Saturday, February 27, 2016

Oleh: Three Friends in Winter

Halo Sobat JO, beberapa minggu lalu, Mimin sempat membuat tema #MalmingMenulis tentang Writer's Block. Horor banget ya tema ini untuk seorang penulis? Hahaha. 

Di sini ada yang sering mengalami hal ini pasti tahu donk apa Mimin maksud dengan writer's block? Menurut kalian, writer's block itu mitos atau nyata? Kalian percaya nggak kalau itu benar-benar ada? Kalau Mimin sih percaya writer's block mungkin terjadi. Serius, Min? Kan banyak yang bilang, "ah itu hanya mitos." Cuma mitos, tapi kok yang mengalami banyak ya? Hehehe.

Nah Mimin mau merangkum bahasan tentang Writer's Block dan cara mengatasinya dari #MalmingMenulis beberapa waktu lalu. 

Seperti yang kita ketahui, writer's block adalah saat-saat ketika kita tidak tahu harus menulis apa dan bagaimana. Rasanya membuat si penulis yg mengalami jadi frustasi. Tak jarang penulis menjadi depresi karena tidak bisa keluar dari kebuntuan. 

Mimin jadi teringat sebuah film yang berjudul The Words. Film ini bercerita tentang seorang penulis yang gagal mengatasi writer's block hingga mencuri ide seseorang dan menjadi penulis terkenal, tapi itu awal mula bencana untuk sang Penulis. Ada yang pernah nonton film ini? Seram ya dampak writer's block bagi penulis. Mudah-mudahan tidak ada satu pun dari Sobat JO yang melakukan hal yang sama dengan penulis dalam film The Words ya. Plagiarisme itu bukan perbuatan mulia. Itu bahkan mencoreng nama baik kita. 

Sebenarnya mengapa bisa terjadi writer's block ini? Apa sih momok yang bernama writer's block ini? 

S esungguhnya writer's block ini lumrah terjadi, apalagi jika kita telah melewati sebuah titik kejenuhan dari sebuah rutinitas. Ada banyak alasan mengapa seorang penulis bisa mengalami hal ini. Mimin sebutkan 3 alasan yg paling banyak terjadi: 

1. Waktu yang kurang tepat. 
Ini sebelumnya pernah Mimin jelaskan nih dalam #MalmingMenulis sebelumnya tentang zona nyaman menulis

Selain waktu yang kurang tepat untuk menulis, alasan pertama ini bisa jadi adalah karena ide tersebut belum saatnya ditulis. Mungkin ide yang kalian miliki membutuhkan waktu penggodokan agar menjadi lebih matang dan siap ditulis. Beri waktu untuk ide tersebut agar lebih meresap dalam jiwa kalian. *halah bahasa Mimin* 

Menanti ide tersebut siap ditulis bukan berarti kalian bisa menjadikan itu alasan untuk tidak memulai loh. 

Biasa nih, kalau punya ide yang belum siap ditulis Mimin akan selalu membawa buku catatan untuk mencatat setiap kemungkinan yang Mimin temukan untuk ide tersebut. Ke mana pun Mimin akan memikirkan ide tersebut. Bahkan sebelum tidur pun Mimin juga sering memikirkan ide cerita yang sedang Mimin garap, apalagi kalau sudah kadung seru menggodok ceritanya. 

Pada titik tertentu, kalian harus mulai menuliskan ide tersebut. Bedakan antara kalian sedang malas atau memang ide itu belum siap. 

2. Ketakutan.
Seorang penulis yang akan memulai sebuah tulisan pasti pernah mengalami ketakutan yang menghalanginya menulis. Bisa jadi karena karyanya yang sebelumnya mendapat respon yang sangat baik hingga penulis memiliki tekanan untuk membuat karya selanjutnya lebih baik daripada sebelumnya. Atau karena keinginan dirinya yang lain. Ini manusiawi banget. Tentu saja dalam setiap karya kita harus memiliki perkembangan ke arah yang lebih baik agar karya kita selalu dinantikan. 

