Tuesday, December 22, 2015


Oleh : Orchid

Bagi kalian-kalian yang kemarin tidak sempat menyimak #MalmingMenulis, kalian tidak perlu khawatir atau capek-capek menscrolling TL @JOPHouse. Karena mimin akan merekapnya di sini. 

Apa yang akan kita lakukan jika buku kita sudah terbit? Apa perjuangan kita sudah selesai? Ternyata belum, Sobat JO! Kita masih harus melakukan promosi.  Kali ini, mimin akan membahas soal promosi.

Sebelumnya, apakah promosi itu? 

Promosi adalah upaya untuk menawarkan produk  atau jasa dengan tujuan untuk menarik calon konsumen untuk mengkonsumsinya 

Nah, apakah penulis perlu mempromosikan bukunya?  Jawabannya adalah perlu. Tentu saja, penerbit sudah mempromosikan buku kita. Tapi, mereka juga mempromosikan buku lainnya. Banyak sekali buku yang terbit di suatu penerbit buku setiap harinya.  Jika Sobat JO tidak ikut mempromosikan bukunya,  tentu saja buku Sobat JO akan tersaingi oleh buku lainnya.  Jadi, kalau sang penulis tidak ikut serta mempromosikan, buku yang ditulis hanya akan diketahui selama 2-3 bulan saja. Karena penerbit harus mempromosikan buku baru lainnya. 

Bagaimana dengan buku Sobat JO? Karena sudah tidak ada promosi yang dilakukan oleh penerbit, bukumu dilupakan begitu saja. Padahal, kamu sudah capek-capek menulisnya. Sampai lupa makan dan lupa tidur.  Sayang sekali, kan?  Usaha yang kamu lakukan selama ini akan sia-sia hanya karena kamu tidak melakukan promosi. Jika Sobat JO tidak melakukan promosi, bagaimana para calon pembaca bisa mengetahui tentang bukumu? 

Lalu, bagaimana cara kita berpromosi? 

Tentu saja banyak sekali cara untuk berpromosi. Yang paling mudah adalah mempromosikannya di sosial media. Itu paling mudah dan murah. Karena tidak menghabiskan uang yang banyak. Lagian, jaman sekarang siapa sih yang tidak mempunyai akun sosial media? Sebarkan info menarik tentang bukumu—tentu saja info yang membuat penasaran—itu ke seluruh sosial media yang kamu punya. Mulai dari twitter, path, instagram, ask.fm dan masih banyak lagi. Lumayan kan, kalau followersmu itu banyak.  Selain di sosial media, kamu juga bisa menawarkan bukumu ke teman-teman terdekatmu—yang tentu saja suka membaca buku.  Kamu juga bisa mengadakan kuis. Yang menang kuis itu, kamu berikan bukumu yang baru saja terbit. 

Sobat JO bisa melakukan Blog Tour dengan meminta para blogger meresensi karyamu. Sobat JO juga bisa meminta tolong teman untuk mempromosikan bukumu. Nah, ada cara lain yang lumayan menghabiskan uang. Yaitu dengan cara mengiklannya di radio-radio. Atau meminta penulis terkenal untuk mengendorsenya.  Itu adalah cara yang sedikit mahal, tapi berpeluang besar untuk membuat bukumu laris.

Banyak sekali cara yang bisa Sobat JO lakukan untuk mempromosikan buku. Jangan sampai kalian kehilangan akal untuk menarik perhatian para pembaca, ya?

“You can write the most wonderful book in the world.
But if people don’t know about your book they won’t know to buy it.” 

