Thursday, July 23, 2015


 Oleh: Three Friends in Winter

Anda mungkin menunda, namun waktu tidak. - Benjamin Franklin


"Kerjaanku banyak. Seharian di kantor (kampus/sekolah) aku masih harus melakukan ini itu, belum kalau di rumah. Ga punya waktu nulis. T_T"

Tidak asing dengan alasan ini? Sobat JO, mimin yakin deh, pasti di antara kalian setidaknya pernah mengatakan hal yang serupa dengan kalimat di atas. Padahal dalam satu hari kita memiliki waktu 24 jam, namun untuk sebagian orang jumlah tersebut seringkali dirasa tidak cukup, sedangkan sebagian lainnya bisa menyelesaikan begitu banyak hal.  

Sering heran gak sih dengan penulis yang bisa menghasilkan begitu banyak karya, sedangkan kalian satu naskah novel pun nggak selesai-selesai? Hehehe. Kuncinya sebenarnya hanya satu 'Manajemen Waktu'.

Modal yang kita miliki untuk mulai menulis sebenarnya sama kok dengan penulis-penulis beken seperti Dee Lestari, Andrea Hirata, dan lainnya. Kita memiliki jumlah waktu yang sama yaitu 24 jam dalam sehari, 30 hari dalam sebulan, 365 hari dalam setahun. Sisanya tergantung bagaimana ketekunan dan disiplin diri kita untuk mengatur dan memanfaatkannya.

Yup, Sobat JO bagaimana kita mengatur waktu kita untuk mengerjakan hal-hal tersebut adalah modal  agar kita bisa tetap berkarya. Bagaimana caranya?

Nah, berikut JO Team merangkum 7 tips untuk sobat JO agar dapat mengatur waktu untuk menulis:

1. Rencanakan durasi untuk bekerja dengan sungguh-sungguh.

Luangkan sebagian waktu kita untuk menulis setiap hari sekitar 1-2 jam. Atau jika benar-benar sibuk, 15 menit juga boleh. Yang penting, wajib rutin menulis. Tentu saja, dalam jangka waktu yang kita sendiri sudah tentukan, usahakan FOKUS! Jangan memikirkan hal lain selain menulis.

2. Bekerja lebih ketika berada di momen yang tepat.

Jika ada saat-saat ketika kita merasa sulit sekali untuk menuliskan sesuatu karena tidak ada ide yang muncul, tentu juga ada ada saat-saat di mana kita merasa sangat terinspirasi hingga banyak ide yang berdesakan ingin segera dikeluarkan. Nah, di saat seperti itu, segera tuliskan sebanyak-banyaknya melebihi target yang telah ditetapkan. Lakukan, dan jangan menundanya, karena mungkin saja momen itu tidak akan segera kembali.

Oh ya, meskipun ada saatnya kita sedang tidak tahu harus menuliskan apa, tetap menulis ya! Tulisan-tulisan ringan dan singkat saja sudah cukup, setidaknya lakukan itu selama durasi yang telah kita sendiri tentukan sejak awal. 


3. Hargai waktu dan buatlah waktu itu berharga. 

Ibaratkan waktu sebagai lembaran-lembaran naskah yang akan menjadi sebuah karya sehingga kita menghargainya dan akan memanfaatkan sebaik-baiknya serta tidak akan menyepelekan waktu yang kita miliki.

"Ah, besok aja deh baru mulai nulisnya."
"Besok masih ada waktu."
"Besok, kalau lagi senggang." 
"Aku mau nulis tapi..." 

Mau nunggu besok lagi? Kapan mulainya??? \\٩(๑`ȏ´๑)۶// *Mimin mulai emosi #eh enggak kok. Mimin selow.* 
Sebelum kamu menangani sesuatu, kamu harus memahami seberapa berharganya hal tersebut untukmu dan bagaimana pengaruh pengaturan yang buruk terhadap hal itu dapat mempengaruhi kinerjamu.(Dikutip dari Startupist)
Bagaimana kita memandang karya yang ingin kita hasilkan dan banggakan tersebut berharga atau tidak, kita sendiri yang akan menentukan. :)

4. Berhenti melakukan beberapa hal secara bersamaan

Yup, Sobat JO. Mungkin selama ini kita berpikir kalau melakukan beberapa hal bersamaan, akan mempersingkat waktu, misalnya menulis sambil membuka media sosial. Tapi, ternyata hal ini justru akan membuat waktu yang terpakai lebih lama. 