Hal ini sering kali membuat seorang penulis berhenti menulis karena terlalu takut pada penilaian atau kritik. Takut itu boleh saja, tapi jangan jadikan hal tersebut menjadi alasan untuk kalian tidak memulai menulis. Cara untuk mengatasi ketakutan itu adalah dengan menghadapinya. Jika kita tidak pernah menghadapinya kita tidak akan pernah tahu apa yang ada di depan kita. 

Menurut Mimin, otak manusia itu luar biasa kreatif. Setuju nggak? Setuju donk. Jika kita memulai suatu hal dengan ketakutan akan masalah, maka yang akan terlihat muncul selalu masalah, sebaliknya jika kita memulai suatu hal dengan optimis, apa pun yang terjadi kita akan menemukan jalan keluarnya. 

3. Sifat Perfeksionis
Waktu sudah tepat, ketakutan sudah dilewati, tapi kok belum bisa mulai menulis juga ya?

Nah bisa jadi itu adalah ulah si Perfeksionis. Ketika kita akan memulai sesuatu, terkadang kita ingin semua langsung terlihat sempurna dan baik. Akhirnya karena kita menanti kesempurnaan tersebut datang, kita tidak kunjung memulai. 

Seperti yang Mimin pernah katakan dalam #MalmingMenulis dan artikel sebelumnya, draft pertama itu tidak harus langsung bagus. Tuliskan saja dulu semua yang ada di kepala kalian. Nanti saat sudah selesai, mulai swasunting. Saat itulah kalian baru mulai merapikan hal-hal yang menurut kalian kurang tepat untuk masuk dalam cerita kalian. 

Mimin suka satu kutipan tentang kesempurnaan, 
"ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan." 

Terkadang tidak semua hal harus tanpa celah kesalahan sedikit pun. Ketidaksempurnaan itu manusiawi kok. Itu menyediakan ruang untuk kita, juga mengingatkan agar selanjutnya kita harus lebih baik daripada sebelumnya. 

Nah, Mimin mau kasih tips-tips singkat cara mengatasi writer's block:

1. Ganti suasana
Ketika kamu mengalami kejenuhan menulis, cobalah untuk jalan-jalan keluar sejenak, mendengar musik kesukaan, atau lakukan aktivitas selain menulis. Berolahraga agar peredaran darah lebih lancar bisa jadi pilihan. Bertemu dan berbincang dengan orang-orang yang membuat perasaan lebih baik juga bisa membantumu menemukan perspektif baru. Biasa dari interaksi tersebut membuat kalian mendapat ide yang lebih baik. 

2. Gunakan pulpen atau pensil dan kertas/buku catatan. 
Daripada mencatat dengan gadget, Mimin lebih suka mencoret-coret di kertas, lebih banyak membuka peluang ide bermunculan. Terkadang juga Mimin tidak menulis ide apa pun di kertas tersebut, hanya menggambar bentuk yang tidak jelas atau coretan kata yang tidak ada hubungannya dengan ide/cerita yang sedang Mimin buat. 

3. Perbaharui isi kepala kalian.
Bisa jadi kalian tidak punya ide untuk menulis karena isi kepala kalian belum terbaharui. Itu sebabnya kalian merasa ide-ide yang muncul nampaknya sama seperti sebelumnya dan tidak menarik minat kalian untuk menulis. Selain lewat membaca, kalian juga bisa menambah database otak dengan menonton film atau berpetualang. Buat yang suka jalan-jalan, berpergian ke suatu tempat yang belum pernah dikunjungi akan membawa pengalaman baru. Ada loh penulis yang demi pengalaman baru, ia mencoba pekerjaan baru. 

4. Istirahatkan tubuh dan pikiran kalian.
Dihadapkan pada sebuah kondisi "cerita sudah ditulis tapi di tengah jalan kalian bingung melanjutkannya", mungkin itu karena tubuh kalian terlalu lelah. Biasanya nih kalau sudah mentok banget, Mimin akan pergi tidur. Eits, tapi saat akan tidur, Mimin tetap memikirkan  premis dan apa yang Mimin ingin bawa dalam cerita itu sekitar 15-30 menit sebelum benar-benar ketiduran. Nah esok harinya, biasa Mimin akan bisa melihat solusi baru untuk melanjutkan cerita. Punya kerangka cerita sebelum mulai menulis juga membantu kalian untuk tidak kehilangan arah di tengah menulis. 

