Thursday, January 28, 2016


Oleh: Ixora

Halo Sobat JO! Di artikel kali ini, JO Team akan mengupas mengenai nama pena. Ah, kalau kata Shakespeare, “Apalah arti sebuah nama, Min...” Hm, kalau kalian masih berpendapat demikian, maka kalian wajib menyimak artikel ini.

Pernah mendengar nama Joanne? Tidak? Kalau Joanne Rowling? Yup, Joanne Rowling adalah nama asli penulis buku best seller dunia, Harry Potter. Penerbit Bloomsbury meminta Rowling untuk menambahkan inisial pada namanya agar terdengar lebih maskulin dan akhirnya Rowling setuju menggunakan nama pena J.K Rowling. Kata “K” pada inisial nama penanya berasal dari nama neneknya.  Setelah buku Harry Potter laris manis, J.K Rowling menulis buku lagi dengan nama Robert Galbraith. Buku tersebut diberi judul The Cuckoo’s Calling (TCC). Sebelum identitasnya terbongkar, buku tersebut hanya terjual 1500 eksemplar. Cukup lumayan untuk penulis yang mengaku kalau itu adalah buku pertamanya. Tapi apa yang terjadi setelah identitas penulisnya terbongkar? Penjualan TCC mendadak melejit. Jadi, masihkah Sobat JO meragukan arti sebuah nama? ;)

Kalau dipikir-pikir, saat J.K Rowling menulis TCC, ia sudah berada di puncak popularitasnya. Buku apapun yang ia tulis, pasti penerbit akan berlomba-lomba untuk menerbitkannya. Lalu, mengapa sih akhirnya ia menulis menggunakan nama pena? Ia menjawab, “Saya sebenarnya berharap bisa merahasiakan nama Robert Galbraith lebih lama. Sangat menyenangkan bisa menerbitkan buku tanpa harapan muluk-muluk, dan murni bersenang-senang dengan nama yang lain,” ungkap Rowling seperti dikutip Dailymail. Nah, selain alasan yang dikemukakan oleh J.K Rowling tersebut, JO team telah merangkum beberapa alasan lainnya mengapa seorang  penulis akhirnya memilih menggunakan nama pena.

  • Nama aslinya tidak/kurang menjual.

Dalam hal ini, biasanya pihak penerbit yang menyarankan agar penulis membuat nama pena demi kepentingan komersil yaitu agar bukunya lebih mudah diterima oleh pasar.

  • Nama aslinya tidak sesuai dengan konten buku yang ditulisnya.

Nama aslinya mungkin sudah bagus, keren, kebarat-baratan. Namun, jika ia menulis buku yang berbau agama (non-fiksi), pasar (terutama pasar Indonesia) lebih mudah menerima nama yang ke-arab-araban. Jadi, nama penanya disesuaikan dengan genre tulisannya.

  • Tidak percaya diri dengan tulisannya.

Beberapa penulis, biasanya penulis yang aktif di dunia maya, menggunakan nama pena untuk memposting karyanya. Biasanya,hal ini dilakukan karena ia masih kurang percaya diri dengan tulisannya namun membutuhkan banyak masukan dari banyak orang.

  • Banyak penulis dengan nama yang sama.

Kalau keadaannya seperti  ini, memang sebaiknya segera mencari nama pena karena jika sudah banyak penulis dengan nama yang sama dengan kita, akan berpengaruh terhadap personal branding, kepopuleran naskah kita, dan kedekatan kita dengan para pembaca kelak.

Nah, Sobat JO sendiri, apakah ada yang sudah memiliki nama pena atau bahkan memakainya? Jika ya, silahkan share di kolom komentar alasannya.. : )


Sumber gambar:http://www.bookcovercafe.com/wp-content/uploads/2012/08/pen-names-when-best-to-use-a-pen-name.jpg

Monday, January 25, 2016


Oleh: Edelweiss dan Ixora

Mimin kembali berbaik hati malam ini menulis rangkuman #MalmingMenulis untuk kalian yang di malam minggu kemarin tidak sempat menyimak.

Topik yang diangkat di #MalmingMenulis kemarin adalah,”Untuk Siapa Kita Menulis?” Kata ‘Siapa’ di sini bukan ditujukan ke nama-nama yang biasa ada di halaman persembahan sebuah novel, ya.  Bukan, itu.

Untuk siapa, sih kita menulis? Menurut Mimin, tulisan kita hanya bisa ditujukan untuk dua golongan yaitu untuk dunia dan untuk kita sendiri.

