Monday, September 26, 2016

Oleh : Ixora

#MingguMenulis yang lalu telah membahas tentang menulis biografi. Nah, berikut artikelnya ya.

Ada yang sudah pernah menulis biografi? Sebelum mulai membahas mengenai menulis biografi, kita simak dulu, yuk, pengertian biografi.

Biografi secara sederhana dapat dikatakan sebagai sebuah kisah hidup seseorang. Bisa sangat singkat, bisa juga sangat panjang. Kisah hidup seseorang yang ditulis sendiri disebut autobiografi. Kita akan membahas tentang autobiografi di kesempatan yang lain. Biografi ditulis seizin tokoh yang bersangkutan atau tidak seizin tokoh yang bersangkutan (biasanya karena tokoh telah wafat). Nah, apakah ada seseorang di luar sana yang menarik dan kamu kagumi? Mengapa tidak menulis biografi tentang mereka?

Biografi menawarkan kesempatan dan keleluasaan lebih banyak dari yang penulis bisa bayangkan. Tapi tentu kalian banyak pertanyaan mengenai bagaimana memulainya, kan? Berikut Mimin akan menjelaskan beberapa tips-tips untuk mulai menulis mengenai biografi seseorang. 

Pertama, pilih tokoh yang akan kamu tulis. Ajukan beberapa pertanyaan penting antara lain apakah informasi yang kita miliki cukup untuk menulis tentang tokoh tersebut? Apakah tokoh tersebut telah memiliki buku biografi yang beredar di pasaran? Jika sudah, bagaimana caranya agar kita bisa menawarkan hal yang berbeda? Apa yang menarik tentang tokoh tersebut? Hal yang paling menarik belum tentu mengenai apa yang tokoh tersebut lakukan, bisa jadi adalah mengapa tokoh tersebut melakukan sesuatu. Rintangan apa yang telah dia lalui dan bagaimana dia menghadapi tantangan-tantangan dalam hidupnya? Dan pertanyaan paling penting berikutnya adalah, siapa yang akan menjadi pembaca bukumu?

Kedua, rencanakan bentuk tulisanmu. Ini adalah hal yang vital dan akan banyak menghabiskan energi. Tapi satu hal yang harus diingat oleh penulis biografi dan merupakan hal yang juga paling sering dilupakan adalah fakta bahwa mereka sedang menulis tentang cerita kehidupan seseorang, bukan sedang menulis tentang detail kronologi kumpulan kejadian. Kehidupan yang menarik adalah hasil dari sebuah cerita yang baik. Detail yang membosankan akan merusak cerita yang hendak kamu sampaikan. Detail-detail yang membosankan yang memang harus ditulis karena berhubungan dengan kronologi kehidupan tokoh tersebut, dapat diselipkan dalam momen-momen menarik sehingga tidak membuat pembaca jemu.

Ketiga, mulai melakukan riset. Riset dibutuhkan untuk mendapatkan informasi yang tepat dan akurat tentang tokoh tersebut. Tidak ada riset yang mudah. Riset akan banyak menghabiskan waktu, uang, dan energi jadi harus direncanakan dengan matang. Tentu banyak orang saat ini yang menjadikan internet sebagai sumber informasi, tapi kita tidak bisa menyandarkan keakuratan informasi hanya kepada internet. Sumber-sumber informasi lain yang justru lebih akurat adalah melalui wawancara dengan tokoh tersebut (jika masih hidup), dengan teman-teman dekat dan keluarganya, surat-surat, kliping koran, bahkan buku harian. 

Terakhir, mulai menuliskannya. Akan ada banyak kendala saat memulainya. Banyak yang akan memulai biografi dengan awal kelahiran si tokoh tapi itu akan sangat membosankan karena sudah terlalu sering diulang. Mulailah cerita dengan sesuatu yang baru. Ingat, pembukaan yang baik akan menentukan apakah buku kita akan ditinggalkan pembaca di halaman-halaman awal, atau akan terus dibaca. 

