Showing posts with label minggu menulis. Show all posts
Showing posts with label minggu menulis. Show all posts

Wednesday, October 5, 2016

Oleh : Three Friend in Winter

Halo, Sobat JO! Mimin datang untuk memberikan rangkuman #MingguMenulis kemarin.

Hari Minggu kemarin Mimin bilang ada yang menarik dalam bahasan #MingguMenulis kali ini, kan? Yup! Tema #MingguMenulis kali ini adalah tentang cara membuat tulisanmu menjadi menarik.

Tulisan yang menarik pasti akan membuat orang ingin tahu dan membaca tulisan kalian. Kalian tentu sering melihat buku-buku dengan predikat bestseller, kan? Tentu kalian pernah bertanya-tanya, mengapa buku tersebut bisa best seller? Minggu kemarin Mimin pernah membahas tentang hal tersebut di sini. Salah satu hal yang membuat tulisan kalian menarik adalah tulisan tersebut memiliki keunikan.

Contohnya saja, jika kalian menemukan sebuah judul tulisan “Dijual: Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya”, kalian tentu akan penasaran ingin melirik isi tulisan tersebut. Dari judulnya saja sudah unik. Bagaimana isinya, ya? Judul yang Mimin sebut tadi adalah salah satu judul cerpen milik A.S. Laksana.

Nah, keunikan semacam itu tidak dimiliki oleh banyak tulisan. Lantas, unsur apa yang membentuk keunikan tersebut?

Pertama, melihat dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang. Think out of the box. Setiap orang tentu saja punya pendapat tersendiri mengenai sebuah kejadian. Bahkan meskipun kita sering kali setuju dengan pendapat orang lain, tetap saja perbedaan itu selalu ada. Misalkan saja, kita ingin membuat kisah dengan tema perjalanan menemukan jati diri. Tentu ada banyak novel-novel yang menceritakan hal semacam itu, kan? Kita bisa mulai dari membayangkan apa yang kebanyakan orang pikirkan mengenai tema tersebut. Kemudian pikirkan, bagaimana pendapat kalian sendiri mengenai tema tersebut. Apa yang bisa membuatnya berbeda dari sudut pandang kebanyakan orang?

Dalam Novel Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta terbitan JOPH, tokoh utamanya juga melakukan sebuah perjalanan. Tapi apa yang membuatnya berbeda adalah Kak Alhzeta membuat karakter seorang mantan napi. Dengan kutipan dari sinopsis “Aku Ravit, bekas tahanan yang kini kembali terpenjara rasa takut,” Kak Alhzeta mencoba untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda dari orang kebanyakan. 

Atau contoh lainnya dari cerpen A.S. Laksana yang Mimin sebut di atas. Orang kebanyakan akan berpikir kalau rumah yang dijual, kalau tidak rumah kosong saja tentu rumah dengan perabotannya. Tapi menjual rumah beserta kenangan-kenangan di dalamnya? Hm, tentu sangat unik dan menggelitik rasa penasaran kita.

Kedua, menulis sesuatu yang belum terpikirkan oleh orang lain. Tapi kan, Min... nothing new under the sun. Yup, tentu saja, tapi ketika kita melihat sesuatu dengan seksama, tentu kita akan menemukan sesuatu yang jarang dipikirkan oleh orang lain.

Contohnya saja, novel terbaru JOPH yang berjudul A Place You Belong yang sebentar lagi akan dimulai blogtournya. Kalau membahas integritas profesi, atau membahas mengenai benturan realitas dan idealisme, tentu banyak  novel yang mengambil tema seperti itu. Nah, apa yang membuat APYB ini bisa memenangkan juara dua dalam lomba #WayBackHome kemarin? Hal tersebut adalah karena selain tulisan Kak Nicco Machi memiliki jiwa, karakter yang membawa cerita tersebut belum banyak diangkat oleh banyak orang. Karakter yang dibawakan oleh Kak Nicco Machi adalah seorang pustakawan.

Banyak dari kita tentu merasa asing, profesi pustakawan itu seperti apa, sih? Oh, ternyata ada jurusan kuliah di bidang itu, toh?  Yang merasa asing dengan pekerjaan itu tentu penasaran ingin mencari tahu.