Yang pertama untuk dunia. Maksudnya, tulisan ini kita tujukan untuk memperbaiki dunia. Untuk menyebarkan atau menyumbangkan pemikiran kita yang kita harap bisa memberi kontribusi yang lebih baik untuk masyarakat banyak. Entah itu dunia dalam skala yang kecil seperti lingkungan sekitar atau bahkan dunia dalam arti yang seluas-luasnya tempat kita tinggal. Kita tidak bermaksud untuk mencari keuntungan karena yang kita harapkan adalah tulisan kita bisa menciptakan dunia yang lebih baik. Jadi orang yg menulis dengan tujuan ini biasanya tidak terlalu memikirkan pasar, mereka hanya berpikir untuk terus berkarya.

Yang kedua adalah untuk kita sendiri. Bukan berarti tulisan itu hanya kita simpan di dalam PC dan kita nikmati sendiri, lho. Tapi tulisan itu kita tujukan untuk memperbaiki kehidupan kita. Terutama dari segi materiil. Penulis dengan tipe ini cenderung mempunyai target untuk tembus ke media, entah itu ke penerbit atau media massa. Dan tujuan utamanya menulis adalah untuk mencari penghidupan, mencari nafkah. Penulis tipe seperti ini cenderung lebih memerhatikan pasar . Mereka harus tahu mengenai cerita jenis apa yang saat ini sedang laris di pasaran. Tulisan mereka berubah seiring perubahan tren yang sedang berkembang di masyarakat. Mereka tidak seidealis penulis golongan pertama, mereka lebih fleksibel dalam rangka meraup ketertarikan pasar yang sebanyak-banyaknya. Intinya, mereka memikirkan apa keinginan pembaca dan kebutuhan pembaca. Bukan hanya hasrat menulis mereka.

Dari kedua golongan tersebut, tidak ada yg lebih buruk dan lebih baik kok, Sobat JO. Tidak masalah kalian termasuk golongan yang pertama atau yang kedua karena keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berada di antara keduanya juga tidak masalah karena yang paling penting adalah kalian terus mempunyai motivasi untuk menulis.

Nah, sekian dari Mimin. Sampai jumpa di lain waktu, Sobat JO! Selamat malam, semoga bermanfaat, ya^^


Sumber  gambar: https://i.gr-assets.com/images/S/photo.goodreads.com/hostedimages/1393080013i/8658964.jpg


Friday, January 22, 2016




Oleh: Three Friends in Winter

"Buku yang bagus, menurut Shenny, akan menjadi candu." 

Itu adalah sebuah kutipan yang Mimin ambil dari sebuah artikel lama di majalah online, Pindai. Kalian setuju nggak sih dengan kutipan ini? Benar nggak sih kalau kita membaca sebuah buku yang sangat bagus menyebabkan kita akan terus ketagihan untuk membaca buku bagus lainnya? Kalau Mimin sih setuju, apalagi kalau buku tersebut meninggalkan jejak di dalam hati Mimin seusai baca. Seperti Visi & Misi JOPH.

Eits, namun apa gunanya sih buku bagus tapi nggak ada yang tahu? 

Mimin tahu, di sini pasti setiap calon penulis maupun penulis memiliki alasannya masing-masing sebelum mulai menuliskan karya-karyanya. Ada yang menulis hanya untuk kepuasan diri sendiri, ada yang menulis untuk mencari tambahan pemasukan, ada pula yang ingin meninggalkan jejak di dunia. Apa pun alasanmu, itu semua sah-sah saja. Tidak ada yang melarangnya.

Pendapat Mimin pribadi nih, sebagus apa pun buku tersebut tapi kalau tidak ada yang pernah tahu buku itu ada, untuk apa? :)  Okay, mungkin kamu hanya menulis untuk kesenangan sendiri, jadi setelah selesai, hasil tulisannya terus disimpan deh di dalam harddisk laptop. Yang Mimin maksud di sini, adalah siapa tahu saja konten yang kalian tulis itu memang benar-benar bagus. Kalau semakin banyak yang tahu, semakin bermanfaaat untuk orang banyak. 

Seperti yang pernah Mimin pernah lansir tuh di dalam artikel, Menulis. Sebagai Hobi atau Profesi?

Ada manfaatnya pula untuk dirimu jika karya tulisanmu itu dibaca oleh publik, salah satunya sarana untuk mengembangkan diri. Mimin nggak perlu jelasin panjang lebar lagi, kalian bisa baca penjelasannya di dalam artikel tadi.

Lantas bagaimana sih caranya agar karyamu tersebut bisa dikenal dan dibaca oleh orang-orang?

Jawabannya adalah Promosi. 

Mimin pernah mengupas pentingnya promosi dan tips-tipsnya di dalam artikel JO Team sebelumnya. Nah dalam artikel ini, Mimin ingin mengupas mengenai kunci agar kamu dikenal oleh banyak orang dan karya-karyamu semakin ditunggu. Berikut sebuah istilah yang Mimin kutip dan perbaharui dari buku Digital Enterpreneurshift. Tiga Lebih: Lebih Mudah, Lebih Luas, Lebih Dalam.

