Monday, March 14, 2016

Oleh: Edelweiss & Three Friend in Winter



Halo, Sobat JO. #MalmingMenulis yang lalu Mimin sempat membahas bahas genre novel. Mimin akan merangkum bahasan kemarin. Yuk mulai saja ke bahasan kita. 

Kali ini Mimin hanya akan membahas tentang tujuh aliran fiksi utama yang banyak dikenal. Genre yang akan kita bahas adalah romance, komedi, fiksi ilmiah, horor, thriller, misteri, dan inspiratif. Aliran-aliran yang Mimin sebutkan tadi juga memiliki banyak sub-genre, seperti romance time-travel dan mungkin ada banyak lagi. Nah Mimin akan jelaskan lebih lanjut cara untuk membedakan aliran-aliran ini. 

1. Romance atau Percintaan
Genre jenis ini adalah genre yang paling populer di kalangan kita. Terutama bagi pembaca maupun penulis yang berusia remaja dan dewasa muda. Seperti namanya, konflik yang dimiliki oleh aliran ini seputaran kisah cinta. Contoh novel yang beraliran percintaan sangatlah banyak, bahkan hampir semua novel yang beredar di pasaran merupakan novel romance. Kisah cinta selalu terasa menarik untuk dibahas, sih, Sobat JO! 

2. Komedi
Genre ini adalah yang paling cocok dibaca ketika kita butuh hiburan, meski segala jenis novel juga bisa. Karena genre komedi biasanya menyuguhkan bahasan yang ringan dan penuh dengan humor. Konflik yang ada di dalamnya pun biasanya tidak terlalu berat. Tujuan ditulis pun ingin membuat orang tertawa. 

Contoh novel bergenre komedi adalah Manusia Setengah Salmon yang ditulis oleh Raditya Dika. 

3. Fiksi ilmiah
Nah, ini dia genre yang paling penuh dengan imajinasi! Genre di mana ngawur itu halal. Eh, tapi ngawurnya harus pake logika, ya! Kalian boleh bikin bumi mendadak kehilangan gravitasi, tapi beri juga alasannya. Kan nggak serta merta, tanpa alasan, tiba-tiba pas bangun kalian udah terbang saja. 
Dalam aliran fiksi yang satu ini, meskipun halal buat ngawur, haram buat kalian ngawur kalau tidak ada logika yang memperjelas kondisi yang tidak logis tersebut. Ada penjelasan ilmiah di balik semua kengawuran tersebut. Jadi kalau mau berkutat dengan aliran fiksi ini, kalian harus benar-benar riset. 

Contoh novel dengan genre fiksi ilmiah yaitu Supernova yang ditulis oleh Dee Lestari. 

4. Horor
Ini dia juaranya cerita penuh ketakutan. Penulis novel dengan aliran ini bertujuan agar pembacanya merasa ketakutan. Dalam tulisan beraliran ini yang biasanya banyak hantu-hantuannya. Yang berdarah-darah juga tak luput diceritakan. Hiih! 
Intinya kalau kalian baca buku lalu ketakutan besar kemungkinan alirannya tulisan tersebut adalah horor. Contohnya buku tabungan akhir bulan, ya. /abaikan/ 

Contoh novel beraliran horor adalah Saman yang ditulis oleh Ayu Utami. 

5. Thriller
Banyak sekali orang yang sering bingung dengan bedanya aliran ini dengan horor. Jadi, genre thriller itu aliran tulisan yang penuh ketegangan dan berurusan dengan hidup dan mati. Konflik yang membangun genre thriller itu tentang bagaimana si tokoh utama. 
Genre ini kadang juga disisipi dengan supranatural dan kejahatan. Ini dia yang membuat kita tertukar thriller dan horor. 

Contoh novel thriller adalah karya dari Dan Brown. 

6. Misteri
Kalau tulisan dengan aliran ini biasanya bercerita tentang detektif-detektifan. Nah, novel ini lah juga sering disangka kembar sama horor, padahal beda. Horor biasanya membuat pembaca takut, tetapi misteri membawa kita menyelesaikan kasus. 
Jadi horror dan misteri kalau digabung repot juga, ya. Kita harus menyelesaikan kasus di tengah ketakutan._. 
Contoh novel misteri itu seperti Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle. 

7. Inspiratif
Ini dia yang biasanya bikin pembaca terharu-biru. Novel ini mengandung pesan moral untuk pembacanya. Eh, tapi bukan berarti aliran lain tidak ada, ya. Setiap tulisan harus selalu ada pesan moralnya. Konflik yang banyak dibahas pada genre ini biasanya seputar kehidupan sehari-hari. Disebut inspiratif, karena seusai membaca tulisan-tulisan dengan aliran ini, biasa pembaca merasakan atau melihat sesuatu yang berbeda dengan diri maupun lingkungan. Hingga menggerakannya untuk melakukan sesuatu. Intinya menginspirasi. 