― Madi PredaHow To Promote and Market Your Book


Sumber gambar: http://denisewakeman.com

Friday, December 18, 2015


Oleh: Edelweiss
Halo, Sobat JO! Setelah sekian banyak artikel mengenai kepenulisan, Mimin juga ingin nih, membagikan tentang cara mempromosikan karya. Buat apa kita punya karya tanpa penikmat? Apa arti tulisan tanpa pembaca? Bagai taman tak berbunga, sih, kalau kata lagu Pujangga. Maka dari itu kita harus pandai mencari penikmat karya kita.
Untuk kalian yang menerbitkan di penerbitan indie jelas benar-benar harus bisa mempromosikan karya, karena ia hampir benar-benar melakukan semua proses sendiri. Nah, berbeda dengan mereka yang menerbitkan karyanya di penerbit konvensional atau penerbit mayor. Para penulis seperti ini terkadang hanya bergantung pada penerbit untuk mempromosikan karya. Hal ini tidak jarang menjadi masalah. Padahal, mereka seharusnya juga ikut mempromosikan karya. Beberapa mungkin merasa malas untuk melakukannya, atau ada beberapa alasan lain yang menjadikan mereka tidak melakukan promosi ini. Alhasil, bisa jadi penjualan buku penulis tersebut tidak seindah yang ia bayangkan. :'(
Kali ini Mimin akan memberikan beberapa tips untuk kalian dalam mempromosikan karya kalian sendiri. Duh, masa penulisnya sendiri justru tidak mau mempromosikan karyanya? Padahal, kan, kalau tulisan kalian laris, kalian juga yang akan menuai hasilnya. Entah itu nama kalian menjadi lebih dikenal, royalti yang lebih banyak, atau  mungkin juga tulisan kalian bisa dicetak ulang. Yuk, kita simak tipsnya.
1.      Buat Orang Penasaran
Hal ini cukup penting karena rasa penasaran sendiri menjadi salah satu faktor yang membuat pembaca membeli buku kalian. Sebisa mungkin promosikan buku sehingga pembaca penasaran dengan tulisan kalian. Cara-caranya bisa mulai dari memberitahu mereka hal-hal menarik yang bisa ditemukan dalam cerita, memberikan penggalan adegan yang ada di buku, atau yang ekstrim adalah membuat konflik dramatis di media sosial tentang konten dalam buku kalian.
Pokoknya sebisa mungkin buat calon pembaca tertarik dengan karya kalian dan membelinya ketika melihat promosi kalian.
2.      Beritahu Orang Mengapa Harus Membaca Tulisan Kalian
Selain karena penasaran, ada beberapa orang yang mementingkan alasan mengapa harus membeli karya kalian. Terutama untuk jenis buku non-fiksi. Kalian bisa menjelaskan manfaat yang didapatkan jika membaca buku tersebut. Kalian juga bisa menjelaskan seseru apa sih konflik yang terkandung oleh di dalam cerita. Beritahu para calon pembacamu mengapa mereka harus membeli dan membaca tulisan kalian?
3.      Adakan Giveaway atau Blog Tour
Nah, ini dia yang selalu disenangi oleh orang-orang. Yap, gratisan. Dengan cara ini kalian bisa memperkenalkan buku kepada khalayak ramai. Tentu yang namanya giveaway dan blog tour tidak hanya diikuti oleh sedikit orang. Itu adalah salah satu cara agar masyarakat menjadi familiar dengan judul tulisan, nama, lalu tertarik dan penasaran sehingga akhirnya masuklah karya kalian ke dalam koleksi mereka.
Jadi, jangan sungkan-sungkan, ya, mengadakan giveaway seperti itu. Selain itu, hal itu juga bisa menjadi perekat kalian dengan para pembaca dan menjadi lebih akrab.
Itu dia tips-tips yang bisa Mimin berikan. Semoga kalian bisa terbantu dalam promosi dengan tips-tips di atas. Yang paling penting adalah jangan sungkan untuk mempromosikan sebuah karya. Bagaimanapun juga hasil akhirnya akan berbalik ke diri sendiri. Untuk yang punya tips lain bisa, kok, menambahkan lewat kolom komentar di bawah ini.


Sekian dari Mimin, ya. Sampai jumpa di lain waktu dan selamat menulis, Sobat JO!