Ketiga, keluar dari aturan yang lama. Maksudnya bagaimana, Min? Begini, Mimin contohkan novel To Kill a Mocking Bird karya Harper Lee. Dalam novel tersebut kita bisa melihat mengenai persamaan hak dalam hukum untuk ras kulit hitam dan putih. Hal tersebut sebelumnya diabaikan, tapi Harper Lee mencoba mengangkat tema tersebut dari sudut pandangnya hingga akhirnya buku tersebut menjadi salah satu buku yang mempengaruhi sejarah Amerika. Atau mengenai R.A. Kartini yang mengemukakan pemikirannya mengenai persamaan hak untuk mendapatkan pendidikan bagi perempuan Indonesia.

Wah kalau membahas isu sosial berat, Min. Nggak nyampe otaknya buat mikirin itu. Mikir kehidupan sendiri saja belum selesai. Hehehe...Mimin tahu, pasti ada yang berpikir seperti itu. Keluar dari aturan lama itu tidak melulu soal isu-isu berat yang harus membawa perubahan dunia. Kita bisa memulainya dari memperhatikan yang kecil-kecil. Misalkan, kita sering melihat orang-orang yang naik kendaraan bermotor kemudian membuang sampahnya sembarangan di jalan. Kalau hal itu mengusik kita, kita bisa mencoba menuliskan kisah mengenai hal tersebut.

Atau Mimin kasih contoh yang lebih dekat dengan kehidupan kalian, soal jodoh. Misalkan, kenapa sih orang patah hati atau putus cinta itu selalu identik dengan menangis, mengurung diri, atau hilang semangat hidup? Kenapa tidak dibuat, si tokoh setelah putus cinta langsung bangkit jauh lebih hebat daripada sebelumnya?

Kenapa si tokoh X bisa seperti itu?
Hatinya nggak retak-retak, kah?
Wah, pasti hati si tokoh ini dingin sekali!

Dari pemikiran itu, kita sudah dapat menulis sesuatu yang keluar dari aturan umum.

Nah sekian #MingguMenulis kali ini. Menjadi berbeda itu tidak mudah untuk dilakukan. Apalagi kita hidup di dalam masyarakat yang sering mengucilkan dan mengomentari seseorang yang berani tampil beda. Tapi, jika kalian ingin banyak orang tertarik untuk melirik karya kalian, tentu kalian harus mampu bersaing dengan jutaan karya orang lain yang serupa. Cara agar dilirik ya menjadi unik. Belajar untuk menjadi lebih kritis memandang sebuah hal dan mengutarakannya, tentu hal ini akan membantu karya kita untuk menjadi unik. 

Sumber gambar: http://www.cultbox.co.uk/reviews/books-a-cds/4-questions-to-answer-for-an-interesting-book-review

Monday, September 26, 2016

Oleh : Ixora

#MingguMenulis yang lalu telah membahas tentang menulis biografi. Nah, berikut artikelnya ya.

Ada yang sudah pernah menulis biografi? Sebelum mulai membahas mengenai menulis biografi, kita simak dulu, yuk, pengertian biografi.

Biografi secara sederhana dapat dikatakan sebagai sebuah kisah hidup seseorang. Bisa sangat singkat, bisa juga sangat panjang. Kisah hidup seseorang yang ditulis sendiri disebut autobiografi. Kita akan membahas tentang autobiografi di kesempatan yang lain. Biografi ditulis seizin tokoh yang bersangkutan atau tidak seizin tokoh yang bersangkutan (biasanya karena tokoh telah wafat). Nah, apakah ada seseorang di luar sana yang menarik dan kamu kagumi? Mengapa tidak menulis biografi tentang mereka?

Biografi menawarkan kesempatan dan keleluasaan lebih banyak dari yang penulis bisa bayangkan. Tapi tentu kalian banyak pertanyaan mengenai bagaimana memulainya, kan? Berikut Mimin akan menjelaskan beberapa tips-tips untuk mulai menulis mengenai biografi seseorang. 

