikku dalam
pelukannya. Saat itu juga tangisku pecah. Aku membiarkan Ayah memelukku. Ada
rasa damai, hangat dan tenang terselip di dada. Rasa-rasa yang tidak pernah
merasukiku selama tiga tahun aku menghindari Ayah.
“Maafkan Ayah. Ayah berjanji tidak akan
melukaimu lagi, Nak. Kembalilah pulang.” Begitu kata Ayah di tengah-tengah
tangisnya.
Aku akhirnya luluh. Kueratkan pelukanku
pada Ayah. “Maafkan aku juga, Yah. Aku menolak Ayah.”
Psikiater muda itu tersenyum. Dia
menepuk-tepuk pundakku setelah aku melepas pelukanku dengan Ayah. “Mulai hari
ini kamu tidak perlu kembali ke tempat ini. Harimu akan dipenuhi dengan ranting
yang hangat.”
Aku tersenyum. Kutatap Ayahku. Sorot matanya
kini menenangkan.
Aku menunduk kepada si psikiater muda. “Terimakasih, Bu.”
Aku menunduk kepada si psikiater muda. “Terimakasih, Bu.”
“Pergilah! Nikmatilah hidupmu yang
baru.”
Setelah itu aku keluar dari tempat
terapi itu sambil menggenggam tangan Ayah. Tangan yang aku ketahui sebagai
ranting yang hangat.
REVIEW
Oleh: Orchid
Menurut JO Team, cerpen berjudul
Ranting yang Hangat karya Kak Clara ini cukup baik. Opening menarik dan gaya
berceritanya membuat pembaca ingin melanjutkan membaca sampai akhir cerita.
Penggambaran setiap detail adegan yang terjadi juga mampu membuat pembaca larut
ke dalam perasaan si aku. Selain itu, pesan yang akan disampaikan oleh penulis
bisa dipahami dengan baik.
Namun, sayangnya, riset yang dilakukan
penulis mungkin tidak banyak sehingga tulisannya terlihat dangkal karena kurang
adanya riset. Terutama mengenai proses psikoterapi yang diberikan oleh sang
Psikiater kepada si tokoh aku.
Di sini digambarkan bahwa proses
tersebut berupa terapi pikiran yang bertujuan untuk memperbaiki perspektif
'Aku' terhadap ayahnya, namun rasanya proses tersebut digambarnya terlalu mudah
dan seakan-akan hasil akhirnya sudah pasti. Padahal bisa saja terjadi
pergolakan, seperti saat ia menemukan ranting di sebuah padang rumput. Tokoh
aku bisa saja mengalami keraguan yang lebih berarti karena asosiasi dia
terhadap ranting sebelumnya adalah benda yang digunakan ayahnya untuk memukul.
Jika kita ingin menulis sebuah karya, riset adalah sesuatu yang penting. Karena jika kita tidak riset, karya kita akan menjadi janggal karena cacat logika.
Satu hal yang membuat Admin sedikit
bertanya-tanya. Bagaimana seseorang yang telah kabur dari rumah selama tiga
tahun bisa berakhir di ruangan Psikiater dan bertemu dengan Ayah yang selama
ini ia benci? Akan lebih baik jika ada sedikit latar belakang tentang tokoh yang
penulis ceritakan.
Selain itu, di dalam cerpen ini ada
penumpukan subjek. Contohnya dalam bagian ini:
Badanku terhentak. Kepalaku terasa pusing. Tanganku meremas erat pegangan kursi yang aku duduki.
Di sini terlalu banyak pengulangan –ku.
Sebaiknya, ada –ku yang dihilangkan karena sudah jelas bahwa kepala dan tangan
yg dimaksud dalam kalimat ini adalah kepala dan tangan si aku. Jadi tidak perlu
melakukan pemborosan kata untuk kalimat yang sudah jelas maksudnya.
Akan lebih bagus jika kalimat tadi
menjadi: Badanku terhentak. Kepala terasa pusing. Tangan meremas pegangan
kursi yang aku duduki. Bagaimana? Jadi lebih enak dibaca, kan?
Satu lagi, ini:
Kurasakan napasku terengah-engah. Jantungku berdetak kencang dan dadaku sangat sesak. Kepalaku bergerak, menggeliat ke kiri dan ke kanan. Gelisah. Gemetar. Takut.
Kalimat dalam paragraf di atas akan
lebih baik jika diubah menjadi seperti ini:
Kurasakan napas terengah-engah. Jantung
berdetak kencang dan dada sangat sesak. Kugerakkan kepala, menggeliat ke kiri
dan ke kanan. Gelisah. Gemetar. Takut.
Selain itu, variasi kalimat dalam
cerpen berjudul Ranting yang Hangat ini kurang. Hampir semua kalimat yang ada,
diawali dengan kata ‘aku’. Ingat, kalimat tak selalu harus diawali dengan
subjek. Penulis harus pintar-pintar membuat variasi kalimat. Dengan kalimat
yang lebih bervariasi, tulisan kita akan menjadi lebih menarik. Bagaimana
caranya agar kalimat dalam tulisan kita bisa bervariasi? Harus sering berlatih
dan memperkaya diksi serta variasi kalimat dengan membaca banyak buku.
Contohnya dalam bagian ini:
Aku mengangguk dan mengikuti semua perintahnya. Aku masuk ke dalam alam bawah sadar.
Akan lebih enak dibaca jika kalimatnya
seperti ini:
Aku mengangguk dan mengikuti semua perintahnya. Memasuki alam bawah sadar.
Dan ini:
Aku mengatakan semuanya dengan nada gelisah.
Karena terlalu banyak kalimat yang
diawali kata aku, sebaiknya kalimat ini diubah menjadi:
Dengan nada gelisah, kukatakan
semuanya.
Dalam hal sudut pandang, ada yang
terasa janggal. Cerpen ini menggunakan sudut pandang ‘aku’ atau orang pertama
tunggal. Dalam cerpen ini, diceritakan bahwa si aku sedang menjalankan sesi
terapi yang mengharuskan ia memasuki alam bawah sadar. Nah, Kesan ketakutan,
penolakan atau kegelisahan khas seseorang yang mengalami trauma terasa terasa
kuat. JO Team berpendapat, hal ini bisa saja karena penulis
menceritakannya dengan cara telling. Seperti yang Admin sebutkan di
Twitter, sesekali kita perlu memanfaatkan teknik Show, but Don't Tell.
Ada bagian-bagian yang memerlukan penggalian emosi yang lebih dalam.
Hal lain bisa dikarenakan oleh
pengambilan sudut pandang yang kurang tepat.
Perlu selalu diingat bahwa jika kita
menggunakan sudut pandang orang pertama, maka pengetahuan kita akan sangat
terbatas. Kita hanya bisa bercerita tentang apa yang si aku lihat, dengar, dan
rasakan. Hal-hal di luar itu, tidak bisa kita jelaskan di dalam cerita. Lain
halnya bila kita mengambil sudut pandang sebagai orang yang serba tahu.
Sekian review dari Admin. Selamat untuk
Kak Clara yang cerpennya terpilih untuk direview pada #JumatReview kali ini.
Selamat menulis! Dan JO Team tunggu tulisan-tulisan selanjutnya.
Sumber foto: http://wide-wallpapers.net/green-tree-branch-wide-wallpaper/