Sebaiknya, fokuskan dahulu pikiran kita pada saat menulis. Setelah selesai, baru kita melakukan kegiatan yang lain. Ketika kita fokus dalam menulis, yakinlah, tulisan yang kita hasilkan akan lebih baik dan bermakna. 

5. Jadikan menulis sebagai sebuah rutinitas

Seperti tips yang pernah JO Team bagikan di artikel Just Write It! Latihan itu harus dilakukan setiap hari agar kemampuan menulis kita semakin matang. Sering latihan membuat kita bisa menulis dengan terampil meski waktu yang tersedia sangat singkat. Saat menulis telah menjadi bagian dari rutinitas kita, maka sehari saja kita tidak melakukannya, akan terasa ada yang kurang.

6. Buat batas waktu

Mimin tahu. Ada beberapa dari kalian yang disebut sebagai manusia-manusia deadline. Hehehe... Dalam artian, kalau belum mepet waktu untuk mengumpulkan sebuah tugas, biasanya masih malas untuk mengerjakannya. Bahkan, kalau mau ujian saja, belajarnya baru dikebut semalaman. Ya kan?  (`▽´)

Deadline tidak selalu buruk kok. Terkadang justru di saat-saat waktu sudah mepet, kita bisa mengeluarkan seluruh kemampuan yang ada. Oleh karena itu, buatlah batas waktu untuk menyelesaikan sebuah tulisan. Susun target yang ingin dicapai dalam batas waktu tertentu. Dan tentu saja, patuhi batas waktu tersebut.  

7. Mulai dari hal yang ringan

Untuk kalian yang baru saja memulai untuk belajar menulis mau pun yang sudah melanglang buana di dunia kepenulisan, apa yang sering kalian khawatirkan setiap kali akan mulai menulis naskah baru? 

Apa premisnya?
Bagaimana alurnya?
Bagaimana karakternya?
Ada nggak, ya yang suka cerita seperti ini?

atau untuk yang baru pertama kali mencoba nulis.

Nggak ngerti teknik nulis yang okay. 
Gimana sih cara nulis yang bagus?
dan lain-lain

Tidak perlu mimin sebutkan satu persatu kan? Mimin tahu kalian semua pasti memiliki kekhawatiran yang berbeda-beda. 

Saran untuk para penulis pemula: 

1. Jangan memulai sebuah naskah dengan kekhawatiran akan bagus tidaknya naskahmu. Semua draft pertama bisa dipastikan kacau. Bahkan penulis sehandal JK.Rowling juga memiliki draft pertama yang buruk. 

2. Tulislah terlebih dahulu sebuah cerita sampai selesai, setelah itu baru rapikan semua hal yang kita anggap salah atau tidak sesuai dengan teknik kepenulisan. Dengan begitu, waktu kita tidak akan terbuang banyak yang malah bisa membuat tulisan kita tidak kunjung selesai.

3. Untuk memulai sebuah naskah, hal pertama yang harus kita perhatikan adalah 'apa yang ingin kita sampaikan dalam cerita tersebut?' Renungkanlah hal tersebut. Itu adalah hal teringan dari tahapan membuat naskah. Setelah hal itu kita pahami, maka dengan sendirinya tulisan kita akan mengalir. Tentu saja jangan lupakan riset.  

Lakukan semua itu secara bertahap, mulai dari hal yang paling sederhana. Dengan begitu, kita akan bisa melanjutkan ke hal-hal yang lebih rumit. Mengurangi beban secara perlahan namun pasti. 

100 halaman A4 novel tidak akan jadi 100 halaman jika kurang 1 halaman, bukan? 


Sekian tips dari JO Team. Tidak masalah jika tulisan kalian hasilnya masih belum bisa memuaskan karena masih bisa terus diperbaiki. Namun, jika tidak ada karya, maka tidak ada yang bisa diperbaiki, kan? Dengan menyelesaikan sebuah tulisan, sesungguhnya kalian telah mempelajari hal baru sekaligus mengalahkan segala tantangan yang dihadapi oleh semua penulis.

Kalian masih tidak punya waktu untuk menulis? Buatlah!

Kabar buruknya adalah waktu berlalu. Kabar baiknya adalah anda yang mengendalikannya.-Michael Altshuler-

sumber foto: http://www.startupist.com/2014/11/10/time-management-tips-for-entrepreneurs/

Tuesday, July 14, 2015


Oleh :  Edelweiss dan Three Friends in Winter

Halo Sobat JO, malam minggu kemarin, kalian sempat menyimak materi #MalmingMenulis tidak? Kalau tidak sempat, kali ini JO Team akan merangkum materinya kembali untuk kalian.