Pertama, pilih tokoh yang akan kamu tulis. Ajukan beberapa pertanyaan penting antara lain apakah informasi yang kita miliki cukup untuk menulis tentang tokoh tersebut? Apakah tokoh tersebut telah memiliki buku biografi yang beredar di pasaran? Jika sudah, bagaimana caranya agar kita bisa menawarkan hal yang berbeda? Apa yang menarik tentang tokoh tersebut? Hal yang paling menarik belum tentu mengenai apa yang tokoh tersebut lakukan, bisa jadi adalah mengapa tokoh tersebut melakukan sesuatu. Rintangan apa yang telah dia lalui dan bagaimana dia menghadapi tantangan-tantangan dalam hidupnya? Dan pertanyaan paling penting berikutnya adalah, siapa yang akan menjadi pembaca bukumu?

Kedua, rencanakan bentuk tulisanmu. Ini adalah hal yang vital dan akan banyak menghabiskan energi. Tapi satu hal yang harus diingat oleh penulis biografi dan merupakan hal yang juga paling sering dilupakan adalah fakta bahwa mereka sedang menulis tentang cerita kehidupan seseorang, bukan sedang menulis tentang detail kronologi kumpulan kejadian. Kehidupan yang menarik adalah hasil dari sebuah cerita yang baik. Detail yang membosankan akan merusak cerita yang hendak kamu sampaikan. Detail-detail yang membosankan yang memang harus ditulis karena berhubungan dengan kronologi kehidupan tokoh tersebut, dapat diselipkan dalam momen-momen menarik sehingga tidak membuat pembaca jemu.

Ketiga, mulai melakukan riset. Riset dibutuhkan untuk mendapatkan informasi yang tepat dan akurat tentang tokoh tersebut. Tidak ada riset yang mudah. Riset akan banyak menghabiskan waktu, uang, dan energi jadi harus direncanakan dengan matang. Tentu banyak orang saat ini yang menjadikan internet sebagai sumber informasi, tapi kita tidak bisa menyandarkan keakuratan informasi hanya kepada internet. Sumber-sumber informasi lain yang justru lebih akurat adalah melalui wawancara dengan tokoh tersebut (jika masih hidup), dengan teman-teman dekat dan keluarganya, surat-surat, kliping koran, bahkan buku harian. 

Terakhir, mulai menuliskannya. Akan ada banyak kendala saat memulainya. Banyak yang akan memulai biografi dengan awal kelahiran si tokoh tapi itu akan sangat membosankan karena sudah terlalu sering diulang. Mulailah cerita dengan sesuatu yang baru. Ingat, pembukaan yang baik akan menentukan apakah buku kita akan ditinggalkan pembaca di halaman-halaman awal, atau akan terus dibaca. 

Menulis biografi lebih dari sekedar merekam fakta-fakta kehidupan. Biografi yang baik membuat seseorang terus hidup, mengabadikan pencapaian-pencapaiannya, dan memberi pesan baik bagi pembacanya. Menulislah tentang seseorang yang benar-benar kamu suka atau orang yang akan kamu sukai. Itu akan membuat pembaca ikut menyukainya. Tapi ingat, tidak semua orang yang menarik memiliki kehidupan yang menarik, jadi kamu harus memilah detail-detail kehidupan mana yang akan kamu tulis untuk membuat pembacamu bertahan membaca tulisanmu hingga halaman terakhir. Ingat, kebanyakan pembaca tidak peduli pada tanggal-tanggal bersejarah dari kehidupan tokoh di tulisanmu. Pembaca akan lebih mudah mengingat gaya bicara, kisah-kisah insipratif dan menyentuh dari tokoh tersebut. Jadi, jangan gunakan pengetahuanmu untuk bercerita dengan gaya yang terlalu kaku dan tidak menyentuh.

Nah, apa Sobat JO pernah membaca buku biografi yang menarik? Jika ya, boleh share reviewnya di kolom komentar ya. Sekian dulu artikel tentang #MingguMenulis kali ini dan semoga bermanfaat ya, Sobat JO!

