Thursday, July 30, 2015





Oleh: Ixora

Sobat JO, pernahkah kalian membaca sebuah novel atau cerpen yang sepanjang membacanya atau di akhir kalian menyelesaikan membaca cerita tersebut, maka kalian merasa bahwa ada sesuatu yang  harus kalian renungkan bahkan ada hal-hal yang dirasa perlu diubah? Jika ya, selamat, kalian baru saja membaca sebuah cerita yang menginspirasi, bahkan menggerakkan.

Cerita yang mampu menginspirasi dan menggerakkan bukan hanya milik buku biografi tokoh terkenal, atau bukan juga hanya dimiliki oleh buku-buku seperti Chicken Soup. Tidak. Cerita fiksi berupa novel atau cerpen pun mampu melakukan hal itu. Tentu pencinta buku pernah membaca karya-karya Andrea Hirata, bukan? Lihatlah bagaimana dengan tulisannya ia mampu memberi jalinan cerita yang memikat hingga halaman terakhir dan juga penuh dengan pesan-pesan moral. Tentu akan sangat membahagiakan bagi seorang penulis apabila pesan yang hendak disampaikan dalam tulisannya mampu diterima dan bahkan menjadi pembelajaran bagi pembacanya untuk bisa menjadi lebih baik.

Membuat tulisan yang menginspirasi bahkan menggerakkan orang tanpa harus orang tersebut merasa digurui tentu bukan hal yang mudah namun juga bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. JO Team telah merangkum beberapa tips agar Sobat JO mampu menghasilkan tulisan yang menggerakkan pembaca berikut ini:

1.      Menentukan pesan apa yang akan disampaikan.
Sebelum menulis sesuatu, kita harus mengetahui apa yang ingin kita sampaikan.  Pesan apa yang akan kita bagikan untuk pembaca di dalam tulisan kita? Dengan mengetahui hal tersebut, maka cerita kita tidak akan melenceng kemana-mana dan jalinan ceritanya akan lebih kuat.

2.      Usahakan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
Untuk menginspirasi dan menggerakkan banyak orang tentu pesan dalam tulisan kita harus sampai terlebih dahulu. Dalam sebuah cerita, kata-kata adalah pengantar pesan, sehingga semakin kata-kata tersebut mudah dipahami, semakin mudah pesan tersebut akan sampai. Tentu saja, kata-kata tersebut harus padu agar menjadi kalimat-kalimat yang menyentuh.

3.       Pintar menyamarkan pesan.
Mengapa pesan harus disamarkan? Agar pembaca tidak merasa sedang digurui atau diceramahi. Penulis harus pintar menyiasati agar esensi dari pesan itulah yang akhirnya bisa ditangkap oleh pembaca. Pesan bisa disamarkan melalui dialog-dialog kecil atau narasi-narasi yang ringan dan santai. Bahkan pesan pun bisa diwujudkan dalam penokohan seseorang.

4.       Mulai menulis untuk banyak orang.
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” ― Pramoedya Ananta Toer
Mulai sekarang, mulailah untuk menulis bagi banyak orang. Jangan ragu untuk menyebarkan tulisan kita agar dibaca banyak orang melalui media massa, penerbit, maupun media sosial. Tidak usah khawatir dengan kesempurnaan tulisan kita, justru dengan semakin banyak dibaca orang maka kita akan semakin banyak belajar mengenai kekurangan yang harus diperbaiki dalam tulisan kita. Tulisan yang tidak sempurna namun dibaca oleh banyak orang tentu akan lebih berpeluang untuk menginspirasi dan menggerakkan dibanding tulisan yang hanya tersimpan di folder-folder laptop dengan kita sebagai satu-satunya pembaca, kan? ;p

Selamat menulis dan menyebarkan pesan :)


Sumber gambar: http://www.buzzfeed.com/doree/quotes-about-writing#.cjpjXrbKZ0






Monday, July 27, 2015




Oleh : Orchid dan Ixora

Hai Sobat Jo, untuk kalian yang malam minggu kemarin tidak sempat menyimak #MalmingMenulis di akun twitter @JOPHouse karena sibuk ngapel atau sibuk ngepel #eh, maka JO Team yang baik hati merangkum semuanya dalam artikel ini untuk kalian.

