Tuesday, March 29, 2016


Oleh: Three Friend in Winter dan Ixora

Selamat malam, Sobat JO. Untuk kalian yang kemarin ketinggalan #MalmingMenulis, Mimin berbaik hati merangkumkannya untuk kalian dalam artikel ini. Berhubung masih dalam suasana Paskah, Mimin mau membahas tentang 7 dosa besar penulis kepada karyanya. Dosa? Diksimu, Min... ngeri. 
Eh, ngomong-ngomong sudah pada pesan belum novel pemenang pertama lomba #WayBackHome kemarin? Nggak penasaran nih naskah seperti apa sih yang berhasil memenangkan hati para juri dari antara 137 naskah yang masuk? Kalau mau pesan, lihat di sini ya... #eaMiminPromoTerus.

Baiklah kembali ke topik #MalmingMenulis, menurut Mimin, pada dasarnya tidak ada ide yang buruk, yang ada hanya eksekusi yang buruk. Jaman sekarang, ide yang benar-benar baru itu hampir mustahil untuk ditemukan.Contohnya saja, kita mau menulis tentang cinta terlarang, Shakespeare sudah pernah menuliskannya. Atau tentang perempuan miskin yang ditolong oleh pria kaya, sudah ada di dalam cerita Cinderella. Tidak ada yang benar-benar baru di bawah matahari. Sobat JO setuju? Yang ada adalah bagaimana kita membuat hal tersebut menjadi terasa lebih segar. 

Nah, malam ini Mimin mau sharing mengenai kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan oleh penulis ketika mengeksekusi naskahnya. Apa saja itu? Yuk simak #MalmingMenulis kali ini.

Pertama, pembukaan yang membosankan. Ini sering sekali terjadi. Mimin pun masih sering melakukannya. Pembukaan yang membosankan itu apa sih? Itu adalah pembukaan yang sudah terlalu sering dipakai sehingga terasa basi. Contohnya, pada novel teenlit adegan dimulai dari tokoh utama yang bangun kesiangan. Duh, ini contoh yang zadul sekali. Mimin punya contoh lain juga. Adegan dimulai dari pengenalan tokoh; kehidupan sehari-hari, karakter, musuhnya, dll. Errr... Mimin yakin belum sampai 1 bab habis dibaca, editor pasti akan menutup kembali file tersebut karena bosan. Jika diawal saja semua informasi tersebut sudah dijejalkan paksa, untuk apa pembaca membaca kelanjutan ceritanya? 

Itu membawa Mimin pada poin kesalahan kedua. Tidak memberikan ruang imajinasi kepada pembaca. Kalau kalian membaca sebuah buku, apa sih yang biasanya kalian cari? Kalau Mimin sih mencari cerita yang bisa membuat Mimin terhanyut dalam dunia yang ditawarkan penulis.Untuk dapat hanyut dalam cerita, tentu kita perlu ruang untuk terlibat. Seperti yg Mimin pernah sampaikan di #MalmingMenulis sebelumnya. Bisa dibaca di sini Jika semua hal diceritakan kepada pembaca dalam bentuk informasi, bagaimana pembaca dapat berempati kepada tokoh utama? Pembaca itu perlu dibuat penasaran, perlu dibuat baper.

Ketiga, karakterisasi yang terlalu sempurna atau tidak realistis. Sebagai penulis, terkadang kita punya kecenderungan untuk menuliskan sesuatu yang ideal. Oleh karena itu sering kali, terbentuk karakter yang terlalu baik atau terlalu jahat. Tapi, karakter yang terlalu sempurna itu sulit, loh mengundang empati pembaca. Sekali pun karakter itu dilukiskan serba baik. Coba perhatikan deh orang-orang di sekitar kalian. Atau perhatikan diri kalian sendiri. Apakah kalian 100% baik/jahat? Tidak, kan? Karakter yang realistis adalah karakter yang punya kelebihan maupun kekurangan. Sisi baik dan sisi jahat.