http://www.albertpalacci.org/wp-content/uploads/2014/06/internet-marketing.jpg

Monday, December 14, 2015




Oleh: Ixora & Edelweiss
Halo, Sobat JO! Kalian masih ingat, kan, dengan materi yang disampaikan  di #MalmingMenulis kemarin? Yak, tentang kalimat pembuka yang menarik. Di sini Mimin mau merangkumkan itu. Khusus buat kalian, terutama yang tidak sempat menyimak. Yuk, langsung saja!
Sobat JO, pasti pernah mendengar kalau kalimat pembuka itu menentukan apakah tulisan kalian akan dibaca sampai akhir atau tidak oleh pembaca, penerbit, ataupun redaktur. Memang bukan kalimat pertama yang benar-benar menentukan nasib tulisanmu. Kadang redaktur, pembaca, dan penerbit masih memberikan toleransi sampai beberapa halaman. Menimbang apakah tulisan kalian akan dibaca sampai akhir, diterbitkan, dimuat di koran atau tidak. Mimin sendiri, biasanya akan menyelesaikan membaca satu bab dulu untuk menentukan akan melanjutkan membaca sebuah buku atau tidak.
Namun terlepas dari toleransi tersebut, karena efeknya yang besar, kalimat pertama harus dibuat semenarik mungkin. Lalu, bagaimana caranya? Nah, Mimin akan memberikan tips-tipsnya kepada kalian.
Pertama, jangan gunakan kata pembuka yang sudah banyak digunakan penulis di dunia. Contohnya, “Sore yang cerah...”, “Pada suatu hari...”. Pokoknya, jangan.
Kedua, buatlah kalimat yang membuat penasaran. Misal saja, “Hari ini, Adnan resmi menjadi pencuri.” Kalimat ini akan membuat pembaca terikat dengan ceritamu dan  mau membaca ceritamu hingga akhir.
Ketiga, usahakan pembuka memberikan informasi mengenai potensi konflik yang ada dalam cerita. Opening harus mampu menggiring pembaca untuk tahu bahwa di dalam cerita ada konflik yang menarik untuk diikuti.
Keempat, mulailah cerita dengan adegan-adegan yang tidak biasa. Adegan sedang duduk di taman, di kendaraan, bangun tidur, menatap senja adalah adegan-adegan yang biasa. Coba untuk berani memulai cerita dengan adegan yang mengejutkan dan di luar bayangan pembaca. Menggelar resepsi di sebuah makam, misalnya.
Terakhir, jangan penuhi kalimat pembukamu dengan deskripsi yang panjang dan bertele-tele. Pembaca tidak suka membaca deskripsi yang panjang (apalagi di awal cerita) karena itu menjemukan.
Nah, sekian dulu artikel ini. Sudah semua poin Mimin rangkum di sini. Sampai jumpa lain waktu, Sobat JO! Selamat menulis untuk semuanya!

Sumber gambar : https://www.pinterest.com/pin/557461260103092029/

Thursday, December 10, 2015


Oleh: Three Friends in Winter



Halo, Sobat JO! Mimin datang lagi dalam artikel Kamis. Minggu ini, Mimin mau membahas mengenai e-book. Beberapa waktu lalu Mimin pernah sedikit mengulas mengenai Pro-Kontra membaca e-book. Kali ini Mimin ingin membahas lebih jauh mengenai e-book. 

E-book itu sebenarnya apa, sih? E-book merupakan buku yang berbentuk digital. Cara untuk mendapatkannya adalah dengan mengunduh file tersebut melalui situs-situs atau aplikasi penyedia e-book, seperti contohnya Play Book dari Google Store, atau akhir-akhir ini ada aplikasi buatan Indonesia yang khusus untuk menyediakan e-book yaitu Buqu. 

E-book biasanya tersedia dalam beberapa format seperti pdf, teks polos, jpeg, lit, docx, dll. Untuk dapat membaca e-book biasanya terdapat aplikasi untuk membukanya. Ada pula aplikasi-aplikasi reader tertentu, seperti Kindle, Play Book, dll yang membuat pengalaman membaca e-book seperti sedang membaca buku fisik. Jadi, ketika kita membalik halaman e-book seperti sedang membalik buku yang sesungguhnya karena bentuknya yang 3D.

Mengenai kelebihan dan kekurangan e-book, sebenarnya Mimin yakin pasti banyak yang sudah tahu, sebelumnya Mimin sudah pernah menyebutkan kelebihan-kekurangan e-book di lini masa JOPH.  Tapi,Mimin akan merangkumnya sekali lagi untuk kalian. 

Kali ini Mimin mau memulai dari kekurangannya terlebih dahulu. Apa sih kendala yang menghalangi kita membaca e-book? Kalau Mimin sih kendala terbesarnya adalah mata sering merasa lelah kalau membaca e-book. Tapi, nih Mimin ingin berkomentar mengenai hal ini. 