Contoh novel bergenre inspiratif yaitu tetralogi Laskar Pelangi milik Andrea Hirata atau novel-novel terbitan Jendela O Publishing House seperti Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta  milik Suarcani

Yap, sudah kita bahas tujuh aliran dalam fiksi. Meskipun yang dibahas hanya tujuh, bukan berarti aliran menulis hanya ada ini saja di bumi ini, ya! Masih banyak lagi sebetulnya. 

Jadi sekarang kalian bisa mengklasifikasikan tulisan kalian. Kalian nggak akan salah kirim naskah thriller ke penerbit religi. *Nggak gitu juga kali, Min-_-* *krik*


sumber foto: http://www.si-pedia.com/2015/01/jenis-dan-pengertian-genre-novel.html

Oleh: Orchid

Dalam #MalmingMenulis sebelumnya, memang disebutkan bahwa penulis bisa jadi tidak memiliki penghasilan yang cukup—bagi yang tidak terkenal—tapi, apa salahnya menambah penghasilan dari menulis jika kamu mampu?

Kira-kira, apa saja sih tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Sobat JO “nyaris” menjadi seorang penulis? Mimin punya daftar pertandanya.

1.  Suka Membaca
Tidak semua orang suka membaca buku. Banyak orang yang lebih memilih membuang waktunya dengan bermain game  atau berjalan-jalan dibanding membaca buku. Tapi, berbeda dengan penulis. Bagi penulis, membaca adalah hal yang wajib dilakukan oleh setiap penulis. Baik penulis fiksi maupun non fiksi. Jika Sobat JO suka membaca, itu artinya kamu telah melakukan kegiatan yang dianggap wajib bagi para penulis.

2.  Mengamati Orang Lain yang Ada di Sekitarmu
Sobat JO suka mengamati orang-orang yang ada di sekitarmu? Bahkan, kamu melakukan hal itu dalam kurun waktu yang lama? Penulis adalah seorang pengamat yang gigih. Mereka melihat dengan jeli, memerhatikan irama dan tekstur dari semua interaksi manusia. Bagi penulis, hal-hal tersebut sangat menarik dan berpotensi untuk dituliskan.

3.  Membayangkan Bagaimana Rasanya Menjadi Orang Lain
Pertanda berikutnya yang menunjukkan bahwa kamu "nyaris" menjadi penulis adalah kamu suka membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang lain.  Misalnya, Sobat JO melihat seseorang jatuh dari sepeda, lalu kamu langsung membayangkan bagaimana perasaan orang yang jatuh dari sepeda tersebut. Seorang penulis selalu membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang lain. Mereka menciptakan dunia imajinasi di dalam otak mereka.

4.  Memerhatikan “Kekosongan” Segala Sesuatu
Tidak hanya memerhatikan apa yang orang lain katakan dan lakukan, bagaimana mereka melihat dan bertingkah tapi Sobat JO juga memerhatikan apa yang tidak ada di sana. Misal saja, seorang ibu hamil tanpa cincin kawin, sebuah mobil tanpa pengemudi, dan masih banyak lagi. Penulis tidak hanya sekadar melihat. Tapi mereka melihat lebih dalam, mereka mencari di mana cerita bersembunyi. Jika hanya dengan satu hal yang kalian lihat dapat memicu imajinasi mengembangkan berbagai kemungkinan cerita, itu tanda-tandanya kalian punya sesuatu yang dimiliki oleh seorang calon penulis.

5.  Berpikir Bisa Menulis Buku yang Lebih Baik dari yang Pernah Dibaca
Sobat JO merasa kesal dan marah saat membaca sebuah buku yang ditulis dengan buruk. Kadang kamu bertanya-tanya, “kenapa sih buku kayak  gini bisa diterbitkan?” Jika kamu melakukan itu, itu berarti kamu sudah mampu mengenali mana yang berhasil dan yang tidak dalam sebuah tulisan. Dan setelah membaca buku itu, kamu berniat untuk menulis buku yang lebih baik dari yang pernah dibaca. Berarti, kamu sudah siap untuk menjadi penulis.

6. Kamu Lebih Memilih untuk Menuliskan Dibanding Mengatakan
Mungkin ada beberapa dari Sobat JO yang merasa kesusahan untuk mengatakan perasaan secara langsung. Kamu lebih memilih untuk menuliskan perasaan itu. Seperti contoh, saat Sobat JO sedang ada masalah dengan temanmu, kamu memilih untuk mengirimkannya pesan. Bukan perasaan takut yang kamu rasakan, tetapi memang begitulah yang terjadi pada kamu.