Keempat, penulis membuat adegan yang tidak punya kontribusi terhadap cerita. Terkadang hanya karena alasan "suka aja”. Setiap adegan dan petunjuk dalam ceritamu harus punya alasan dan kontribusi dalam cerita,loh. Seperti dalam teori Chevkov's gun nih. Jika di bab 1 kalian tuliskan ada pistol di sana, maka di bab selanjutnya pistol itu harus digunakan. Membuang adegan yang disukai (yang notabene tidak ada kontribusi terhadap cerita) itu memang sangat sulit. Tapi di sini penulis harus mencoba objektif. Apakah adegan tersebut berfungsi atau tidak?

Nah, ini dia kesalahan penulis yang kelima malas membaca kembali naskah yang telah diselesaikan.Tidak hanya banyak kesalahan ketik dan cacat logika saja yang akan ada dalam naskah yang tidak disunting ulang, tapi juga kemungkinan banyak adegan yang tidak punya fungsi dalam cerita. Bahkan kemungkinan adegan itu merusak jalan cerita pun ada.

Kesulitan penulis untuk membuang adegan yang disukai juga bisa jadi karena penulis tidak benar-benar memahami apa yang ingin dikatakan. Inilah kesalahan penulis yang keenam. Penulis tidak tahu apa premis cerita yang akan ditulis. Sering tidak, sih Sobat JO ketika menulis hanya menulis karena ingin menulis saja? Sering juga tidak jika pada akhirnya Sobat JO tidak tahu sebenarnya apa sih yang baru saja ditulis atau dikatakan? Sebenarnya itu sah saja dilakukan oleh penulis. Terkadang kita hanya perlu menulis untuk mengeluarkan uneg-uneg yg ada di dalam otak. Tapi, kurang tepat loh jika kita mengirimkan naskah hasil mengeluarkan uneg-uneg tanpa menyuntingnya lagi. Menyunting bukan hanya berarti memotong bagian yang tidak seharusnya, tapi juga merapikan :) Ketika kalian menyunting naskah alangkah baiknya jika kalian coba menyimpulkan, apa yang kalian ingin katakan. Lebih baik lagi, jika sejak awal sebelum menulis kalian sudah paham apa yang ingin dikatakan. Kembali memahami premis dan kesimpulan cerita yang ingin disampaikan juga dapat membantu menghindari kesalahan penulis yang selanjutnya.


Tujuh, judul tidak sesuai dengan isi naskah. Sering tidak kalian merasa kesulitan membuat judul yang menarik? Judul itu merupakan jendela yg membawa pembaca kepada isi cerita. Judul juga memberikan sedikit gambaran tentang apa sih ceritamu. Nah, dengan memahami apa yg ingin dikatakan dapat membantu penulis untuk merumuskan judul yang tepat bagi naskah yang ia miliki. Nah, sekian #MalmingMenulis minggu ini. Semoga bermanfaat.



Sumber gambar:http://www.bloggek.com/2015/08/kesalahan-blogger-saat-membuat-artikel.html

Monday, March 14, 2016

Oleh: Edelweiss & Three Friend in Winter



Halo, Sobat JO. #MalmingMenulis yang lalu Mimin sempat membahas bahas genre novel. Mimin akan merangkum bahasan kemarin. Yuk mulai saja ke bahasan kita. 

Kali ini Mimin hanya akan membahas tentang tujuh aliran fiksi utama yang banyak dikenal. Genre yang akan kita bahas adalah romance, komedi, fiksi ilmiah, horor, thriller, misteri, dan inspiratif. Aliran-aliran yang Mimin sebutkan tadi juga memiliki banyak sub-genre, seperti romance time-travel dan mungkin ada banyak lagi. Nah Mimin akan jelaskan lebih lanjut cara untuk membedakan aliran-aliran ini. 

1. Romance atau Percintaan
Genre jenis ini adalah genre yang paling populer di kalangan kita. Terutama bagi pembaca maupun penulis yang berusia remaja dan dewasa muda. Seperti namanya, konflik yang dimiliki oleh aliran ini seputaran kisah cinta. Contoh novel yang beraliran percintaan sangatlah banyak, bahkan hampir semua novel yang beredar di pasaran merupakan novel romance. Kisah cinta selalu terasa menarik untuk dibahas, sih, Sobat JO! 