Berapa banyak sih waktu yang kalian berikan untuk membaca status di media sosial atau menonton video lewat gadget yang kalian miliki? Indonesia adalah salah satu negara pengguna jejaring sosial terbanyak di dunia. Mimin yakin dalam sehari kalian menghabiskan banyak waktu untuk menggunakan gadget, bisa jadi untuk stalking status medsos mantan (eh itu , sih Mimin) atau untuk menonton. Tapi, mengapa untuk membaca buku lewat gadget kalian merasa lelah? :)

Padahal membaca buku, kan manfaatnya banyak sekali. Apalagi membaca e-book. Selain harga buku digital lebih murah dan tidak perlu pergi jauh-jauh untuk membelinya, kita juga membantu mengurangi penebangan pohon untuk buku. 

Jika penerbit menjual satu juta copy dengan 250 halaman per copynya untuk satu judul buku. Itu berarti diperlukan 12.000 pohon hanya untuk memproduksi satu judul buku saja (sumber: “How to Go Green: Books” by Cindy Katz and Jennifer Wilkov). Itu artinya kita punya andil dalam perusakan lingkungan. - dikutip dari: http://heptajayawardana.blogspot.co.id/

Tapi, bagaimana sih penggunaan e-book di Indonesia? 

sumber foto: http://harianti.com

Menurut data, penduduk Indonesia saat ini mencapai lebih dari 250 juta dan pengguna internet di Indonesia sudah tumbuh hingga 139 juta orang. Setiap tahunnya terdapat perkembangan yang signifikan. Namun, hal tersebut belum diikuti dengan tren membaca buku melalui aplikasi digital. Bahkan, seperti yang pernah JO Team lansir di artikel Kamis sebelumnya, indeks minat baca Indonesia masih sangatlah rendah. Jika menurut data survei Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2013, penggunaan internet lebih banyak bertujuan untuk mengakses media sosial (sejumlah 61.23%). Sayang sekali ya jika dari 139 juta pengguna internet tersebut tidak banyak yang memanfaatkan internet untuk mendapatkan akses membaca buku lebih banyak. Padahal saat ini, tren membaca buku digital di berbagai negara sudah meningkat pesat. 

Menurut Sobat JO, kurang apalagi sih e-book? Aplikasi untuk membaca banyak yang gratis, tinggal unduh saja. Harga buku jauh lebih murah daripada membeli buku fisik. Tidak makan tempat untuk menyimpan koleksi. Mudah diakses, dan lebih ringan untuk dibawa ke mana pun. Jika dalam sehari kita ingin membawa 100 buku pun juga bisa, tas tidak terasa berat. Hehehe. Internet juga saat ini mulai menjangkau hampir seluruh nusantara, dan masih dalam pengembangan agar bisa lebih banyak lagi yang dapat mengakses internet. 

Kalau Mimin sih suka membaca e-book karena kalau ada bagian-bagian dari buku yang menarik bisa ditandai tanpa merusak buku, juga tidak perlu banyak ruang penyimpanan. Bagaimana dengan kalian?  

Sumber foto: http://www.amplbooks.com/




Monday, December 7, 2015

Oleh: Three Friends in Winter

Selamat berawal pekan, Sobat JO. Di hari Senin seperti ini, kalian pasti memulai dengan semangat, kan? Memulai hari dengan semangat itu penting! Mimin kali ini datang untuk memberikan ringkasan materi #MalmingMenulis yang diadakan pada hari Sabtu kemarin. 

Tema minggu lalu adalah: Membuat Sinopsis. 

Beberapa waktu lalu JOPH baru selesai menggelar lomba menulis bertajuk #WayBackHome nih. Sudah baca pengumuman pemenang, kan? Yang sudah membaca artikel pengumuman pasti tahu dong, curcolan JO team sepanjang masa penjurian?

Yup, banyak sekali penulis yang tidak menyertakan sinopsis dalam e-mail. Kalau pun ada, itu pun tidak sesuai. Tidak sedikit juga yang salah mengirimkan blurb sebagai sinopsis. 

Di sini, masih ada yang tidak paham dengan perbedaan blurb dan sinopsis, kah? Blurb adalah penjelasan singkat di sampul belakang buku yang sudah terbit. Tujuannya untuk menarik minat pembaca (pembeli). Blurb biasanya dibuat semenarik mungkin dan membuat penasaran. Sinopsis tentu saja juga harus menarik, tapi tujuannya sedikit berbeda. Sinopsis bertujuan menarik editor untuk memilih naskahmu. 

Jadi, bagaimana sih cara membuat sinopsis agar naskahmu dilirik penerbit?