Nah itu tips singkat dari Mimin!

Pada dasarnya writer's block itu adalah kondisi yang kita sendiri ciptakan dan harus lewati. Writer's block itu bukan alasan untuk membiarkan kemalasan merajalela hingga akhirnya tidak menulis. Temukan sumber masalah yang menyebabkan kalian tidak dapat menulis dan segera atasi itu. Bisa jadi kalian jenuh, butuh suasana baru atau isi otak kita perlu disegarkan dengan pengalaman baru. Jangan menanti saat yang tepat untuk menulis, tapi buatlah saat yang tepat itu.


sumber foto: http://www.wiseinkblog.com

Wednesday, February 24, 2016


Oleh: Edelweiss dan Ixora

Minggu kemarin, Mimin membahas tentang diksi. Secara singkat, seperti yang kita kenal, diksi merupakan pilihan kata. Sedang, menurut KBBI, diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti apa yang diharapkan). Apa pentingnya sih kita mengetahui tentang diksi? Tentu penting. Karena gak lucu, ya, kalian menulis cerpen untuk anak-anak tapi diksi yang digunakan tingkat dewa.

Jenis diksi sendiri ada 8, yaitu: sinonim, antonim, polisemi, homograf, homofon, homonim, hiponim, hipernim. Untuk mengingatkan Sobat JO, Mimin akan sedikit menjelaskan tentang jenis-jenis diksi tersebut secara singkat.
  • Sinonim adalah diksi yang bermakna sama. Contohnya ungkapan “mati” bermakna sama dengan ungkapan “meninggal”.
  • Antonim adalah diksi yang memiliki makna berlawanan. Seperti panjang dan pendek, acuh dan abai.
  • Polisemi merupakan kata yang memiliki banyak makna. Seperti contohnya kata “buah” yang maknanya bisa berbeda-beda seperti pemakaian kata “buah” dalam : buah apel, buah tangan, buah cinta.
  • Homograf adalah kata-kata dengan tulisan sama tapi bunyi berbeda. Contohnya buah apel beda, ya, dengan apel pagi PNS di lingkungan Pemda.
  • Homofon adalah kata-kata dengan bunyi sama tetapi makna dan ejaan berbeda. Contohnya adalah “tang” dengan “tank”.
  • Homonim, memiliki ejaan dan bunyi sama tetapi makna yang berbeda. Contohnya adalah “bisa”, yang memiliki makna “dapat” dan “racun”.
  • Hiponim merupakan kata yang termasuk ke dalam kata lain. Contohnya “apel" yang juga masuk ke dalam kata “buah”.
  • Hipernim adalah kata yang mencangkup banyak makna, contohnya buah yang sudah mencakup apel, anggur, jeruk, dll. Eh, Mimin hobi banget kasih contoh buah apel, ya!!


