Thursday, August 4, 2016




SINOPSIS
Pustakawan itu pekerjaan mulia, kan?
Penjaga ilmu pengetahuan, pengelola jendela dunia. Garda terdepan untuk meningkatkan minat baca anak bangsa.

Tak ada yang salah dengan menjadi pustakawan. Kurang bergengsi? Penghasilan tak seberapa? Hidup bukan hanya tentang status dan uang!

Tapi....

Kehidupan pascawisuda tidak semulus teori ideal di bangku kuliah. Ada kebutuhan hidup di balik deretan buku-buku. Ada tuntutan pertemanan dalam lingkaran sosial sesama pustakawan. Dan ada ujian untuk memilih antara integritas profesi atau menyelamatkan orang yang disayangi.

Ketika berpegangan pada tali idealisme terasa semakin sulit, haruskah Helia melepasnya dan membiarkan diri terjatuh ke dalam jurang realitas?



Specifications

  • Judul:A Place You Belong
  • Penulis:                          Nicco Machi
  • Genre:drama, inspiratif
  • Kategori:novel dewasa muda, manggolit
  • Ukuran:13cm x 19cm
  • Tebal:149 halaman
  • Harga:50.000
  • Terbit:22 Agustus 2016

DAPATKAN HARGA DISKON Rp 40.000 untuk pemesanan langsung lewat WA/SMS




Oleh: Three Friend in Winter


Hari ini Mimin kembali dengan #MalmingMenulis. Tema #MalmingMenulis yang Mimin rangkum kali ini adalah mengenai mencari ide segar untuk menulis.

Sebagai penulis, jika kita ingin naskah kita dilirik oleh penerbit dan pembaca, tentu kita harus menawarkan hal yang “segar”. Hal yang segar itu seperti apa sih? Di zaman sekarang, sudah ada puluhan juta buku dengan berbagai tema yang pernah ditulis. Tentu sangat sulit untuk kita tetap menuliskan hal yang benar-benar baru. Ini adalah tantangan yang dihadapi banyak penulis masa kini.

Namanya ide plot yang mungkin untuk kita jalankan jumlahnya pasti terbatas, yang variatif hanyalah bagaimana sih kita mengeksekusi penulisan tersebut. Misalkan tema tentang perjalanan mencari jati diri dalam novel Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta. Ada seberapa banyak kemungkinan plot yang tercipta dari sebuah tema tersebut?

Kata kunci dari tema tersebut adalah “Perjalanan” dan “Jati diri”. Dari sana kita sudah bisa mencoba menyusun beberapa kemungkinan plot. Salah satunya adalah si tokoh utama benar-benar melakukan perjalanan karena merasa kehidupannya tidak berarti. Ia ingin mencoba menemukan sesuatu; entah itu dirinya atau hidupnya kembali.

Kalau dilihat dari kemungkinan itu, kesannya klise ya? Sudah banyak novel-novel yang bercerita seperti itu. Ada Eat, Pray, Love, Sang Alkemis, Hanif, dsb.

Pembaca senantiasa menginginkan hal baru dari buku yang ia baca. Jika ia sudah dapat menebak keseluruhan cerita, mengapa ia harus membacanya lagi? Penulis yang baik harus menghargai waktu yang telah diberikan pembaca dengan ide mereka yang segar.

Terus, Min, bagaimana cara kita bisa menemukan ide “segar” yang mampu menarik perhatian editor? *jeng-jeng-jeng, musik horor dimulai*

Jangan khawatir! Mimin punya beberapa saran kunci untuk membantu kalian menemukan kesegaran dalam tulisan.

Ada dua hal yang harus kalian pegang selalu.
1.    Pertanyakan segala hal.
Penulis itu sebenarnya kritikus yang paling kejam bagi naskahnya sendiri karena ia tahu segala hal mengenai seluk beluk cerita tersebut. Nah, ketika kalian hendak mengoprek naskah kalian, jangan abaikan perasaan “tidak sreg” kalian pada naskah tersebut. Jangan menipu diri, ah pembaca juga nggak akan tahu. Hal yang janggal yang kalian temukan, itu bisa saja menjadi bumerang untuk naskah tersebut jika diabaikan.