Berikut Mimin akan  memberi tips-tips untuk membuat sinopsis yang ditujukan kepada penerbit:

1. Sinopsis itu tidak perlu memakai bahasa yang berbunga-bunga. Pakailah bahasa yang lugas dan to the point.
2. Tidak perlu memasukan opini, pendapat, kesan pesan seperti: Ini adalah cerita yang unik, menarik, dan belum pernah ada sebelumnya... bla bla... 
3. Tidak perlu juga membuat kalimat-kalimat yang menggantung untuk menarik rasa penasaran editor seperti: Bagaimana kelanjutannya? Simak dalam naskah ini. 
Tujuan penerbit meminta disertakan sinopsis adalah agar editor dapat memahami keseluruhan cerita sebelum ia membaca lebih detil mengenai naskah. Ini juga agar pekerjaan editor bisa lebih efektif. 


Nah, itu tadi tips dasar, sekarang Mimin akan memberitahu apa saja yang harus ada dalam sinopsismu.

1. Ide dasar 
Penulis wajib memahami ide dasar naskah yang ia tulis. Sederhanakan idemu menjadi sebuah kalimat. Ini adalah yang kita sebut sebagai premis, hindari deskripsi yang berbunga-bunga. Daripada membuat deskripsi, sebuah novel perjalanan mencari arti hidup bla... bla... Lebih baik langsung saja tulis: tentang seorang pemuda yang melakukan perjalanan dari Jakarta mendaki puncak Mahameru bla... bla...

2. Inti konflik
Jelaskan inti konflik dari ceritamu. Jika perlu ceritakan per bab, tapi setiap bab cukup satu paragraf singkat saja. Sebutkan peristiwa-peristiwa yang penting dalam mendukung alur ceritamu. Jika ingin memasukkan dialog, cukup beberapa saja yang signifikan. 

Walau ringkas, sinopsis harus memuat awal-akhir dari ceritamu.  Perlu diingat, meskipun sinopsis adalah ringkasan, kita perlu mempertimbangkan prinsip sebab-akibat. Ringkas bukan berarti sulit dimengerti. Perhatikan alur penjelasanmu dengan baik, dan pastikan itu logis. :)

3. Tokoh cerita
Tidak ada cerita tanpa tokoh, bukan? Maka dari itu, tampilkan seluruh tokoh yang ada dalam ceritamu, dan apa peran mereka masing-masing dalam cerita. Siapa tokoh protagonis, antagonis, pendukung, dll.

4. Masalah dan tantangan
Jika tidak ada konflik, maka sebuah cerita tidak akan bermula. Sebuah cerita pasti memiliki sebuah masalah yang harus dihadapi oleh tokoh utama. Tunjukan apa masalah tokoh utama dan tantangannya dalam menyelesaikan hal tersebut dalam ceritamu.

5. Penyelesaian konflik

Perlihatkan bagaimana konflik dipecahkan dan diakhiri. Seperti yang Mimin sebutkan diawal, bongkar semua dalam sinopsis. Jangan ada rahasia di antara kita  editor dan calon penulis. Kalimat-kalimat menggantung seperti Apakah si A bisa mencapai tujuannya? Simak dalam naskah. Itu tidak perlu. Tulis saja, A akhirnya berhasil mencapai  tempat yang diinginkan. 

Nah, setelah itu semua kamu lakukan, hal terakhir yang harus kalian pastikan adalah sinopsis harus tetap menarikIngat, yang membaca sinopsis itu adalah editor yang akan memutuskan untuk menerima naskahmu atau tidak. Tujuan sinopsis adalah untuk merayu editor agar meneliti naskahmu lebih detil. Sinopsis adalah gerbang pertamamu untuk melakukannya. Caramu mempresentasikan naskah sangat mempengaruhi. Ringkas juga bukan berarti tidak menarik untuk dibaca. :)

Pusing ya? Sinopsis harus ringkas, logis, juga menarik. Belum lagi ratusan halaman itu harus kamu ringkas dalam 1-2 halaman saja, dan itu harus menyertakan awal hingga akhir. Jika penulis paham benar dengan apa yang ingin ia katakan dalam naskah, tentu penulis tahu apa kelebihan dari naskahnya. 

Maka dari itu, pahami premis ceritamu, siapa tokohnya, apa konfliknya, dan bagaimana penyelesaian ceritanya. 