Nah, tadi kan Mimin sudah jelaskan macam-macam diksi, sekarang giliran tentang pemilihan diksi yang tepat. Dalam menulis, baik fiksi maupun non fiksi, kita harus memperhatikan diksi yang kita gunakan. Jangan sampai salah tempat. Hal ini sesuai dengan fungsi diksi sendiri, membuat pembaca paham dengan apa yang kita tulis dan tidak menimbulkan salah paham. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika memilih diksi yang tepat, yaitu: 
  1. Segmen Pembaca. Seperti Mimin bilang di awal tadi, tidak mungkin memakai diksi tingkat dewa untuk cerpen anak. Kalian juga tidak mungkin memakai bahasa kelewat gaul masa kini untuk buku-buku serius yang pembacanya orang-orang tua. Harus menyesuaikan, seperti diksi-diksi sederhana untuk cerpen anak. Pokoknya perhatikan pembacamu. Buat mereka mengerti tulisanmu. Jangan sampai mereka malah garuk-garuk kepala saat membaca tulisanmu. Bingung.
  2.  Konteks Kalimat. Contohnya kata pahit merupakan sinonim dari kata getir. Dalam kata “kenyataan pahit” dan “kenyataan getir”, keduanya masih pas. Tetapi tidak dengan “obat yang getir”. Yang pas adalah “obat yang pahit”. Begitu juga seterusnya. Lalu, penggunaan kata “mati” dan “meninggal”. Kata “mati” terlalu kasar jika dipakai untuk manusia. Begitu pun dengan hewan yang menggunakan diksi “meninggal.” “Orang yang mati tadi pagi adalah tetanggaku.” Kedengaran kasar ya, atau “Adikku terus menangis karena tadi malam kucingku meninggal.” Ini juga terdengar aneh.
  3. Perhatikan Maknanya. Jangan sampai kalian salah paham. Seperti acuh dan abai. Lihat KBBI kalau kalian memang bingung dengan kata-kata yang akan kalian gunakan. Bisa dibilang, dalam menulis, KBBI adalah kitab suci kita--terutama yang berbahasa Indonesia. Kalian jangan hanya mengandalkan “biasanya dipakai begitu.” Karena itu belum tentu benar. Kalau kata guru Mimin dulu, “yang biasa belum tentu yang benar.” Semisal, kita bingung makna kata “geming” yang ingin dipakai, maka lihatlah ke KBBI sebelum memasukkannya ke tulisan kita. Jangan sampai membuat maksud kita tidak tersampaikan ke pembaca. “Tubuh itu sudah tidak bergeming lagi sejak sebutir timah panas menembus jantungnya.” Nah, apa yang aneh dengan kalimat tersebut? Ayo cek KBBI-nya ya...

Semoga tulisan ini bermanfaat ya, Sobat JO!

 http://assets-a2.kompasiana.com/statics/files/2014/02/13935569291654464477.jpg?t=o&v=760

Tuesday, February 23, 2016


Oleh: Orchid dan Three Friends in Winter 

Halo, Sobat JO! Mimin kali ini datang dengan membawa ringkasan Malming Menulis beberapa waktu lalu. Tentang apa sih tema tips menulis minggu lalu? Yup... yang sudah menyimak pasti tahu. Tentang segmentasi pembaca. 

Kalau kalian tanya, sebenarnya penting nggak sih kita tahu siapa pembaca buku kita? Jawab Mimin, oh tentu saja PENTING! Karena itu menyangkut banyak aspek dalam ceritamu, baik dalam pemilihan cerita, tema, karakter tokoh, diksi, dsb. Itu yang Mimin sebut dengan mengenali segmentasi pembacamu.

Segmentasi pembaca itu pemilihan objek atau sasaran tulisan, merujuk pada siapa tulisan itu akan ditujukan. Bisa berdasarkan usia, jenjang karir, jenis kelamin, atau secara spesifik ditujukan untuk komunitas tertentu. 


Perlu Sobat JO ketahui, bahwa setiap penulis harus dapat membidik segmentasi pembaca. Ini merupakan hal yang penting. Kenapa? 

Seperti yang sudah Mimin bilang sebelumnya, karena segmentasi pembaca berkaitan dengan tulisan yang kamu tulis. Tulisan adalah media sekaligus pesan yang harus dipahami oleh penerima pesan. Karena itu, tulisan harus tepat dan sesuai dengan sasaran pembaca yang dituju. 

Dengan mengetahui segmentasi pembaca, maka tulisan yang akan ditulis menjadi lebih terarah. Misalnya saja, Sobat JO mau menulis untuk remaja, kita harus mulai memikirkan tema apa sih yang diminati oleh remaja? Karakter yang seperti apa yang lebih dekat dengan mereka. Gaya bahasa seperti apa yang bisa mereka mengerti. Tentu saja, tulisan untuk remaja dan untuk anak-anak akan berbeda, apalagi untuk segmentasi dewasa. 

Tidak mungkin kan, kita menulis untuk anak-anak tapi dengan menggunakan gaya nyastra dan bertema percintaan? Anak-anak tidak akan paham dengan apa yang kamu ceritakan. Jadinya malah pesan yang akan disampaikan olehmu tak akan sampai. 

Ketika tulisan gagal dipahami oleh pembaca, maka tulisan itu pun bukan menjadi media komunikasi. Padahal sudah dijelaskan di awal bahwa tulisan adalah sebuah media sekaligus pesan yang harus dipahami pembaca. Tapi, jika tulisan kamu dapat dipahami oleh pembaca, maka tulisan kamu pasti akan diterima oleh para pembaca. 

