Halo, Sobat JO!
Pada Jumat kali ini JO
Team sudah memilih cerpen dari #SelasaBercerita untuk di-review di website
resmi JOPH. Sebelumnya, kami mengucapkan terima kasih kepada para sobat JO yang
sudah mengirimkan karyanya untuk berpartisipasi dalam #SelasaBercerita kali
ini. Nah, mari kita bahas cerpen pilihan dari #SelasaBercerita lalu dengan
tema: BERBAGI.
Oleh : Kenshirey
Harum tanah basah
terasa kental memenuhi rongga hidung ketika aku keluar menapaki jalan setapak
dengan payung hitam di genggaman. Bentangan langit nun jauh di atas masih betah
memamerkan warna kelabu bertemakan sendu. Menggigil aku merapatkan syal
turqouise-ku, tatkala angin yang berhembus bak duri halus di tengah sisa rintik
hujan.
Aku mempercepat langkah, begitu sepasang
kelereng cokelatku menangkap bangunan bertingkat yang kira-kira berjarak tujuh
puluh lima meter lagi dari tempatku sekarang. Sesegera mungkin aku harus
mengantar empat lembar roti gandum dan sup labu yang baru dimasak ibu beberapa
menit lalu ini kepada Bibi Ashley di apartement-nya. Mataku menatap sumringah
kantong plastik di tangan, lalu beralih pada bangunan menjulang tinggi yang
semakin dekat.
Hujan memang mendatangkan keberkahan; kata ibu.
Tapi, aku benci jika harus berpapasan dengan kubangan air yang akan mendatangkan
gatal di kulit, kalau-kalau aku salah berpijak dan terjebak. Seperti sekarang
ini, tidak hanya basah, sneakers yang kukenakan menjadi kotor akibat tak
sengaja menginjak kubangan air keruh itu. Ya, salahkan saja aku yang terlalu
bersemangat.
Alih-alih mengumpati sneakers kotor atas
kecerobohan yang kuperbuat, kedua mata ini tanpa sengaja mendapati sosok lain
yang sedang berteduh dalam gang sempit dekat undakan tangga. Seorang wanita
berusia kurang dari setengah abad, bersama anak lelaki yang terpekur di
pangkuan. Pakaian lusuh yang mereka pakai terlihat lembab. Tampak kaos kaki
yang membungkus sepasang kaki si anak mungil bolong di telapak.
Meringis pedih aku menebak, jika mereka berusaha
menahan dingin sejak hujan menimpa di bawah naungan yang terbatas. Tiba-tiba
aku teringat pada Bibi Ashley. Kembali aku melanjutkan langkah yang sempat
tertunda.
Aku memang sering menjumpai gelandang di
pinggiran kota. Tapi, apa peduliku? Mereka hanya orang asing. Mereka juga bisa
mencuri perhatian orang-orang yang lebih 'wah' daripada aku yang masih remaja.
Jadi, toh, tak masalah jika hanya satu orang yang mengabaikan.
Namun, baru empat langkah berjalan, aku
berhenti, menoleh lagi pada anak lelaki yang terlihat sangat lemas di pangkuan
wanita itu. Bibirnya membiru. Rasa iba merayap perhalan dan menggiringku untuk
mendekat.
“Apa … dia sakit?”
Entah apa yang terjadi, aku sudah berada tepat di hadapan mereka.
Berdiri memerhatikan si anak lelaki yang hanya terdiam menatapku dengan wajah
polosnya.
“Ah, tidak apa-apa, Nak. Anakku hanya demam
biasa, nanti juga akan segera sembuh.” aku sontak
berpaling pada wanita dewasa yang tersenyum kecil. Sepertinya beliau tidak mau
terlihat terlalu menyedihkan di hadapan orang lain.
“Pasti dingin, ‘kan?” aku
menekuk kedua kaki, berjongkok di hadapan anak lelaki itu, meletakkan payung di
sisi dan melepaskan syal, lalu memakaikan di leher mungilnya. Bocah itu
mengerjap sekali-dua kali untuk kemudian mengangguk, aku tersenyum simetris.
Sejenak, aku terdiam menatap kantong plastik di
genggaman dan seraut wajah pucat sang bocah lelaki bergantian. Aku berpikir,
menimang-nimang keputusan. Keraguan sempat menghadang, namun dengan cepat
ditampik akan rasa ibaku yang pekat. Kemudian aku kembali berdiri tegak dan
mengangsurkan kantong plastik di tangan pada nyonya itu.