2. Komedi
Genre ini adalah yang paling cocok dibaca ketika kita butuh hiburan, meski segala jenis novel juga bisa. Karena genre komedi biasanya menyuguhkan bahasan yang ringan dan penuh dengan humor. Konflik yang ada di dalamnya pun biasanya tidak terlalu berat. Tujuan ditulis pun ingin membuat orang tertawa. 

Contoh novel bergenre komedi adalah Manusia Setengah Salmon yang ditulis oleh Raditya Dika. 

3. Fiksi ilmiah
Nah, ini dia genre yang paling penuh dengan imajinasi! Genre di mana ngawur itu halal. Eh, tapi ngawurnya harus pake logika, ya! Kalian boleh bikin bumi mendadak kehilangan gravitasi, tapi beri juga alasannya. Kan nggak serta merta, tanpa alasan, tiba-tiba pas bangun kalian udah terbang saja. 
Dalam aliran fiksi yang satu ini, meskipun halal buat ngawur, haram buat kalian ngawur kalau tidak ada logika yang memperjelas kondisi yang tidak logis tersebut. Ada penjelasan ilmiah di balik semua kengawuran tersebut. Jadi kalau mau berkutat dengan aliran fiksi ini, kalian harus benar-benar riset. 

Contoh novel dengan genre fiksi ilmiah yaitu Supernova yang ditulis oleh Dee Lestari. 

4. Horor
Ini dia juaranya cerita penuh ketakutan. Penulis novel dengan aliran ini bertujuan agar pembacanya merasa ketakutan. Dalam tulisan beraliran ini yang biasanya banyak hantu-hantuannya. Yang berdarah-darah juga tak luput diceritakan. Hiih! 
Intinya kalau kalian baca buku lalu ketakutan besar kemungkinan alirannya tulisan tersebut adalah horor. Contohnya buku tabungan akhir bulan, ya. /abaikan/ 

Contoh novel beraliran horor adalah Saman yang ditulis oleh Ayu Utami. 

5. Thriller
Banyak sekali orang yang sering bingung dengan bedanya aliran ini dengan horor. Jadi, genre thriller itu aliran tulisan yang penuh ketegangan dan berurusan dengan hidup dan mati. Konflik yang membangun genre thriller itu tentang bagaimana si tokoh utama. 
Genre ini kadang juga disisipi dengan supranatural dan kejahatan. Ini dia yang membuat kita tertukar thriller dan horor. 

Contoh novel thriller adalah karya dari Dan Brown. 

6. Misteri
Kalau tulisan dengan aliran ini biasanya bercerita tentang detektif-detektifan. Nah, novel ini lah juga sering disangka kembar sama horor, padahal beda. Horor biasanya membuat pembaca takut, tetapi misteri membawa kita menyelesaikan kasus. 
Jadi horror dan misteri kalau digabung repot juga, ya. Kita harus menyelesaikan kasus di tengah ketakutan._. 
Contoh novel misteri itu seperti Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle. 

7. Inspiratif
Ini dia yang biasanya bikin pembaca terharu-biru. Novel ini mengandung pesan moral untuk pembacanya. Eh, tapi bukan berarti aliran lain tidak ada, ya. Setiap tulisan harus selalu ada pesan moralnya. Konflik yang banyak dibahas pada genre ini biasanya seputar kehidupan sehari-hari. Disebut inspiratif, karena seusai membaca tulisan-tulisan dengan aliran ini, biasa pembaca merasakan atau melihat sesuatu yang berbeda dengan diri maupun lingkungan. Hingga menggerakannya untuk melakukan sesuatu. Intinya menginspirasi. 

Contoh novel bergenre inspiratif yaitu tetralogi Laskar Pelangi milik Andrea Hirata atau novel-novel terbitan Jendela O Publishing House seperti Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta  milik Suarcani

Yap, sudah kita bahas tujuh aliran dalam fiksi. Meskipun yang dibahas hanya tujuh, bukan berarti aliran menulis hanya ada ini saja di bumi ini, ya! Masih banyak lagi sebetulnya. 