Tema untuk remaja misalkan 'percintaan', bisa jadi itu yang paling populer, bolehlah kalian tulis tentang hal tersebut. Tapi, dunia remaja kan tidak melulu tentang hal tersebut, bisa jadi tentang persahabatan, cita-cita, dsb. Jika kalian ingin terlihat menonjol di antara ratusan buku yang terpajang di rak toko buku, tentu saja kalian harus pandai-pandai mencari celah dan mengolah ceritamu. 

Selain itu, menentukan segmentasi pembaca yang spesifik juga akan mempersempit tingkat persaingan yang ada. Dengan mengetahui segmentasi pembaca, maka Sobat JO akan tahu dengan siapa kamu harus bersaing. 

Jika segmentasi pembacamu adalah young-adult, maka kamu harus bersaing dengan Dewi Lestari. Beuh! Berat, nggak? Jangan keder dulu ya. Hahaha. 

Sebelum menulis, siapkan dulu peralatan perang kalian untuk menghadapi pasar. Tentukan segmen pembacamu. Dengan itu, kamu dapat menentukan gaya tulisanmu dan bisa lebih dekat dengan pembaca. 

Apakah kamu akan menulis bacaan ringan atau bacaan yang agak berat? Yang mana saja sama. Tidak ada yang lebih baik, baik tulisan 'ringan' atau pun 'agak berat'. Karena masing-masing punya segmentasi pembaca. Yang tentu saja berbeda di setiap tulisan, jiiwa dari ceritamu itu yang menentukan. Menulis dengan hati tentu saja hasilnya akan berbeda. :)


Sumber gambar: http://www.read2dream.com/images/design/footer_nzone.jpg

Thursday, February 11, 2016


SINOPSIS

Kompasmu, apakah kamu memperhatikannya? Ada dua arah di sana. Utara dan selatan. Sama halnya seperti matamu sendiri, arah itu menyelamatkanmu dari kesesatan.

Tapi kompas milikku buta. Tidak ada utara selatan dalam hidupku, semua hanyut dalam ketakutan dan masa lalu. Lima belas tahun penjara mencuri jarum kompasku dan setelah bebas, aku pun masih belum tahu ke mana arah hidupku.

Aku pembunuh, korban hasrat yang menyimpang. Dunia luar menungguku, berpura-pura menyambutku dengan semarak, untuk  kemudian kembali meremukkanku dalam  ketakutan.


Aku butuh jalan, butuh mata kompasku. Apakah kamu bisa membantuku menemukannya?

Aku Ravit, bekas tahanan yang kini kembali terpenjara rasa takut.



Specifications

  • Judul:Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta
  • Penulis:                          Suarcani
  • Genre:drama, perjalanan, inspiratif
  • Kategori:novel dewasa muda, avocadoLit
  • Ukuran:13cm x 19cm
  • Tebal:226 halaman
  • Harga:65.000 52.000 
  • Terbit:Maret 2016




Tempat lain untuk mendapatkan buku ini, cek di gambar bawah ini!

klik untuk memperbesar

Friday, February 5, 2016

Oleh: Orchid

Ending adalah suatu akhir cerita. Yang mengisahkan bagaimana nasib si tokoh setelah dia didera konflik yang berkepanjangan. Ada berbagai macam ending, tapi dalam garis besarnya, ending hanya dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
1.      Akhir yang Bahagia
2.      Akhir yang Menggantung
3.      Akhir yang Sedih/Tragis

Terserah padamu mau menentukan ending seperti apa, ending yang bahagia, sedih, atau pun menggantung. Tapi, ending yang baik adalah ending yang memuaskan pembaca dan sesuai dengan perwatakan tokoh. Jika dari awal si tokoh sudah dikisahkan sakit-sakitan, lalu kemudian dia meninggal, itu wajar-wajar saja. Atau mungkin si tokoh tadinya adalah orang yang jahat kemudian menjadi baik karena ada suatu hal besar yang terjadi pada hidupnya. Itu wajar.

