Wednesday, July 27, 2016

Oleh : Ixora
#MalmingMenulis kemarin membahas tentang Cara Meningkatkan Kualitas Tulisan. Berikut, Mimin share artikelnya untuk Sobat JO, yang kemarin melewatkannya.
Topik ini cukup penting karena banyak penulis yang sudah merasa puas akan tulisannya dan berhenti sampai di situ. Berhenti dalam artian tidak berusaha untuk meningkatkan kualitas tulisannya. Akibatnya, kita hanya akan merasa puas karena sudah bisa merangkai kata-kata dengan baik, kita merasa ahli saat sudah bisa mengoreksi struktur kalimat, penulisan kata yang benar, dan bangga menggunakan kata-kata yang sulit dan susah dimengerti dalam tulisan.
Tapi, apakah kita sudah bisa melahirkan tulisan yang menggerakkan? Tulisan yang bisa mempengaruhi orang? Tulisan yang mengajak dan memikat? Itu terdengar sangat sulit tapi sebenarnya dapat kita ciptakan apabila kita terus meningkatkan kualitas tulisan kita. Nah, Mimin akan sharing beberapa tips untuk meningkatkan kualitas tulisan kita agar tidak jalan di tempat.
Pertama. Berlatih membuat kalimat yang menarik. Hindari kata-kata yang  hambar dan sudah sangat umum digunakan, tapi juga tidak perlu mencari kata-kata yang jarang digunakan hanya untuk membuat pembaca terkesan. Sewajarnya saja namun mampu memikat pembaca.

Kedua, luwes dalam setiap peralihan (waktu, tempat, percakapan, dll) sehingga pembaca akan terus terpesona dan tidak diberi jeda untuk merasa bosan dan meninggalkan buku kita.

Ketiga, membaca keras – keras tulisan kita. Biasanya, cara tersebut akan membantu kita dalam mengoreksi tanda baca yang tepat, membuat kalimat menjadi berirama, bahkan menambahkan emosi baru yang sebelumnya tidak kita temukan dalam tulisan tersebut. 

Keempat, menjadikan menulis sebagai sebuah kebiasaan. Caranya sediakan satu waktu khusus untuk menulis dan tepati jadwal tersebut. Tidak perlu lama, kadang 25-30 menit per hari sudah cukup.

Kelima, beri target kepada diri sendiri. Misalnya harus memposting satu artikel di blog setiap minggunya. Atau harus menulis satu cerpen setiap bulannya.

Keenam, masuk di dalam sebuah komunitas kepenulisan. Hal ini akan sangat membantu memotivasi kita dalam menulis dan memperbaiki tulisan kita. Selain itu kita bisa saling bersaing secara positif untuk menghasilkan tulisan yang baik. Jadi tidak hanya main pokemon go saja yang seru kalau berkelompok, menulis juga seru, lho kalau berkelompok.

Ketujuh, tidak takut dikritik. Kalau perlu, kirimkan tulisan kita ke salah satu teman yang jago mengkritik. Jangan baper ya kalau tulisannya dicaci maki. Hehe...

Yang terakhir, jangan pernah berhenti belajar. Jangan cepat puas akan hasil tulisan kita. Dunia kepenulisan sangat dinamis, genre buku pun berlomba-lomba untuk menjadi yang paling diminati, pembaca juga semakin lama semakin tidak mudah dipuaskan, jadi, terus memperluas wawasan, jangan terpaku pada satu genre yang merupakan zona nyaman kita, ya.

Nah, sekian artikel #MalmingMenulis kali ini. Kalau ada pertanyaan, silahkan tulis di kolom komentar ya. Semoga bermanfaat😊

Sumber gambar: http://www.klikmania.net/wp-content/uploads/2016/06/ideas.jpg

 



Tuesday, July 12, 2016


Oleh : Ixora

Selamat malam Sobat JO, berikut Mimin hadirkan rangkuman #MalmingMenulis untuk kalian yang tidak sempat menyimaknya di linimasa twitter @JOPHouse.