Jadi sekarang kalian bisa mengklasifikasikan tulisan kalian. Kalian nggak akan salah kirim naskah thriller ke penerbit religi. *Nggak gitu juga kali, Min-_-* *krik*


sumber foto: http://www.si-pedia.com/2015/01/jenis-dan-pengertian-genre-novel.html

Oleh: Orchid

Dalam #MalmingMenulis sebelumnya, memang disebutkan bahwa penulis bisa jadi tidak memiliki penghasilan yang cukup—bagi yang tidak terkenal—tapi, apa salahnya menambah penghasilan dari menulis jika kamu mampu?

Kira-kira, apa saja sih tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Sobat JO “nyaris” menjadi seorang penulis? Mimin punya daftar pertandanya.

1.  Suka Membaca
Tidak semua orang suka membaca buku. Banyak orang yang lebih memilih membuang waktunya dengan bermain game  atau berjalan-jalan dibanding membaca buku. Tapi, berbeda dengan penulis. Bagi penulis, membaca adalah hal yang wajib dilakukan oleh setiap penulis. Baik penulis fiksi maupun non fiksi. Jika Sobat JO suka membaca, itu artinya kamu telah melakukan kegiatan yang dianggap wajib bagi para penulis.

2.  Mengamati Orang Lain yang Ada di Sekitarmu
Sobat JO suka mengamati orang-orang yang ada di sekitarmu? Bahkan, kamu melakukan hal itu dalam kurun waktu yang lama? Penulis adalah seorang pengamat yang gigih. Mereka melihat dengan jeli, memerhatikan irama dan tekstur dari semua interaksi manusia. Bagi penulis, hal-hal tersebut sangat menarik dan berpotensi untuk dituliskan.

3.  Membayangkan Bagaimana Rasanya Menjadi Orang Lain
Pertanda berikutnya yang menunjukkan bahwa kamu "nyaris" menjadi penulis adalah kamu suka membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang lain.  Misalnya, Sobat JO melihat seseorang jatuh dari sepeda, lalu kamu langsung membayangkan bagaimana perasaan orang yang jatuh dari sepeda tersebut. Seorang penulis selalu membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang lain. Mereka menciptakan dunia imajinasi di dalam otak mereka.

4.  Memerhatikan “Kekosongan” Segala Sesuatu
Tidak hanya memerhatikan apa yang orang lain katakan dan lakukan, bagaimana mereka melihat dan bertingkah tapi Sobat JO juga memerhatikan apa yang tidak ada di sana. Misal saja, seorang ibu hamil tanpa cincin kawin, sebuah mobil tanpa pengemudi, dan masih banyak lagi. Penulis tidak hanya sekadar melihat. Tapi mereka melihat lebih dalam, mereka mencari di mana cerita bersembunyi. Jika hanya dengan satu hal yang kalian lihat dapat memicu imajinasi mengembangkan berbagai kemungkinan cerita, itu tanda-tandanya kalian punya sesuatu yang dimiliki oleh seorang calon penulis.

5.  Berpikir Bisa Menulis Buku yang Lebih Baik dari yang Pernah Dibaca
Sobat JO merasa kesal dan marah saat membaca sebuah buku yang ditulis dengan buruk. Kadang kamu bertanya-tanya, “kenapa sih buku kayak  gini bisa diterbitkan?” Jika kamu melakukan itu, itu berarti kamu sudah mampu mengenali mana yang berhasil dan yang tidak dalam sebuah tulisan. Dan setelah membaca buku itu, kamu berniat untuk menulis buku yang lebih baik dari yang pernah dibaca. Berarti, kamu sudah siap untuk menjadi penulis.

6. Kamu Lebih Memilih untuk Menuliskan Dibanding Mengatakan
Mungkin ada beberapa dari Sobat JO yang merasa kesusahan untuk mengatakan perasaan secara langsung. Kamu lebih memilih untuk menuliskan perasaan itu. Seperti contoh, saat Sobat JO sedang ada masalah dengan temanmu, kamu memilih untuk mengirimkannya pesan. Bukan perasaan takut yang kamu rasakan, tetapi memang begitulah yang terjadi pada kamu.

7.  Menulis Jadi Terapi Emosi
Sobat JO pernah meluapkan emosi dalam secarik kertas? Atau mungkin, mengetik perasaanmu di memo ponsel? Saat kamu merasa sedih, depresi, ataupun kesepian, menulis membuatmu merasa lebih baik.