Namun, hindari untuk memaksakan ending tragis atau bahagia karena egomu sebagai penulis. Misal saja, si A itu sehat. Tapi kemudian di akhir dia meninggal. Sementara si B, yang sejak awal dikisahkan sakit justru sehat-sehat aja. Jika endingmu seperti ini, maka pembaca akan mengerutkan kening karena endingmu yang sangat tidak masuk akal.

Cerita itu seharusnya bergulir secara indah. Walaupun kamu sebagai penulis menginginkan ending seperti ini, tapi jika karakter dan ceritamu mengarah ke ending yang seperti itu, seharusnya Sobat JO sebagai penulis harus mengikuti karakter dan cerita. Jangan membuat si tokoh utama melenceng dari karakter aslinya karena sebuah ending yang kamu inginkan.

Untuk menuliskan ending yang memuaskan pembaca, Sobat JO harus memperhatikan tips-tips di bawah ini:
A.  Berikan petunjuk yang mengarah ke ending. Misalnya, si tokoh yang semula baik akan berubah jadi jahat. Maka, kamu harus menyisipkan kejadian-kejadian yang membuat si tokoh merubah sifatnya.

B.  Jika Sobat JO ingin membuat sekuel dari novel yang sudah ditulis, maka sebaiknya kamu menulis ending yang menggantung atau mengambang. Ini akan membuat para pembaca merasa penasaran dengan kisah selanjutnya.

C.  Sebaiknya, ending memberikan suatu efek kejut yang mengagetkan pembaca. Tapi, jika itu tidak bisa dilakukan, maka sebaiknya tidak usah. Jika kamu memaksakan ending yang mengejutkan padahal itu tidak sesuai dengan cerita yang ada, maka endingmu akan menjadi jelek dan itu tidak akan memuaskan pembaca.

D.  Ending itu harus sesuai dengan bangunan cerita. Jika dari awal cerita yang dibangun adalah cerita yang romantis, maka seharusnya, endingmu juga romantis. Apa yang kamu rasakan sebagai pembaca jika novel yang kamu baca itu berkisah romantis lalu tiba-tiba memiliki ending yang horor tanpa alasan yang jelas?

E.  Bahasa yang digunakan juga harus sesuai. Jika sejak awal Sobat JO sudah menulis dengan bahasa yang puitis, maka akhiri tulisanmu dengan bahasa yang puitis. Jangan sampai, dari awal bahasanya puitis, lalu tiba-tiba di ending menggunakan bahasa sehari-hari dan penuh humor.

F.   Hindari untuk terlalu detail menjelaskan akhir yang akan terjadi. Itu akan membuat pembaca bosan karena sudah mengetahui akhir cerita sejak awal dia membaca. Buatlah pembaca bertanya-tanya, sehingga dia menyelesaikan membaca cerita yang kamu tulis.

G. Jangan lupa menggambarkan secara detail visualisasi yang terjadi di akhir cerita. Mulai dari tempat, waktu, suasana yang ada, ekspresi wajah, gerak-gerik, perasaan, serta ucapan sang tokoh utama. Jika seperti ini, pembaca akan mengetahui dengan jelas ending yang ingin kamu ceritakan. Jangan sampai nanti endingnya sudah bagus tapi tidak bisa tersampaikan dengan baik ke pembaca.

H. Usahakanlah mengakhiri cerita beberapa saat ketika klimaks berlangsung. Jangan bertele-tele untuk mengakhiri sebuah cerita. Itu akan membuat pembaca bosan dan enggan melanjutkan membaca bukumu. Tentu setelah berbagai pertanyaan atau konflik cerita terjawab ya—ini jika kamu tidak ingin membuat sekuel untuk bukumu. Sisakan sedikit rasa penasaran pada pembaca tentang apa sih yang akan terjadi pada kehidupan tokoh-tokoh cerita kita selanjutnya.  Ingat, hanya sisakan sedikit.

Nah, itu adalah hal-hal yang harus diperhatikan oleh Sobat JO dalam menulis ending. Semoga bermanfaat, ya...:)


Sumber gambar: http://www.creativewriting-prompts.com/images/Theend.jpg

Wednesday, February 3, 2016

Oleh : Three  Little Friends in Winter dan Orchid

Hai, Sobat JO! Buat kalian yang kemarin ketinggalan #MalmingMenulis, nggak usah risau, nggak usah khawatir, dan nggak usah capek-capek scrolling twitter @JOPHouse. Karena Mimin akan merangkumkan #MalmingMenulis di artikel ini.