#MalmingMenulis kemarin membahas tentang konflik. Konflik apa Min? Konflik dalam tulisan kita dong pastinya. Konflik yang akan dialami oleh tokoh dalam cerita kita.

Mengapa ini penting? Karena jika kita tidak mengetahui konflik apa yang tepat dan seberapa besar konflik yang akan kita berikan kepada karakter dalam tulisan kita, maka bisa jadi cerita akan berjalan sangat membosankan. Dalam meramu sebuah konflik, kita juga harus menakar kewajaran. Konflik yang terlalu berat yang kita kenakan kepada tokoh dalam cerita yang sederhana justru akan membuat para tokoh akan kehilangan perannya dan cerita tidak akan berjalan seperti yang kita harapkan. Konflik yang baik dalam sebuah cerita harus tetap bisa menyatukan seluruh komponen cerita meskipun ketegangan cerita terus memuncak. Bagaimana cara menjaga ketegangan sebuah cerita bisa dilihat di artikel ini.

Nah, konflik apa saja sih atau  “ujian” apa saja yang bisa kita berikan kepada tokoh-tokoh dalam cerita kita sehingga cerita kita akan membuat ‘baper’ pembacanya?

Pertama, kita bisa memberi konflik fisik kepada tokoh kita. Ujian fisik ini bisa berupa terjebak bersama di sebuah pulau tidak berpenghuni, terjebak di pesawat yang dibajak, terjebak sebagai sandera, dan banyak lagi contohnya. Dalam konflik fisik ini, para tokoh dipaksa untuk bertahan hidup dengan memanfaatkan semua sumber daya yang tersisa karena tidak boleh meninggalkan lingkungannya. Para tokoh juga dipaksa untuk saling berkompromi meskipun mereka berbeda tujuan. Perlahan-lahan ketegangan konflik akan terus ditingkatkan. Dalam pembajakan pesawat misalnya ketegangan itu bisa ditingkatkan dengan adanya sandera yang dibunuh. Ketegangan konflik di pulau terpencil bisa ditingkatkan saat mulai menipisnya bahan makanan.

Kedua adalah konflik sosial. Konflik ini tidak memaksa para tokoh untuk melampui batas ketahanan fisik mereka namun memaksa para tokoh untuk melewati garis nilai-nilai dan aturan sosial yang berlaku. Konflik sosial ini bisa diciptakan di mana saja. Di kantor, di sekolah, di lingkungan militer, di lingkungan rumah. Konflik sosial bisa kita ciptakan dengan menghadirkan tokoh yang berpegang teguh dengan nilai-nilai sosial yang berlaku dan juga tokoh  yang sangat kritis dan mempunyai pendirian kuat atas pemikirannya. Saat kedua jenis tokoh tersebut berbenturan, maka terjadilah konflik sosial.

Ketiga, yaitu konflik emosional. Konflik ini berasal dari dalam diri tokoh seperti keinginan-keinginannya dan nilai – nilai yang dipegang teguh olehnya. Faktor-faktor tersebut membuat sang tokoh bertahan dalam situasi yang sangat tidak nyaman untuknya. Misalnya, seorang tokoh yang bertahan dalam hubungan yang buruk entah itu dalam hubungan percintaan atau pun hubungan kerja. Konflik emosional biasanya adalah konflik yang paling kuat dalam menyatukan keseluruhan cerita tapi juga paling sulit untuk dikembangkan secara maksimal. Untuk menghasilkan sebuah konflik emosional yang mendalam, penulis perlu meyakinkan pembaca bahwa keinginan tokoh untuk bertahan dalam situasi yang sulit untuknya sangat besar dibandingkan kesulitan yang harus ia terima.

Jika kalian pernah larut dalam konflik sebuah cerita, bisa dipastikan bahwa penulisnya telah sukses dalam meramu konflik untuk para tokoh dalam ceritanya.

Mimin kasih contoh satu buku yang berhasil memuat konflik emosional secara mendalam adalah Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta karya Suarcani . Resensinya bisa kalian baca di sini.

