Monday, September 28, 2015

Oleh : Ixora

Sudah ada referensi bacaan untuk weekend nanti? Kalau belum,  Mimin mau share lima buku terbaik di dunia yang Mimin kutip dari berbagai sumber. Masih ada waktu seminggu, kan untuk mencari dan membelinya? :)

1.       The Da Vinci Code
Penulis: Dan Brown
The Da Vinci Code adalah sebuah novel karangan Dan Brown seorang penulis Amerika dan diterbitkan pada 2003 oleh Doubleday Fiction. Buku ini menggabungkan gaya detektif, thriller dan teori konspirasi. Novel ini telah membantu memopulerkan perhatian terhadap sebuah teori-teori tentang legenda Piala Suci (Holy Grail) dan peran Maria Magdalena dalam sejarah Kristen. Buku ini menceritakan usaha Robert Langdon, Profesor "Simbologi Agama" di  Universitas Harvard, untuk memecahkan misteri pembunuhan kurator terkenal Jacques Saunière dari Museum Louvre di Paris. Novel karangan Dan Brown ini cukup laris dan populer, karena dianggap mengungkap teori konspirasi tersembunyi.  Setelah diangkat ke layar lebar, penjualan Da Vinci Code pun makin melonjak hingga akhirnya mencapai 80 juta kopi di seluruh dunia.


2.       She : A History of Adventure
Penulis: H.Rider  Haggard
She adalah karya H. Rider Haggard yang dirilis pertama kali pada tahuin 1887.  Bermodalkan pengetahuannya tentang Afrika dan legenda kuno, penulis H. Rider Haggard mengungkapkan kisah tentang Aisyah, ratu dari suku Afrika Tengah yang misterius dan konon memiliki kemampuan untuk hidup abadi. Ratu yang disebut dengan julukan "Dia-yang-harus-harus-dipatuhi," oleh rakyatnya  adalah perwujudan dari sosok perempuan dari legenda yang sangat cantik.  Satu hal lagi, sang ratu bisa menjadi sosok yang lebih mematikan daripada laki-laki.  Novel She dianggap sebagai salah satu perintis novel bergenre Lost World atau novel yang berkisah tentang sebuah dunia misterius yang "hilang" dari peradaban modern. She: A History Of Adventure terjual sebanyak 83 juta eksemplar.

3.       The Hobbit
Penulis: J.R.R. Tolkien
Sebuah novel di dunia fantasi cipatan J.R.R Tolkien yang dipublikasikan sebelum karya terbesarnya, The Lord of the Rings. Ditulis sebagai pendahuluan dari The Lord of the Rings, The Hobbit menceritakan kisah Bilbo Baggins, seorang hobbit yang kehidupannya yang damai dan tenang berubah 180 derajat ketika ia bergabung dengan penyihir Gandalf dan tiga belas kurcaci dalam sebuah petualangan untuk merebut kembali harta curian. Dalam perjalanan yang penuh dengan bahaya, Bilbo Baggins sendiri harus menghadapi penjaga harta tersebut, yaitu seekor naga yang paling ditakuti di alam semesta. Karya ini disebut oleh The Times of London sebagai karya literatur yang mendekati kesempurnaan. Tercatat 100 Juta eksemplar telah terjual seluruh dunia sejak pertama terbit.

4.       Dream of Red Chamber
Penulis: Cao Xueqin
Judul buku ini adalah judul versi bahasa Inggris untuk buku berjudul Hong Lou Meng. Buku ini adalah karya sastra terkenal dari zaman Dinasti Qing. Dream of Red Chamber adalah sebuah novel yang ditulis abad ke-18 oleh Cao Xueqin (pertama 80 bab), dan sisanya 40 bab diyakini telah ditulis oleh Gao E. Buku ini pada awalnya ditulis dalam bahasa Cina dan dianggap sebagai salah satu karya abad ke-18. Di Indonesia, buku ini dikenal dengan judul Impian Paviliun Merah. Impian Paviliun Merah diakui sebagai salah satu karya sastra terbaik dalam sejarah sastra Tiongkok. Dream of the Red Chamber terjual sebanyak 100 juta eksemplar.