Dalam #MalmingMenulis kali ini, Mimin mau membahas tentang pembaca. Terutama tentang bagaimana sih cara mengetahui reaksi pembaca ketika membaca cerita yang kita sampaikan? Kita bercerita tentu bukan hanya sekedar bercerita pada tembok dong. Hehehe. Ada audience alias dalam hal ini pembaca. Karena kita bercerita pada pembaca, tentu ada reaksi yang mereka tunjukkan. Bisa jadi, “biasa aja ceritanya.” Atau wuihhhh... keren banget ceritanya!”

Bagaimana sih cara agar kita bisa mendapatkan reaksi wuihhh keren! untuk cerita kita? Nah, Sobat JO, reaksi pembaca itu bukan tidak terduga atau tidak pasti. Reaksi mereka dipengaruhi oleh elemen-elemen dalam cerita tersebut. Ada 7 elemen yang akan Mimin bahas di artikel ini.  Apa saja itu? Yuk, kita simak.

1.      Identifikasi.
Pembaca akan selalu mencari tokoh dalam cerita di mana mereka bisa beridentifikasi dengan mereka. Identifikasi berarti pembaca menyamakan dirinya dengan tokoh, biasanya tokoh utama, sehingga pembaca bisa ikut merasakan suka duka tokoh tersebut.

Bagaimana cara agar kita bisa membuat pembaca buku kita beridentifikasi dengan isi cerita? Salah satu caranya adalah dengan menarik simpati. Bagaimana cara agar kita bisa menarik simpati? Ada banyak cara untuk menarik simpati pembaca terhadap tokoh. Misalnya, tokohnya punya kisah yang dekat dengan pembaca atau memiliki masalah yang sama. Contoh, tokohnya jomblo bertahun-tahun kayak pembacanya. Hehehe...

Karakterisasi tokoh sangat membantu proses identifikasi pembaca. Karakterisasi yang efektif adalah yang mampu mengembangkan keterlibatan pembaca terhadap tokoh. Setelah pembaca mengalami identifikasi dengan tokoh, maka ia akan mengalami emosi yang sama dengan karakter tersebut. Dengan kata lain, pembaca menempatkan diri ke dalam karakter tersebut dan secara emosional seolah-olah mengalami cerita yang sama. Sehingga perjuangan tokoh utama menjadi perjuangannya untuk mengatasi problem pembaca sendiri. Tentu saja karakterisasi tersebut harus konsisten. Karakterisasi yang tidak konsisten akan menyebabkan pembaca bingung.

2.      Antisipasi
Ketika kita membaca sebuah buku, tentu saja kita akan mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya. Untuk membuat pembaca mengantisipasi apa yang akan terjadi, mereka harus tahu apa yang diharapkan/direncanakan untuk terjadi.

Antisipasi itu bisa bermacam-macam. Sesuatu yang pasti, misal besok matahari pasti terbit. Atau yang tidak pasti, misalnya besok belum tentu hujan. Atau yang tidak mungkin terjadi, misalnya manusia bisa bernapas di ruang hampa.

Kita perlu pengetahuan untuk menentukan kemungkinan/peluang dari peristiwa yang akan terjadi. Pengetahuan itu didapat dari pengalaman. Pengalaman dihasilkan dari repetisi. Jika sesuatu terjadi dalam cara yang sama di bawah keadaan yang sama maka logis jika peristiwa akan berlanjut dengan cara yang sama. Itulah yang akan memandu antisipasi dari pembaca.

Informasi yang diberikan di dalam cerita yang berulang juga membangun antisipasi. Semakin sering repetisi tersebut semakin tinggi pula antisipasinya. Tapi,  jika yang terjadi selalu sesuatu yang sesuai antisipasi kita, pasti membosankan ya, Sobat JO. Nah, di sinilah poin ketiga bermain.