Sumber gambar : http://agvnk-0n3.blogspot.co.id/2012/07/pengertian-biografi.html

Oleh: Edelweiss
Halo, Sobat JO! Mimin akan share artikel untuk kalian yang kemarin belum sempat menyimak materi #MingguMenulis di lini masa akun twitter JOPH, nih!
Sobat JO, kalau kalian suka menulis, pasti pernah dong tidak sengaja mendapat sebuah ide bagus saat membaca—entah itu koran, buku fiksi, buku nonfiksi, dan jenis bacaan lain. Tiba-tiba di kepala kalian akan terlintas sebuah ide seperti cerita berkaitan dengan hal yang kalian baca.
Ah, tapi biasanya ide yang muncul itu selalu mainstream alias sudah banyak dipakai dan klise. Nah, bagaimana, sih, agar kita bisa membuat ide mainstream yang muncul itu terasa original walaupun sebenarnya tidak ada yang benar-benar original di zaman sekarang.
Berikut, Mimin akan share tips-tipsnya :
1.      Think Outside the Box
Ini dia yang  menjadi inti dari keseluruhan materi ini. Yang terpenting bagi kita saat membuat karya adalah membuat orang tertarik. Bagaimana caranya? Berpikirlah berbeda dari orang-orang biasa. Ketika orang lain berpikiran bola itu bundar, mengapa kalian tidak berandai-andai kalau bola itu kotak?
Untuk mendapatkan ide hal-hal yang tidak biasa, kita juga harus berpikir berbeda dari orang lain. Meskipun itu sebuah ide yang klise dan biasa, lakukan sesuatu dengan ide tersebut sehingga ide itu jauh dari kata biasa. Coba berpikir keluar dari kotaknya, atau bahkan kalian berpikir seakan tidak ada kotak. Tidak terbatas.
2.      Padukan Hal-hal yang Tidak Biasa
Hujan, kopi, senja, apa lagi? Hal-hal itu tampaknya sudah menjadi pokok bahasan yang amat wajar. Kita sudah sering mendengar kisah tentang hujan. Begitu pula kopi, senja, dan hal-hal lain yang sering ditulis. Namun, mengapa kita tidak mencoba memadukan hal-hal biasa itu dengan hal lain yang tidak dibayangkan orang lain.
Misal saja kita memadukan antara hujan dengan roti. Terdengar dua kata itu jarang bersanding bersama.
Nah, setelah memadukan begitu, nanti kita mencari hubungan keduanya. Misalkan, pada saat hujan ada seorang anak kecil yang kelaparan di jalan. Sayangnya ia tidak memiliki cukup uang untuk membeli roti di toko yang menjadi tempat berteduhnya. Ceritakan berbagai konflik yang terjadi.
Terus kembangkan dua hal yang tidak biasa itu, buat keduanya menyatu dalam sebuah cerita. Mungkin memang terasa aneh ketika kamu memakan nasi dengan saus saja, tetapi ketika kamu menambahkan dengan hal lain itu tidak akan terasa aneh sama sekali.
3.      Lihat dari Sudut Pandang yang Berbeda
Ini salah satu cara agar kita berpikir out of the box, lihat dari sudut pandang yang berbeda. Untuk mendapatkan ide yang tidak biasa, kita harus melihat dari sisi yang tidak biasa. Lihat dari sisi-sisi lain yang mungkin belum terjamah orang lain. Siapa tahu kamu akan mendapat hal-hal yang luar biasa.
Terkadang, bunga yang indah berada di tempat yang tersembunyi.
4.      Berikan Pengemasan yang Jarang dan Menarik
Ide klise mungkin bukan sebuah masalah yang membuat ceritamu membosankan. Itu mungkin justru tidak berpengaruh sama sekali jika kamu menyajikannya dengan teknik yang jarang dipakai. Ide kalian yang klise akan terasa tidak biasa ketika kalian memberikan penyajian yang tepat dan menarik hati.
Seringkali, yang menjadi ujung tombak karya kita bukan idenya. Namun, bagaimana cara kita menyajikan ide tersebut kepada pembaca.
5.      Poles Sana Poles Sini
Ketika menemukan sebuah ide yang klise, jangan dulu kalian buang karena merasa itu terlalu biasa dan mainstream. Kalian bisa coba untuk memolesnya di mana-mana. Buat supaya ide itu tidak terlihat klise lagi. Seperti kue tart, mungkin akan biasa saja jika kita tidak menambahkan krim atau hiasan apapun. Namun, lihat, bukankah mereka tampak cantik dan tidak biasa setelah kita menghiasnya? Terkadang sebuah polesan sederhana tapi tepat akan membuat ide yang biasa menjadi cukup istimewa.
Nah, sepertinya cukup itu dulu tips dari Mimin mengenai cara mengolah ide yang mainstream menjadi terasa original buatan kalian sendiri. Jika, kalian ada tips yang lain, boleh bantu share di kolom komentar ya. Selamat menulis, Sobat JO! Sampai jumpa di lain waktu.