7.  Menulis Jadi Terapi Emosi
Sobat JO pernah meluapkan emosi dalam secarik kertas? Atau mungkin, mengetik perasaanmu di memo ponsel? Saat kamu merasa sedih, depresi, ataupun kesepian, menulis membuatmu merasa lebih baik.

Nah, itu adalah tanda-tanda bahwa Sobat JO “nyaris” menjadi penulis. Bagaimana? Apakah Sobat JO mengalami tanda-tanda tersebut? Jika sudah, tunggu apa lagi segera mulai langkahmu menjadi penulis. 

Sumber foto: http://shpeiit.org/wp-content/uploads/2015/04/professional-writer-challenges.jpg

Monday, March 7, 2016


Oleh: Ixora & Orchid

#MalmingMenulis kemarin membahas tentang hal menyenangkan dan tidak menyenangkan  menjadi seorang penulis. Sobat JO sebagian besar pasti suka menulis, kan? Jadi, katanya, ada beberapa hal menyenangkan yang dialami oleh penulis. Apa aja?

Mimin akan rangkum #MalmingMenulis untuk kalian. 

Pertama, dengan menjadi penulis, kita memiliki waktu yang sangat fleksibel. Kita bebas menentukan seberapa banyak kita harus menulis dalam satu hari. Semakin banyak waktu yang kita gunakan untuk menulis, semakin cepat tulisan kita bisa diselesaikan. Begitu juga sebaliknya.

Kedua, kita memiliki banyak pengetahuan. Tentu dong, karena haram bagi seorang penulis untuk malas membaca. Apalagi jika penulis tersebut ingin menulis hal-hal yang belum/tidak dikuasainya. Ia tentu akan membutuhkan riset. Itu artinya, banyak buku yang harus dibaca, video yang harus ditonton, dan narasumber yang harus didengarkan. Semua itu adalah pengetahuan-pengetahuan baru yang akan didapat oleh penulis, baik ia penulis fiksi atau penulis non-fiksi

Ketiga, penulis akan memiliki banyak teman. Apalagi jika ia bergabung di komunitas-komunitas kepenulisan seperti @SobatJo. Komunitas itu penting. Karena, komunitas itu akan memacu kita untuk terus berkarya. Kita juga bisa saling bertukar info tentang dunia kepenulisan. Menulis itu bisa sendiri, tapi untuk menjadi penulis, kita butuh banyak orang, termasuk pembaca. Punya komunitas juga membantu kita untuk melakukan promosi buku yang kita tulis.

Keempat, penulis akan memiliki banyak kosakata. Ini penting. Karena, akan berpengaruh terhadap cara berkomunikasi kita terhadap orang lain. Tentu akan menyenangkan bicara dengan orang yang kosakatanya baik dan wawasannya luas, kan?

Kelima, penulis akan mendapat kepuasan batin yang tidak akan bisa digantikan dengan apa pun saat tulisannya dikenal. Minimal, dibaca oleh seseorang. 

Setelah membahas hal-hal yg menyenangkan, sekarang kita akan membahas hal-hal tidak menyenangkan yang banyak dialami penulis.

Pertama, jika menulis bukanlah pekerjaan utama kita, maka kita harus menyisihkan waktu untuk menulis. Butuh energi lebih ketika menyisihkan sedikit dari waktu-waktu sibuk kita untuk menulis.

Kedua, tidak semua orang bisa menerima tulisan kita dengan baik. Bisa jadi ketika kita sudah banyak sekali riset kemudian menuliskannya, eh ternyata ada fakta yang tertinggal dan kesalahan itu dipaparkan oleh orang lain. Duh, rasanya cakit... *mimin sok imut banget* Jadi penulis harus tahan terhadap kritik. Sepahit apa pun! Tapi bukan menerima begitu saja,  melainkan terima dan buat itu menjadi motivasi agar tulisan selanjutnya menjadi lebih baik daripada sebelumnya. 

Ketiga, pekerjaan sebagai penulis, belum bisa memberikan kita kecukupan dalam hal materi. Kecuali kita sangat populer dan sangat produktif, sebaiknya tidak menggantungkan hidup kita hanya dengan menulis. Tapi, kalau untuk tambahan uang jajan boleh lah. 

Nah, sekian rangkuman #MalmingMenulis kali ini. Semoga bermanfaat, Sobat JO!

sumber foto: http://www.adweek.com/socialtimes/author-tag/622127