Tema #MalmingMenulis Sabtu malam kemarin adalah mengenai penggunaan  kata depan dan kata turunan. Untuk kalian yang sering bingung cara menggunakan preposisi, yuk disimak rangkuman berikut!

Pada dasarnya, kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Kalau untuk penggunaan ke dan dari, semua sudah lumayan paham, kan? 

Malam minggu kemarin, JO Team lebih fokus untuk membahas tentang penggunaan kata ‘di-‘. Banyak yang sering salah menggunakan kata ‘di-‘ untuk kata kerja pasif dan ‘di-‘ sebagai kata depan.

Pertama, mari kita bahas ‘di-‘ sebagai pembentuk kata kerja pasif. Kata ‘di-‘ di sini adalah sebagai kata imbuhan, oleh karena itu penulisannya disambung. Contoh penggunaannya: dibaca, ditulis, dilihat, dll.

Kedua, ‘di-‘ yang menunjukkan lokasi, contohnya: di sana, di mana, di luar, di antara, dll. Di sini fungsi kata ‘di-‘ adalah sebagai kata depan, yang berarti penulisannya tidak disambung dengan kata di belakangnya.

Hmm, masih bingung nih, Min. Gimana sih cara mudah membedakannya? 

Nih Mimin kasih tips mudah untuk membedakannya. 

Perhatikan kata yang mengikuti ‘di-‘ tersebut. Jika yang mengikuti di belakang adalah kata kerja, maka ‘di-‘ ini adalah pembentuk kata kerja pasif. Itu artinya penulisannya disambung. Kalau yang mengikuti di belakang bukan kata kerja, berarti ‘di-‘ ini bukan imbuhan, melainkan kata depan. Artinya penulisannya dipisah. Hal ini berlaku hampir di sebagian besar penggunaan kata 'di-', namun tentu saja ada pengecualian untuk kata depan yang disambung dengan kata yang mengikutinya karena mereka lazim dianggap sebagai satu kata.  Contoh: kepada, daripada, keluar, kemari, kesampingkan.

Nah, bagaimana? Apakah sekarang kalian sudah  paham cara menggunakan kata ‘di-‘? Kalau sudah mengerti, Mimin punya satu pertanyaan untuk kalian:

Bagaimana penulisan yang tepat untuk kata ‘dimanapun’?

Tulis jawaban kalian di kolom komentar atau mention medsos kami ya!

Friday, July 10, 2015

Halo, Sobat JO, 

Jumat kali ini, kami telah memilih sebuah cerpen untuk dibedah oleh JO Team. Sebelumnya, terima kasih untuk partisipasi kalian dalam #SelasaBercerita. Cerpen yang kami pilih bukan berdasarkan yang mana yang paling bagus atau buruk. Semua menarik untuk dibahas, hanya saja berhubung kami hanya akan menampilkan satu cerpen saja,  maka inilah cerpen terpilih minggu ini untuk tema: ATAP.



Oleh: mutimsc


Terkekang. Hari-hariku penuh misteri. Terkurung. Waktuku habis menggugu. Kamar ini terlalu gelap, tidak ada sinar barang setitik saja. Sama rasanya dengan harapan yang tidak kunjung terlihat. Hitam. Semua hitam tanpa jeda. Tidak ada yang menggugah. Hatiku gundah.

Lalu, kudengar gerimis menjadi d erai panjang dalam naungan guntur yang menyeramkan. Awan sedang menangisi nasibnya. Aku sedang menangisi hidupku. Omong-omong bagaimana bentuknya? Kudengar seperti gumpalan kapas empuk. Seperti apa? Kapas itu apa?

Gelap. Yang kutahu hanya gelap dan sekat. Pembatas hidup pada dunia.

Ibu bilang gantungkan cita-citamu setinggi langit.
Tapi Bapak menyangkal, tidak ada gunanya sekolah tinggi, cari pekerjaan bagus. Wanita hanya pelayan suaminya.
Aku tidak tahu mana yang betul.

Tapi, sepertinya Bapak benar. Sebesar apa keinginanku untuk melihat langit, yang kudapati hanya atap. Datar, tidak ada bintang di sana.