Menulis biografi lebih dari sekedar merekam fakta-fakta kehidupan. Biografi yang baik membuat seseorang terus hidup, mengabadikan pencapaian-pencapaiannya, dan memberi pesan baik bagi pembacanya. Menulislah tentang seseorang yang benar-benar kamu suka atau orang yang akan kamu sukai. Itu akan membuat pembaca ikut menyukainya. Tapi ingat, tidak semua orang yang menarik memiliki kehidupan yang menarik, jadi kamu harus memilah detail-detail kehidupan mana yang akan kamu tulis untuk membuat pembacamu bertahan membaca tulisanmu hingga halaman terakhir. Ingat, kebanyakan pembaca tidak peduli pada tanggal-tanggal bersejarah dari kehidupan tokoh di tulisanmu. Pembaca akan lebih mudah mengingat gaya bicara, kisah-kisah insipratif dan menyentuh dari tokoh tersebut. Jadi, jangan gunakan pengetahuanmu untuk bercerita dengan gaya yang terlalu kaku dan tidak menyentuh.

Nah, apa Sobat JO pernah membaca buku biografi yang menarik? Jika ya, boleh share reviewnya di kolom komentar ya. Sekian dulu artikel tentang #MingguMenulis kali ini dan semoga bermanfaat ya, Sobat JO!

Sumber gambar : http://agvnk-0n3.blogspot.co.id/2012/07/pengertian-biografi.html

Oleh: Edelweiss
Halo, Sobat JO! Mimin akan share artikel untuk kalian yang kemarin belum sempat menyimak materi #MingguMenulis di lini masa akun twitter JOPH, nih!
Sobat JO, kalau kalian suka menulis, pasti pernah dong tidak sengaja mendapat sebuah ide bagus saat membaca—entah itu koran, buku fiksi, buku nonfiksi, dan jenis bacaan lain. Tiba-tiba di kepala kalian akan terlintas sebuah ide seperti cerita berkaitan dengan hal yang kalian baca.
Ah, tapi biasanya ide yang muncul itu selalu mainstream alias sudah banyak dipakai dan klise. Nah, bagaimana, sih, agar kita bisa membuat ide mainstream yang muncul itu terasa original walaupun sebenarnya tidak ada yang benar-benar original di zaman sekarang.
Berikut, Mimin akan share tips-tipsnya :
1.      Think Outside the Box
Ini dia yang  menjadi inti dari keseluruhan materi ini. Yang terpenting bagi kita saat membuat karya adalah membuat orang tertarik. Bagaimana caranya? Berpikirlah berbeda dari orang-orang biasa. Ketika orang lain berpikiran bola itu bundar, mengapa kalian tidak berandai-andai kalau bola itu kotak?
Untuk mendapatkan ide hal-hal yang tidak biasa, kita juga harus berpikir berbeda dari orang lain. Meskipun itu sebuah ide yang klise dan biasa, lakukan sesuatu dengan ide tersebut sehingga ide itu jauh dari kata biasa. Coba berpikir keluar dari kotaknya, atau bahkan kalian berpikir seakan tidak ada kotak. Tidak terbatas.
2.      Padukan Hal-hal yang Tidak Biasa
Hujan, kopi, senja, apa lagi? Hal-hal itu tampaknya sudah menjadi pokok bahasan yang amat wajar. Kita sudah sering mendengar kisah tentang hujan. Begitu pula kopi, senja, dan hal-hal lain yang sering ditulis. Namun, mengapa kita tidak mencoba memadukan hal-hal biasa itu dengan hal lain yang tidak dibayangkan orang lain.
Misal saja kita memadukan antara hujan dengan roti. Terdengar dua kata itu jarang bersanding bersama.
Nah, setelah memadukan begitu, nanti kita mencari hubungan keduanya. Misalkan, pada saat hujan ada seorang anak kecil yang kelaparan di jalan. Sayangnya ia tidak memiliki cukup uang untuk membeli roti di toko yang menjadi tempat berteduhnya. Ceritakan berbagai konflik yang terjadi.
Terus kembangkan dua hal yang tidak biasa itu, buat keduanya menyatu dalam sebuah cerita. Mungkin memang terasa aneh ketika kamu memakan nasi dengan saus saja, tetapi ketika kamu menambahkan dengan hal lain itu tidak akan terasa aneh sama sekali.
3.      Lihat dari Sudut Pandang yang Berbeda
Ini salah satu cara agar kita berpikir out of the box, lihat dari sudut pandang yang berbeda. Untuk mendapatkan ide yang tidak biasa, kita harus melihat dari sisi yang tidak biasa. Lihat dari sisi-sisi lain yang mungkin belum terjamah orang lain. Siapa tahu kamu akan mendapat hal-hal yang luar biasa.
Terkadang, bunga yang indah berada di tempat yang tersembunyi.
4.      Berikan Pengemasan yang Jarang dan Menarik
Ide klise mungkin bukan sebuah masalah yang membuat ceritamu membosankan. Itu mungkin justru tidak berpengaruh sama sekali jika kamu menyajikannya dengan teknik yang jarang dipakai. Ide kalian yang klise akan terasa tidak biasa ketika kalian memberikan penyajian yang tepat dan menarik hati.
Seringkali, yang menjadi ujung tombak karya kita bukan idenya. Namun, bagaimana cara kita menyajikan ide tersebut kepada pembaca.
5.      Poles Sana Poles Sini
Ketika menemukan sebuah ide yang klise, jangan dulu kalian buang karena merasa itu terlalu biasa dan mainstream. Kalian bisa coba untuk memolesnya di mana-mana. Buat supaya ide itu tidak terlihat klise lagi. Seperti kue tart, mungkin akan biasa saja jika kita tidak menambahkan krim atau hiasan apapun. Namun, lihat, bukankah mereka tampak cantik dan tidak biasa setelah kita menghiasnya? Terkadang sebuah polesan sederhana tapi tepat akan membuat ide yang biasa menjadi cukup istimewa.
Nah, sepertinya cukup itu dulu tips dari Mimin mengenai cara mengolah ide yang mainstream menjadi terasa original buatan kalian sendiri. Jika, kalian ada tips yang lain, boleh bantu share di kolom komentar ya. Selamat menulis, Sobat JO! Sampai jumpa di lain waktu.

