Oleh: Three Friend in Winter dan Ixora
Selamat
malam, Sobat JO. Untuk kalian yang kemarin ketinggalan #MalmingMenulis, Mimin
berbaik hati merangkumkannya untuk kalian dalam artikel ini. Berhubung masih
dalam suasana Paskah, Mimin mau membahas tentang 7 dosa besar penulis kepada
karyanya. Dosa? Diksimu, Min... ngeri.
Eh, ngomong-ngomong sudah pada pesan belum novel pemenang pertama lomba #WayBackHome kemarin? Nggak penasaran nih naskah seperti apa sih yang berhasil memenangkan hati para juri dari antara 137 naskah yang masuk? Kalau mau pesan, lihat di sini ya... #eaMiminPromoTerus.
Eh, ngomong-ngomong sudah pada pesan belum novel pemenang pertama lomba #WayBackHome kemarin? Nggak penasaran nih naskah seperti apa sih yang berhasil memenangkan hati para juri dari antara 137 naskah yang masuk? Kalau mau pesan, lihat di sini ya... #eaMiminPromoTerus.
Baiklah
kembali ke topik #MalmingMenulis, menurut Mimin, pada dasarnya tidak ada ide
yang buruk, yang ada hanya eksekusi yang buruk. Jaman sekarang, ide yang
benar-benar baru itu hampir mustahil untuk ditemukan.Contohnya saja, kita mau
menulis tentang cinta terlarang, Shakespeare sudah pernah menuliskannya. Atau
tentang perempuan miskin yang ditolong oleh pria kaya, sudah ada di dalam
cerita Cinderella. Tidak ada yang
benar-benar baru di bawah matahari. Sobat JO setuju? Yang ada adalah bagaimana
kita membuat hal tersebut menjadi terasa lebih segar.
Nah,
malam ini Mimin mau sharing mengenai
kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan oleh penulis ketika mengeksekusi
naskahnya. Apa saja itu? Yuk simak
#MalmingMenulis kali ini.
Pertama, pembukaan yang membosankan. Ini sering sekali terjadi.
Mimin pun masih sering melakukannya. Pembukaan yang membosankan itu apa sih?
Itu adalah pembukaan yang sudah terlalu sering dipakai sehingga terasa basi. Contohnya, pada novel teenlit adegan dimulai dari tokoh utama yang bangun kesiangan. Duh,
ini contoh yang zadul sekali. Mimin punya contoh lain juga. Adegan
dimulai dari pengenalan tokoh; kehidupan sehari-hari, karakter, musuhnya, dll.
Errr... Mimin yakin belum sampai 1 bab habis dibaca, editor pasti akan menutup
kembali file tersebut karena bosan. Jika diawal saja semua informasi tersebut
sudah dijejalkan paksa, untuk apa pembaca membaca kelanjutan ceritanya?
Itu membawa Mimin pada poin kesalahan kedua. Tidak memberikan ruang imajinasi kepada pembaca. Kalau kalian membaca sebuah buku, apa sih yang biasanya kalian cari? Kalau Mimin sih mencari cerita yang bisa membuat Mimin terhanyut dalam dunia yang ditawarkan penulis.Untuk dapat hanyut dalam cerita, tentu kita perlu ruang untuk terlibat. Seperti yg Mimin pernah sampaikan di #MalmingMenulis sebelumnya. Bisa dibaca di sini Jika semua hal diceritakan kepada pembaca dalam bentuk informasi, bagaimana pembaca dapat berempati kepada tokoh utama? Pembaca itu perlu dibuat penasaran, perlu dibuat baper.
Ketiga, karakterisasi yang terlalu sempurna atau tidak realistis. Sebagai penulis, terkadang kita punya kecenderungan untuk menuliskan sesuatu yang ideal. Oleh karena itu sering kali, terbentuk karakter yang terlalu baik atau terlalu jahat. Tapi, karakter yang terlalu sempurna itu sulit, loh mengundang empati pembaca. Sekali pun karakter itu dilukiskan serba baik. Coba perhatikan deh orang-orang di sekitar kalian. Atau perhatikan diri kalian sendiri. Apakah kalian 100% baik/jahat? Tidak, kan? Karakter yang realistis adalah karakter yang punya kelebihan maupun kekurangan. Sisi baik dan sisi jahat.
Keempat, penulis membuat adegan yang tidak punya kontribusi
terhadap cerita. Terkadang hanya karena alasan "suka aja”. Setiap adegan
dan petunjuk dalam ceritamu harus punya alasan dan kontribusi dalam cerita,loh.
Seperti dalam teori Chevkov's gun nih. Jika di bab 1 kalian tuliskan ada pistol
di sana, maka di bab selanjutnya pistol itu harus digunakan. Membuang adegan
yang disukai (yang notabene tidak ada kontribusi terhadap cerita) itu memang
sangat sulit. Tapi di sini penulis harus mencoba objektif. Apakah adegan
tersebut berfungsi atau tidak?
Nah,
ini dia kesalahan penulis yang kelima
malas membaca kembali naskah yang telah diselesaikan.Tidak hanya banyak
kesalahan ketik dan cacat logika saja yang akan ada dalam naskah yang tidak
disunting ulang, tapi juga kemungkinan banyak adegan yang tidak punya fungsi
dalam cerita. Bahkan kemungkinan adegan itu merusak jalan cerita pun ada.
Kesulitan
penulis untuk membuang adegan yang disukai juga bisa jadi karena penulis tidak
benar-benar memahami apa yang ingin dikatakan. Inilah kesalahan penulis yang keenam. Penulis tidak tahu apa premis
cerita yang akan ditulis. Sering tidak,
sih Sobat JO ketika menulis hanya menulis karena ingin menulis saja? Sering juga tidak jika pada akhirnya
Sobat JO tidak tahu sebenarnya apa sih yang baru saja ditulis atau dikatakan? Sebenarnya itu sah saja dilakukan oleh
penulis. Terkadang kita hanya perlu menulis untuk mengeluarkan uneg-uneg yg ada
di dalam otak. Tapi, kurang tepat loh
jika kita mengirimkan naskah hasil mengeluarkan uneg-uneg tanpa menyuntingnya
lagi. Menyunting bukan hanya
berarti memotong bagian yang tidak seharusnya, tapi juga merapikan :) Ketika kalian menyunting naskah
alangkah baiknya jika kalian coba menyimpulkan, apa yang kalian ingin katakan. Lebih baik lagi, jika sejak awal
sebelum menulis kalian sudah paham apa yang ingin dikatakan. Kembali memahami
premis dan kesimpulan cerita yang ingin disampaikan juga dapat membantu menghindari kesalahan
penulis yang selanjutnya.
Tujuh, judul tidak sesuai dengan isi naskah. Sering tidak kalian merasa kesulitan membuat judul yang menarik? Judul itu merupakan jendela yg membawa pembaca kepada isi cerita. Judul juga memberikan sedikit gambaran tentang apa sih ceritamu. Nah, dengan memahami apa yg ingin dikatakan dapat membantu penulis untuk merumuskan judul yang tepat bagi naskah yang ia miliki. Nah, sekian #MalmingMenulis minggu ini. Semoga bermanfaat.
Sumber gambar:http://www.bloggek.com/2015/08/kesalahan-blogger-saat-membuat-artikel.html