Apa sih ini?

1. Lebih Mudah (mulailah menulis dari hal-hal yang membuatmu tertarik)

Kunci pertama, apa yang kalian tulis harus bagus atau minimal menarik! Tulisan yang menarik tentu saja akan menggugah minat orang untuk membaca. Lantas, bagaimana cara membuat tulisan itu menarik?

Mulailah dari apa yang menarik perhatianmu. Menulis dari hal yang kalian sukai tentu saja akan lebih mudah daripada ketika kalian memulai topik dari hal yang tidak menarik minat kalian sama sekali. Ini membantu agar kita bisa menikmati proses riset yang terkadang membuat kita bingung dan lelah, atau ketika membuat kerangka cerita.

Menulis itu seperti membagikan jiwa kita ke dalam tulisan. Jika diri kita saja merasa tidak merasa cocok dengan apa yang ditulis, bagaimana tulisan tersebut bisa memiliki jiwa?

Selain menulis sesuai minat, kalian juga bisa menulis tentang tema yang sedang up to date. Tapi dengan catatan, tentu saja jangan jadi follower. Kembangkanlah tema tersebut berdasarkan kacamata kalian. Setiap orang pasti memiliki sudut pandang yang unik.


2. Lebih Luas (perluas jaringan pertemananmu)

Kunci kedua agar lebih banyak orang yang mengenal karyamu adalah dengan memperluas lingkup orang-orang yang kalian kenal. Lewat itu, bangunlah jaringan pembacamu. Ada banyak cara untuk memperluas hal tersebut; rajin mengikuti seminar dan forum kepenulisan, ikut komunitas, dll.

Ada cara lain pula yang mudah dan gratis. Itu adalah dengan internet.

Internet saat ini tentu bukan barang mewah lagi. Kalian dapat memanfaatkannya, minimal untuk mempromosikan buku-buku kalian. Sudah banyak loh penulis yang memanfaatkan internet untuk membuat orang-orang lebih mengenalnya. Contohnya: Raditya Dika, dia terkenal lewat tulisan-tulisan di blognya, dan cukup aktif di media sosial.

Media seperti Blog, Twitter, Facebook, Google+, Instagram, dll merupakan alat promosi yang murah meriah. Jika kalian memiliki akun media sosial, gunakanlah. Pasang foto cover bukumu, atau sebutkanlah judul-judul bukumu - terutama yang terbaru- di biodata media sosial.  Jadi, setiap kali kalian mengunggah sesuatu ke dalam media sosialmu, orang-orang dapat melihatnya.

Selain itu, rajin-rajinlah merawat akun tersebut dengan rutin mengunggah sesuatu di sana. Jangan biarkan menganggur hingga bersarang laba-laba #eh.

Oh ya, agar akunmu lebih dikenali, misal di Twitter, jika ada sebuah topik yang sedang terkenal dan kebetulan sesuai dengan minatmu, kalian bisa ikut nimbrung berbicara mengenai topik tersebut. Biasa orang-orang kan suka memperhatikan tweet apa saja yang ada di dalam topik yang sedang populer tersebut. Dengan begitu, semakin banyak yang akan melihat akunmu.


3. Lebih Dalam (Bangun keakraban dengan pembacamu)

Pada dasarnya, kita tentu senang donk kalau disapa oleh seseorang yang karyanya kita sangat sukai? Nah, komunikasi dengan pembacamu ini membantu agar orang-orang tertarik mengenal bukumu. Bagaimana caranya membangun komunikasi tersebut?


Pertama-tama jika ada seorang pembaca yang memberikan pendapatnya mengenai tulisanmu, hargailah hal tersebut. Atau jika seseorang bertanya mengenai buku-bukumu, jawablah. Bisa juga kalian melakukan googling terhadap judul bukumu untuk melihat siapa saja yang membicarakan bukumu tanpa menyebutmu lewat media sosial, sapa mereka. Dengan begitu komunikasimu dengan pembaca terus terjalin. Hingga ketika kalian mengeluarkan buku selanjutnya, karyamu itu sudah diketahui dan syukur-syukur ditunggu. :)

Intinya, harus peka dengan sekitar, jangan sombong, dan rajinlah berkomunikasi dengan banyak orang. Semakin luas pergaulanmu, semakin mudah kamu untuk dikenal hingga karya-karyamu pun dikenal.

Nah, sekian artikel dari Mimin kali ini. Semoga bermanfaat.

Kunci dari kesuksesan dimulai dari diri sendiri. 

Sumber gambar:https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/81/Potter_queue.jpg