3.      Twist / Surprise
Antisipasi terhadap peristiwa bisa jadi menyenangkan atau tidak bagi pembaca. Baik antisipasi yang menyebabkan harapan/rasa takut atau bisa menyebabkan kegembiraan ataupun kesedihan. Oleh karena itu, saat penulis ingin memberikan informasi dalam cerita. Hendaknya ditata dengan baik agar tercipta antisipasi. Sehingga twist cerita bisa menghasilkan efek yang mengejutkan bagi pembaca.

Tinggi rendahnya surprise ditentukan oleh tinggi rendahnya antisipasi dan tingkat kesalahan dugaannya.

4.      Suspense
Suspense terjadi apabila pembaca ragu-ragu apakah tokoh utama akan berhasil menghadapi hambatannya. Suspense bukan elemen dalam cerita melainkan reaksi pembaca terhadap cerita.

Yang dibutuhkan pertama kali untuk mencapai suspense adalah kehendak. Cerita tanpa kehendak tidak akan menimbulkan suspense. Kehendak / intensi itu menciptakan tujuan. Jika tidak ada hambatan maka tak ada keraguan bagi kehendak untuk mencapai tujuan. Jika tidak ada keraguan maka tidak ada suspense. Cerita berjalan dengan lurus langsung menuju tujuan.

Tinggi rendahnya suspense ditentukan oleh tiga hal, yaitu identifikasi, kemungkinan protagonis berhasil atau gagal mencapai tujuan (harus imbang), dan resiko bila protagonis gagal mencapai tujuannya.

5.      Rasa Ingin Tahu
Secara bertahap memberikan informasi/jawaban yang terjadi kepada pembaca akan membuat pembaca semakin merasa terlibat ke dalam cerita. Dengan begitu pembaca menjadi semakin ingin tahu apa yang akan terjadi.

6.      Cepat Lambatnya Cerita
Kalian pernah nggak membaca buku dan merasa ih ceritanya lambat banget sih. Nggak kelar-kelar. Cepat lambatnya cerita itu terjadi di dalam pikiran pembaca. Tapi, penulis juga punya andil dalam menyebabkan hal tersebut.

Bagaimana cara agar cerita kita dirasa tidak lambat oleh pembaca? Nah, elemen-elemen yang Mimin sudah ceritakan sebelumnya itu sangat mempengaruhi poin yang satu ini. Antisipasi dan suspense itu menyebabkan cepat atau lambatnya cerita. Kedua poin tersebut membutuhkan tujuan. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita menunjukkan apa tujuan cerita ini di awal dan apa sih konfliknya.

7.      Kalkulasi
Sobat JO, pernah nggak kalian merasa sangat lelah ketika membaca sebuah buku? Selain karena genre bukunya yang tidak kalian sukai, kesalahan kalkulasi penulis itu yang menjadi penyebab kepenatan/keletihan. Oleh karena itu, penulis harus memberikan estimasi yang tepat mengenai jarak terhadap tujuan. Tidak ada tujuan maka tidak ada jarak yang bisa diperkirakan.

Dengan adanya tujuan itu membuat pembaca tetap berada dalam cerita. Alias betah untuk melanjutkan membaca. Sebelumnya Mimin sudah sebutkan, dalam mencapai tujuan pasti ada hambatan. Dengan adanya hambatan-hambatan itu, pembaca sudah menyiapkan tenaga untuk mengikuti cara penyelesaian cerita yang lazim sesuai besarnya hambatan.

Jika cerita berakhir melampaui estimasi titik akhir ini, pembaca akan merasa lelah. Sebaliknya, jika terlalu cepat, maka pembaca akan merasa tidak puas karena kelebihan energi.

Nah, jarak antara konflik, hambatan, dan penyelesaian itulah yang harus penulis perkirakan dengan tepat. Jangan sampai ceritanya sudah selesai sebenarnya, tapi masih saja ada cerita baru yang disisipkan. Anti klimaksnya jadi kepanjangan, deh. Atau ceritanya sudah berat di depan, tapi penyelesaiannya kok cuma begitu saja.


Elemen-elemen di atas bertujuan agar pembaca dapat merasa puas dengan cerita yang penulis ceritakan. Dengan begitu kita bisa mendapat respon yang,  wih keren!”

Sumber gambar:http://www.math.caltech.edu/~kechris/images/magritte.jpg