5.       The Lion, The Witch, and The Wardrobe
Penulis: C.S. Lewis
Judul ini adalah serial kedua dari judul The Chronicles of Narnia.  Ditulis oleh C.S. Lewis, novel ini bercerita tentang petualangan Peter, Susan, Edmund dan Lucy dalam dunia fiksi di balik lemari ajaib. Kisah klasik mengungkapkan berbagai hal fantastis dan menakjubkan, yang bisa membuat  pembaca dari segala usia merasa terpesona ketika membacanya. The Lion, The Witch and the Wardrobe, juga dilengkapi dengan ilustrasi gambar dari Christian Burningham yang membuat cerita terkesan makin indah. Novel ini wajib dibaca bagi anda yang menyukai cerita-cerita fantasi klasik. The Lion, the Witch and the Wardrobe terjual sebanyak 85 juta eksemplar. Judul edisi bahasa Indonesia buku ini adalah Sang Singa, Sang Penyihir dan Lemari. 


Nah, demikian tadi 5 buku terbaik di dunia yang wajib kalian baca. Masih ada 5 buku lagi yang akan Mimin bahas di posting berikutnya. Jangan sampai ketinggalan ya…Selamat membaca :)

Sumber gambar: http://i00.i.aliimg.com/wsphoto/v0/2037935670/

Monday, September 21, 2015

Oleh: Orchid dan Ixora

Malming Menulis kemarin, JO Team membahas tentang cara membangun setting/latar. Kadang, ada penulis yang bingung bagaimana cara memperkuat dekskripsi latar dalam tulisannya. Nah, kali ini JO Team akan memberikan tips untuk memperkuat dekskripsi latar dalam tulisan agar pembaca bisa dengan jelas membayangkan latar dalam tulisan yang kalian buat.

Umumnya, penulis memilih setting cerita di tempat yang pernah dikunjunginya. Hal ini dengan tujuan agar bisa lebih mudah mendekskripsikan mengenai tempat tersebut karena ketika kalian sudah pernah ke suatu tempat, pasti kalian tahu persis, bagaimana suasana di tempat tersebut.

Eits, bukan berarti tidak boleh untuk menulis cerita dengan setting tempat yang belum pernah kalian kunjungi. Tentu boleh. Tapi ada hal-hal yang terlebih dahulu harus kalian lakukan yaitu riset. Riset itu bisa dalam bentuk pertanyaan terhadap orang-orang yang pernah ke sana, membaca buku travel guide, mencari foto-foto tempat tersebut, dan masih banyak lagi. Oiya, saat melakukan riset dalam bentuk foto, jangan hanya melihat foto yang diambil dari satu sudut saja. Kalian juga harus mencari-cari foto yang diambil dari sudut yang lain agar kalian mempunyai imajinasi lebih mengenai tempat tersebut.

Lalu,  apa saja sih, yang harus dideskripsikan agar pembaca bisa lebih jelas membayangkan setting yang kalian tulis dan tulisan kalian terasa lebih ‘hidup’? Yang harus didekskripsikan adalah suasana tempat itu. Apakah ramai, sepi, atau lainnya. Selanjutnya, bagaimana keadaan tempat itu. Di mana letaknya, benda apa saja yang berada di sana, dan apa yang bisa kalian rasakan ketika berada di sana.

Misal, nih ya, kalian mengambil setting di kedai kopi. Nah, pasti kalian akan menghirup bau kopi, bukan? Selipkan itu dalam dekskripsi! Contoh lagi, misalnya kalian mengambil setting di tengah kota. Bayangkan apa yang kalian rasakan ketika berada di sana. Apakah merasa sejuk? Atau malah terbatuk-batuk karena menghirup udara yang penuh dengan polusi? Libatkan seluruh panca indera. Jadi, apa yang bisa dilihat, dicium, diraba, didengar, dan dirasakan, harus bisa kalian deskripsikan. Jangan lupa juga untuk mendekskripsikan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di tempat itu. Jika kalian mengambil setting di kebun binatang, tentu saja, orang-orang yang berada di sana sibuk memperhatikan dan memotret hewan-hewan yang ada di kebun binatang, kan?

Terakhir, tidak lupa kalian juga harus mendekskripsikan tentang tokoh kalian. Alasan mengapa tokoh kalian berada di tempat itu? Kenapa harus ke tempat itu, kenapa tidak ke tempat lain, dan masih banyak lagi.

