Thursday, December 10, 2015


Oleh: Three Friends in Winter



Halo, Sobat JO! Mimin datang lagi dalam artikel Kamis. Minggu ini, Mimin mau membahas mengenai e-book. Beberapa waktu lalu Mimin pernah sedikit mengulas mengenai Pro-Kontra membaca e-book. Kali ini Mimin ingin membahas lebih jauh mengenai e-book. 

E-book itu sebenarnya apa, sih? E-book merupakan buku yang berbentuk digital. Cara untuk mendapatkannya adalah dengan mengunduh file tersebut melalui situs-situs atau aplikasi penyedia e-book, seperti contohnya Play Book dari Google Store, atau akhir-akhir ini ada aplikasi buatan Indonesia yang khusus untuk menyediakan e-book yaitu Buqu. 

E-book biasanya tersedia dalam beberapa format seperti pdf, teks polos, jpeg, lit, docx, dll. Untuk dapat membaca e-book biasanya terdapat aplikasi untuk membukanya. Ada pula aplikasi-aplikasi reader tertentu, seperti Kindle, Play Book, dll yang membuat pengalaman membaca e-book seperti sedang membaca buku fisik. Jadi, ketika kita membalik halaman e-book seperti sedang membalik buku yang sesungguhnya karena bentuknya yang 3D.

Mengenai kelebihan dan kekurangan e-book, sebenarnya Mimin yakin pasti banyak yang sudah tahu, sebelumnya Mimin sudah pernah menyebutkan kelebihan-kekurangan e-book di lini masa JOPH.  Tapi,Mimin akan merangkumnya sekali lagi untuk kalian. 

Kali ini Mimin mau memulai dari kekurangannya terlebih dahulu. Apa sih kendala yang menghalangi kita membaca e-book? Kalau Mimin sih kendala terbesarnya adalah mata sering merasa lelah kalau membaca e-book. Tapi, nih Mimin ingin berkomentar mengenai hal ini. 

Berapa banyak sih waktu yang kalian berikan untuk membaca status di media sosial atau menonton video lewat gadget yang kalian miliki? Indonesia adalah salah satu negara pengguna jejaring sosial terbanyak di dunia. Mimin yakin dalam sehari kalian menghabiskan banyak waktu untuk menggunakan gadget, bisa jadi untuk stalking status medsos mantan (eh itu , sih Mimin) atau untuk menonton. Tapi, mengapa untuk membaca buku lewat gadget kalian merasa lelah? :)

Padahal membaca buku, kan manfaatnya banyak sekali. Apalagi membaca e-book. Selain harga buku digital lebih murah dan tidak perlu pergi jauh-jauh untuk membelinya, kita juga membantu mengurangi penebangan pohon untuk buku. 

Jika penerbit menjual satu juta copy dengan 250 halaman per copynya untuk satu judul buku. Itu berarti diperlukan 12.000 pohon hanya untuk memproduksi satu judul buku saja (sumber: “How to Go Green: Books” by Cindy Katz and Jennifer Wilkov). Itu artinya kita punya andil dalam perusakan lingkungan. - dikutip dari: http://heptajayawardana.blogspot.co.id/

Tapi, bagaimana sih penggunaan e-book di Indonesia? 

sumber foto: http://harianti.com

Menurut data, penduduk Indonesia saat ini mencapai lebih dari 250 juta dan pengguna internet di Indonesia sudah tumbuh hingga 139 juta orang. Setiap tahunnya terdapat perkembangan yang signifikan. Namun, hal tersebut belum diikuti dengan tren membaca buku melalui aplikasi digital. Bahkan, seperti yang pernah JO Team lansir di artikel Kamis sebelumnya, indeks minat baca Indonesia masih sangatlah rendah. Jika menurut data survei Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2013, penggunaan internet lebih banyak bertujuan untuk mengakses media sosial (sejumlah 61.23%). Sayang sekali ya jika dari 139 juta pengguna internet tersebut tidak banyak yang memanfaatkan internet untuk mendapatkan akses membaca buku lebih banyak. Padahal saat ini, tren membaca buku digital di berbagai negara sudah meningkat pesat. 

Menurut Sobat JO, kurang apalagi sih e-book? Aplikasi untuk membaca banyak yang gratis, tinggal unduh saja. Harga buku jauh lebih murah daripada membeli buku fisik. Tidak makan tempat untuk menyimpan koleksi. Mudah diakses, dan lebih ringan untuk dibawa ke mana pun. Jika dalam sehari kita ingin membawa 100 buku pun juga bisa, tas tidak terasa berat. Hehehe. Internet juga saat ini mulai menjangkau hampir seluruh nusantara, dan masih dalam pengembangan agar bisa lebih banyak lagi yang dapat mengakses internet. 

Kalau Mimin sih suka membaca e-book karena kalau ada bagian-bagian dari buku yang menarik bisa ditandai tanpa merusak buku, juga tidak perlu banyak ruang penyimpanan. Bagaimana dengan kalian?  