Sekian dulu #MalmingMenulis, semoga bisa diterapkan untuk naskah-naskah kalian berikutnya, ya. Semangat menulis!

Tuesday, December 1, 2015


Oleh: Orchid dan Ixora

Selamat malam, Sobat JO! Untuk kalian yang ketinggalan #MalmingMenulis kemarin, JO Team sudah menyiapkan rangkumannya untuk kalian. Yuk, disimak.

Dalam sebuah buku, judul memegang peranan yang sangat penting. Apa, sih yang kalian lihat pertama kali saat akan membeli novel? Pasti judul, bukan? Tentu saja judul yang menarik akan membuat pembaca tertarik untuk membeli dan membaca novelmu.

Bagi sebuah perusahaan penerbitan, judul dan paragraf pembuka yang menarik tentu saja akan memiliki daya tarik tersendiri. Lalu, judul seperti apa yang disebut menarik? Mari kita bahas satu persatu:
1.    Judul tidak boleh menggambarkan seluruh isi cerita. Apalagi jika itu menyangkut ending cerita. Misalkan: Cinta Tak Terbalas, Friendzone.
2.    Judul harus mudah diingat. Gunakan kata atau kalimat yang pendek untuk judul agar mudah diingat.
3.    Judul tidak boleh membosankan.

Nah, untuk membuat judul yang menarik, bagaimana caranya, Min? Berikut tipsnya:
·         Judul bisa diambil dari nama orang atau nama tempat yang berhubungan dengan novelmu. Misalnya: Jurrassic Park, Cold Mountain, Mystic River.
·         Kamu juga bisa memplesetkan ungkapan yang sedang populer. Cari tahu kata atau ungkapan yang sedang ngetren akhir-akhir ini. Contohnya: Baper; Bawa Perasaan.
·         Sobat JO juga bisa mengambil satu kata keren dari novelmu untuk dijadikan judul. Misal: Brisingr, Nocturnal, Divergent. 
·         Menggabungkan dua kata menjadi satu kesatuan yang unik. Misalnya: Rectoverso, MaMiMoMa, Belanglicious. 
·         Menggunakan satu kalimat panjang asalkan mudah diingat dan menggoda, juga tidak masalah. Contoh: Daun yang Jatuh Tidak Akan Pernah Membenci Angin, 10 Things to Do Before I Die.
·         Menyusun kata-kata yang membuat orang penasaran dan bertanya-tanya. Contohnya: Knocked Out By Nunga Nunga. 
·         Judul juga bisa aktivitas yang dilakukan dalam novelmu. Contoh: Finding Nemo, Waiting to Exhale.

Seringkali, penulis menemukan judul yang sama dipakai oleh beberapa buku, sebenarnya tidak masalah selama kontennya menarik, contohnya buku Ayah-nya Irfan Hamka dan Ayah-nya Andrea Hirata. Karena memang isinya sama-sama bagus, walaupun judulnya sama, tetap saja keduanya diterima oleh masyarakat. Tapi, tentu saja jika kalian memiliki sebuah naskah, usahakan jangan memiliki judul yang sama dengan buku yang sudah beredar di pasaran agar tetap memiliki nilai lebih dan keunikan sendiri. Oiya, sering-sering juga main ke toko buku untuk melihat judul buku yang sedang beredar ya, sehingga referensi kata kita lebih banyak dan menghindari pemakaian judul yang sama karena ketidaktahuan kita.

Mengenai pemilihan bahasa dalam pemakaian judul,  sesuaikan saja dengan isi naskah. Bahasa apa yang lebih cocok dan 'ear catching' karena ini masalah selera.

Nah, sekian rangkuman #MalmingMenulis. Semoga bermanfaat dan selamat membaca.

Sumber gambar: http://www.indonesiancyberarmy.com/wp-content/uploads/2014/02/title.jpg


Friday, November 27, 2015



Oleh: Edelweiss

Halo, Sobat JO! Hmh… sudah lama ya, tidak berjumpa dalam artikel. Beberapa minggu sebelumnya, JO Team sibuk dengan penjurian #WayBackHome. Tapi, kali ini kami kembali untuk memberikan info-info menarik mengenai buku, kepenulisan, dll. Oh ya, sekali lagi Mimin mau mengucapkan selamat kepada  pemenang lomba, tiga calon buku perdana dari JOPH. 