2.    Pilihlah dari jawaban yang paling menarik untukmu.
Jika kalian melemparkan pertanyaan atas naskah tersebut, tentu saja kalian harus menjawabnya. Sulit ya? Terkadang setelah bertanya sekejam itu, kita sering memikirkan “duh ternyata naskahku kok jelek banget sih.” Jangan menyerah! Semangat. Jawab semua hal yang kalian pertanyakan. Putar otak. Penulis itu harus kreatif. Pilihlah jawaban dari hal yang paling menarik untuk kalian. Kalian pasti bisa dong merasakan: wah jawaban yang ini keren juga. *narsis sedikit boleh lah*

Dari jawaban-jawaban itu, olahlah ide naskah tersebut. Jika dari penulis saja sudah merasa “excited” dan nggak sabar untuk menuliskan ide-ide gila itu, tentu nicsaya pembaca akan merasakan hal yang sama. Kunci utama, penulis harus larut dalam tulisannya sendiri terlebih dahulu.

Mau Mimin kasih contoh?
Dari tema SMPKB yang di atas.  Idenya tentang si tokoh utama melakukan perjalanan karena merasa kehidupannya tidak berarti. Ia ingin mencoba menemukan sesuatu; entah itu dirinya atau hidupnya kembali.

Bagaimana cara Suarcani meramu ide ini untuk menjadi lebih segar? Pertama, siapa seseorang itu? Kalau orang biasa-biasa saja, mungkin bisa jadi menarik, tapi penulis memberikan sesuatu yang lebih. Tokoh utama SMPKB bukan orang biasa. Dia adalah mantan narapidana yang baru saja bebas dari penjara. Beh!

Kemudian hal lain yang perlu ditanyakan. Mengapa dia ingin melakukan perjalanan itu? Karena setelah bebas, justru ia malah kembali dipenjara oleh ketakutannya.

Apa yang ia cari? Bagaimana hubungannya dengan orang-orang sekitar? Apakah tokoh utama pernah mengalami suatu kejadian yang meninggalkan luka/trauma? Bagaimana status sosial tokoh utama?

Dan banyak hal lagi yang bisa kita pertanyakan dan harus jawab satu persatu. Dari sini kita bisa memilih hal-hal yang menarik perhatian kita untuk diramu menjadi SMPKB.

Tidak hanya mengenai karakter. Kita dapat melakukan hal yang sama pada setting tempat. Dalam SMPKB, contohnya, setting utama dibuat di Bali. Kalau dalam bayangan kita, ah Bali. Pasti pantai lagi. Ah, pasti Ubud lagi. Tapi penulis mencoba menawarkan hal yang menurut Mimin lebih segar. Sebuah tur perjalanan spiritual. Bali, kita tentu tahu dipenuhi dengan hal-hal yang sangat spiritual. Bahkan pohon-pohon di jalan pun memiliki nyawa. Dalam SMPKB, kita bisa melihat Bali yang berbeda daripada Bali yang kita selalu ketahui. Bisa jadi referensi pula jika kita ingin berwisata ke sana.

Selain hal-hal yang berkaitan dengan narasi, kita juga tidak boleh melewatkan dialog. Dialog yang kita tulis pun harus terasa segar.

Apa hal yang paling klise untuk diucapkan? (tentu saja jangan gunakan hal tersebut)

Bagaimana kalian dapat membuat hal klise tersebut menjadi lebih menarik?

Bagaimana perasaan karaktermu ketika mengatakan dialog tersebut? Apakah hal tersebut mempengaruhi mereka secara emosional, fisik? Bagaimana hal tersebut mempengaruhi cara pengucapan mereka?

Bagaimana karakter tokoh kalian? Apakah sarkastik, ceria, bandel, pendiam? Tentu karakteristik tokoh tersebut harus diperhatikan ketika kalian akan memasukkan nyawa ke dalam dialog-dialog mereka.

Contohnya dialog ini.

Ravit(R): Siapa kamu sebenarnya?
Uci(U)   : Aku? Aku bukan siapa-siapa.

Pada awal dialog, jawaban Uci tentu terdengar klise. Kita sering kali mendengar orang ketika ditanya siapa, jawabannya bukan siapa-siapa. Bagaimana cara kita membuat dialog ini lebih hidup?

Kalau penulis memilih untuk mempertegas hal tersebut dalam dialog selanjutnya.

R: Tapi ... kenapa kamu seolah tahu sesuatu?
U: Aku bukan siapa-siapa. Aku juga tidak tahu kamu siapa. Tapi, hanya dengan melihatmu seperti ini, aku bisa paham kalau kamu berbeda dari kebanyakan. Kamu ...” dia berhenti, hanya untuk memberiku tatapan ragu. “Kamu seperti orang ketakutan.”

Dari sini kita bisa bisa melihat dialog yang Uci ucapkan sangat menunjukkan karakter Uci yang cuek sekaligus galak.  Kita bisa merasakan ada suspense singkat saat menanti jawaban Uci atas pendapatnya mengenai Ravit. Penulis membuat kalimat ini terasa tidak klise. Dengan memasukkan unsur-unsur dari pertanyaan yang Mimin sudah sebutkan sebelumnya.