Sumber gambar: http://zootodays.blogspot.co.id/2013/03/ciri-ciri-kaset-dvd-vcd-yang-original.html

Saturday, September 3, 2016


Oleh : Ixora

Materi #MalmingMenulis yang kali ini Mimin muat di dalam artikel adalah tentang Idealisme Penulis. Sepertinya berat ya kalau sudah menyangkut idealisme. Ih, belum tentu, lho. Kata idealisme dalam tulisan, membuat kita membayangkan tulisan-tulisan yang nyastra dan membuat dahi berkerut. Padahal, idealisme tidak hanya ranah tulisan sastra tapi lebih ke pesan baik apa yang hendak kita sampaikan dalam tulisan? Selain itu, sebesar apa sebuah tulisan bisa mempengaruhi? Seberapa besar jangkauan pembaca yang bisa diraih tulisan tersebut?

Banyak penulis yang akhirnya tidak menghasilkan tulisan apa-apa karena terlalu sibuk berpikir tentang idealismenya. Mereka berpikir kalau tulisannya selalu bertolak belakang dengan selera pasar sehingga pesimis untuk terus menulis. Penulis memiliki kebebasan untuk menyuarakan pesannya dalam bentuk tulisan. Jadi, jangan sampai kebebasan itu akhirnya terbelenggu hanya karena pemikiran mengenai apakah tulisan ini akan diterima oleh pasar atau tidak.

Menulis itu seharusnya membebaskan. Selain tentang kedalaman makna dan pesan yang akan disampaikan, idealisme penulis juga adalah tentang menulis sesuai selera. Nah, berikut Mimin akan share beberapa tips agar Sobat JO tidak berlarut-larut dalam pemikiran mengenai idealisme vs selera pasar.

Pertama, jadikan menulis sebagai sebuah kebutuhan. Jika ini sudah terjadi, maka menulis bukan lagi kita tujukan untuk mencari popularitas atau tujuan yang bersifat komersil melainkan karena kita ingin berbagi pesan, menyuarakan kegelisahan,dan juga bersenang-senang.

Kedua, menulislah sesuai selera kita, perkara selera kita akan sesuai dengan selera pasar atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting selesaikan tulisan yang sesuai dengan selera kita. Tren dalam genre tulisan selalu berganti, tapi tulisan yang diciptakan dengan hati akan menemukan masanya sendiri.

Ketiga, berhenti menuntut kesempurnaan. Tentu kita menginginkan karya yg sempurna, tapi jika kita terus membebankan kesempurnaan dalam karya maka kemungkinannya sangat kecil untuk kita dapat segera menyelesaikan karya tersebut.

Keempat, mulailah mencari penerbit yang sesuai dengan tulisan kita untuk memperkecil resiko tulisan kita akan ditolak. Sekarang, hampir setiap penerbitan memiliki lini untuk genre yang cukup variatif. Hal ini memperluas peluang karya untuk menemukan 'rumahnya'.