Lagi, kudengar lalu lalang derap langkah manusia mengejar mimpi, berlari-lari, tidak ingin didahului. Ada yang tertawa-tiwi, ada yang merengek, menangis, meraung, menjerit. Kututup telingaku. Bingarnya tetap mengganggu.

Dan, bagaimana mereka mau mencarinya? Mimpi itu.

Ibu bilang rancang masa depanmu sejak muda.
Bapak tidak terima, kata beliau tidak ada masa depan untuk wanita. Melayani suami adalah masa depan.

Aku bingung, mana yang betul.
Tapi, sepertinya Bapak benar. Sejauh apa masa depanku, yang kutemukan hanya dinding. Dingin, tidak ada rasa kasihan.

Aku berhenti berharap. Aku mulai meratap. Pada atap.
Seperti kata Bapak, wanita sepertiku tidak ada gunanya ini itu. Melayani suami saja, hanya itu tugasku.

“Jangan buang-buang waktu! Kalau ada yang melamar langsung nikah saja! Nirwan itu anak Kepala Desa, Nduk!”
“Cerai katamu? Dia tidak mungkin selingkuh! Anak priyai itu terpelajar! Jangan kurang ajar!”“Layani Nirwan! Jangan bikin malu keluarga!”

Hujan lagi di luar. Awan merengek lagi. Aku makin penasaran apa yang membuatnya sering rewel akhir-akhir ini. Soal bentuknya, aku masih menyimpan ketertarikan. Aku ingin tahu seperti apa itu awan, matahari, dan langit.

Kupikir, untuk saat ini menggapai atap kamarku saja sudah sulit rasanya. Dirinya kian menjauh setiap kali kudekati. Bagaikan najis pada seekor anjing. Dirinya tidak ingin menatapku. Dirinya bilang sudah terlambat.

Aku menangis.

Bagaimana bisa dirinya menolak? Sedangkan hanya dirinya satu yang kudambakan. Tidak pada langit aku mengiba. Hanya pada dirinya, atap kamarku. Aku sudah tidak tahan dikukung. Tubuhku melengkung di atas ranjang.

Sekali lagi, dirinya sudah mantap. Aku terlambat. Tidak ada kereta untuk penumpang toledor. Atap jahat itu merendahkanku.

Lantas, aku menyesali semua.

Aku ingin pulang. Aku ingin Ibu. Aku ingin cita-citaku, masa depanku.

END
sumber foto: https://rigyu93.wordpress.com/2015/01/27
---------------------------------------------------------

REVIEW

oleh Three Friends in Winter



Wah, cerita pendek dari Magdalena ini bagus. Kata-kata yang digunakan memiliki rima. Ceritanya mengalir, konflik mengenai pergulatan batin sang tokoh 'Aku' pun dapat dirasakan. Pilihan diksinya kaya. Bahkan JO Team sempat mengira ini adalah puisi pada awalnya. 

Pada dasarnya 'Sebatas Tertahan' tidak memiliki masalah mengenai teknis penulisan. Hanya saja untuk beberapa kata seperti: dikukung dan toledor, ini merupakan kesalahan penulisan. Dalam KBBI, untuk 'dikukung' dan 'toledor', seharusnya adalah 'dikungkung' dan 'teledor'. 

Masalah lain dalam 'Sebatas Tertahan' adalah kejanggalan logika dalam cerita. Tentang bagaimana tokoh 'Aku' ini terkungkung dalam hidupnya hingga ia tidak mengetahui bagaimana bentuk awan, matahari, dan langit. Mungkin ini merupakan sebuah analogi namun saat bersanding dengan kalimat-kalimat lain dalam cerita, hal itu membuatnya terasa janggal. 

Awan sedang menangisi nasibnya. Aku sedang menangisi hidupku. Omong-omong bagaimana bentuknya? Kudengar seperti gumpalan kapas empuk.

Dalam kalimat 'Omong-omong bagaimana bentuknya?' Kata -nya di sini seolah-olah menggantikan kata 'Aku', padahal yang dimaksud penulis adalah -nya di sini menggantikan kata 'Awan'. Tapi karena setelah kata –nya yang pertama diselingi dengan kalimat baru maka, terkesan kata-nya yang kedua itu menggantikan kalimat yang sebelumnya. 


Sekian review dari Selasa Bercerita. Terima kasih untuk partisipasinya. Kami menantikan kiriman kalian dalam #SelasaBercerita selanjutnya. :)