#MalmingMenulis kali ini sebagai bukti cinta JO Team untuk kalian yang dalam beberapa hari ini sibuk nanya mengenai penggunaan huruf awal kapital pada kata ibu, bapak, paman, saudara, dll. Lagi-lagi karena JO Team baik hati, kita tidak hanya akan membahas itu saja, melainkan sekalian aja, deh kita bahas soal ‘Penggunaan Huruf Kapital,’ siapa tahu banyak yang sudah lupa.

Merujuk dari EYD, di bawah ini adalah beberapa aturan tentang penggunaan huruf kapital, yaitu dipakai untuk:
1. Huruf pertama pada awal kalimat. Udah pada paham, kan? Jadi mulai sekarang, kalau sms minta pulsa jangan pakai huruf kapital semua lagi, ya? Kecuali kalau caps lock-nya jebol.

2. Huruf pertama dalam kata dan ungkapan yg berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan (termasuk kata ganti Tuhan). Contohnya : Islam, Injil, Yang Maha Pengasih, ..., hamba-Nya, dll.

3. Huruf pertama dalam petikan langsung. Misalnya: Dian bertanya, "Di mana kamu tinggal?”

4. Huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan  yang diikuti nama orang. Ingat, hanya jika diikuti nama orang. Jadi, jangan lagi menulis haji di tengah-tengah kalimat dengan huruf awal besar, ya kalau tidak diikuti namanya.

5. Huruf pertama unsur jabatan yang diikuti nama orang, instansi, atau tempat tertentu yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu. Contoh: Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian.

6. Huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, bahasa, dan nama orang. Khusus nama orang, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama pada kata de, van, der, von, da, bin, dan binti. Khusus nama bangsa, suku, dan bahasa, huruf kapital tidak digunakan sebagai huruf pertama kata turunan. Contoh: pengindonesiaan kata asing.

7. Huruf pertama unsur-unsur nama diri geografi yang diikuti nama diri geografi. Ingat lagi, harus diikuti nama diri geografi tersebut. Contoh: Sungai Musi. Tapi, huruf kapital tidak digunakan jika nama diri geografi tersebut digunakan untuk penjelas nama jenis, seperti: nangka belanda.

8. Huruf pertama nama tempat, tahun, bulan, hari, dan hari raya.

9. Huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan termasuk nama dokumen resmi kecuali kata dan, oleh, atau, dan untuk. Misalnya: Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak.

10.Huruf pertama semua kata di dalam sebuah judul, kecuali huruf pertama pada kata tugas (di, ke, dan, dari, yang, untuk) yang berada pada pertengahan kalimat. Jadi, jika kata tugas itu berada di awal kalimat,  menggunakan huruf kapital. Contoh: Saya sedang membaca buku Prajurit yang Terakhir.

11. Huruf pertama pada singkatan nama pangkat dan gelar. Misalnya: S.H, S.E, S.Pd.

12. Huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan (ibu, bapak, saudara, adik, kakak, dan paman) yg digunakan dalam penyapaan atau pengacuan. 
Misal: 
Besok Bapak akan pulang.
"Kapan Ibu pergi?" tanya Ani.
Ibu bertanya, "Sedang apa, Dik?"
Jika bukan pengacuan atau sapaan, tidak perlu menggunakan huruf kapital. Misalnya: Semua kakak saya laki-laki.

13. Huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan. Misal: Apakah Anda percaya? Siapa nama Anda?


Yup, sekian dulu pembahasan mengenai Penggunaan Huruf Kapital. Semoga bermanfaat :)



Sumber gambar:http://upic.me/i/7k/alphabetstampupper-2.jpg

Friday, July 24, 2015



Halo, Sobat JO!

Pada Jumat kali ini JO Team sudah memilih cerpen dari #SelasaBercerita untuk di-review di website resmi JOPH. Sebelumnya, kami mengucapkan terima kasih kepada para sobat JO yang sudah mengirimkan karyanya untuk berpartisipasi dalam #SelasaBercerita kali ini. Nah, mari kita bahas cerpen pilihan dari #SelasaBercerita lalu dengan tema: BERBAGI.