Jadi, jangan terlalu terbebani dengan kekhawatiran bahwa idealisme dalam tulisan kita akan bertolak belakang dengan selera pasar. Satu-satunya yang harus segera kita lakukan adalah terus disiplin untuk menulis hingga menghasilkan karya-karya yang membawa kebaikan

Oh iya, salah satu karya yang lahir dari idealisme penulisnya adalah buku 'A Place You Belong' karya Nicco Machi. Buku ini adalah pemenang kedua lomba Way Back Home yang diadakan oleh penerbit Jendela O’ Publishing House. Jika kalian ingin mencari tahu sinopsisnya, bisa dibaca di sini.

Mimin sertakan juga link yang menceritakan  proses lahirnya buku tersebut langsung dari blog penulisnya di sini

Sumber gambar : https://en.wikipedia.org/wiki/Writer



Oleh: Orchid

Halo! Sobat JO! Mimin datang lagi dengan rangkuman #MingguMenulis. Kali ini bahasan Mimin adalah mengenai peluang pasar. Maksudnya apa, Min?

Begini, sebagai penulis ketika kalian menerbitkan buku, apa hal yang paling ingin kalian lihat selain buku kalian dipajang di toko buku? Jika, tujuan kalian menulis adalah untuk mendapatkan tambahan sen dari royalti menulis, nah ini dia yang Mimin ingin bahas.

Mengikuti tren pasar itu sah-sah saja. Apalagi sebagai penulis pemula--yang masih bingung cara menjadi trend setter atau bahkan menerbitkan buku best seller--maka mau tidak mau kalian harus mengikuti tren. Kenapa? Ini dikarenakan para penerbit mencari naskah-naskah yang sedang nge-tren. Karena naskah-naskah tersebut pasti akan laku jika dijual di pasaran.

Lantas, bagaimana melihat tren pasar dan menemukan peluang dari tren tersebut? Kalau kalian menginginkan menulis sebagai profesi sampingan yang menghasilkan, tentu kalian harus jeli melihat celah di pasaran buku saat ini agar semakin banyak buku kalian yang dilirik oleh para pembeli buku.

Tapi sebentar! Yang namanya follower tetap saja tidak akan bisa melebihi orang-orang yang menciptakan tren.  Trus gimana dong, Min? *nangis*

Sebagai follower, tentunya kita tidak boleh menjadi sembarang follower. Meskipun kita mengikuti tren pasar yang sedang berlangsung, kita harus tetap menyajikan sesuatu yang segar dari tren yang ada.

Contohnya bagaimana?
Misalkan saat ini, yang menjadi tren adalah novel yang yang diterbitkan dari cerita-cerita yang diunggah di Wattpad. Kalian suka menulis di media daring? Sering mengunggah tulisan pula di sana? Kalau begitu, seharusnya tren ini bisa kalian manfaatkan dengan baik.
Nah, bagaimana kita melihat peluang yang terbuka ini?
Kita bisa mulai dari melihat naskah seperti apa sih yang populer di Wattpad?
Apa kekurangan dan kelebihan naskah tersebut?
Mengapa dan bagaimana naskah tersebut bisa disukai banyak orang?

Meskipun populer, tentu saja tidak semua orang menyukai Wattpadlit. Bisa kita lihat, sering kali ada pembaca buku yang mengeluhkan novel-novel Wattpadlit. Nah, manfaatkan peluang tersebut.

Dari analisa-analisa yang sudah kita lakukan, kita bisa mencoba mencari celah untuk menyajikan sesuatu yang segar sekaligus menarik perhatian pembaca. Syukur-syukur disukai dan akhirnya best-seller. Memahami pesaing kita itu juga merupakan salah satu strategi untuk memenangkan pasar buku, loh.

Mengikuti tren itu boleh saja tapi nggak boleh asal ikut-ikutan. Kita tetap harus menyajikan sesuatu yang berbeda dari pendahulu.

Gimana dengan Sobat JO? Apa kalian hanya ingin sekadar menjadi follower? Atau sudah siap menyajikan sesuatu yang berbeda?

Sumber gambar: http://www.quotehd.com/quotes/words/Best-Seller

Oleh : Three Friend in Winter

Halo, Sobat JO! Mimin kembali dengan rangkuman #MingguMenulis minggu lalu. Minggu lalu Mimin sempat membahas mengenai menulis di media online. Sebelum Mimin mulai, siapa yang aktif menulis di platform menulis online? Ya, seperti wattpad, blog, atau komunitas-komunitas menulis online lainnya.