Sumber foto: http://www.amplbooks.com/




Monday, December 7, 2015

Oleh: Three Friends in Winter

Selamat berawal pekan, Sobat JO. Di hari Senin seperti ini, kalian pasti memulai dengan semangat, kan? Memulai hari dengan semangat itu penting! Mimin kali ini datang untuk memberikan ringkasan materi #MalmingMenulis yang diadakan pada hari Sabtu kemarin. 

Tema minggu lalu adalah: Membuat Sinopsis. 

Beberapa waktu lalu JOPH baru selesai menggelar lomba menulis bertajuk #WayBackHome nih. Sudah baca pengumuman pemenang, kan? Yang sudah membaca artikel pengumuman pasti tahu dong, curcolan JO team sepanjang masa penjurian?

Yup, banyak sekali penulis yang tidak menyertakan sinopsis dalam e-mail. Kalau pun ada, itu pun tidak sesuai. Tidak sedikit juga yang salah mengirimkan blurb sebagai sinopsis. 

Di sini, masih ada yang tidak paham dengan perbedaan blurb dan sinopsis, kah? Blurb adalah penjelasan singkat di sampul belakang buku yang sudah terbit. Tujuannya untuk menarik minat pembaca (pembeli). Blurb biasanya dibuat semenarik mungkin dan membuat penasaran. Sinopsis tentu saja juga harus menarik, tapi tujuannya sedikit berbeda. Sinopsis bertujuan menarik editor untuk memilih naskahmu. 

Jadi, bagaimana sih cara membuat sinopsis agar naskahmu dilirik penerbit?

Berikut Mimin akan  memberi tips-tips untuk membuat sinopsis yang ditujukan kepada penerbit:

1. Sinopsis itu tidak perlu memakai bahasa yang berbunga-bunga. Pakailah bahasa yang lugas dan to the point.
2. Tidak perlu memasukan opini, pendapat, kesan pesan seperti: Ini adalah cerita yang unik, menarik, dan belum pernah ada sebelumnya... bla bla... 
3. Tidak perlu juga membuat kalimat-kalimat yang menggantung untuk menarik rasa penasaran editor seperti: Bagaimana kelanjutannya? Simak dalam naskah ini. 
Tujuan penerbit meminta disertakan sinopsis adalah agar editor dapat memahami keseluruhan cerita sebelum ia membaca lebih detil mengenai naskah. Ini juga agar pekerjaan editor bisa lebih efektif. 


Nah, itu tadi tips dasar, sekarang Mimin akan memberitahu apa saja yang harus ada dalam sinopsismu.

1. Ide dasar 
Penulis wajib memahami ide dasar naskah yang ia tulis. Sederhanakan idemu menjadi sebuah kalimat. Ini adalah yang kita sebut sebagai premis, hindari deskripsi yang berbunga-bunga. Daripada membuat deskripsi, sebuah novel perjalanan mencari arti hidup bla... bla... Lebih baik langsung saja tulis: tentang seorang pemuda yang melakukan perjalanan dari Jakarta mendaki puncak Mahameru bla... bla...

2. Inti konflik
Jelaskan inti konflik dari ceritamu. Jika perlu ceritakan per bab, tapi setiap bab cukup satu paragraf singkat saja. Sebutkan peristiwa-peristiwa yang penting dalam mendukung alur ceritamu. Jika ingin memasukkan dialog, cukup beberapa saja yang signifikan. 

Walau ringkas, sinopsis harus memuat awal-akhir dari ceritamu.  Perlu diingat, meskipun sinopsis adalah ringkasan, kita perlu mempertimbangkan prinsip sebab-akibat. Ringkas bukan berarti sulit dimengerti. Perhatikan alur penjelasanmu dengan baik, dan pastikan itu logis. :)

3. Tokoh cerita
Tidak ada cerita tanpa tokoh, bukan? Maka dari itu, tampilkan seluruh tokoh yang ada dalam ceritamu, dan apa peran mereka masing-masing dalam cerita. Siapa tokoh protagonis, antagonis, pendukung, dll.

4. Masalah dan tantangan
Jika tidak ada konflik, maka sebuah cerita tidak akan bermula. Sebuah cerita pasti memiliki sebuah masalah yang harus dihadapi oleh tokoh utama. Tunjukan apa masalah tokoh utama dan tantangannya dalam menyelesaikan hal tersebut dalam ceritamu.

5. Penyelesaian konflik

Perlihatkan bagaimana konflik dipecahkan dan diakhiri. Seperti yang Mimin sebutkan diawal, bongkar semua dalam sinopsis. Jangan ada rahasia di antara kita  editor dan calon penulis. Kalimat-kalimat menggantung seperti Apakah si A bisa mencapai tujuannya? Simak dalam naskah. Itu tidak perlu. Tulis saja, A akhirnya berhasil mencapai  tempat yang diinginkan. 