Oleh : Kenshirey

Harum tanah basah terasa kental memenuhi rongga hidung ketika aku keluar menapaki jalan setapak dengan payung hitam di genggaman. Bentangan langit nun jauh di atas masih betah memamerkan warna kelabu bertemakan sendu. Menggigil aku merapatkan syal turqouise-ku, tatkala angin yang berhembus bak duri halus di tengah sisa rintik hujan. 

Aku mempercepat langkah, begitu sepasang kelereng cokelatku menangkap bangunan bertingkat yang kira-kira berjarak tujuh puluh lima meter lagi dari tempatku sekarang. Sesegera mungkin aku harus mengantar empat lembar roti gandum dan sup labu yang baru dimasak ibu beberapa menit lalu ini kepada Bibi Ashley di apartement-nya. Mataku menatap sumringah kantong plastik di tangan, lalu beralih pada bangunan menjulang tinggi yang semakin dekat. 

Hujan memang mendatangkan keberkahan; kata ibu. Tapi, aku benci jika harus berpapasan dengan kubangan air yang akan mendatangkan gatal di kulit, kalau-kalau aku salah berpijak dan terjebak. Seperti sekarang ini, tidak hanya basah, sneakers yang kukenakan menjadi kotor akibat tak sengaja menginjak kubangan air keruh itu. Ya, salahkan saja aku yang terlalu bersemangat. 

Alih-alih mengumpati sneakers kotor atas kecerobohan yang kuperbuat, kedua mata ini tanpa sengaja mendapati sosok lain yang sedang berteduh dalam gang sempit dekat undakan tangga. Seorang wanita berusia kurang dari setengah abad, bersama anak lelaki yang terpekur di pangkuan. Pakaian lusuh yang mereka pakai terlihat lembab. Tampak kaos kaki yang membungkus sepasang kaki si anak mungil bolong di telapak. 

Meringis pedih aku menebak, jika mereka berusaha menahan dingin sejak hujan menimpa di bawah naungan yang terbatas. Tiba-tiba aku teringat pada Bibi Ashley. Kembali aku melanjutkan langkah yang sempat tertunda.

Aku memang sering menjumpai gelandang di pinggiran kota. Tapi, apa peduliku? Mereka hanya orang asing. Mereka juga bisa mencuri perhatian orang-orang yang lebih 'wah' daripada aku yang masih remaja. Jadi, toh, tak masalah jika hanya satu orang yang mengabaikan. 

Namun, baru empat langkah berjalan, aku berhenti, menoleh lagi pada anak lelaki yang terlihat sangat lemas di pangkuan wanita itu. Bibirnya membiru. Rasa iba merayap perhalan dan menggiringku untuk mendekat. 

“Apa
… dia sakit?” 

Entah apa yang terjadi, aku sudah berada tepat di hadapan mereka. Berdiri memerhatikan si anak lelaki yang hanya terdiam menatapku dengan wajah polosnya. 

“Ah, tidak apa-apa, Nak. Anakku hanya demam biasa, nanti juga akan segera sembuh.”
aku sontak berpaling pada wanita dewasa yang tersenyum kecil. Sepertinya beliau tidak mau terlihat terlalu menyedihkan di hadapan orang lain. 

“Pasti dingin, ‘kan?”
aku menekuk kedua kaki, berjongkok di hadapan anak lelaki itu, meletakkan payung di sisi dan melepaskan syal, lalu memakaikan di leher mungilnya. Bocah itu mengerjap sekali-dua kali untuk kemudian mengangguk, aku tersenyum simetris. 

Sejenak, aku terdiam menatap kantong plastik di genggaman dan seraut wajah pucat sang bocah lelaki bergantian. Aku berpikir, menimang-nimang keputusan. Keraguan sempat menghadang, namun dengan cepat ditampik akan rasa ibaku yang pekat. Kemudian aku kembali berdiri tegak dan mengangsurkan kantong plastik di tangan pada
nyonya itu. 

“Ini—saya berikan untuk adik kecil dan Nyonya,“ kataku. 

“Whoa! Apa itu makanan?!”
aku terkekeh pelan mendengar sahutan antusias dari anak lelaki itu. Mengangguk. Matanya berbinar cerah sambil meneguk ludah menatap kantong plastik yang berada dalam genggaman wanita di sisinya. “Terima kasih, ya, Kak!” 

