Friday, September 4, 2015




Oleh: Edelweiss

Halo, Sobat JO! Tahu kan, ini hari apa? Yap, betul sekali. Ini hari Kamis. Waktunya website JOPH mengeluarkan artikel kepenulisan khusus untuk Sobat JO semua.

Nah, kali ini Mimin akan membahas pentingnya membaca buku non fiksi sebagai penunjang kalian dalam menulis kisah fiksi. Penulis fiksi tidak hanya harus membaca buku fiksi loh! Segala macam buku harus dibaca.

Sebagai penulis fiksi, kita dituntut harus tahu banyak hal agar tulisan kita tidak monoton. Itu karena apa yang kita tulis adalah cermin dari pengetahuan kita. Semakin banyak kita tahu, semakin banyak jenis cerita yang bisa kita tulis. Begitu pula sebaliknya.

Salah satu cara dalam mendapat pengetahuan itu adalah dengan membaca buku. Semua jenis buku. Bukan hanya fiksi saja, tapi non fiksi juga. Pengetahuan yang kita cari bukan hanya seputar macam-macam kisah yang ada di buku fiksi. Kita juga butuh pengetahuan semacam riset dan yang sejenisnya dari buku non fiksi. Maka dari itu seorang penulis fiksi pun butuh banyak membaca buku non fiksi.

Pengetahuan yang ada di buku non fiksi belum tentu ada di buku fiksi. Buku non fiksi memiliki banyak muatan detail yang biasanya tidak dimasukkan di dalam buku fiksi. Data-data dalam buku fiksi terbatas, karena penulis hanya memasukkan yang diperlukan saja.

Selain itu, membaca buku non fiksi termasuk dalam bagian riset. Selain wawancara dan bertanya langsung, membaca buku juga merupakan riset yang cukup akurat. Biasanya data-data yang ada di buku non fiksi merupakan hasil riset dari para ahli. Maka dari itu, membaca buku non fiksi menjadi sangat penting bagi para penulis fiksi.


Sekian artikel ini. Semoga bermanfaat bagi Sobat JO. Sampai jumpa dan selamat menulis!





"Membaca buku adalah cara manusia untuk memperbaharui piranti lunak di dalam otak"


Sumber gambar:http://1.bp.blogspot.com/-WlgujBUI9co/Ua1nGCGd56I/



Oleh: Ixora dan Three Friends in Winter

Halo, Sobat JO, Admin kembali lagi dengan rangkuman Malming Menulis. Untuk yang minggu lalu belum sempat menyimak, Sabtu kemarin, JO Team membahas tips-tips agar karya kita layak dimuat di media cetak. Kalau ada di antara Sobat JO yang karyanya sudah pernah dimuat di media, boleh loh ikutan share tips juga. :)

Nah berikut tips singkat dari kami: 

1. Kenali media yang kita tuju
Jika kita ingin karya kita layak dimuat, maka kita harus memahami medan yang kita hadapi. Kan, tidak mungkin kita mengirim cerita yang tujuannya untuk dibaca oleh remaja ke majalah wanita dewasa. Atau cerita untuk anak ke majalah remaja. 

Mengenali media terbit juga bisa berarti kita mempelajari contoh-contoh karya orang lain yang pernah diterbitkan di media tersebut. Dari sana kita bisa mengenali selera redaktur. Tapi ingat, jangan menggunakan tema yang sudah sering diterbitkan oleh media tersebut.

2. Pelajari teknik menulis yang baik dan buat judul yang menarik. 
Mengenai seberapa pentingnya teknik menulis ini, Mimin tidak perlu membahas lagi, kan? Beberapa waktu lalu Mimin telah membahas di artikel-artikel sebelumnya. Teknik menulis wajib hukumnya. 

Selain itu, judul yang menarik juga tak kalah penting untuk (lagi-lagi) memikat hati redaktur. Indonesia memiliki jumlah populasi sekitar 250 juta orang, jika 0.001%-nya saja mengirimkan naskah ke media yang sama dengan yang kita kirimkan, kita bisa bayangkan seberapa banyak naskah yang masuk ke meja redaktur setiap harinya, kan? Kita perlu membuat redaktur untuk mengenali naskah kita. Salah satu caranya adalah dengan membuat judul yang menarik dan tentu saja harus sesuai dengan isi naskah kita pula. 

3. Jangan memaksa redaktur
Jika naskah kalian dianggap layak dan sesuai dengan media yang sang Redaktur asuh, pasti mereka akan menghubungi kalian. Setiap media memiliki tenggat waktu masing-masing dalam memberikan kabar apakah sebuah naskah layak terbit atau tidak, maka dari itu, alangkah baiknya jika penulis yang ingin mengirimkan naskah ke media tidak memaksa redaktur untuk memberi kabar atau menerbitkan karya kalian dengan mendikte tenggat waktu secara memaksa. 