Nah, setelah itu semua kamu lakukan, hal terakhir yang harus kalian pastikan adalah sinopsis harus tetap menarikIngat, yang membaca sinopsis itu adalah editor yang akan memutuskan untuk menerima naskahmu atau tidak. Tujuan sinopsis adalah untuk merayu editor agar meneliti naskahmu lebih detil. Sinopsis adalah gerbang pertamamu untuk melakukannya. Caramu mempresentasikan naskah sangat mempengaruhi. Ringkas juga bukan berarti tidak menarik untuk dibaca. :)

Pusing ya? Sinopsis harus ringkas, logis, juga menarik. Belum lagi ratusan halaman itu harus kamu ringkas dalam 1-2 halaman saja, dan itu harus menyertakan awal hingga akhir. Jika penulis paham benar dengan apa yang ingin ia katakan dalam naskah, tentu penulis tahu apa kelebihan dari naskahnya. 

Maka dari itu, pahami premis ceritamu, siapa tokohnya, apa konfliknya, dan bagaimana penyelesaian ceritanya. 


Sekian dulu #MalmingMenulis, semoga bisa diterapkan untuk naskah-naskah kalian berikutnya, ya. Semangat menulis!

Tuesday, December 1, 2015


Oleh: Orchid dan Ixora

Selamat malam, Sobat JO! Untuk kalian yang ketinggalan #MalmingMenulis kemarin, JO Team sudah menyiapkan rangkumannya untuk kalian. Yuk, disimak.

Dalam sebuah buku, judul memegang peranan yang sangat penting. Apa, sih yang kalian lihat pertama kali saat akan membeli novel? Pasti judul, bukan? Tentu saja judul yang menarik akan membuat pembaca tertarik untuk membeli dan membaca novelmu.

Bagi sebuah perusahaan penerbitan, judul dan paragraf pembuka yang menarik tentu saja akan memiliki daya tarik tersendiri. Lalu, judul seperti apa yang disebut menarik? Mari kita bahas satu persatu:
1.    Judul tidak boleh menggambarkan seluruh isi cerita. Apalagi jika itu menyangkut ending cerita. Misalkan: Cinta Tak Terbalas, Friendzone.
2.    Judul harus mudah diingat. Gunakan kata atau kalimat yang pendek untuk judul agar mudah diingat.
3.    Judul tidak boleh membosankan.

Nah, untuk membuat judul yang menarik, bagaimana caranya, Min? Berikut tipsnya:
·         Judul bisa diambil dari nama orang atau nama tempat yang berhubungan dengan novelmu. Misalnya: Jurrassic Park, Cold Mountain, Mystic River.
·         Kamu juga bisa memplesetkan ungkapan yang sedang populer. Cari tahu kata atau ungkapan yang sedang ngetren akhir-akhir ini. Contohnya: Baper; Bawa Perasaan.
·         Sobat JO juga bisa mengambil satu kata keren dari novelmu untuk dijadikan judul. Misal: Brisingr, Nocturnal, Divergent. 
·         Menggabungkan dua kata menjadi satu kesatuan yang unik. Misalnya: Rectoverso, MaMiMoMa, Belanglicious. 
·         Menggunakan satu kalimat panjang asalkan mudah diingat dan menggoda, juga tidak masalah. Contoh: Daun yang Jatuh Tidak Akan Pernah Membenci Angin, 10 Things to Do Before I Die.
·         Menyusun kata-kata yang membuat orang penasaran dan bertanya-tanya. Contohnya: Knocked Out By Nunga Nunga. 
·         Judul juga bisa aktivitas yang dilakukan dalam novelmu. Contoh: Finding Nemo, Waiting to Exhale.

Seringkali, penulis menemukan judul yang sama dipakai oleh beberapa buku, sebenarnya tidak masalah selama kontennya menarik, contohnya buku Ayah-nya Irfan Hamka dan Ayah-nya Andrea Hirata. Karena memang isinya sama-sama bagus, walaupun judulnya sama, tetap saja keduanya diterima oleh masyarakat. Tapi, tentu saja jika kalian memiliki sebuah naskah, usahakan jangan memiliki judul yang sama dengan buku yang sudah beredar di pasaran agar tetap memiliki nilai lebih dan keunikan sendiri. Oiya, sering-sering juga main ke toko buku untuk melihat judul buku yang sedang beredar ya, sehingga referensi kata kita lebih banyak dan menghindari pemakaian judul yang sama karena ketidaktahuan kita.

Mengenai pemilihan bahasa dalam pemakaian judul,  sesuaikan saja dengan isi naskah. Bahasa apa yang lebih cocok dan 'ear catching' karena ini masalah selera.

Nah, sekian rangkuman #MalmingMenulis. Semoga bermanfaat dan selamat membaca.

Sumber gambar: http://www.indonesiancyberarmy.com/wp-content/uploads/2014/02/title.jpg