Sumber gambar: http://zootodays.blogspot.co.id/2013/03/ciri-ciri-kaset-dvd-vcd-yang-original.html

Saturday, September 3, 2016


Oleh: Orchid

Halo! Sobat JO! Mimin datang lagi dengan rangkuman #MingguMenulis. Kali ini bahasan Mimin adalah mengenai peluang pasar. Maksudnya apa, Min?

Begini, sebagai penulis ketika kalian menerbitkan buku, apa hal yang paling ingin kalian lihat selain buku kalian dipajang di toko buku? Jika, tujuan kalian menulis adalah untuk mendapatkan tambahan sen dari royalti menulis, nah ini dia yang Mimin ingin bahas.

Mengikuti tren pasar itu sah-sah saja. Apalagi sebagai penulis pemula--yang masih bingung cara menjadi trend setter atau bahkan menerbitkan buku best seller--maka mau tidak mau kalian harus mengikuti tren. Kenapa? Ini dikarenakan para penerbit mencari naskah-naskah yang sedang nge-tren. Karena naskah-naskah tersebut pasti akan laku jika dijual di pasaran.

Lantas, bagaimana melihat tren pasar dan menemukan peluang dari tren tersebut? Kalau kalian menginginkan menulis sebagai profesi sampingan yang menghasilkan, tentu kalian harus jeli melihat celah di pasaran buku saat ini agar semakin banyak buku kalian yang dilirik oleh para pembeli buku.

Tapi sebentar! Yang namanya follower tetap saja tidak akan bisa melebihi orang-orang yang menciptakan tren.  Trus gimana dong, Min? *nangis*

Sebagai follower, tentunya kita tidak boleh menjadi sembarang follower. Meskipun kita mengikuti tren pasar yang sedang berlangsung, kita harus tetap menyajikan sesuatu yang segar dari tren yang ada.

Contohnya bagaimana?
Misalkan saat ini, yang menjadi tren adalah novel yang yang diterbitkan dari cerita-cerita yang diunggah di Wattpad. Kalian suka menulis di media daring? Sering mengunggah tulisan pula di sana? Kalau begitu, seharusnya tren ini bisa kalian manfaatkan dengan baik.
Nah, bagaimana kita melihat peluang yang terbuka ini?
Kita bisa mulai dari melihat naskah seperti apa sih yang populer di Wattpad?
Apa kekurangan dan kelebihan naskah tersebut?
Mengapa dan bagaimana naskah tersebut bisa disukai banyak orang?

Meskipun populer, tentu saja tidak semua orang menyukai Wattpadlit. Bisa kita lihat, sering kali ada pembaca buku yang mengeluhkan novel-novel Wattpadlit. Nah, manfaatkan peluang tersebut.

Dari analisa-analisa yang sudah kita lakukan, kita bisa mencoba mencari celah untuk menyajikan sesuatu yang segar sekaligus menarik perhatian pembaca. Syukur-syukur disukai dan akhirnya best-seller. Memahami pesaing kita itu juga merupakan salah satu strategi untuk memenangkan pasar buku, loh.

Mengikuti tren itu boleh saja tapi nggak boleh asal ikut-ikutan. Kita tetap harus menyajikan sesuatu yang berbeda dari pendahulu.

Gimana dengan Sobat JO? Apa kalian hanya ingin sekadar menjadi follower? Atau sudah siap menyajikan sesuatu yang berbeda?

Sumber gambar: http://www.quotehd.com/quotes/words/Best-Seller

Oleh : Three Friend in Winter

Halo, Sobat JO! Mimin kembali dengan rangkuman #MingguMenulis minggu lalu. Minggu lalu Mimin sempat membahas mengenai menulis di media online. Sebelum Mimin mulai, siapa yang aktif menulis di platform menulis online? Ya, seperti wattpad, blog, atau komunitas-komunitas menulis online lainnya.

Bagaimana pendapat kalian mengenai menulis di media online?