Nah, sekian tips dari JO Tema. Semoga bermanfaat. 

Sumber gambar: http://www.britblaise.com/wp-content/uploads/2013/03/Depositphotos_19987753_original.jpg

Friday, September 18, 2015


Oleh: Three Friends in Winter

Mengapa kalian ingin menjadi penulis?  Mengapa menulis fiksi?

Kalian ingin menjadi seperti Dee Lestari, Andrea Hirata, atau Raditya Dika yang terkenal karena novel mereka Best Seller? Dengan berhasil menerbitkan buku, kalian belum tentu akan langsung terkenal dan kaya raya. Bahkan banyak loh penulis yang kere. Perjalanan kalian masih panjang.

Jadi penulis itu tidak mudah. Banyak yang harus dilakukan; membaca ribuan buku, rutin berlatih menulis, memahami EYD, dll. Menjadi penulis juga berarti harus memiliki pengetahuan lebih daripada orang kebanyakan, mendedikasikan sebagian besar waktumu untuk menulis atau memikirkan tulisanmu, duduk di depan komputer selama berjam-jam, bahkan melewatkan kesempatan untuk hang-out dengan teman-teman atau menjelajahi media sosial hanya untuk memandangi lembaran kosong di depan mata. Kadang, sudah berusaha mengeluarkan uneg-uneg yang mengganggu pikiran tapi beberapa jam berlalu dan lembaran itu masih saja kosong. Ohemji! Belum lagi kalau naskah sudah selesai, kita masih harus membaca ulang dan menyuntingnya. Berapa banyak waktu yang harus terbuang hanya untuk menjadi penulis? Arghh Pusing! Σ(♡@﹏ @☆)ノ”

Jadi mengapa kalian masih ingin menjadi penulis? 

Dengan membaca paragraf-paragraf awal dari Mimin, kalian sudah merasa sangat berat dan ingin berhenti? Kalau begitu, kalian harus mempertimbangkan kembali keinginan menjadi penulis. 

Menjadi penulis itu gampang-gampang sulit, sulit-sulit gampang. Kalimat Mimin ribet, ya? Hehehe. Tapi itu memang benar, menjadi penulis itu seperti halnya mimpi menjalani profesi lain, semua membutuhkan ketekunan untuk terus menjalaninya dan butuh pengorbanan yang tidak sedikit. Dibutuhkan hati yang benar-benar menyukai hal ini untuk dapat terus berjalan dan tidak berhenti. Tidak ada sesuatu yang instan. Hanya yang terus menulis yang bisa dikatakan sebagai penulis. 

Pilihlah motivasi yang positif

Jika alasan utama kalian ingin menjadi penulis adalah menjadi terkenal dan kaya raya, itu tidak sepenuhnya salah. Sah-sah saja. Akan tetapi, jangan jadikan itu alasan satu-satunya, karena itu tidak akan membawa kalian berjalan jauh. Mengapa? Karena jika suatu hari kalian merasa bahwa hal yang kalian lakukan ini tidak membawa keuntungan material, kalian akan mulai meninggalkannya perlahan-lahan.

Memiliki motivasi yang positif sangat penting, karena itulah yang akan terus membawamu berjalan ketika menulis terasa berat, misal ketika kalian terhenti di sebuah adegan yang sulit untuk diuraikan dan tidak dapat menemukan jalan keluar.

Bagaimana kalian mengetahui kalau motivasi kalian positif? Tanyakan hal ini pada diri kalian: 

Apakah kamu masih akan terus menulis meskipun kamu tahu tak akan melihat hasil yang memuaskan atas usahamu?

Jika jawabannya adalah "iya," itu berarti kalian benar-benar suka menulis dan hal itulah yang akan terus memotivasi ketika kalian terjebak dalam situasi yang sulit. 



Mengapa kita menulis fiksi?
Untuk berada di suatu tempat lainnya.
Untuk membebaskan diri.
Untuk berhenti menjadi apa pun atau di mana pun. 

Untuk menghilang - Fan girl (Rainbow Rowell)


sumber foto: http://inspireportal.com/so-you-want-to-be-a-writer-charles-bukowski-poetry/