Nah, itu adalah tanda-tanda bahwa Sobat JO “nyaris” menjadi penulis. Bagaimana? Apakah Sobat JO mengalami tanda-tanda tersebut? Jika sudah, tunggu apa lagi segera mulai langkahmu menjadi penulis. 

Sumber foto: http://shpeiit.org/wp-content/uploads/2015/04/professional-writer-challenges.jpg

Monday, March 7, 2016


Oleh: Ixora & Orchid

#MalmingMenulis kemarin membahas tentang hal menyenangkan dan tidak menyenangkan  menjadi seorang penulis. Sobat JO sebagian besar pasti suka menulis, kan? Jadi, katanya, ada beberapa hal menyenangkan yang dialami oleh penulis. Apa aja?

Mimin akan rangkum #MalmingMenulis untuk kalian. 

Pertama, dengan menjadi penulis, kita memiliki waktu yang sangat fleksibel. Kita bebas menentukan seberapa banyak kita harus menulis dalam satu hari. Semakin banyak waktu yang kita gunakan untuk menulis, semakin cepat tulisan kita bisa diselesaikan. Begitu juga sebaliknya.

Kedua, kita memiliki banyak pengetahuan. Tentu dong, karena haram bagi seorang penulis untuk malas membaca. Apalagi jika penulis tersebut ingin menulis hal-hal yang belum/tidak dikuasainya. Ia tentu akan membutuhkan riset. Itu artinya, banyak buku yang harus dibaca, video yang harus ditonton, dan narasumber yang harus didengarkan. Semua itu adalah pengetahuan-pengetahuan baru yang akan didapat oleh penulis, baik ia penulis fiksi atau penulis non-fiksi

Ketiga, penulis akan memiliki banyak teman. Apalagi jika ia bergabung di komunitas-komunitas kepenulisan seperti @SobatJo. Komunitas itu penting. Karena, komunitas itu akan memacu kita untuk terus berkarya. Kita juga bisa saling bertukar info tentang dunia kepenulisan. Menulis itu bisa sendiri, tapi untuk menjadi penulis, kita butuh banyak orang, termasuk pembaca. Punya komunitas juga membantu kita untuk melakukan promosi buku yang kita tulis.

Keempat, penulis akan memiliki banyak kosakata. Ini penting. Karena, akan berpengaruh terhadap cara berkomunikasi kita terhadap orang lain. Tentu akan menyenangkan bicara dengan orang yang kosakatanya baik dan wawasannya luas, kan?

Kelima, penulis akan mendapat kepuasan batin yang tidak akan bisa digantikan dengan apa pun saat tulisannya dikenal. Minimal, dibaca oleh seseorang. 

Setelah membahas hal-hal yg menyenangkan, sekarang kita akan membahas hal-hal tidak menyenangkan yang banyak dialami penulis.

Pertama, jika menulis bukanlah pekerjaan utama kita, maka kita harus menyisihkan waktu untuk menulis. Butuh energi lebih ketika menyisihkan sedikit dari waktu-waktu sibuk kita untuk menulis.

Kedua, tidak semua orang bisa menerima tulisan kita dengan baik. Bisa jadi ketika kita sudah banyak sekali riset kemudian menuliskannya, eh ternyata ada fakta yang tertinggal dan kesalahan itu dipaparkan oleh orang lain. Duh, rasanya cakit... *mimin sok imut banget* Jadi penulis harus tahan terhadap kritik. Sepahit apa pun! Tapi bukan menerima begitu saja,  melainkan terima dan buat itu menjadi motivasi agar tulisan selanjutnya menjadi lebih baik daripada sebelumnya. 

Ketiga, pekerjaan sebagai penulis, belum bisa memberikan kita kecukupan dalam hal materi. Kecuali kita sangat populer dan sangat produktif, sebaiknya tidak menggantungkan hidup kita hanya dengan menulis. Tapi, kalau untuk tambahan uang jajan boleh lah. 

Nah, sekian rangkuman #MalmingMenulis kali ini. Semoga bermanfaat, Sobat JO!

sumber foto: http://www.adweek.com/socialtimes/author-tag/622127