Nah, sekian #MalmingMenulis kali ini. Semoga bermanfaat. Kalau kalian penasaran kelanjutan percakapan Uci dan Ravit, kalian bisa membaca dalam SMPKB. :)


Yang belum punya dan ingin pesan, bisa langsung ke sini. 
Sumber gambar : http://img00.deviantart.net/21db/i/2010/162/9/8/fresh_idea_juice_by_ronaldesign.jpg



Oleh : Orchid

Hai, Sobat JO! Bagi kalian yang hari Minggu kemarin belum sempat menyimak #MingguMenulis, tenang saja, sudah Mimin rangkumkan kok, di sini! Yuk mari dibaca saja~

Jadi, temanya adalah plagiarisme. Apa itu plagiarisme? Plagiarisme adalah penjiplakan atau pengakuan atas karya orang lain oleh seseorang yang menjadikan karya tersebut sebagai karya ciptaannya.

Yang digolongkan sebagai plagiarisme adalah :
  1. Menggunakan tulisan milik orang lain tanpa memberikan tanda jelas. Misal, nih Sobat JO menemukan satu paragraf yang bagus di sebuah novel orang lain, terus ingin mencantumkannya ke ceritamu, Sobat JO harus memasukkan sumber yang jelas darimana kutipan paragraf tersebut. Karena kalau tidak, itu sudah tergolong plagiarisme, loh.
  2.  Mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi yang cukup tentang sumbernya.
  3. Mengubah tulisan orang lain pada suatu bagian dengan kata-kata sendiri, lalu memublikasikannya atas nama sendiri.
 Nah, 3 diatas adalah ciri-ciri tulisan yang tergolong dalam plagiarisme.

Terus, karya seperti apa yang tidak termasuk plagiarisme?
1.      Menggunakan informasi yang berupa fakta umum.
2. Menuliskan kembali (dengan mengubah kalimat atau parafrase) opini orang lain dengan memberikan sumber jelas. Jadi, meskipun kita mengubah kalimat atau parafrase opini orang lain, kita harus menyebutkan sumber yang jelas.
3.   Mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan menuliskan sumbernya.

Plagiarisme sangat sering terjadi. Contoh kasusnya adalah Alex Haley dituntut oleh Harold Courlander karena sebagian novelnya, Roots dituduh meniru novel Courlander, The African. Dan Brown, penulis The Da Vinci Code, telah dituduh dan dituntut karena melakukan plagiarisme dua kali. Dan masih banyak kasus lain yang kalau Mimin sebutkan di sini, tidak akan cukup.

Kadang, plagiarisme bisa terjadi karena ketidaksengajaan. Loh, kok bisa, Min? Bisa. Misalnya saja si penulis kurang memahami aturan pengutipan gagasan orang lain atau kalimat orang lain. Selain itu, plagiarisme bisa terjadi karena kurangnya pelacakan sumber-sumber yang ada. Jadi, hati-hati ya Sobat JO!

Agar terhindar dari plagiarisme, Mimin akan memberikan tips.
Pertama, SERTAKAN SUMBER. Ini penting. Dan HARUS dilakukan. Kedua, Lakukan parafrase atau pengubahan kata. Jadi, tulisan yang akan kita publish tidak sama persis dengan tulisan yang dikutip. Dan yang terakhir adalah menggunakan aplikasi peretas plagiarisme. Misalnya CopyScape, VIPER, dan masih banyak lagi.

Oh iya, ngomong-ngomong soal plagiarisme, kadang ada yang tidak bisa membedakan terinspirasi dengan plagiarisme. Memang sih, plagiarisme dengan terinspirasi itu bedanya sangat tipis! Biar tidak pada salah paham soal plagiarisme dan terinspirasi, Mimin akan beri tahu perbedaannya.

Nih, Mimin beri penggambarannya ya, biar tidak bingung.
Ada tokoh Y dan Z. Nah, si Y sangat jago bermain musik. Suatu ketika Z melihat Y yang sedang bermain musik dan merasa kalau Y itu keren banget. Lalu Z jadi ingin juga bisa bermain musik sehingga dia mulai belajar bermain musik tapi dengan gaya yang berbeda. Akhirnya, si Z sekarang sudah jago bermain musik dan mengikuti jejak si Y. Ini namanya, tokoh Z terinspirasi dengan tokoh Y.