Nah, pada kesempatan kali ini, Mimin mau menjelaskan kepada kalian tentang perbedaan antara penerbit mayor dan penerbit indie. Berdasarkan sistem penerbitannya, penerbitan dibagi menjadi dua macam, yaitu: konvensional dan indie atau self publishing. Tentu saja untuk Sobat JO hal ini tidak asing. Tapi, jujur deh, banyak dari kalian yang pasti masih bingung dengan perbedaan dua jenis penerbitan itu, kan? Oleh karena itu, di artikel kali ini Mimin mau menjelaskannya kepada kalian. Yuk, langsung saja.

1.    Penerbitan Konvensional

Penerbit jenis ini kebanyakan kita kenal dengan sebutan penerbit mayor. Eits, pemahaman ini bisa jadi benar tapi juga salah. Penerbit mayor kebanyakan memang bergerak di lini konvensional, tapi tidak berarti penerbitan konvensional adalah penerbit mayor. 

Lantas, apa sih yang dimaksudkan dengan penerbitan konvensional?

Satu hal yang paling mendasar mengenai penerbitan konvensional adalah keseluruhan proses terbit buku merupakan tanggung jawab penerbit.  Dari seleksi naskah  hingga buku sampai ke tangan pembaca. Jadi, dari pihak penulis tidak perlu ribet dengan produksi dan distribusi buku. Penulis hanya mengurusi tentang naskah dan revisi naskah. Tidak perlu ribet apalagi mengeluarkan uang. Setelah naskah rapi, ia hanya perlu duduk manis dan ikut berpromosi seandainya nanti bukunya sudah terbit. Malah, penulis berhak mendapatkan pembagian keuntungan untuk setiap buku yang berhasil terjual. 

Terdengar mudah, ya jika menyerahkan naskah kepada penerbit konvensional? Kekurangannya, kita harus bersaing ketat dengan banyak penulis lain agar karya kita bisa dilirik oleh penerbit. Namun, semua perjuangan itu terbayarkan ketika kita mendapatkan beberapa exemplar buku sebagai bukti terbit. 

Perasaan senangnya pasti tak tergambarkan. Akhirnya, naskahku bisa dinikmati pembaca. Kalau mampir ke toko buku baik digital maupun konvensional, online atau offline, akan ada perasaan bangga melihat buku terpampang di jejeran rak buku. Bayangkan naskah kita sudah berhasil mengalahkan naskah-naskah lain yang masuk ke meja redaksi penerbit. Itu artinya tulisan kalian cukup keren! Kalian harus bangga dengan hal itu. 

Contoh-contoh penerbitan konvensional pasti sudah tidak asing untuk Sobat JO, nah salah satunya adalah Jendela O Publishing House. JOPH merupakan penerbitan yang bergerak di lini penerbitan konvensional. Meskipun belum sebesar penerbitan lain yang sudah lama bergerak, namun JOPH tidak memungut biaya sedikit pun kepada penulis. Dari seleksi naskah, editingproof reading, tata letak, sampul, hingga proses cetak dan distribusi semua ditangani oleh JO Team. Kalian tidak perlu repot-repot memikirkan biaya apa pun kecuali kapan terima pembagian royalty. Hehehe. Dan tentu saja seberapa banyak buku kalian terjual. 

2.    Penerbitan Indie

Berbeda dengan penerbitan konvensional, penerbitan jenis ini menuntut keikutsertaan penulis dalam mengurusi segala aspek untuk terbitnya suatu buku. Mulai dari menyunting, menentukan tata letak, desain sampul, hingga distribusi dan promosi. Namanya juga self publishing, penulis wajib pro-aktif dalam menentukan nasib naskahnya. Penerbit hanya bertugas untuk mencetak ketika penulis melakukan order

Meski semua harus dilakukan oleh penulis, penerbitan indie juga menyediakan jasa yang dibutuhkan oleh penulis. Hanya saja, tentu semua itu harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Tergantung penerbitan yang dipilih. 

Inilah yang menjadi perbedaan mendasar antara penerbitan konvensional dan penerbitan indie. Di sistem konvensional, penerbitlah yang ngoyo memikirkan nasib naskah, sedangkan sistem indie, penulislah yang harus mengurus semua hal. Termasuk modal untuk mencetak buku.