Nah, Sobat JO ada tidak yang bisa memberi contoh buku yang memuat konflik fisik, sosial, atau emosional? Silahkan isi di kolom komentar ya. J

Sumber gambar: http://cdn4.goabroad.com/images/program_content/cover/conflict-resolution-1441274329.jpg



Oleh : Orchid

Hai, Sobat JO! Bagi kalian yang kemarin tidak sempat untuk menyimak #MalmingMenulis, tenang aja yap, karena Mimin dengan baik hati sudah merangkum tweet #MalmingMenulis kemarin. Yuk langsung saja disimak.

#MalmingMenulis kemarin, Mimin membahas “Cara Menjaga Suspense”. Apa itu suspense? Suspense adalah teknik atau gaya bercerita untuk menciptakan ketegangan dan ketidakpastian di benak pembaca.

Pernahkah Sobat JO menyelesaikan satu novel dalam waktu beberapa jam karena penasaran? Nah, itu berarti novel tersebut memiliki kadar suspense yang tinggi. Suspense sendiri timbul karena pembaca menyadari adanya ketidakpastian yang sedang menimpa tokoh. Atau karena pembaca merasa belum terpuaskan dengan cerita yang ada sehingga pembaca merasa penasaran. Misal saja, pembaca ingin si tokoh A jadian dengan tokoh B. Tapi sampai halaman 150, kedua tokoh tersebut masih belum juga jadian. Hal itu tentu saja akan membuat pembaca penasaran.

Nah, lalu bagaimana cara kita sebagai penulis, dapat menciptakan suspense? Salah satu teknik untuk menimbulkan suspense adalah teknik foreshadowing. Foreshadowing? Apa itu? Teknik foreshadowing adalah teknik menampilkan peristiwa-peristiwa masa depan pada saat ini secara tidak langsung. Jadi, foreshadowing itu semacam tanda-tanda bahwa di masa depan, si tokoh akan mengalami suatu peristiwa besar.

Ada tiga faktor yang diperlukan untuk memunculkan ketegangan. Yang pertama adalah membuat pembaca merasa empati dengan si tokoh dalam cerita. Caranya adalah dengan menggambarkan luka, keinginan, atau perjuangan yang dialami oleh tokoh tersebut. Faktor yang kedua adalah perhatian pembaca. Jadi, kita harus bisa menarik perhatian pembaca  terhadap si tokoh. Cara mendapatkan perhatian pembaca adalah dengan memasukkan; apa yang tokoh inginkan (Cinta, kebebasan, dll), bagaimana cara si tokoh mendapatkan keinginan itu, dan apa konsekuensi yang terjadi jika si tokoh tidak mendapatkan keinginan itu. Dan faktor yang terakhir adalah adanya bahaya yang mengancam tokoh tersebut. Selanjutnya adalah biarkan tokoh menceritakan pada pembaca soal apa yang ia rencanakan.

Untuk menimbulkan ketegangan, tambahkan deadline pada tokoh tersebut. Maksudnya, Min? Kalian tentu tahu cerita Cinderela, kan? Diceritakan bahwa pada jam 12 malam, Cinderela harus sudah kembali ke rumahnya. Cinderela bergegas menuruni tangga istana saat ia menyadari jam dinding berdentang. Pangeran memanggil. Si Putri Cantik tak perduli. Satu sepatunya terlepas, ia ingin mengambilnya, tapi sudah tak ada waktu lagi. Ia terus berlari. Tengah malam sebentar lagi. Bahkan dengan adanya batasan waktu, sebuah dongeng bisa menjadi tegang.

Cara lainnya adalah dengan membuat masalah baru ketika masalah si tokoh baru saja selesai. Kalau bisa, buatlah masalah yang lebih besar dari sebelumnya. Itu akan membuat pembaca penasaran dan meneruskan membaca karyamu. Seperti dalam novel Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta karya Suarcani, ketegangan demi ketegangan timbul di sepanjang cerita sehingga akan membuat pembaca penasaran untuk membaca hingga halaman terakhir.


Sumber gambar: https://www.suspensefestival.com/wp-content/uploads/2015/07/suspensehead3.png