Bagaimana pendapat kalian mengenai menulis di media online?

Kalau menurut orang-orang di sekitar Mimin, banyak yang merasa hal tersebut baik untuk dicoba. Apalagi sedang ngetren. Namun tidak sedikit pula yang merasa, "Kalian nggak sayang kah dengan naskah itu? Kan bisa dikirim ke penerbit, diterbitkan." Kedua pendapat tersebut tidak salah sih. Mengunggah tulisan ke dunia maya punya beberapa resiko yang kemungkinan bisa dialami oleh penulis tersebut.

Pertama, kemungkinan kalau tulisan tersebut dijiplak oleh orang lain kemudian tulisan dia diterbitkan. Oh tidak! Nyesek... Kemungkinan lainnya, bisa jadi kita selamat dari resiko tersebut. Tapi ada kekhawatiran lain yang membayang. Kalau misalnya tulisan itu sudah diunggah secara online, kemudian dikirim ke penerbit, dan diterima, ada yang akan beli nggak ya?

Hayo! Siapa di sini yang pernah merasakan kekhawatiran yang sama dengan yang Mimin sebutkan?

Kemungkinan plagiasi, di mana pun tentu mungkin saja terjadi. Hal itu sulit untuk dihindari. Bahkan bisa jadi tanpa sadar kita sendiri pun yang melakukannya. Ingat materi Mimin pada #MingguMenulis dua minggu lalu? Tentang plagiarisme.

Kembali ke tema. Meskipun beresiko, tapi sebenarnya mengunggah hasil karya kita ke media online itu bermanfaat, loh

Ada banyak penulis terkenal di Indonesia yang lahir dari platform menulis online tersebut. Bahkan tak jarang pula, meskipun mereka sudah cukup populer, para penulis itu masih sering mengunggah karya secara online. Mengapa mereka lakukan hal itu? Salah satu alasannya adalah media online tersebut bisa jadi tempat untuk mengetes apakah cerita baru yang mereka tulis dapat diterima oleh pembaca. Istilahnya tes pasar.

Manfaat lain yang juga bisa didapatkan adalah kita bisa membangun rasa penasaran dan antisipasi pembaca terhadap cerita tersebut. Kalian sering nggak kalau di toko buku lihat buku, bawaannya ingin ngintip dahulu isinya baru putuskan untuk beli? Nah, fungsi tulisan yang diunggah ke media daring seperti itu. Dengan pembaca mengetahui perkiraan apa yang akan didapat di sana, ia lebih tidak terlalu takut kecewa setelah membeli.

Itu baru dari penulis yang sudah punya nama. Bagaimana dengan penulis baru yang belum punya hasil tulisan diterbitkan? Untuk calon-calon penulis tersebut, media online itu juga merupakan sebuah media yang dapat dimanfaatkan. Dengan penulis mengunggah tulisan ke media online, mereka dapat menerima feedback terhadap cerita yang ditulis. Dengan semakin sering orang memberikan umpan balik seperti itu, secara perlahan kemampuan penulis pasti akan semakin terasah.

Tak hanya itu, kalian juga bisa mulai untuk mendapuk nama kalian sebagai penulis di mata publik. Dengan semakin banyak kalian bersosialisasi dalam dunia ini, tentu orang-orang akan mulai memperhatikan kalian.

Bukan rahasia lagi bahwa saat ini banyak penerbit cenderung untuk memilih menerbitkan penulis yang sudah punya "nama". Hal ini tentu saja berkaitan dengan penjualan. Semakin terkenal penulis maka semakin baik kemungkinan hasil penjualan. Itulah sebabnya akhir-akhir ini marak terlihat novel-novel bertuliskan telah dibaca berjuta kali di media A,B,C, dan sebagainya.

Nah, bagaimana menurut kalian? Apakah masih anti untuk menunjukkan hasil karya kalian di media daring ini?

Sumber gambar: http://malp2010.com/wp-content/uploads/2016/05/menulis-di-media-online.png




Oleh: Edelweiss

Hai, Sobat JO! Artikel kali ini adalah tema #MalmingMenulis kemarin. Khusus untuk kalian yang tidak sempat menyimak linimasa twitter @JOPHouse.