Perlu diingat, seorang redaktur tidak hanya membaca karya kalian saja, tapi ratusan karya lain setiap harinya. Jadi, sangat mudah baginya untuk membuang karya yang dianggap tidak layak hanya karena penulisnya tidak memiliki etika yang baik. Tentu saja kita ingin memiliki hubungan kerja sama dalam jangka panjang, kalau dari awal saja hubungan antara penulis dan redaktur dirasa tidak menyenangkan, bagaimana kerja sama bisa akan berlanjut ke depan? Jadi, bersikaplah yang baik dalam menyapa redaktur saat mengirimkan naskah, ya? 

Jika kalian belum mendapatkan kabar melebihi tenggat waktu yang telah ditetapkan, kalian boleh menanyakan hal tersebut, secara sopan tentunya. 

4. Hindari mengirimkan tulisan kembar
Dalam artian, naskah tersebut telah dimuat di media A, lalu penulis mengirimkan lagi ke media B. Ini akan menghilangkan kepercayaan redaktur yang telah terbina. Kalian bisa dianggap kehabisan ide atau bahkan mata duitan. 

5. Tidak mengirimkan karya hasil plagiasi
Ya, siapa pun di sini seharusnya paham, bahwa plagiasi adalah hal yang illegal dan tidak menyenangkan untuk dialami oleh siapa pun. Apa sih memplagiat? Itu adalah mencontek total atau sebagian karya orang lain dan mengakuinya sebagai milik sendiri. Hal ini bersifat sangat fatal. Selain kalian akan di-blacklist dari media tersebut, kalian juga bisa terkena masalah hukum karena dituntut oleh pemilik karya asli.


Nah, demikian tips-tips yang JO Team dapat berikan. Ingat, etika sangat penting untuk seorang penulis jika ingin karyanya dimuat dan dibaca banyak orang, bahkan dalam bersosialisasi. Jika kalian telah telah melakukan semua hal di atas dan belum dimuat juga, mungkin kalian perlu belajar lagi. Selain tips-tips di atas, isi cerita naskah itu sendiri pun penting.

Sumber gambar:http://cdn.tmpo.co/data/2012/11/21/id_152049/152049_620.jpg

Thursday, August 27, 2015


Oleh: Ixora


Mungkin, kita sudah sering mendengar mengenai  Showing Not Telling.  Tapi tentu masih banyak yang bertanya-tanya, apa itu showing dan telling dalam sebuah penulisan sebuah karya?

Showing adalah bagaimana cara kita bercerita sehingga seolah-olah pembaca ada di sana. Ikut melihat, mendengar, bahkan merasakan suasana hati  tokoh dalam cerita kita.
Telling bisa dikatakan hanya sebatas informasi. Gambaran umum yang tidak terlalu detail.

Lalu, bagaimanakah caranya agar kita bisa membuat cerita yang benar-benar menggerakkan, mengubah suasana hati, dan menyentuh emosi pembaca? Ada beberapa tips yang JO Team rangkum agar cerita yang kita buat lebih ‘showing’. Mari kita simak,

Pertama. Gunakan dialog. Ini adalah cara termudah untuk untuk menghindari ‘telling writing’. Dialog dapat membawa pembaca membayangkan adegan yang terjadi. Dialog juga dapat membuat pembaca mengenali karakter tokoh, dan emosi yang terbangun. Tapi ingat, narasi dan dialog harus proporsional penggunaannya.

Kedua. Gunakan hal-hal yang mampu ditangkap oleh panca indera. Selama ini penulis biasanya lebih terfokus pada apa yang dilihat dan didengar saja. Padahal, apa yang dirasa oleh indera tidak hanya itu. Rasa dan aroma bisa menjadi hal-hal yang membangkitkan ingatan pembaca jika bisa disampaikan dengan baik.

Ketiga. Gunakan deskripsi. Tapi hati-hati, mendeskripsikan sesuatu secara terlalu detail akan rentan berlebihan. Harus diingat bahwa dalam mendeskripsikan sesuatu, hanya yang relevan saja dan sampaikan dengan cara yang baru. Jika tidak, maka deskripsi kita akan terbaca sangat klise. Hindari juga penggunaan kata sifat yang sudah umum digunakan seperti tinggi, baik, cantik, tampan, dll karena akan sangat membosankan.

Keempat. Gunakan metafora. Metafora juga merupakan cara yang sangat baik untuk membuat cerita lebih showing. Tapi ingat, metafora yang digunakan harus sesuai, karena jika metafora yang digunakan tidak sesuai akan merusak suasana yang sudah terbangun di dalam cerita.

Kelima. Tulislah dengan spesifik. Terkadang penulis terlalu takut untuk menjabarkan sesuatu hal secara spesifik dan kadang memilih hal-hal yang umum. Istilahnya’ cari aman’ padahal, pembaca akan lebih terkesan kepada cerita yang spesifik. Itu juga dapat mengantarkan mereka agar lebih mudah menangkap pesan yang ingin disampaikan penulis.

Nah, demikian tadi tips dari JO Team mengenai  cara membuat cerita yang ‘showing not telling’. Selamat membaca dan semoga bermanfaat 


"The best of good books have purposeful slowdowns in pace from to time because 
the author knows that readers, like athletes, must catch their breath" -Sol Stein-

Sumber gambar: http://www.novelpublicity.com/wp-content/uploads/2014/11/shutterstock_94921276.jpg