Kalau menurut orang-orang di sekitar Mimin, banyak yang merasa hal tersebut baik untuk dicoba. Apalagi sedang ngetren. Namun tidak sedikit pula yang merasa, "Kalian nggak sayang kah dengan naskah itu? Kan bisa dikirim ke penerbit, diterbitkan." Kedua pendapat tersebut tidak salah sih. Mengunggah tulisan ke dunia maya punya beberapa resiko yang kemungkinan bisa dialami oleh penulis tersebut.

Pertama, kemungkinan kalau tulisan tersebut dijiplak oleh orang lain kemudian tulisan dia diterbitkan. Oh tidak! Nyesek... Kemungkinan lainnya, bisa jadi kita selamat dari resiko tersebut. Tapi ada kekhawatiran lain yang membayang. Kalau misalnya tulisan itu sudah diunggah secara online, kemudian dikirim ke penerbit, dan diterima, ada yang akan beli nggak ya?

Hayo! Siapa di sini yang pernah merasakan kekhawatiran yang sama dengan yang Mimin sebutkan?

Kemungkinan plagiasi, di mana pun tentu mungkin saja terjadi. Hal itu sulit untuk dihindari. Bahkan bisa jadi tanpa sadar kita sendiri pun yang melakukannya. Ingat materi Mimin pada #MingguMenulis dua minggu lalu? Tentang plagiarisme.

Kembali ke tema. Meskipun beresiko, tapi sebenarnya mengunggah hasil karya kita ke media online itu bermanfaat, loh

Ada banyak penulis terkenal di Indonesia yang lahir dari platform menulis online tersebut. Bahkan tak jarang pula, meskipun mereka sudah cukup populer, para penulis itu masih sering mengunggah karya secara online. Mengapa mereka lakukan hal itu? Salah satu alasannya adalah media online tersebut bisa jadi tempat untuk mengetes apakah cerita baru yang mereka tulis dapat diterima oleh pembaca. Istilahnya tes pasar.

Manfaat lain yang juga bisa didapatkan adalah kita bisa membangun rasa penasaran dan antisipasi pembaca terhadap cerita tersebut. Kalian sering nggak kalau di toko buku lihat buku, bawaannya ingin ngintip dahulu isinya baru putuskan untuk beli? Nah, fungsi tulisan yang diunggah ke media daring seperti itu. Dengan pembaca mengetahui perkiraan apa yang akan didapat di sana, ia lebih tidak terlalu takut kecewa setelah membeli.

Itu baru dari penulis yang sudah punya nama. Bagaimana dengan penulis baru yang belum punya hasil tulisan diterbitkan? Untuk calon-calon penulis tersebut, media online itu juga merupakan sebuah media yang dapat dimanfaatkan. Dengan penulis mengunggah tulisan ke media online, mereka dapat menerima feedback terhadap cerita yang ditulis. Dengan semakin sering orang memberikan umpan balik seperti itu, secara perlahan kemampuan penulis pasti akan semakin terasah.

Tak hanya itu, kalian juga bisa mulai untuk mendapuk nama kalian sebagai penulis di mata publik. Dengan semakin banyak kalian bersosialisasi dalam dunia ini, tentu orang-orang akan mulai memperhatikan kalian.

Bukan rahasia lagi bahwa saat ini banyak penerbit cenderung untuk memilih menerbitkan penulis yang sudah punya "nama". Hal ini tentu saja berkaitan dengan penjualan. Semakin terkenal penulis maka semakin baik kemungkinan hasil penjualan. Itulah sebabnya akhir-akhir ini marak terlihat novel-novel bertuliskan telah dibaca berjuta kali di media A,B,C, dan sebagainya.

Nah, bagaimana menurut kalian? Apakah masih anti untuk menunjukkan hasil karya kalian di media daring ini?

Sumber gambar: http://malp2010.com/wp-content/uploads/2016/05/menulis-di-media-online.png


Thursday, August 4, 2016



Oleh : Orchid

Hai, Sobat JO! Bagi kalian yang hari Minggu kemarin belum sempat menyimak #MingguMenulis, tenang saja, sudah Mimin rangkumkan kok, di sini! Yuk mari dibaca saja~

Jadi, temanya adalah plagiarisme. Apa itu plagiarisme? Plagiarisme adalah penjiplakan atau pengakuan atas karya orang lain oleh seseorang yang menjadikan karya tersebut sebagai karya ciptaannya.