“Ini—saya berikan untuk adik kecil dan Nyonya,“
kataku.
“Whoa! Apa itu makanan?!” aku
terkekeh pelan mendengar sahutan antusias dari anak lelaki itu. Mengangguk.
Matanya berbinar cerah sambil meneguk ludah menatap kantong plastik yang berada
dalam genggaman wanita di sisinya. “Terima kasih, ya, Kak!”
Aku tersenyum kecil. Tanganku sudah terjulur
untuk mengambil payungku yang kuletakkan begitu saja di sisi anak lelaki itu,
tapi urung. Biarlah payung tersebut kutinggalkan untuk membantu melindungi
mereka.
“Hmm... baiklah, saya pergi.”
“Nak, tunggu!” aku sontak menoleh ketika
mendengar nyonya itu memanggilku. ”Payungmu—”
“Oh. Tidak usah. Sepertinya Nyonya lebih
membutuhkan.”
“Ya Tuhan…, kau begitu baik. Terima kasih.
Terima kasih banyak, Nak. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu dengan yang lebih
besar.” wanita di hadapanku berucap tulus dan haru. Aku bisa membacanya lewat
kedua mata beliau. Detik berikutnya, dia terlihat terburu-buru mengacak isi tas
kumuhnya yang berada di belakang tubuh, mengambil sebuah barang, dan
memberikannya padaku kemudian. “Memang tak seberapa. Tapi, tolong terimalah
sebagai tanda terima kasihku.”
Sekarang aku menatap pada sebuah benda yang ada
di atas telapak tangan. Yaitu; gantungan kunci dengan bola-bola pelangi sebagai
bandulnya.
Cantik.
Aku menarik sedikit ujung bibirku. Lantas
menyimpan gantungan kunci pelangi ini dalam saku celana. “Baiklah, selamat
tinggal.”
Aku berjalan meninggalkan mereka dengan
lenggang, namun senyuman membekas di hatiku. Ini pengalaman yang... ugh, apa
ya? Mengesan, mungkin? Apapun itu, adalah kali pertama aku begitu peduli
terhadap seseorang yang bahkan tidak kukenal, tanpa memikirkan konsukuensi yang menanti di ujung jalan.
Sesaat, aku terenyuh. Si bocah lelaki itulah
alasannya. Entah kenapa, aku turut merasakan pedih begitu melihat tubuh
ringkihnya. Dia tetap tegar meskipun kedinginan—yang kuyakin dia juga pasti tak
jarang merasa kelaparan. Di usianya yang masih terbilang belia, dia sudah harus
memperjuangkan hidup dan melindungi sang ibu. Yang tidak bebas bermain ataupun
bersekolah sewajar anak lainnya.
Bukankah masa kecil adalah masa menyenangkan?
Huh, aku merasa tertampar jika mengingat sikapku
selama ini. Padahal aku termasuk seseorang yang jauh lebih beruntung daripada
mereka. Adik kecil itu … membuatku tersentuh.
Aku mendongak, menatap bentangan langit yang
sudah terbebas dari tangisan beberapa detik lalu. Mendadak aku berharap pelangi
akan muncul. Ini akan menjadi moment paling pas dan menyejukkan. Namun, selang
bermenit-menit terlampaui, tak ada tanda-tanda serangkai tujuh warna itu akan
hadir.
Aku menghela napas pendek, sedikit kecewa. Tapi
kemudian, senyuman membingkai wajah. Aku lantas mengeluarkan gantungan pelangi
itu dari saku celana. Tak apa jika tak ada pelangi. Sebab, pelangi yang paling
indah adalah... ketika kita bisa berbagi hal sederhana yang
bisa mendatangkan kebahagiaan untuk orang lain. Dan kunci dari itu semua ialah
keikhlasan.
Aku hanya berharap agar Tuhan selalu menguatkan
dan menjaga di mana pun mereka berada.
oleh: Edelweiss
Sebelum Admin me-review cerpen ini,
Admin sangat mengapresiasi Kak
Kenshirey yang berhasil memperbaiki tulisannya. Dari segi teknis, Kak
Kenshirey
mengalami perkembangan yang signifikan. Cerpennya yang diikutsertakan dalam
#SelasaBercerita kali ini sudah jauh lebih baik dari cerpennya di
#SelasaBercerita yang lalu. Ini
patut dicontoh oleh para penulis lain yang sedang belajar untuk terus
berusaha
memperbaiki tulisan mereka.