Mimin kasih satu contoh yang lebih gampang lagi, deh soal terinspirasi.
Misal Sobat JO lagi membaca novel yang ceritanya tentang persahabatan. Tapi persahabatan itu hancur karena dua orang sahabat itu saling jatuh cinta. Lalu, Sobat JO juga ingin membuat cerita seperti itu tapi beda tokoh, beda latar, beda alur, dan beda juga gaya tulisannya. Nah, itu yang disebut terinpirasi. Kalau plagiarisme, Sobat JO mengutip kalimat yang sama, karakternya sama, bahkan alurnya juga sama.

Sekarang sudah jelas, kan? Sekian dulu #MingguMenulis kali ini ya. Semoga bermanfaat :)

Sumber gambar : https://theofficela.files.wordpress.com/2016/07/screen-shot-2014-03-28-at-11-48-39-am.png


Oleh : Three Friend in Winter

Selamat malam, Sobat JO! Ada yang pernah membaca kalimat di atas?

YUP! Kalau ada yang senang dengan karya Ernest Hemingway, pasti tahu dengan kalimat yang satu ini. Kalimat ini sering disangkutpautkan dengan Hemingway. Ini adalah flashfiction. Kalimat yang satu ini sering juga menjadi contoh cerita terpendek. Hanya berisi enam kata, tapi di balik enam kata ini terdapat banyak cerita yang  bisa ditangkap. Seperti ada apa dengan sepatu bayi ini? Mengapa tidak pernah dipakai? Mengapa ingin dijual? dsb.

Nah, Sobat JO. Malam ini Mimin mau share tentang flash fiction. Ada yang tahu apa sih flash fiction itu?

Flash fiction, Mimin singkat sebagai FF saja, ya? FF ini adalah sebuah gaya dalam penulisan fiksi. FF ini adalah karya fiksi yang sangat singkat, bahkan lebih singkat daripada cerita pendek. Hingga saat ini belum ada patokan maksimal jumlah kata yang pasti mengenai FF ini. Ada yang bilang paling banyak 250 kata, ada juga yang bilang 1000 kata.

Di Indonesia sendiri ada banyak sebutan lain yang merujuk pada FF ini seperti cerita mini alias cermin, fiksi mini, fiksi kilat, dsb.

Meskipun sangat singkat, tapi bukan berarti FF ini adalah penggalan cerita, loh. FF punya pembukaan, punya inti cerita, dan punya penyelesaian. Ada karakter, juga konflik.

Untuk membuat FF, kita harus memanfaatkan jumlah kata yang terbatas itu dengan sebaik-baiknya. Setiap kata harus berarti. Tidak boleh bertele-tele. Seperti twitter, hanya 140 karakter tapi harus mewakili isi pikiran kita.

Menurut Mimin nih, FF ini punya potensi besar untuk membantu kita keluar dari writer’s block. Kadang kita kan pernah mengalami ‘ingin menulis sesuatu tapi kok mentok ya’. Kadang yang terpikir hanya beberapa kalimat semacam writing prompt. Ini jika kita tuliskan sebagai FF, bisa jadi dalam proses menulis atau beberapa lama setelah menuliskan FF tersebut, cerita itu punya potensi untuk dikembangkan.

Seperti nih, Mimin beri contoh. Sewaktu sedang riset untuk materi #MalmingMenulis minggu ini Mimin menemukan FF yang menarik. Dua kalimat itu berbunyi sepert ini: (Mimin terjemahkan menjadi Bahasa Indonesia)

 Aku menemukan surat wasiat bunuh diri ibuku. Tidak ada bunga, tidak ada alasan, tidak ada apa pun.

Kalau Sobat JO membaca dua kalimat ini apa yang yang terbayang oleh kalian? Share dong.

Kalau Mimin membaca dua kalimat ini jadi mulai memikirkan beberapa kemungkinan untuk melanjutkan cerita. Seperti: Bagaimana perasaan tokoh ini ketika menemukan itu? Apa yang akan dilakukan tokoh ‘aku’ ini menanggapi surat wasiat tersebut? Mengapa sang Ibu bunuh diri?

Wah kalau dilanjutkan asumsi-asumi ini bisa sangat panjang. Tapi ini bukti kan bahwa FF punya potensi besar untuk membantu kita mengatasi kebuntuan saat menulis. Menulis FF itu punya tantangan sendiri. Dalam jumlah kata yang terbatas, kita harus dapat memberikan inti cerita, konflik, penyelesaian, dan akan lebih baik jika termasuk twist.


Nah, Sobat JO. Demikian #MalmingMenulis kali ini. Apabila ada Sobat JO yang bisa membuat FF menarik, boleh ditulis di kolom komentar ya.. 

http://lydianetzer.blogspot.co.id/2013/04/how-to-write-science-fiction-flash.html