Aku tersenyum kecil. Tanganku sudah terjulur untuk mengambil payungku yang kuletakkan begitu saja di sisi anak lelaki itu, tapi urung. Biarlah payung tersebut kutinggalkan untuk membantu melindungi mereka. 

“Hmm
... baiklah, saya pergi.” 

“Nak, tunggu!” aku sontak menoleh ketika mendengar nyonya itu memanggilku. ”Payungmu—” 

“Oh. Tidak usah. Sepertinya Nyonya lebih membutuhkan.” 

“Ya Tuhan…, kau begitu baik. Terima kasih. Terima kasih banyak, Nak. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu dengan yang lebih besar.” wanita di hadapanku berucap tulus dan haru. Aku bisa membacanya lewat kedua mata beliau. Detik berikutnya, dia terlihat terburu-buru mengacak isi tas kumuhnya yang berada di belakang tubuh, mengambil sebuah barang, dan memberikannya padaku kemudian. “Memang tak seberapa. Tapi, tolong terimalah sebagai tanda terima kasihku.” 

Sekarang aku menatap pada sebuah benda yang ada di atas telapak tangan. Yaitu; gantungan kunci dengan bola-bola pelangi sebagai bandulnya. 

Cantik. 

Aku menarik sedikit ujung bibirku. Lantas menyimpan gantungan kunci pelangi ini dalam saku celana. “Baiklah, selamat tinggal.” 

Aku berjalan meninggalkan mereka dengan lenggang, namun senyuman membekas di hatiku. Ini pengalaman yang... ugh, apa ya? Mengesan, mungkin? Apapun itu, adalah kali pertama aku begitu peduli terhadap seseorang yang bahkan tidak kukenal, tanpa memikirkan
konsukuensi yang menanti di ujung jalan. 

Sesaat, aku terenyuh. Si bocah lelaki itulah alasannya. Entah kenapa, aku turut merasakan pedih begitu melihat tubuh ringkihnya. Dia tetap tegar meskipun kedinginan—yang kuyakin dia juga pasti tak jarang merasa kelaparan. Di usianya yang masih terbilang belia, dia sudah harus memperjuangkan hidup dan melindungi sang ibu. Yang tidak bebas bermain ataupun bersekolah sewajar anak lainnya. 

Bukankah masa kecil adalah masa menyenangkan? 

Huh, aku merasa tertampar jika mengingat sikapku selama ini. Padahal aku termasuk seseorang yang jauh lebih beruntung daripada mereka. Adik kecil itu
… membuatku tersentuh. 

Aku mendongak, menatap bentangan langit yang sudah terbebas dari tangisan beberapa detik lalu. Mendadak aku berharap pelangi akan muncul. Ini akan menjadi moment paling pas dan menyejukkan. Namun, selang bermenit-menit terlampaui, tak ada tanda-tanda serangkai tujuh warna itu akan hadir. 

Aku menghela napas pendek, sedikit kecewa. Tapi kemudian, senyuman membingkai wajah. Aku lantas mengeluarkan gantungan pelangi itu dari saku celana. Tak apa jika tak ada pelangi. Sebab, pelangi yang paling indah adalah
... ketika kita bisa berbagi hal sederhana yang bisa mendatangkan kebahagiaan untuk orang lain. Dan kunci dari itu semua ialah keikhlasan. 

Aku hanya berharap agar Tuhan selalu menguatkan dan menjaga di mana pun mereka berada.

Review
oleh: Edelweiss

Sebelum Admin me-review cerpen ini, Admin sangat mengapresiasi Kak Kenshirey yang berhasil memperbaiki tulisannya. Dari segi teknis, Kak Kenshirey mengalami perkembangan yang signifikan. Cerpennya yang diikutsertakan dalam #SelasaBercerita kali ini sudah jauh lebih baik dari cerpennya di #SelasaBercerita yang lalu. Ini patut dicontoh oleh para penulis lain yang sedang belajar untuk terus berusaha memperbaiki tulisan mereka.

Meski begitu, di dalam cerpen ini masih terdapat beberapa kesalahan penggunaan EYD. Contohnya adalah penggunaan elipsis dan penulisan huruf setelah dialog.