Meski begitu, di dalam cerpen ini masih terdapat beberapa
kesalahan penggunaan EYD. Contohnya adalah penggunaan elipsis dan penulisan
huruf setelah dialog.
Dalam penggunaan elipsis ( ... ) yang dipakai untuk menunjukkan kalimat yang terputus-putus, maka elipsis tersebut didahului dengan spasi dan diakhiri dengan koma untuk melanjutkan ke rangkaian kata berikutnya. Contoh: Ini pengalaman yang (spasi)...(koma) ugh, apa ya? --> Ini pengalaman yang ..., ugh, apa ya?
Untuk penulisan huruf setelah
dialog, ada dua macam, yaitu: kapital dan huruf kecil. Huruf kapital digunakan jika kalimat di belakangnya
merupakan kalimat yang berdiri sendiri, dialog dan kalimat penjelas merupakan kalimat
yang berbeda. Contoh: “Ya Tuhan …, kau begitu baik. Terima kasih. Terima kasih banyak, Nak. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu dengan yang lebih besar.” Wanita di hadapanku berucap tulus dan haru.
Lalu, untuk huruf kecil, digunakan jika kalimat penjelas
masih satu kalimat dengan kalimat dialog. Kalimat penjelas dan kalimat dialog ada
dalam satu kalimat. Contoh: “Ah, tidak
apa-apa, Nak. Anakku hanya demam biasa, nanti juga akan segera sembuh,” kata ibu itu dengan wajah memelas.
Dalam cerpen ini, ada beberapa dialog yang narasi setelah dialog bukan merupakan kalimat penjelas dialog namun ditulis serangkai. Contoh: “Nak, tunggu!” Aku sontak menoleh ketika mendengar nyonya itu memanggilku. ”Payungmu—”
Aku sontak menoleh
bukanlah kalimat penjelas dialog sebelumnya melainkan sebuah adegan baru yang
seharusnya ditulis terpisah. Jadi penulisan yang benar adalah :
“Nak, tunggu!”
Aku sontak menoleh ketika mendengar nyonya itu memanggilku.
”Payungmu—”
.
Selain
itu, ada juga beberapa kesalahan penulisan yaitu; konsukuensi
seharusnya konsekuensi, perhalan seharusnya perlahan, mengesan
seharusnya mengesankan.
Untuk penulisan istilah-istilah asing seperti turqouise,
apartement,dan sneakers ditulis miring atau jika tidak ingin ditulis
miring, gunakan dalam Bahasa Indonesia. Untuk apartement
seharusnya ditulis miring, atau apartemen jika tidak ditulis miring.
Penulisan ibu juga hal penting yang harus diketahui. Huruf awal untuk
panggilan Ibu, Mama, Bapak,dan panggilan kekerabatan lainnya besar karena pengacuan terhadap
seseorang yang sudah jelas sosoknya, sehingga huruf awalnya besar. Jika
tidak jelas atau berlaku untuk umum (bukan pengacuan atau sapaan) maka huruf awalnya kecil. Ada
pengecualian terhadap panggilan yang sudah mendapat imbuhan seperti
ibunya, ibuku, dll, maka ditulis dengan huruf awal kecil meskipun sosoknya sudah jelas.
Contoh 1 : Hujan memang mendatangkan keberkahan; kata Ibu
Ibu di sini mengacu kepada ibunya si tokoh, maka ditulis dengan huruf awal besar.
Contoh 2 : Semua ibu di dunia ini pasti menyayangi anaknya.
Ibu di sini mengacu kepada ibu secara umum, maka ditulis dengan huruf awal kecil.
Sebisa
mungkin hindari penggunaan 'entah mengapa', 'entah apa yang terjadi'
karena kata entah membuat penulis terkesan malas untuk menjelaskan
sesuatu.
Ide
cerita yang digunakan dalam cerpen ini bukanlah hal baru, namun cara
bercerita penulis sangat baik, kalimatnya padu dan mengalir ditambah
dengan diksi yang kaya, sehingga pesan yang akan disampaikan oleh cerpen
ini bisa diterima oleh pembaca.
Nah, sekian review dari Mimin. Selamat untuk Kak Kenshirey
atas cerpennya yang terpilih dalam #JumatReview minggu ini. Sampai jumpa, dan terus menulis, Sobat JO!
Sumber gambar: http://oryza-bitha.blogspot.com/