#MalmingMenulis kemarin, Mimin membahas tentang majas. Majas semacam hiperbola, metafora, personifikasi, pasti sudah sering kalian dengar. Nah,  kali ini Mimin terinspirasi memberi kalian informasi tentang majas-majas yang sering kalian gunakan, namun namanya jarang kalian dengar.

Nah, inilah tujuh di antaranya. Majas apa saja, sih? Yuk, tengok!

1. Majas Eufemisme
Majas ini biasa dipakai untuk menghaluskan penyebutan sebuah kata. Misalnya saja, kita menyebut orang cacat dengan tunadaksa. Mungkin di beberapa tulisan, ada yang menyebut orang cacat dengan mudah tanpa tedeng aling-aling apa pun. Namun kadang, kita harus menggunakan istilah "tunadaksa" demi keetisan dan agar terdengar lebih halus.

2. Majas Metonimia
Majas Metonimia yaitu majas yang menggunakan merek produk barang tertentu menjadi kata ganti dari sebuah benda. Contoh: Aku sangat terkejut sampai tersedak Coca Cola yang sedang kuminum. Pada kalimat contoh tersebut, Coca Cola disebutkan sebagai pengganti minuman kaleng bersoda. Selain itu, masih banyak benda yang bisa diganti dengan mereknya yang banyak dikenal di pasaran.

3. Majas Asosiasi
Majas Asosiasi yaitu gaya bahasa yang membandingkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya. Contoh dari penggunaan majas tersebut salah satunya: Ia makan dengan amat rakus bagai sudah bertahun-tahun tidak melihat nasi. Dalam contoh, kita membandingkan dua keadaan yang setara. Majas ini biasa menggunakan dua keadaan yang setara untuk membandingkan satu sama lain.

4. Majas Antitesis
Majas Antitesis adalah majas yang memadukan dua kata yang berlawanan arti. Bisa dibilang, majas antitesis merupakan kebalikan dari majas asosiasi. Dalam majas antitesis, kita menyandingkan kata yang memiliki arti berlawanan. Contoh dari majas antitesis ini: Menang atau kalah, kita tetap harus menerimanya dalam sebuah kompetisi.

5. Majas Kontrasepsi Interminus
Majas ini merupakan gaya bahasa di mana pernyataan kedua menentang pernyataan sebelumnya. Contohnya begini: Semua anak di sana memakai seragam sekolah mereka, kecuali seorang anak lelaki kurus itu. Dalam klausa pertama, dijelaskan bahwa seluruh anak yang ada di sana memakai seragam sekolah. Namun di klausa kedua, di sana dijelaskan sebuah penentangan pada keadaan pertama. Ada seorang anak lelaki kurus yang tidak memakai seragam karena belum memiliki cukup uang untuk membelinya.

6. Majas Pleonasme
Majas Pleonasme yaitu majas yang menambahkan sebuah kata meskipun itu sebenarnya tidak perlu. Majas ini cenderung pemborosan kata, tapi kita perlu melakukannya untuk menegaskan sebuah maksud. Contoh: "Cepat turun ke bawah! Sekarang!" bentak Ibu dari bawah ketika melihat kekacauan di dapur. Di contoh itu sebenarnya tidak perlu menambahkan kata "ke bawah". Kata "turun" sudah pasti ke bawah. Namun Ibu perlu melakukannya, sebagai penegasan dari kata-katanya.

7. Majas Retorik
Mendengar namanya tentu bukan hal yang asing. Majas retorik adalah gaya bahasa di mana sebuah pertanyaan yang di tulis sudah ada jawabannya sehingga tidak perlu dijawab lagi. Contoh: Apa begini yang namanya kawan? Saat senang mendekat, tapi saat susah semuanya lenyap entah ke mana. Pertanyaan tersebut sudah diberikan jawabannya dalam kalimat selanjutnya. Pembaca tidak perlu menjawab pertanyaan tersebut.

Itulah tujuh majas yang sering digunakan tetapi namanya jarang menyusup ke dalam telinga kita. Majas mana yang sering kalian pakai, Sobat JO? Ataukah ada majas lain lagi yang namanya juga asing dan sering dipakai tapi belum ada di atas? Yuk, silakan komentar dan lengkapi artikel ini.

Sampai jumpa pada kesempatan berikutnya, Sobat JO! Selamat menulis dan teruslah berkarya!

Sumber gambar: https://etismegasari.files.wordpress.com/2015/08/sederhanamm.jpg