Dalam penggunaan elipsis ( ... ) yang dipakai untuk menunjukkan kalimat yang terputus-putus, maka elipsis tersebut didahului dengan spasi dan diakhiri dengan koma untuk melanjutkan ke rangkaian kata berikutnya. Contoh: Ini pengalaman yang (spasi)...(koma) ugh, apa ya? --> Ini pengalaman yang ..., ugh, apa ya?


Untuk penulisan huruf setelah dialog, ada dua macam, yaitu: kapital dan huruf kecil. Huruf kapital digunakan jika kalimat di belakangnya merupakan kalimat yang berdiri sendiri, dialog dan kalimat penjelas merupakan kalimat yang berbeda. Contoh: “Ya Tuhan …, kau begitu baik. Terima kasih. Terima kasih banyak, Nak. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu dengan yang lebih besar.” Wanita di hadapanku berucap tulus dan haru.

Lalu, untuk huruf kecil, digunakan jika kalimat penjelas masih satu kalimat dengan kalimat dialog. Kalimat penjelas dan kalimat dialog ada dalam satu kalimat. Contoh: “Ah, tidak apa-apa, Nak. Anakku hanya demam biasa, nanti juga akan segera sembuh,” kata ibu itu dengan wajah memelas. 

Dalam cerpen ini, ada beberapa dialog yang narasi setelah dialog bukan merupakan kalimat penjelas dialog namun ditulis serangkai. Contoh: “Nak, tunggu!” Aku sontak menoleh ketika mendengar nyonya itu memanggilku. ”Payungmu—” 


Aku sontak menoleh bukanlah kalimat penjelas dialog sebelumnya melainkan sebuah adegan baru yang seharusnya ditulis terpisah. Jadi penulisan yang benar adalah :



“Nak, tunggu!” 

Aku sontak menoleh ketika mendengar nyonya itu memanggilku. 

”Payungmu—” 
.
Selain itu, ada juga beberapa kesalahan penulisan yaitu; konsukuensi seharusnya konsekuensi, perhalan seharusnya perlahan, mengesan seharusnya mengesankan. 

Untuk penulisan istilah-istilah asing seperti turqouise, apartement,dan sneakers ditulis miring atau jika tidak ingin ditulis miring, gunakan dalam Bahasa Indonesia. Untuk apartement seharusnya ditulis miring, atau apartemen jika tidak ditulis miring.


Penulisan ibu juga hal penting yang harus diketahui. Huruf awal untuk panggilan Ibu, Mama, Bapak,dan panggilan kekerabatan lainnya besar karena pengacuan terhadap seseorang yang sudah jelas sosoknya, sehingga huruf awalnya besar. Jika tidak jelas atau berlaku untuk umum (bukan pengacuan atau sapaan) maka huruf awalnya kecil. Ada pengecualian terhadap panggilan yang sudah mendapat imbuhan seperti ibunya, ibuku, dll, maka ditulis dengan huruf awal kecil meskipun sosoknya sudah jelas.

Contoh 1 : Hujan memang mendatangkan keberkahan; kata Ibu
Ibu di sini mengacu kepada ibunya si tokoh, maka ditulis dengan huruf awal besar.
Contoh 2 : Semua ibu di dunia ini pasti menyayangi anaknya.
Ibu di sini mengacu kepada ibu secara umum, maka ditulis dengan huruf awal kecil.

Sebisa mungkin hindari penggunaan 'entah mengapa', 'entah apa yang terjadi' karena kata entah membuat penulis terkesan malas untuk menjelaskan sesuatu.


Ide cerita yang digunakan dalam cerpen ini bukanlah hal baru, namun cara bercerita penulis sangat baik, kalimatnya padu dan mengalir ditambah dengan diksi yang kaya, sehingga pesan yang akan disampaikan oleh cerpen ini bisa diterima oleh pembaca.

Nah, sekian review dari Mimin. Selamat untuk Kak Kenshirey atas cerpennya yang terpilih dalam #JumatReview minggu ini. Sampai jumpa, dan terus menulis, Sobat JO!




Sumber gambar: http://oryza-bitha.blogspot.com/