Yang digolongkan sebagai plagiarisme adalah :
  1. Menggunakan tulisan milik orang lain tanpa memberikan tanda jelas. Misal, nih Sobat JO menemukan satu paragraf yang bagus di sebuah novel orang lain, terus ingin mencantumkannya ke ceritamu, Sobat JO harus memasukkan sumber yang jelas darimana kutipan paragraf tersebut. Karena kalau tidak, itu sudah tergolong plagiarisme, loh.
  2.  Mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi yang cukup tentang sumbernya.
  3. Mengubah tulisan orang lain pada suatu bagian dengan kata-kata sendiri, lalu memublikasikannya atas nama sendiri.
 Nah, 3 diatas adalah ciri-ciri tulisan yang tergolong dalam plagiarisme.

Terus, karya seperti apa yang tidak termasuk plagiarisme?
1.      Menggunakan informasi yang berupa fakta umum.
2. Menuliskan kembali (dengan mengubah kalimat atau parafrase) opini orang lain dengan memberikan sumber jelas. Jadi, meskipun kita mengubah kalimat atau parafrase opini orang lain, kita harus menyebutkan sumber yang jelas.
3.   Mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan menuliskan sumbernya.

Plagiarisme sangat sering terjadi. Contoh kasusnya adalah Alex Haley dituntut oleh Harold Courlander karena sebagian novelnya, Roots dituduh meniru novel Courlander, The African. Dan Brown, penulis The Da Vinci Code, telah dituduh dan dituntut karena melakukan plagiarisme dua kali. Dan masih banyak kasus lain yang kalau Mimin sebutkan di sini, tidak akan cukup.

Kadang, plagiarisme bisa terjadi karena ketidaksengajaan. Loh, kok bisa, Min? Bisa. Misalnya saja si penulis kurang memahami aturan pengutipan gagasan orang lain atau kalimat orang lain. Selain itu, plagiarisme bisa terjadi karena kurangnya pelacakan sumber-sumber yang ada. Jadi, hati-hati ya Sobat JO!

Agar terhindar dari plagiarisme, Mimin akan memberikan tips.
Pertama, SERTAKAN SUMBER. Ini penting. Dan HARUS dilakukan. Kedua, Lakukan parafrase atau pengubahan kata. Jadi, tulisan yang akan kita publish tidak sama persis dengan tulisan yang dikutip. Dan yang terakhir adalah menggunakan aplikasi peretas plagiarisme. Misalnya CopyScape, VIPER, dan masih banyak lagi.

Oh iya, ngomong-ngomong soal plagiarisme, kadang ada yang tidak bisa membedakan terinspirasi dengan plagiarisme. Memang sih, plagiarisme dengan terinspirasi itu bedanya sangat tipis! Biar tidak pada salah paham soal plagiarisme dan terinspirasi, Mimin akan beri tahu perbedaannya.

Nih, Mimin beri penggambarannya ya, biar tidak bingung.
Ada tokoh Y dan Z. Nah, si Y sangat jago bermain musik. Suatu ketika Z melihat Y yang sedang bermain musik dan merasa kalau Y itu keren banget. Lalu Z jadi ingin juga bisa bermain musik sehingga dia mulai belajar bermain musik tapi dengan gaya yang berbeda. Akhirnya, si Z sekarang sudah jago bermain musik dan mengikuti jejak si Y. Ini namanya, tokoh Z terinspirasi dengan tokoh Y.

Mimin kasih satu contoh yang lebih gampang lagi, deh soal terinspirasi.
Misal Sobat JO lagi membaca novel yang ceritanya tentang persahabatan. Tapi persahabatan itu hancur karena dua orang sahabat itu saling jatuh cinta. Lalu, Sobat JO juga ingin membuat cerita seperti itu tapi beda tokoh, beda latar, beda alur, dan beda juga gaya tulisannya. Nah, itu yang disebut terinpirasi. Kalau plagiarisme, Sobat JO mengutip kalimat yang sama, karakternya sama, bahkan alurnya juga sama.

Sekarang sudah jelas, kan? Sekian dulu #MingguMenulis kali ini ya. Semoga bermanfaat :)

Sumber gambar : https://theofficela.files.wordpress.com/2016/07/screen-shot-2014-03-28-at-11-48-39-am.png