Keuntungan dari penerbitan indie adalah naskah terbit tanpa melalui proses seleksi. Naskah apa pun boleh terbit lewat jasa penerbitan tersebut. Selama naskah tidak menyinggung SARA, dll, yang telah ditetapkan oleh penerbitan itu. Kualitas konten merupakan tanggung jawab dari penulis. 

Meski terdengar merepotkan, bagi beberapa kalangan penulis, buku jenis penerbitan ini sangat berguna. Terkadang ada konten-konten naskah yang sulit untuk diterima penerbitan konvensional karena tema terlalu asing atau naskah terlalu risky. Seperti contoh saja, novel yang berjudul Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Novel Dee yang satu ini awalnya diterbitkan secara indie. Tapi, naskah ini terbukti berhasil merebut hati pasar. Dan tentu saja, perjuangan Dee untuk membuat naskah ini dikenal tidaklah mudah. 

Penerbitan indie juga berguna bagi penulis yang ingin memproduksi bukunya hanya untuk kalangan terbatas saja, atau ingin mencoba pasar. Hal ini yang biasa dimanfaatkan dengan baik oleh kelompok yang misal melakukan penelitian dan ingin mempublikasikan hasilnya kepada masyarakat melalui buku.

Begitulah perbedaan antara penerbitan konvensional dan indie. Semua memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Pada dasarnya, meskipun menerbitkan naskah baik secara indie maupun konvensional, penulis harus aktif dalam mempromosikan naskahnya. Mengenai hal ini akan Mimin bahas lebih lanjut di artikel-artikel lainnya. 

Sekarang Sobat JO sudah tidak bingung lagi dengan perbedaan indie dan konvensional, kan?


“Content is King. Promotion is Queen” ― Bob Mayer

Sumber gambar: http://nisa17.blogdetik.com/author/nisa17/

Sunday, November 15, 2015

Hallo, Sobat JO! 

Wah nggak terasa sudah 1 bulan 15 hari sejak lomba #WayBackHome ditutup. Pasti yang sudah mengirimkan naskah ke redaksi@jophouse.com saat ini sedang dag-dig-dug menanti pengumuman pemenang dari JO Team. Admin saat ini sudah memegang nama-nama yang menjadi pemenang Lomba #WayBackHome JOPH 2015.

Sebelumnya, kami segenap tim redaksi Jendela O Publishing House mengucapkan terima kasih atas partisipasi kalian dalam mengikuti lomba menulis #WayBackHome. Total naskah yang masuk adalah sekitar 137 naskah. Beberapa ada yang sangat menarik dan memiliki teknik menulis yang baik. Namun, banyak pula yang mengirimkan naskah yang kurang rapi. Hal ini tentu saja mengurangi penilaian kami terhadap naskah tersebut.

Hal lainnya, JO Team jadi ingin curhat sedikit mengenai behind the scene penjurian lomba ini. Duh, banyak sekali naskah yang tidak menyertakan sinopsis seperti yang telah ditulis di persyaratan lomba. Alhasil, kami harus membaca banyak sekali naskah setebal 100-177 halaman (bahkan ada yang tebalnya mencapai 200 halaman lebih) tanpa sinopsis. Terbayang kan, Sobat JO jika harus membaca 137 novel dalam satu bulan tanpa tahu isi ceritanya sama sekali? :)

Sebelum curhat lebih panjang lagi, lebih baik Admin umumkan saja. Berikut naskah-naskah terpilih Lomba #WayBackHome dari Jendela O' Publishing House 2015.




 Selamat kepada para pemenang!

Nah, mengenai naskah-naskah lainnya. 
Jika sebelumnya kami sempat mengumumkan bahwa naskah yang tidak menang namun kami anggap layak akan diterbitkan, sayangnya meskipun ada beberapa kandidat yang cukup bagus, JO Team memilih untuk tidak mengambil naskah-naskah tersebut. Ada beberapa hal yang mendasari, salah satunya dikarenakan isi cerita yang kurang sesuai dengan karakter penerbitan kami.
 
Sebagai gantinya, untuk beberapa naskah yang kami anggap menarik, namun masih belum bisa kami terbitkan, JO Team akan mengirimkan komentar singkat atas naskah tersebut. Silahkan cek e-mail ya pada hari Senin.

Bagi yang belum menang, jangan bersedih hati. Ditolak oleh satu penerbit, bukan berarti naskah kalian jelek. Bisa jadi memang karena tidak sesuai dengan visi misi penerbit. So, tetap semangat menulis!